ALEXI

ALEXI
ALEXI - 22. ORANG BARU



"Pagi om.. Pagi tante.. Pagi sepupu gua yang cantik." Begitulah kira kira sapaan pagi dari seorang Brian ketika ia baru saja menghampiri ke meja makan.


Ayah ibu Aleta menyapa balik si anak manja Brian dengan ramah. "Pagi sepupu om yang paling ganteng." Sedangkan Aleta hanya melihat jijik ke arah Brian.


"Kenapa lo?" Tanya Brian yang melihat wajah Aleta yang nampak tidak senang dengannya.


"Lo mau sekolah di sekolahan gue?" Tanya Aleta.


Brian mengangguk. "Yoi, nanti bareng ok leta?"


"Yee ogah!"


"Aleta..." Tegur sang ibu membuat Leta mengerucutkan bibirnya sembari mendumal.


"Lagian lo udah daftar di sekolahan gue?"


"Udah leta, papah yang daftarin Brian." Sahut ayahnya.


Aleta tersentak. "Loh kapan papah daftarin nih curut?"


Ibu Aleta mencubit pinggang Aleta, guna memperingatkan anak semata wayangnya itu. Namun bukan Aleta namanya bila ia tidak berbicara frontal. "Yee kepo lo!" Kata Brian sembari meledek ke arah Aleta.


"Awas lo ya..!"


"Udah udah makan dulu leta Brian!" Ayah Aleta memberi peringatan kepada Aleta dan Brian.


______________________________________


"Wah sekolahan lo bagus juga leta.." Reaksi Brian ketika mereka sampai di sekolahan. Brian dan Aletapun turun dari mobil baru milik Brian setelah sebelumnya memarkirkan mobilnya.


Aleta menggibas rambutnya di hadapan Brian. "Iyalah, yang sekolahnya di sini juga cantik. Hahaha.." Kata Aleta membuat Brian jijik, namun itulah Aleta ia yang berbicara ia juga yang merasa jijik terhadap dirinya sendiri.


Brian memasang wajah seolah olah akan muntah di hadapan Aleta. Tapi, bukannya marah atau tersinggung Aleta malah tertawa. "Yaudah yuk ah kekelas."


"Maaf maaf aja nih.."


"Kenapa?"


"Gua kan masuk IPS."


Aleta menepuk keningnya sendiri. "Oh iya... Yaudah lo gue anter ke ruang guru aja deh."


"Ketemu dilan dong ya?"


"Dilan?"


"Kan dia lagi promosiin itu..."


Baru mengerti apa yang Brian bicarakan, Aleta tertawa. "Haha.. Ngaco lo ah! Udah ayo gue anter!" Aleta mulai menarik tangan Brian."Ayo.." Aleta menarik tangan Brian.


"Eh mau kemana?" Brian menahan tarikan Aleta.


"Ruang guru.."


"Engga bisa ke kantin dulu apa ya?"


Aleta menggeleng. "No! Abis nganter lo gue mau belajar dulu, guru matematika gue bilang ada ulangan dan gue gak mau sampe remedial!"


Brian memutar bola matanya malas. "Gini nih ya punya sepupu kelewat cinta sama pelajaran!" Kata Brian sebal.


"Aleta?" Seseorang dari jauh memanggil Aleta, membuat Aleta dan Brian kini beralih ke arah si orang yang memanggil.


"Siapa?" Tanya Brian kepada Aleta, ia bertanya prihal orang yang memanggil Aleta tadi.


"Temen gue."


Febbi, yup! Febbi yang memanggil Aleta tadi. Kini dari arah lain Febbi berlari ke arah Aleta dan Brian berdiri. "Aleta?" Panggil Febbi lagi setelah sampai di samping Aleta dengan nafas terengah engah.


Febbi menarik sedikit baju seragam yang Aleta kenakan. "Itu siapa?" Bisik Febbi.


"Oh ya Feb kenalin, ini Brian sepupu gue. Brian ini Febbi temen gue." Aleta mengenalkan Brian kepada Febbi begitu juga sebaliknya.


Febbi dan Brianpun berjabat tangan tanda mereka sudah berkenalan. Merasa cukup perkenalan mereka pun melepaskan jabatan tangan mereka.


"Febb, gue nganter sepupu gue dulu ya keruangan guru lo duluan aja."


Febbi mengangkat ibu jarinya. "Ok." Setelah mengatakan itu Febbi pergi terlebih dahulu menyisakan Aleta dan Brian.


______________________________________


Di sisi lain di waktu yang sama. Di kediaman Neandro atau eyang dari Al dan juga Alexi, tengah kedatangan tamu jauh. Seorang wanita cantik, berbadan tinggi bak model, lekuk badan yang terlihat sempurna, kulih putih pucat namun elegan, rambut panjang bergelombang, bulu mata yang lentik, hidung yang tidak terlalu mancung tetapi tetap indah, bibir yang tipis berwarna merah ceri menggambarkan betapa sempurnanya wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Neandro ini.


"Selamat datang cucuku." Sambut Neandro membuat senyuman mengembang di wajah wanita sempurna itu.


"Terim kasih eyang, atas sambutanmu." Wanita itu mempunyai suara yang lembut yang bisa di pastikan siapapun akan langsung jatuh cinta di buatnya.


"Bagaimana kabarmu Olin?"


Krystal Carolin atau sering di sapa Olin, adalah anak pemilik perusahaan ternama di Kanada. Olin adalah anak semata wayang dan berdarah campuran indonesia kanada. Olin adalah anak yang cerdas dan cantik, banyak perusahaan besar ingin menjadikan Olin menantunya seperti yang di lakukan Neandro sekarang.


Yup! Neandro sengaja mengundang Olin datang ke indonesia untuk di jodohkan dengan salah satu cucunya, bisa di katakan ini juga termasuk bisnis. Jika ayahnya Olin adalah pemilik perusahaan terbesar di Kanada? Bisa di pastikan bahwa Olin kaya raya yang suka menghamburkan uang seperti berpesta contohnya? Apa lagi budaya barat sangat berbeda dengan budaya timur seperti indonesia. Namun itu tidak berlaku di kehidupan Olin! Keluarga Olin memang bergelimang harta, namun Olin bukan tipikal orang kaya yang suka menghamburkan uang. Olin malah sering membantu orang dengan ikut bergabung dengan UNICEF.


"Sangat baik eyang. Bagaimana dengan eyang?"


"Yang seperti kamu lihat, eyang semakin tua." Neandro membuat lelucon yang mengundang tawa singkat Olin.


"Haha dari dulu eyang memang lucu ya.."


Neandro menaruh cangkir berisi teh yang sebelumnya ia ambil untuk meminumnya. "Rencananya kamu menginap di hotel mana?"


"Mungkin hotel di dekat sini saja eyang."


"Sebentar.." Neandro seperti sedang berpikir.


"Kenapa eyang?"


"Bagaimana kalau kamu menginap di rumah anak pertamaku?"


Olin sedikit bingung. "Anak pertama eyang?"


Neandro mengangguk. "Yah! Kamu masih ingat Al kan?"


"Iya aku masih mengingatnya."


"Kau menginap di rumahnya saja, bagaimana?"


"Tapi... Ini sangat mendadak eyang, apakah Olin tidak mengganggu?"


"Tentu tidak cucuku! Brata,Nency dan Al pasti suka kamu menginap di sana."


"Baik, kalau tidak merepotkan mereka aku tidak keberatan eyang."


"Yasudah eyang akan menelpon Al dulu."


______________________________________


"Aleta lo udah nganter sepupu lo itu?" Tanya Febbi begitu Aleta sampai di dalam kelas dan duduk di sampingnya.


Aleta mengangguk. "Udah." Jawab Aleta singkat.


"Dia rencana masuk apa ipa atau ips?"


"Ips deh kayanya."


"Kenapa gak masuk ipa aja kaya lo?"


Aleta mengangkat kedua bahunya acuh, lalu mengeluarkan buku catatan matematika miliknya. "Udah ya jangan ganggu gue mau belajar!"


"Belajar mulu lo!"


Aleta menatap sinis ke arah Febbi. "Belajar itu penting kali..."


"Ya lo sih gila belajar ta.. Kalo bisa lo telen tuh telen buku catetan mtk biar lu bisa mencerna rumus rumus yang bikin puyeng seribu umat."


Mendengar ucapan Febbi Aleta malah tertawa. "Seribu umat pala lo! Lo doang kali Febb, lo kan benci banget sama pelajaran mtk."


"Yee.. Yang laen juga gitu ta! Oh yah btw masa skor nya Alexi sama kak Al tinggal berapa hari lagi sih ta?"


Aleta mengetuk ngetuk pulpen ke mejanya tanda ia sedang berpikir. "3 Hari lagi deh kayanya. Kenapa? Lo kangen kak Al? Atau kangen Alexi?"


Febbi mendorong pelan Aleta. "Ngaco lo! Gak dua duanya lah.."


Aleta mendekatakan bibirnya ke telinga Febbi. "Atau Agam?" Kata Aleta sembari berbisik membuat Febbi secara spontan menjauhan dirinya dari Aleta. Aleta yang melihat reaksi Febbi hanya tertawa terbahak bahak membuat Febbi kesal di buatnya.