ALEXI

ALEXI
ALEXI - 47. PENJELASAN



Entah mengapa langkah kaki Alea membawanya terus sampai ke sekolahnya dulu, sekaligus tempat Alexi kekasihnya sekolah. Tunggu! Apakah pantas Alexi masih di sebut seorang kekasih? Ah lupakan! Keadaan sekarang sudah rumit, sampai sampai membuat Aleta sendiri bingung dan stress memikirkannya.


Taxi yang membawa Aleta berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sekolah yang pernah akhirnya mempertemukannya dengan cinta pertama. Aleta keluar dari taxi tersebut, ia kebingungan mengapa ia harus memberi tahu sang supir untuk menuju kesini. Bukan kah tadi Aleta hendak pulang saja? Ada apa dengan dirinya.


Aleta menundukan wajahnya seraya dengan helaan nafas berat, ia berbalik menunggu angkot atau angkutan umum yang biasa ia gunakan dari sekolah hingga kerumahnya. Namun saat sapaan merasuk ke dalam telinganya, Aleta menoleh.


"Aleta?"


"Alexi?"


Aleta maupun Alexi masih terdiam dan terpaku di tempatnya tanpa melakukan apa-apa. Sahabat sahabat Alexi yang beberapa langkah di belakang Alexi melihat dan mempercepat langkahnya menuju Alexi. "Samperin lex! Samperin!" Titah Mon, ia mendorong Alexi guna Alexi tersadar bahwa kehadiran Aleta yang langka itu memberi kesempatan Alexi itu mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


Alexi mengikuti apa kata sahabatnya, ia berjalan menghampiri Aleta yang kini masih menatapnya dengan diam. "Let.." Sapa Alexi dengan nada lembut, membuat Aleta terhipnotis dengan suara berat namun lembut Alexi.


Aleta hanya tersenyum lirih sebagai jawaban. Aleta benar benar tidak tahu harus mengatakan apa. Seharusnya ia tidak begini! Yang harus Aleta lakukan adalah pergi dari sana meninggalkan dan menjauh dsri Alexi. Namun apa ini? Oh ayolah, hati Aleta masih untuk Alexi. Mau seberapa jauhpun Aleta bersembunyi atau menjauh dari Alexi. Dengan secara sendirinya mereka akan terus bertemu dan begitu sampai Aleta merasa Alexi bukan miliknya.


"Kenapa di sini?" Tanya Alexi dengan wajah tersenyum namun terlihat terluka.


"Aku ada urusan di sini, nanti aku bakal balik lagi."


Ada raut kekecewaan di sana, di wajah Alexi. "Jangan pergi lagi emang gak bisa ya?"


Aleta tertawa dengan air mata yang menetes tanpa seizin aleta, lalu Aleta menyentuh pipi Alexi dengan sayang. "Gabisa.. Aku kan udah pindah sekolah lex.."


"Batalin aja."


Bukannya menjawab, Aleta tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. "Mau ikut aku gak?"


Alexi mengangguk. "Kemanapun."


____________________


Aleta membawa Alexi ke sebuah taman hiburan. Dengan bergandengan tangan Aleta dan Alexi saling melirik lalu tersenyum. Mereka melupakan hubungan mereka yang sudah tidak jelas ini. Mereka belum putus, memang. Tidak ada yang pernah secara langsung mengatakan putus. Baik Alexi maupun Aleta sama sama hanya memilih untuk saling menjauh dan menjaga jarak. Mungkin karena itulah mereka tersiksa dengan tembok yang mereka buat di antara keduanya.


"Mau naik itu?" Aleta menunjuk wahana bianglala yang terngah berputar. Tanpa memikir panjang, Alexi mengangguk bertanda bahwa ia mengikuti apa saja mau Aleta.


Mereka berdua berlari kecil tanpa melepaskan genggaman tangan mereka saat mereka hendak menuju wahana itu. Saat mereka sudah berhasil naik, Aleta dan Alexi yang duduk bersebelahan menoleh ke arah kaca yang menyuguhkan ke pemandangan kota jakarta dari atas.


"Kamu inget gak lex? Kalo di sini itu kamu nembak aku?" Aleta bertanya penuh dengan kebahagiaan, sangat sangat berbanding terbalik dengan keadaan hatinya yang hancur.


Alexi tersenyum lalu mengangguk. "Inget! Inget banget."


Aleta tersenyum malu. "Waktu pas kamu nembak aku, aku gak bisa tidur lex. Rasa aneh aja gitu karena ini pertama kalinya." Aleta kembali melihat ke arah luar jendela. "Awalnya aku benci banget sama kamu."


"Loh kenapa?"


Alexi tertawa. "Aku pinter kok enak aja!" Alexi berkata dengan wajah masam dan mengalihkan pandangan dari Aleta.


Di saat Alexi tengah berpura pura marah pada Aleta, Alexi membukatkan matanya karena terkejut karena sepasang tangan mendekap tubuhnya dari samping. Alexi menoleh kearah Aleta, ia mendapati Aleta tengah memeluknya dengan erat. Alexi membalas pelukan Aleta. Aleta menangis, tak tahan menahan semuanya. Cinta monyet yang seharusnya indah justru Aleta merasakan sebaliknya.


"Maaf Alexi..." Ujar Aleta lirih di balik pelukannyan.


"Aku yang harusnya minta maaf let.. Aku gak bisa nolongin kamu! Aku gak bisa buat hubungan kita baik-baik aja! Aku gak bisa nahan kamu supaya kamu gak pergi! Aku gak bisa let.. Aku minta maaf."


Aleta melepaskan pelukannya dan menatap Alexi. "Kamu mau lawan eyang?" Tanya Aleta tiba-tiba membuat Alexi bingung di buatnya. Apa ini? Melawan eyang? Hal yang mustahil di lakukan seorang Alexi. Ia sangat mematuhi apa kata sang eyang, di tambah antara ayahnya dan ayah Al ada pertikaian tentang harta yang membuat Alexi mau tidak mau menjadi boneka sang ayah.


"Mau."


______________________________________


"Terus abis itu lu cari tau?" Tanya Brian pada Felly.


Felly mengangguk. "Gue cari tau ke panti asuhan dulu tempat gue dulu di besarin. Gue tanya apa gue punya kembaran atau engga, dan mereka jawab ada. Karena saat itu gue sama kembaran gue masih bayi, orang panti asuhan belum sempet kasih nama gue sama kembaran gue itu. Sampai akhirnya kembaran gue itu di adopsi sedangkan gue baru di adosi waktu gue umur 12 tahun."


"Lo bisa tes DNA itu gimana caranya?"


"Gue suruh nyokap Aleta buat ngambil sehelai rambutnya, dan gue kasih ke laboratorium untuk di tesDNA. Dan ya.. Hasilnya 99.9% gue sama Aleta itu kembaran atau sedarah."


"Dari cerita lo yang sespesifik itu, gue percaya sama lo. Hasil tes DNA yang ilang itu biarin aja, gue bisa bantu jelasin ke Aleta dan ajak Aleta buat ngetesDNA berdua sama lo supaya dia yakin dan percaya sama lo."


Felly mengangguk. "Iya gue juga mikir kesitu cuma gua pikir kalo cuma gue yang ngeyakinin Aleta, pasti Aleta gaakan percaya sama gue. Jadi tolong ya Brian... Gue butuh lo! Gue juga penasaran sama siapa oramg tua gue."


"Iya gue bakal bantu lo tenang aja. Sekalian juga sih gue mau Aleta itu tau siapa dia sebenarnya. Gua bener bener gak nyangka kalau Aleta bukan sepupu gua beneran."


"Kenapa kecewa?"


"Aleta itu baik banget fel, tapi jahat, ngeselin. Ga ngerti lagi sih sama Aleta. Dia itu bisa bikin orang di sekitarmya sayang sama dia,nyaman sama dia. Padahal lo tau sendiri dia itu egois, cepet marah. Belom lagi dia itu gila belajar banget."


"Gue ngerti.." Felly mengelus pundak Brian.


Brian tersenyum. "Jadi lo sama Alexi udah putuskan?" Tanya Brian tiba tiba.


"Gaada yang bilang putus karena Alexi taunya gue udah meninggal. Tapi itu udah setahun yang lalu dan dia juga udah ada Aleta dan keliatannya juga Alexi sayang sama Aleta jadi gue anggap hububgan gue sama Alexi udah selesai waktu gue milih uang dan pergi keluar negri." Felly tersenyum kecut.


"Lo pasti bakal dapet cowo yang lebih."


Felly tertawa. "Haha iya thanks Brian."