ALEXI

ALEXI
ALEXI - 36. TIDAK MAMPU MENAHAN



"Aleta mau sekolah di Aussie." Seketika suasana di meja makan menjadi sunyi. Pernyataan Aleta yang mendadak itu membuat kedua orang tuanya yang ada di sana terkejut bukan main. Pasalnya selama ini Aleta tidak mau di kirim keluar negri untuk belajar, tapi apa ini? Aleta bahkan menawarkan dirinya sendiri dengan suka rela. Brian melanjutkan lagi makannya, tetapi sebenarnya ia tahu apa yang membuat Aleta tiba tiba ingin pergi bersekolah di luar negeri.


"Tapi sayang.. Kenapa mendadak?" Ibu Aleta berusaha bertanya apa alasannya.


Aleta mengangkat kedua bahunya. "Gatau, tiba tiba aja." Jawabnya.


"Bukannya selama ini kamu menolak?" Kini sang ayah membuka mulutnya.


Aleta terdiam, ia sebenarnya enggan pergi ke luar negri jauh jauh untuk belajar. Karena selama ini Aleta pikir di indonesia juga banyak sekolah terbaik dan bergengsi. Perekonimian keluarga Aleta memang tida buruk, di tambah lagi Aleta itu sangat pintar. Jadi ibu dan ayahnya akan melakukan apa saja untuk pendidikan Aleta supaya kepintaran yang Aleta punya dapat di asah dengan baik.


"Izinin aja leta om tante, Brian akan ikut Aleta ke Aussie." Ujar Brian yang membuat om dan tantenya itu menoleh.


"Loh.. Kamu juga baru beberapa minggu pindah sekolah ke sini Brian. Sekarang kamu mau pindah lagi ke luar negri? Lagian Aussie itukan bukan tempat ibu ayah kamu." Ujar ibu Aleta. Kini pandangannya beralih ke Aleta. "Untuk kamu Aleta, pikirkan matang matang lagi. Mamah gak mau loh, ketika kamu udah sampai ke Aussie dan kamu ngerengek pengen pulang ke indonesia." Kata kata ibunya hanya membuat Aleta terdiam.


"Aleta..? Kamu benar benar pengen ke Aussie bersekolah di sana?" Tanya sang ayah dan mendapat anggukan semangat dari Aleta.


"Iya pah.. Aleta janji gak akan ngerengek pengen pulang ke indonesia kok.. Tapi.." Aleta menundukan kepalanya dan menghela nafas. "Tapi.. Kasih Aleta waktu satu minggu ya mah pah? Menyelesaikan ujian, lagian kan ngurus pindahan kan butuh waktu?" Aleta melirik ke arah ibu dan ayahnya secara bergantian.


"Yaudah, besok mamah akan ke sekolah kamu buat ngurus pindahan kamu." Ujar ibunya lalu melanjutkan makannya.


"Tapi kamu yakin kan Aleta gak bakal nyesel sekolah dan tinggal di sana?" Tanya sang ayah meyakinkan putri semata wayangnya itu.


"Iya pah aku yakin, lagian kan aku sama Brian juga di sana. Jadi mamah sama papah jangan khawatir."


"Aleta..? Kalo ada sesuatu tolong di selesaikan di sini nak.. Papah memang gak tau apa masalah kamu. Tapi lari dari masalah gak akan menyelesaikan masalah kamu di sini."


Aleta terdiam, sebenarnya apa yang di katakan sang ayah ada benarnya untuk apa ia lari? Oh untuk menjauhi Alexi? Oh ayolah Aleta.. Cinta itu butuh perjuangan. Jauh dari lubuk hati Alexi yang paling dalampun ia ingin mempertahankan apa yang harusnya ia pertahankan, tapi apa yang Aleta lakukan? Ia malah ingin kabur seolah dengan kepergiannya membuat Alexi bahagia. Sepersekian detik kemudian, Aleta beranjak dari bangku dan berjalan meninggalkan orang tua serta Brian yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.


Ternyata Aleta menuju kamarnya, entah apa yang sedang ia lakukan yang jelas tidak lama setelahnya Aleta keluar dengan sudah bertukar pakaian menjadi pakaian lebih rapih. Kini langkah kaki Aleta kembali ke arah meja makan. "Mah pah Aleta mau pergi sebentar." Aleta berpamitan.


"Mau kemana Aleta malam malam begini?" Tanya sang ayah.


"Ada urusan pah. Gapapa kan pah? Aleta janji gak akan lama kok.." Mohon Aleta.


"Gue ikut!" Ujar Brian membuat semua orang memandangnya.


"Gausah! Gue bisa sendiri kok." Kata Aleta menolak tawaran Brian.


"Engga Aleta, biarin Brian ikut sama kamu. Kalo Brian gak ikut kamu gak boleh keluar." Celetuk sang ibu di sambut helaan nafas Aleta.


"Yaudah deh, ayok!" Ajak Aleta lalu berjalan lebih dulu. "Aleta pergi dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikumsallam."


"Waalaikumsallam. " Ibu dan ayah Aleta menjawab salam bersamaan.


______________________________________


Tok.. Tok.. "Alexi.. Ayo makan sayang. Kamu belum makan loh dari kemarin, nanti kamu sakit nak." Ujar Hallen ibu Alexi dari balik pintu kamar Alexi.


Namun tidak ada jawaban apapun dari Alexi membuat sang ibu menghela nafas dan pergi dari sana. Sedangkan Alexi di dalam kini sedang memegang ponselnya dan menatapi foto wanita yang kini menjadi pacarnya. Yup Aleta! Foto yang di ambil diam diam itu oleh Alexi adalah foto satu satunya yang ia punya. Tidak ada foto dirinya dan juga Aleta, itu yang membuat Alexi menyesal. Alexi melempar ponselnya ke sembarangan arah dan membanting tubuhnya ke atas kasur penuh dengan keluhkesah. Alexi mencoba menutup mata, dan apa ini? Bayangn cantik wajah Aleta? Oh ayolah.. Semakin mencoba untuk melupakan, Alexi malah semakin memikirkan sosok Aleta.


Berbeda dengan suasana Alexi yang murung, kini di meja makan ada Hallen ibu Alexi dan Ansell ayah Alexi sedang menyantap hidangan makan malam pada malam hari itu dengan tenang. "Gimana Alexi?" Tanya Ansell kepada sang istri.


Hallen menggelengkan kepalanya seraya dengan helaan nafas. "Alexi masih gak mau makan."


Ansell mengerutkan dahinya. "Kenapa ya kira kira anak itu?"


"Gatau mas. Mungkin dia lagi ada masalah kali sama temennya atau pacarnya mungkin."


"Kurang tau sih aku, tapi... Kata Agam temannya Alexi, Alexi lagi dekat sama perempuan."


"Agam tuh teman Alexi yang mana?"


"Yang bapaknya jualan bakso itu loh mas. Yang Alexi minta kamu buat bayarin biaya rumah sakitnya."


"Oh jadi itu temen Alexi?"


Hallen menagngguk.


"Alexi memang anak yang baik, gak heran papahku hanya suka Alexi."


Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Hallen dan Ansell kala itu. "Biar aku buka." Ujar Hallen, lalu ia berjalan dengan langkah tergesa gesa karena suara ketukan pintu yang terus menerus di ketuk. "Iya siapa?" Tanya Hallen begitu ia membuka pintu.


"Saya Aleta tante temannya Alexi." Ternyata itu adalah Aleta dan Brian yang datang.


"Tapi Alexinya kayanya lagi gak mau di ganggu deh..."


"Aku mohon tante, bilang aja sama Alexi kalo ada Aleta.."


"Yaudah, tapi tante gak janji loh ya Alexi mau turun. Soalnya dari pulang sekolah tadi Alexi gak keluar kamar."


"Loh kenapa tante?"


"Gak tau tante juga. Yaudah tante panggilin Alexi dulu ya. Kalian mau masuk atau mau di sini saja?"


"Di sini saja tante."


"Gapapa?  Di luar dingin loh.."


Aleta menggeleng. "Iya tante gapapa kok."


Hallen pun pergi untuk memanggil Alexi, sedangkan Aleta dan sepupunya Brian menunggu di luar dan berharap Alexi mau menemuanya. Di saat Hallen tengah berjalan menuju kamar Alexi, Ansell yang melihat Hallenpun bertanya membuat langkah kaki Hallen berhenti. "Ada siapa?" Tanya Ansell.


"Di luar ada temannya Alexi."


"Kamu kenal?"


"Engga. Udah yah aku panggil Alexi dulu." Hallen melanjutkan perjalanannya menuju kamar Alexi. Sedangkan Ansell melangkah pergi keluar untuk melihat siapa yang datang mencari Alexi.


"Kalian siapa ya?" Tanya Ansell.


"Oh om!" Aleta dan Brian mencium tangan Ansell. "Aku temannya Alexi om."


"Teman apa sekolah?"


Aleta mengangguk. "Iya om."


"Kenapa gak besok aja di sekolahan?"


Aleta hanya diam karena ia saja tidak tahu mengapa arah tujuannya harus ke rumah Alexi. Di sisi lain, ada Alexi dan ibunya sedang berbicara. "Ada Aleta lex." Ujar sang ibu yang mampu membuat Alexi melihat ke arah Hallen.


"Aleta?" Mata Alexi berbinar.


Sang ibu memangguk. "Iya, dia udah nungguin kamu di bawah."


Tanpa mengatakan apa apa lagi, Alexipun berlari menuruni anak tangga dan melewati ruang tamu secara bergegas, ia harus bertemu Aleta. Harus! Kini ia sudah berada di balik tubuh sang ayah, dari sana ia bisa melihat Aleta sedang menunduk di hadapan ayahnya itu. Tidak mau menunggu lama lagi Alexi memanggil nama Aleta dengan lembut. "Aleta.."