ALEXI

ALEXI
ALEXI - 44. KEBAHAGIAAN KECIL



"Ada apa lagi sih saya di panggil ke sini?" Tanya Felly geram pada orang yang ada di hadapanna sekarang. Siapa lagi kalau bukan Neandro si tua bangka yang selalu membuatnya geram dan kesal srtiap kali melihat wajahnya.


Tadi saat Felly berjalan hendak pulang, Felly mendapatkan pesan singkat dari Neandro untuk menemuinya di rumahnya. Walaupun kesal, Felly pasti tetap akan datang karena jika tidak datang yang ada masalahnya akan tambah panjang.


Neandro tertawa. "Jangan seperti itu padaku.. Hidupmu enak seperti ini itu juga karena ku bukan?" Ujar Neandro membuat Felly terpancing emosinya.


"Siapa yang mau seperti ini! Heh tua bangka! Saya sudah muak ya sama anda! Saya pergi dan menerima semuanya karena kau selalu ancam! Gak sadar ya?! Cih!" Felly berdecih di akhir kalimat membuat Nenadro menatap sinis ke arah Felly.


"Jaga tata bicara kau anak sampah!" Neandro berbicara dengan nada santai namun menusuk.


"Anak sampah?" Felly tertawa remeh. "Lebih sampah perlakuan mu Neandro! Kasian Alexi, seumur hidupnya gak pernah tenang gara gara punya eyang seperti kamu!" Lanjut Felly.


Plak! "Dasar anak kurang hajar!" Neandro menampar Felly. "Kau tau apa tentang usahaku menjaga Alexi dari anak anak buangan seprti kamu dan Aleta itu!" Nada Neandro mulai meninggi. "Kalian sama saja seperti orang tua kalian!" Setelah mengatakan itu Neandro memberi isyarat pada anteknya untuk menyeret Felly keluar dari rumah besar itu.


Hanya satu yang terngiang di dalam otak Felly saat ia berhasil di tendang dari rumah itu, yaitu kalimat Neandro yang menunjukan seolah Neandro mengenal ayah dan ibunya.


______________________________________


"Wih bro baru dateng?" Sapa Mon setelah ia melihat Alexi datang ke basecamp baru mereka beberapa minggu yang lalu.


Alexi tersenyum pada ketiga temannya lalu membuat tos ala mereka berempat. "Suasananya kaya lagi bagus nih lex." Goda Agam. "Ada apa nih?" Tanya Agam.


Alexi tertawa. "Haha! Gak ada..." Alasan Alexi.


"Eh eh tapi bener dah, Alexi beda nih hari ini. Lo... Dapet cewe baru?" Heboh Mon. "Kenalin lah... Cantikan yang sekarang apa yang lagi di luar negri nih..?" Goda Mon.


Alexi memukul pundak Mon. "Kaga ada anjing! Sok tau lo." Kemudian Alexi tertawa.


"Aleta mau balik kali tuh." Celetuk Tristan membuat Alexi dan yang lain terdiam.


"Serius?"


"Serius?" Tanya Mon dan Agam secara bersamaan sembari menatap Alexi menuntut jawaban.


Alexi mengangguk. "Tapi dia balik cuma mau mastiin apa yang di omongin Felly itu bener atau engga sih.." Alexi menunduk.


Agam menepuk bahu Alexi. "Gapapa bro! Kalo nanti Aleta balik ke indonesia, lo tinggal minta maaf sama dia biar lo nya juga lega. Selebihnya itu urusan Aleta mau gimana." Ujar Agam.


"Iya Agam bener lex, Aleta pasti ngerti. Di sini juga bukan 100% salah lo kan? Lo nya juga gak tau apa apa." Sahut Mon.


"Iya. Thanks bro!" Ujar Alexi sembari tersenyum kepada ketiga sahabatnya.


"Ternyata Alexi bisa bucin ya." Celetuk Tristan membuat gelak tawa Mon dan juga Agam.


Alexi cemberut. "Sialan! Makanya jangan jomblo ***! Nanti lo punya pacar terus lo bucin juga gua ledekin lo sampe mampus ya babi..!" Ujar Alexi tak terima.


Tristan memutar bola matanya malas. "Iye.." Ucap Tristan acuh.


______________________________________


"Lo serius ta..?" Tanya Brian sembari mengikuti langkah kaki Aleta yang mondar mandir membereskan bajunya dan memasukan bajunya kembali ke dalam koper.


"Pikirin baik baik lagi ta.. Kan ini pilihan lo mau ke sini, Sekarang udah di sini lo mau balik?" Pertanyaan yang sukses membuat pergerakan Aleta terhenti.


Aleta menghela nafas, lalu ia menatap Brian. "Gini. Gue balik bukan tanpa alasan ok, lo tau itu kan? Di sini gue harus tau siapa gue sebenarnya." Jelas Aleta.


"Tapi dia bisa ajakan memanipulasi ta.. Lo jangan langsng percaya gitu dong!"


"Karena gue gak percaya, makanya gue mutusin buat balik dan lihat dengan mata kepala gue sendiri! Semoga itu bohong! Itu yang gue harap." Aleta kembali pada aktivitasnya.


"Kalo gitu gue gak ikut."


"Yaudah." Ujar Aleta cuek.


"Aleta!" Bentak Brian.


"Berisik lo! Sana keluar!" Bukannya takut atau kaget dengan bentakan Brian, Aleta malah mengusir Brian keluar dari kamarnya.


"Alah kampretttttt!" Brian keluar dari kamar Aleta.


Setelah Aleta melihat Brian keluar Aleta tertawa sendiri melihat tingkah laku Brian yang menurut Aleta menggemaskan. Harap di maklum saja mereka sudah bersama sejak kecil jadi sudah seperti kakak adik yang kerjaannya bertengkar dan tak lama kembali berbaikan.


Saat tengah sibuk membereskan bajunya, satu pesan masuk di ponsel Aleta mampu membuat Aleta beralih fokus. Aleta pun mengambil ponselnya dan membaca pesan dan siapa sangka itu adalah pesan dari Alexi.


"Aleta?" Hanya pesan yang isinya sangat singkat tetapi mampu membuat Aleta tersenyum di buatnya. "Kenapa?" Aleta membalas pesan dari Alexi dan kembali membereskan bajunya sembari menunggu pesan dari Alexi. Lalu tidak lama kemudian pun Alexi kembali membalas pesan Aleta.


"Maaf gua gak dateng ke bandara."


Aleta membalas. "Gapapa."


"Gua tau kok lo bakal balik lagi.."


"Gimana bisa?" -Aleta


"Karena tulang rusuk lo ada indonesia bukan di aussie."


"Sok tau lo." -Aleta


"Ya pasti tau lah ta, kan ini yang lagi chatan sama lo sebelah tulang rusuknya punya lo."


"Heh! Sejak kapan Alexi jago ngegombal? Pasti lo di ajarin sama Mon kan?" -Aleta


"Yaahhh ketauan hehe."


Aleta tidak bisa menahan kebahagiannya yang sederhana ini. Bak seorang yang baru saja jatuh cinta, Aleta tertawa sendiri membaca pesan dari Alexi. Aleta memutuskan untuk tidak membalas lagi pesan dari Alexi, alasannya cukup simple karena ia tidak mau membuat Alexi salah paham. Padahal dalam hati Aleta yang paling terdalam ia sangat sangat ingin memperpanjang lagi obrolannya via sosmed dengan Alexi, namun sayang waktu, keadaan dan juga gengsi membuat benteng di antara Aleta dan Alexi.


30 menit kemudian, Aleta keluar dari kamarnya setelah siap membereskan bajunya yang kemudian ia masukan kedalam kopernya. Ia berjalan melangkah keluar kamarnya, apartemen itu cukup kecil di saat Aleta keluar dari kamarnya ia akan langsung di suguhi pemandangan ruang tv dan di samlingnya langsung terdapat dapur.


Aleta bisa melihat Brian yang tertidur di sofa depan tv saat ia sedang melihat siara malam itu. Memang sudah terlalu larut malam itu, membuat Brian yang memang kelelahan menjadi ketiduran di sofa. Aleta tidak mau membangunkan sepupunya itu, ia malah memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar dan mengambil selimut yang lumayan tebal untuk di selimuti di tubub Brian. Aleta menyelimuti selimut itu dan mematikan tv. Tidak lupa membereskan bekas sisa makanan Brian yang berantakan di sana. Melihat pemandangan seperti itu Aleta hanya bisa menggelengkan kepalanya karena wajar saja Brian itu laki-laki yang manja, ia mana tahu membersihkan makanan sendiri. Karena selama ini itu adalah tugas asisten rumah tangga.


"Sorry Brian."