
Alexi sedang duduk melamun, menikmati suara suara kendaraan roda dua maupun empat yang berlalu lalang. Kini Alexi sedang berada di sebuah pedagang bakso kaki lima.
"Nih lex pesenan lo." Itu Agam salah satu sahabat Alexi di sekolah. Bakso kaki lima yang di maksud tadi adalah dagangan ayah Agam, tetapi karena ayah Agam sedang sakit. Mau tidak mau Agam harus bergantian berkeliling berjualan bakso di sekitaran ibukota.
Agam memang salah satu sahabat Alexi yang berekonomi terbatas, namun Agam tidak pernah malu dengan kekurangan yang ia miliki. Bahkan Alexi, Mon, dan Tristan pun tidak pernah mempermasalahkan soal kekayaan yang orang tua mereka punya, yang mereka tahu bahwa persahabatan ialah teman di kala susah dan senang. Begitu pun Alexi dkk.
Alexi tersenyum. "Thanks." Alexi mulai memberi saus dan sambal ke dalam baksonya dan dengan perlahan Alexi mulai menyantap makanan favorit semua kalangan itu.
"Kok lo udah balik lex?" Tanya Agam yang membuat kegiatan Alexi terhenti.
Alexi menghembuskan nafas pelan. "Gue di skors."
Agam membulatkan matanya kaget. "Apa kenapa bisa? Lo ketauan lagi tawuran?"
Alexi menggelengkan kepalanya.
"Terus, karena lo dateng telat mulu?"
Alexi menggelengkan kepalanya lagi.
"Terus kenapa lex?"
"Gua berantem sama sih Al sialan itu."
"Lex? Lo sampe kapan musuhan mulu sama Al?"
Alexi menoleh. "Maksud lo?"
"Yaa.. Maksud gua, masalah Fely lupain aja lex mau sampe kapan?"
Alexi mengerutkan dahinya. "Dia yang benci gua! Dia yang selalu ngajak gua ribut! Dia yang selalu ngibarin bendera perang kalo lagi sama gua! Dia gam bukan gua!" Alexi berbicara sedikit berteriak. "Gua udah berusaha lupain kejadian itu, tapi sih Al apa? Dia malah bersikap seolah olah kejadian itu gara-gara gua!" Lanjut Alexi.
Agam diam melihat Alexi yang sedang meluapkan masalahnya. "Lo tau Aleta kan gam?" Agam mengangguk. "Aleta itu bener bener mirip fely. Mukanya, sikap sama tingkah lakunya. Gua merasa kalo Fely itu masih hidup gam."
"Apa urusannya sama Al?"
"Yang gua liat Al juga lagi berusaha dapetin Aleta." Alexi menggeleng gelengkan kepalanya. "Engga.. Gaa! Gua gak mau ngelepas lagi buat sih Al."
Agam mengelus pundak Alexi. "Lo gak bisa egois bro. Mau lo atau Al yang di pilih sama Aleta, itu udah keputusan dia lo gak bisa memaksakan hati orang."
"Gua gak peduli gam! Intinya walaupun gua gak bisa dapetin Aleta, seengganya gua bakal lindungin Aleta dari cowok brengsek itu!"
Plak!
Agam menampar Alexi. "Lex sadar! Cewek yang mau lo lindungin itu Aleta bukan Fely, Fely udah gak ada lex lo harus terima kenyataan!"
Alexi terdiam, ia sadar bahwa setiap kata yang di lontarkan Agam adalah sebuah fakta yang tidak bisa terbantahkan. Fely sudah tidak ada itu benar. Aleta tetap Aleta dia bukan Fely itupun benar!
Alexi mengambil dompetnya yang berada di saku celananya. Ia mengambil uang 50ribuan dan meletakan uang itu di atas meja lalu pergi begitu saja meninggalkan Agam.
"Lex! Alexi! Woy..!!" Alexi tidak menghiraukan panggilan dari Agam, dengan secepat kilat ia mengendarai motor besarnya itu.
Alexi melajukan motornya ke tempat pemakaman. Ia memarkirkan motornya dan menghampiri pedagang bunga dan air bunga khusus untuk kuburan. "Saya mau bunganya dua bungkus sama air bunganya satu botol aja." Pinta Alexi kepada pedagang abang yang berjualan pun memberikan pesanan yang tadi Alexi minta. "Ini dek." Pedagang itu menyodorkan pesanan Alexi. "Jadi berapa bang?" Tanya Alexi. "25 ribu dek" Alexi memberi uang berjumlah 50ribu kepada sang penjual. "Ini dek kembakinya." Alexi menolak. "Gak usah bang, kembalinya buat abang aja."
Alexi meninggalkan kios pedagang bunga itu dan berjalan menuju salah satu makam dari ratusan makam yang berada di pemakan itu. Alexi terus berjalan sampai akhirnya ia berhenti di salah satu makam yang nisan bertuliskan nama Felysia Inez Gianina.
Alexi berjongkok di sebelah makan Fely dan menaburkan bungan dan air bunga yang ia beli tadi. Setelah selesai menaburkan bunga dan air bunga itu, Alexi mulai membuka suara.
"Hai" Sapa Alexi. "Maaf aku jarang tengok kamu kesini Fel. Kamu gimana? Pasti kamu udah bahagia kan di sana?" Alexi mengelus elus nisan itu. "Kamu tau gak? Di sekolah kita ada anak baru namanya Aleta. Dia mirip banget sama kamu Fel. Pinter, gila belajar, yaa.. Sedikit jutek juga. Hahaha." Alexi tertawa namun setetes air matanya jatuh, ia segera menghapus air matanya. "Ah maaf aku gak niat nangis kok Fel." Namun karena rasa sedih yang tidak tertahan membuat Alexi menangis. Sial Alexi tidak menunjukan ini di depan Fely, betapa cengengnya seorang Alexi. "Fel... Seandainya waktu bisa aku puter, aku gak akan relain kamu buat cowok brengsek itu. Aku nyesel fel... Aku nyesel banget! Aku minta maaf, bahkan di saat terakhir kamu aku masih egois! Aku masih mikirin diri aku sendiri! Aku gak semoet denger penjelasan kamu, aku nyesel banget..."
Namun Alex sedikit terkejut karena tepukan di pundaknya. "Sabar bro... Fely bakal sedih ngeliat lo kaya gini." Dan itu adalah Tristan dan Mon, mereka sengaja menyusuli Alexi.
"Gua minta maaf lex, tadi gua emang udah keterlaluan." Kata Tristan dengan wajah merasa bersalah.
Alexi menghela nafas lalu menganggukan kepalanya. "Gua juga minta maaf, lo kena tonjok gua tadi. Lo gak apa-apa kan?" Alexi melihat kiri dan kanan wajah Tristan.
"Engga, cuma paling besok biru dan berefek sama ke gantengan gua yang bakal berkurang haha." Gurau Tristan.
"Ck! Alah ganteng kok jomblo!" Timpal Mon.
Tristan menggeplak kepala Mon. "Ngaca dong mas ngacaaa....!" Geram Tristan.
"Hahah udah lo pada ribut aja. Mending lo nyapa Fely tuh."
"Halo Fel? Abang ganteng ga luntur luntur dateng nih." Kata mon.
Lagi-lagi Tristan menggeplak kepala Mon. "Gaco lo dasar pendek!"
"Eh jangan bawa-bawa tinggi bandan dong lo..." Wajah Mon mulai memelas.
"Makanya tinggi, cowok kok pendek ck!"
"Cowok kok mulutnya lemes!" Timpal Mon membuat Tristan murka, Min yang melihat wajah Tristan yang mulai memerah karena marah pun berlari menjauh.
Alexi tersenyum ke arah nisan. "Maafin temen aku ya yang berisik itu. Aku pamit ya, aku janji bakal sering sering kesini."
Alexi pun oergi meninggalkan makam bertuliskan nama Fely itu dan menghampiri teman-temannya yang sedang bertengkar kecil seperti seorang anak kecil. "Woy lo berdua bolos?"
Pertanyaan Alexi sukses membuat Tristan dan Mon berhenti. "Iya lex." Sahut Mon.
"Mending lo pada balik lagi sana ke sekolah."
Mon dan Tristan mendekat ke arah Alexi yang sudah berada di atas motornya. "Balik lagi?"
Alexi menganggukan kepalanya.
"Yakali Lex, gua ama Mon udah susah payah malah tadi hampir ketauan ama satpam malah lu suruh balik lagi." Kata Tristan.
"Yaudah kalian bantunin Agam aja sana." Saran Alexi.
"Iya bener juga tuh tan samperin Agam aja."
"Eh tapi inget! Bantuin jangan minta bakso gratisan lo pada!"
"Iye bang iyee..." Ledek Tristan. "Terus lo gak ikut?"
"Enggak. "
"Terus lo mau kemana?" Tanya Mon."
"Pulang, bobo siang daahh... Abang Mon abang Tristan." Alexi meninggalkan kedua temannya yang sedang menatap kesal kearahnya.
"Yaudah yuk Mon cabut."
Bosen gak sih kalo aku update terus?