
Beberapa jam sebelum kejadian...
"Kamu bisa langsung menjemput Al di sekolah Olin." Kata Neandro.
Olin melihat jam yang melingkar di pergelangan kurus itu. "Ah.. Udah jam segini. Yaudah, Olin jemput Al dulu ya eyang?"
Neandro hanya mengangguk sembari menampilkan senyuman khasnya. Setelah ia memastikan bahwa Olin sudah benar benar pergi, baru lah Neandro berani berbica empat mata dengan wanita yang di hadapannya ini.
"Apa kabar? Oh! Saya belum menanyakan itu kan- Felly~?"
Oh siapa sangka itu ternyata Felly. Tunggu! Bukan kah Felly sudah meninggal? Lantas siapa yang di dalam tanah di kubur dengan nisan bertuliskan nama Felly itu? Mungkin dari kalian mulai menebak nebak apa yang terjadi dengan Felly di masa lalu, tepatnya 1 tahun yang lalu. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan itu semua. Tunggu saja di waktunya ok~ T_T
"Gak usah basa basi deh! Ada apa anda manggil saya lagi?" Tanya Felly dengan melipat kedua lengannya di depan dada sembari memasang muka malas melihat sih tua bangka yang ada di hadapannya.
"Simpan dulu sikap angkuhmu itu Felly.."
Brak! Felly menggebrak meja cukup kencang. Namun, tidak membuat wajah santai Neandro berubah. "Cepat jelasin! Saya kesini bukan untuk ngedengerin basa basi anda tau! Cepat langsung ke intinya. Saya selalu emosi kalau berhadapan dengan anda!" Felly membuang mukanya dan memutar bola matanya malas setelah mengatakan itu.
"Baik saya tidak akan berbasa basi." Ada jeda di kalimat Neandro. "Kembali lagi bersekolah." Singkat namun sukses membuat Felly terkejut.
"Apa! Anda gila Neandro?!" Nada bicara Felly naik. "Anda yang membuat saya seolah mati! Sekarang kamu ingin saya balik lagi ke sekolah itu? Sebagai apa? Felly? Atau hantu yang menakut nakuti seluruh sekolah? Hah!" Kesal Felly.
Neandro tersenyum evil. "Mungkin yang terakhir? Menjadi hantu yang menakut nakuti seluruh sekolah. Kau bisa melakukan itu."
Felly mendengus. "Gila..! Gila! Anda benar benar gila!"
"Kau masih mencintai Alexi?" Pertanyaan yang sukses membuat Felly menoleh dan terdiam ke arah Neandro. Neandro tertawa remeh. "Lihat? Ternyata mudah membuat kamu bungkam Felly."
"Dengar! Masih atau enggak, itu bukan urusan Anda!" Kata Felly tegas.
Lagi, Neandro tertawa remeh. "Kasihan kamu.."
"Apa maksud anda?"
"Apa kamu pikir, Alexi masih memikirkan kamu?" Tanya Neandro, namun tidak ada jawaban dari Felly. Neandro pun melanjutkan omongannya. "Alexi sudah punya kekasih, Felly.. Haha!" Neandro tertawa. "Saya tau kamu pasti masih mencintai cucu saya Alexi, sedangkan Alexi? Dia sudah mendapatkan peganti kamu.. Bahkan dia lebih cantik dari kamu." Neandro berusaha memancing emosi Felly.
Seletika tubuh Felly bergetar, ia lemas. Namun masih berusaha untuk berdiri dan kuat di hadapan Neandro. Apa lagi jika ia ahu bahwa ia sedikit terpancing dan tergucang oleh ucapan Neandro. Elly menghela nafas dalam. Ia berusaha menatap kembali manik mata Neandro. "Lalu, anda pikir saya perduli sama omongan anda barusan? Dengar! Mau Alexi punya seribu wanita di bumi ini, itu bukan urusan saya Neandro! Lagi pula, saya yang membuat Alexi berpaling dari saya. Karena anda! Karena hati busuk anda Neandro! Enggak bisa kah sedikit aja anda beri Alexi kebebasan? Alexi masih terlalu muda untuk anda kekang! Sekarang saya tau apa yang ada di pikiran anda. Pasti anda menyuruh saya kesini karena Alexi berpacaran dengan wanita sederhana yang ayahnya enggak punya harta dan jabatan, iya kan?"
Neandro bertepuk tangan. "Hebat! Wanita yang pintar."
"Kenapa selalu Alexi yang anda perlakukan enggak adil kaya gini? Cucu anda kan bukan Alexi aja. Ada Al! Al juga lebih tua dari Alexi, yang secara otomatis perusahaan anda akan jatuh kepada Al." Ujar Felly.
"Kamu tau apa tentang keluarga saya dan bisnis yang saya kelola Felly? Kamu anak kecil yang seharusnya sekolah. Lagi pula pikiranku dan anak kecil sepertimu itu jauh berbeda."
"Udah?"
"Apa yang sudah?"
"Kalau udah ngomongnya, saya mau pergi! Di sini AC banyak, tapi tetep panas kaya neraka. Karena orang yang menghuninya adalah iblis!"
Plak! Neandro menampar Felly cukup leras. "Kurang hajar! Saya berusaha berbicara baik baik tapi kamu malah ngelunjak Felly!" Emosi Neandro memuncak.
Felly memegangi sebelah pipinya yang menjadi sasaran emosi Neandro. "Anda emang iblis Neandro! Enggak ada manusia punya akal busuk kaya anda! Stop jadiin Alexi boneka anda!"
Neandro murka, ia bangun dan mencengkram dagu Felly sekencang kencangnya. "Kau tinggal mengikuti perintahku Felly! Dengan begitu hidupmu aman!" Neandro melepaskan cengkeramannya dsri dagu Felly dengan kasar membuat Felly terdorong jatuh. "Sekarang! Bawa Alexi kehadapanku! Cari dia di sekolah, atau di tempat wanita yang sekarang Alexi pacari! Kalau dia tidak mau seret!" Titah Neandro ke beberapa lelaki berbadan kekar yang di ketahui adalah bodyguard dan juga Felly yang masih terduduk di lantai. Mau tidak mau Felly harus mengikuti perintah Neandro. Untuk saat ini, hanya untuk saat ini.
______________________________________
"Alexi?" Felly menepuk pundak Alexi pelan dan dengan pergerakan yang minim karena di belakangnya ada mobil yang berisikan pesuruh sang eyang.
Alexi membuka Helm yang ia gunakan. "Kenapa?"
"Kamu baca sms yang aku kirim tadi kan?" Tanya Felly.
Alexi hanya mengangguk.
Flashback on
Drrt.. Ponsel Alexi bergetar, bertandakan ada satu pesan masuk.
From : +6281285xxxxxx
"Nanti ada pesuruh eyang kamu yang bakal nyeret kamu lex. Tolong jangan tanya aku siapa, itu gak penting seksrang. Tapi, pas waktunya tiba. Tolong kamu ikutin apa yang pesuruh eyang kamu bilang. Sisanya bakal aku jelasin, nanti setelah kamu ketemu eyang kamu."
Saat Alexi dan Aleta sampai di rumahnya Aleta dan hendak masuk untuk mampir, segerombolan lelaki pesuruh eyangnya datang. Jujur, saat Alexi melihat Felly ia sempat terkejut. Namun, ia teringat dengan pesan yang masuk belum lama ini. Alexi bisa menyimpukan bahwa itu Felly yang mengirim.
Perasaan Alexi memang sedang bercampur aduk, maka dari itu Alexi menjadi pemarah. Contohnya saat Alexi membentak Aleta, Rasa bersalah menyelimuti Alexi. Namun saat ini ia harus mengorbankan perasaan Alets terlebih dahulu dan mengikuti skenario yang di buat sang eyang.
Flashback off
"Lex...?" Panggil Felly lembut.
"Hm?" Alexi hanya bergumam.
"Tadi pacar kamu?"
Alexi mengangguk, hanya mengangguk.
"Dia... Mirip aku banget lex.."
Di waktu yang sama di lain tempat..
Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu menyadarkan Aleta dari lamunannya. "Aleta sayang..? Makan siang dulu..." Titah sang ibu, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Aleta.
"Aleta..?"
"Aleta gak laper mah.. Nanti kalo laper Aleta makan kok.." Kata Aleta lemas.
"Kamu sakit sayang?" Suara sang ibu terdengar khawatir.
"Engga mah.."
"Yaudah, kalau kamu sakit bilang mamah ya sayang.."
"Iya mah.."
Aleta berjalan ke arah ranjang saat sebelumnyan ia duduk di depan meja rias dan menatapi wajahnya sendiri di cermin. "Itu bukan mimpi.. Itu petunjuk, bahwa di masa depan gue pasti bakal putus sama Alexi.." Kata Aleta berbicara dengan dirinya sendiri.
Saat di mana Aleta sedang sedih dan terluka ponsel Aleta berbunyi. Begitu suara milik ponselnya berbunyi, Aleta langsung mencari keberadaan sang ponsel pintar yang entah ia taruh di mana. Terus terang, Aleta sangat sangat berharap bahwa yang menelponnya adalah Alexi, Alexi yang tadi mengacuhkannya dsn meninggalkannya.
Ketemu! Akhirnya ponsel Aleta sudah ada, namun ekspresi wajah Aleta kembali muram. Ternyata bukan Alexi yang menghubunginya, melainkan Al. Yaahh.. Memang mustahil jika Alexi secara tiba tiba berubah pikiran dan menghubunginya. Aleta mengangkat telpon dari Al.
"Halo Kak?"
"Halo let..?"
"Ada apa?"
"Mau temenin gua gak?"
"Maaf kak tap.."
"Engga ada penolakan!"
"Kak.."
"Pliisss.."
"Gue lagi gak mood ngapa ngapain kak.."
"Lo lagi brantem sama Alexi?" (Al pura pura tidak tahu.)
"Engga. Cuma.. (Aleta menghela nafas) engga lagi mood aja."
"Makanya ayo pergi sama gua, biar bad mood lo juga ikut pergi! Gimana?"
Aleta diam.
"Karena lo diam, gua anggap lo setuju! Nanti malem lo gua jemput jam 7. Bye..!" (Al memutuskan sambungan telponnya.)
"Tapi kak? Halo? Halo? Kak Al?"
"Ih di matiin! Gue belum selesai ngomong.." Aleta diam sebentar. "Tapi.. Kalau gue cuma ngurung diri di kamar malah nambah bad mood, nanti malah ujung ujungnya gue stress lagi. Terus nanti gue darah tinggi? Ah engga engga! Ok, gue harus ikut kak Al." Gumamnya.