ALEXI

ALEXI
ALEXI - 35. HARI YANG TIDAK TERDUGA



Aleta bangun seperti biasa, seperti hari hari kemarin. Aleta mengenyampingkan dulu masalah percintaannya, kini Aleta harus bersekolah dan mmelakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Aleta juga sedang menyibukan diri, supaya ia melupakan sejenak Alexi dan masalahnya. Kini seperti biasa Aleta berangkat bersama dengan Brian sepupunya. Tangan sebelah kanan Aleta memgang buku pelajaran karena hari ini ia sudah mulai ujian di sekolahnya.


"Tadi malem emang lo gak belajar ta?" Tanya Brian yang kini sedang menyetir.


"Belajar." Jawab Aleta singkat.


"Terus harus banget apa lo belajar lagi di mobil gini? Kalo mau belajar ya nanti kek kalo udah di sekolahan."


"Sstt!" Aleta membuat Brian berhenti bicara. Memang benar, Aleta itu seperti kesurupan bila sedang belajar seperti ini. Aleta memang sudah bilang sih ke Brian bahwa ia tahun ini harus mendapatkan juara satu di sekolahnya. Karena saat di bandung, Aleta selalu memenangkan juara pertama, tetapi bukan di kelasnya tetapi di sekolahnya. Ia menjadi murid terpintar di sekolahnya di bandung.


Kini mereka sudah sampai di parkiran khusus mobil yang di bawa siswa dan juga guru atau staf sekolah. Aleta keluar dari mobil masih dengan membaca buku buku dan mengingat hal hal yang penting yang ada di buku itu. "Aleta!" Saat sahabatnya Febbi memanggil pun Aleta hanya bergumam pelan membuat Febbi geram. "Woy di panggil juga!" Kata Febbi sambil sedikit mendorong Aleta supaya Aleta melihat keberadaannya. Namun namanya juga Aleta, ia tidak menghiraukan apapun dan terus melanjutkan belajar. Pada intinya yang di pikiran Aleta saat ini adalah belajar, juara, belajar, juara, belajar, juara, Alexi. Yup! Bohong saja jika Aleta tidak memikirkan Alexi. Apa lagi inti dari semua ini adalah Alexi.


Bugh! Aleta menabrak tubuh seseorang membuat buku yang sedang ia baca terjatuh dari genggamannya. "Ck!" Aleta mengambil bukunya tanpa melihat siapa yang ia tabrak. Aleta ingin kembali berjalan, namun di halangi oleh tubuh besar yang kini di hadapan Aleta. Saat Aleta ke kiri ia mengikuti Aleta ke kiri, saat Aleta ke kanan ia juga mengikuti kekanan. Aleta menghela nafas dan melihat orang yang menghalangi jalannya, niat hati ingin memaki apa daya yang di hadapannya ternyata Alexi. Aleta terdiam menatap Alexi dengan wajah terkejutnya, namun di persekian detik selanjutnya Alexi menarik pinggang ramping Aleta untuk mendekatkan tubuh Aleta dan Alexi, bisa di katakan Alexi memeluk Aleta. Cukup erat, sukses membuat orang orang yang melihatnya terngangah karena aksi Alexi yang terbilang berani. Aleta tidak bisa berkata apa apa, sampai Alexi melepaskan pelukannya pun Aleta hanya diam menatap Alexi.


"Semangat belajarnya ya!" Alexi tersenyum sembari mengelus rambut Aleta.


Alexi pergi, Aleta masih dia terpaku dengan adegan drama tadi. Aleta memegang jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya, seperti ingin meledak. Wajah Aleta yang kepiting rebus pun tidak bisa Aleta tutupi. Apa yang membuat Alexi manis secara tiba tiba? Senang juga cemas sedang Aleta rasakan sekarang.


"Aleta Aleta Aleta! Jantung jantung normal ga normal ga?" Tanya Febbi heboh sembari memagang dada Aleta. "Oh God! Jantung lo ga normal let..!" Goda Febbi.


"Ck! Ih apaan sih Febbi..!" Aleta meninggalkan Febbi berjalan lebih dulu menuju kelasnya. Sungguh hari ini hari yang tidak terduga.


______________________________________


Sudah waktunya jam. Istirahat. Aleta dan teman sekelasnyapun kini tengah bersiap untuk beristirahat menuju kantin. Namun, lain dengan Aleta. Aleta tidak ke kantin hari ini karena ia membawa bekal dan sekalian ia juga ingin belajar memanfaatkan ketenangan kelas yang tidak bisa ia dapatkan di saat teman teman di kelasnya ada. Aleta mengeluarkan kotak bekal berisi nasi dan lauk, ia menyuapkan satu suapan ke dalam mulutnya dan kini beralih ke buku buku yang kini ia keluarkan dari tasnya.


"Mau makan atau mau belajar sih?" Suara itu sukses membuat kegiatan Aleta terhenti, Aleta menoleh ke seumber suara mendapati Alexi yang tengan berdiri menatapnya dengan tangan yang ia simpan di saku celana. Namun tidak ada yang menyuruh Alexi duduk di hadpan Aleta, mengambil kotak bekal Aleta dan memegang sendok. "Aa!" Alexi hendak menyuapi Aleta ternyata. Aletapun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alexi. "Udah lo belajar, sambil gua suapin." Kata Alexi membuat Aleta terkejut.


Aleta melambaikan tangannya di hadapan Alexi. "Gausah lex! Lo juga kan harus istirahat. Harusnya sekarang lo kan di kantin.." Ujar Aleta dengan mulut penuh makanan.


Alexi tertawa melihat tingkah lucu Aleta. "Hahaha. Makan dulu baru ngomong.." Alexi mengambil nasi yang berada di sudut bibir Aleta. "Lagian gua gak laper." Lanjut Alexi.


Aleta menelan makanannya sebelum berbicara. "Yaudah gini aja deh, gue kan bawa bekel lumayan banyak isinya kita berdua aja gimana?" Saran Aleta.


"Nanti lo gak kenyang."


"Kenyang lex.. Ya.. Berdua ya...?" Mohon Aleta.


"Siap."


Kini Aleta makan sembari belajar. Kalau boleh Aleta jujur, Saat ini Aleta benar benar tidak fokus ke apa yang ia pelajari. Setengah dari pikirannya memikirkan Alexi yang kini menjadi manis dan sangat perhatian. Sunggub Aleta berharap, kejadian seperti ini akan berlangsung selama lama lamanya. Karena saat saat ini lah Aleta sangat bahagia, sangat! Alexi, dia sangat mencitai Alexi.


______________________________________


Bel pulang berbunyi, kini Alexi menunggu Aleta di parkiran bersama ketiga sahabarnya. Aleta memang belum pulang tentu saja, karena kini Aleta sedang berada di ruang guru karena ia di panggil oleh wali kelasnya.


"Lex.. Lo yakin gak bakal nyakitin dia kalo lo kaya gini?" Tanya Agam.


Alexi menggelengkan kepalanya seraya dengan helaan nafas. "Gak tau gam. Setidaknya Aleta ngingat gua pernah bahagiain dia juga."


"Tapi lex cara lo salah bro." Sahut Tristan.


"Iya lex. Justru dengan cara lo begini, malah nambah dia sakit hati karena lo." Agam berusaha memberi tahu Alexi.


"Terus gua harus gimana gam..? Tan..?  Mon...?" Tanya Alexi kepada Agam, Tristan, dan juga Mon secara bergantian.


"Kalo lo mau ninggalin dia, tinggalin dia sekarang! Sebelum lo dan Aleta bener bener di titik tidak saling ingin meninggalkan. Di saat itu terjadi, lo dan Aleta bakal sakit.. Lebih sakit dari lo tinggalin Aleta sekarang!" Jelas Agam.


Mon merangkul Alexi. "Bro! Gua tau bahkan Tristan sama Agam juga tau, yang namanya ninggalin orang yang lo sayang itu emang gak gampang. Tapi, lo ninggalin demi kebaikan lo sama Aleta.. Itu gak jadi masalah lex! Suatu saat Aleta bakal ngerti sama keputusan lo."


Di saat Alexi, Agam, Tristan, dan Mon tengah serius memberi masukan terhadap hubungan Alexi dan Aleta, Aleta muncul secata tiba tiba tidak lupa dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajah cantik Aleta. "Lex?" Panggil Aleta. "Oh hai Agam, Tristan, Mon.." Sapa Aleta begitu melihat ketiga sahabat pacarnya itu.


"Hai Aleta!" Sapa balik Agam dengan ramah. "Yaudah kalo gitu kita duluan ya lex." Pamit Agam, lalu pandanganya beralih ke Aleta. "Let.. Balik duluan ya!"


Setelah ketiga sahabat Alexi pergi, kini giliran Aleta dan Alexi pergi keluar dari sekolah itu. "Mau langsung pulang atau, kita jalan jalan dulu?" Tanya Alexi.


"Aku mau pulang aja lex.." Kata Aleta dengan nada lemas. Kalian tahu? Yang di bicarakan oleh Alexi dkk ternyata Aleta dengar dari awal hingga akhir.


_______________________


Aleta ❤