ALEXI

ALEXI
ALEXI - 15. SEDIH DAN BAHAGIA



Bel sekolah sudah berbunyi, kini waktunya murid SMA BTI keluar dari kelasnya dan menuju tujuan mereka masing-masing. Kenapa tujuan mereka masing-masing? Karena tidak semua siswa langsung pulang kerumah mereka. Sebagian ada yang langsung pulang, sebagian ada yang mampir sana sini, sebagian lagi mungkin main ke tempat temannya dan berakhir menginap.


Anak remaja SMA emang sedang di masa puber, di mana hal hal yang menyenangkan akan mereka dahului. Seperti main dan pacaran? Mungkin seperti itu. Tapi tidak semua, lain dengan anak kutu buku atau suka belajar. Mereka pasti akan langsung pulang dan lagi membuka buku pelajaran yang ingin mereka pelajari.


Lain cerita lagi dengan Aleta. Siswi yang terkenal suka belajar di sekolah dahulunya itu, tidak benar benar gila belajar. Memang benar Aleta suka belajar.  Namun, ketika Aleta berpikir ia butuh hiburan ia akan menghibur dirinya dengan pergi bermain dengan teman temannya. Seperti kemall, nonton, makan dll. Pokoknya semua yang menyangkut dengan hal senang-senang.


Kini Aleta baru saja keluar dari kelasnya bersama teman pertamanya, siapa lagi kalau bukan sih cewek tomboy Febbi. Aleta dan Febbi tengah menggoda satu sama lain. Aleta menggoda Febbi yang notabennya cewek tomboy itu karena ia menyukai seorang cowok. Kalian bisa menebak? Yup salah satu sahabat Alexi yaitu Agam. Dan Febbi yang menggoda Aleta karena tadi pagi ia di antar oleh Alexi.


Omong-omong tentang Febbi dan Agam. Febbi memang menyukai Agam dari pertama mereka masuk di sekolah itu. Tapi, Febbi tau diri bahwa seorang seperti dia tidak akan bisa mendapatkan Agam.


Sedikit flashback di masalalu Febbi saat awal mula ia masuk ke sekolah. Dulu Febbi adalah siswi biasa, dia tidak tomboy seperti sekarang dan tidak centil juga. Febbi berdandang layaknya Aleta sekarang, biasa saja no make up tapi tetap feminin. Namun, karena tingkat kePDan Febbi yang rendah membuat ia seperti sekarang tomboy dan suka menyendiri. Datangnya Aleta membawa pelangi indah untuk Febbi, karena Aleta yang humble dan tidak pemilih teman membuat Febbi nyaman dengan pertemanan ini. Jangan lupakan tingkat kePDan Febbipun berangsur mulai meningkat.


Balik lagi ke Aleta, kini Aleta dan Febbi sudah ada di deoan gerbang sekolah. Aleta bisa melihat Alexi yang tengah duduk di atas motornya itu. Ternyata bukan hanya Aleta yang melihat keberadaan Alexi, tetapi juga Febbi menyadari keberadaan Alexi dari pandangan mata Aleta. Febbi menyenggol bahu Aleta.


"Yuhuu ayang beb udah jemput." Goda Febbi.


Aleta tersenyum. "Alay lo ah!"


Febbi dan Aleta sama-sama tertawa sampai suara klakson membuat tawa Aleta dan Febbi terhenti. Tepat di depan mereka ada motor yang terparkir membuat Aleta dan Febbi bingung. Orang yang mengendarai motor itupun membuka helm yang ia kenakan.


"Mau pulang bareng gak? Gua kebetulan mau lewat depan rumah lo." Lelaki yang tidak di ketahui namanya itupun membuat Aleta dan Febbi diam seribu bahasa. Karena di jawab juga untuk apa mereka tidak kenal. Dia berbicara dengan siapapun mereka tidak tahu. Lelaki berjaket kuning itu hanya berbicara tanpa memasukan nama dalam kalimatnya, itulah mengapa Aleta dan Febbi bingung.


Seseorang menepuk bahu lelaki berjaket kuning itu, ia pun menoleh dan mendapati Alexi yang sedang menatapnya dengan tatapan mematikan..


"Lo mau ngajak pulang bareng siapa?" Tanya Alexi dengan nada dingin.


Cowok berjaket kuning itu menunjuk ke arah Aleta membuat Alexi geram. Ini bisa di katakan membangunkan macan yang sedang bocan. Alexi menghela nafasnya lalu mulai berbicara dengan sih jaket kuning. "Kakak, cewek yang lo tunjuk udah punya pacar."


"Siapa?"


Alexi menunjuk dirinya sendiri. "Gua!"


Cowok berjaket kuning itu tertawa remeh. "Alah lex cewek lo banyak, mau lo jadiin keberapa nih cewe hah?"


Emosi Alexi mulai terpancing, Alexi sudah menarik dan meremas kerah baju orang itu. "Lo cari mampus hah?! Dari kelas mana lo brengsek?!"


Aleta dan Febbi yang melihatnya kebingungan, saat Alexi tengah tersulut emosinya akan sangat sulit di redakan. Namu, Aleta dengan berani menarik kaos yang di kenakan Alexi lalu berusaha membujuknya. "Lex udah lex lo jangan ribut di sini! Ini masih area sekolah lex! Inget lo lagi di skors jangan cari masalah lagi." Aleta berkata dengan lembut berharap Alexi luluh.


Alexipun luluh, ia melepaskan cengkeramannya dari kerah baju orang tadi. "Mending lo pergi deh!" Febbi mengusir sih jaket kuning tadi dengab kasar. Ia pun pergi meninggalkan Aleta dan Febbi tidak lupa Alexi yang masih mengontrol emosinya.


Febbi menepuk pundak Aleta lalu Aletapun menoleh kearah Febbi. Febbi mengisyaratkan bahwa ia akan membisikan sesuatu. Aleta mendekatkan telinganya dengan bibir Febbi. "lo bawa pergi deh sih Alexi gak enak juga di liatin sama yang lain biar dia tenang dikit." Bisik Febbi.


Aletapun menuruti kata febbi. Aleta menggandeng Alexi mendekat dengan motornya. Tidak ada penolakan dari Alexi, karena ia sedang dalam mode kesal sampai di motornya pun Alexi masih diam namun tidak lama Alexi menghela nafas dan menghadap ke arah Aleta. "Sorry ta..." Itu yang keluar dari mukut Alexi dengan nada menyesal.


Aleta memegang bahu Alexi. "Gapapa. Tapi lain kali lo harus jaga emosi lo. Engga semua permasalahan selesai dengan emosi lex." Tutur Aleta.


Alexi mengangguk. "Terus kita jadi? Kalo lo udah gak mood, gua anter lo pulang aja gak apa apa kok."


"Jadi kok, gue lagi bete juga suntuk di rumah."


Senyum Alexi terpacar di wajah tampannya. "Serius, lo gak bete sama gua?"


Aleta hanya menggelengkan kepalanya. "Tapi gue mau pulang dulu ya."


"Ngapain?"


Aleta memutar bola matanya malas. "Loh... Lo gak inget apa kata nyokap gue? Gue harus ganti pakaian dulu kalo mau main. Gue gak boleh main kalo masih pake seragam." Jelas Aleta.


Alexi menepuk keningnya sendiri. "Oiyah yah, sorry sorry ta gua lupa." Alexi tertawa hambar.


"Yaudah ayo." Ajak Aleta.



Sedangkan di lain tempat Agam, Mon, dan Tristan sedang berjalan konvoi ingin menuju kesuatu tempat. Tapi Agam melihat Al sedang duduk di atas motornya di pinggir jalan dengan wajah yang terlihat sedang stress. Agam menghentikan laju motornya di ikuti oleh Tristan dan juga Mon yang ikut menghentikan motornya juga.


Tristan membuka kaca helmnya. "Ada apa gam?"


Agam dan Mon ikut membuka kaca helmnya. "Itu Al kan?" Tanya Agam kepada Tristan dan Mon sembari menunjuk ke arah Al berada.


Mon Dan Tristanpun mengikuti ke arah yang Agam tunjuk. Ternyata benar, Al sedang duduk di atas motornya dengan tatapan kosong. Rambut yang sedikit berantakan menambah kesan stress saat orang melihat Al.


"Iya bener gam itu Al." Ujar Mon.


"Terus kalo itu Al mau di apain gam? Mau lo ajak ribut?" Tanya Tristan yang membuat Agam sedikit kesal.


"Yah enggak lah! Kita samperin sih Al, kasian banget kayanya dia lagi banyak masalah."


"Gausah macem-macem deh lo gam, kalo Alexi liat gimana? Nanti dia malah salah paham sama lo." Kali ini Mon berkata benar. Alexi yang mudah sekali emosi akan marah saat ia melihat sahabatnya bersama musuh abadinya.


"Bener tuh gam, nanti Alexi malah ngerasa di khianatin kalo lo samperin sih Al." Tristan membenarkan yang di ucapkan Mon.


"Tapi mon tan, lo gak liat apa mukanya sih Al yang lagi banyak beban gitu, dia lagi stress mon tan. Kalo dia sampe berpikir buat bunuh diri gimana? Kita udah terlanjut liat Al dengan keadaan kaya gitu jadi gua gak bisa diem aja. Terserah kalian mau ikut gua atau engga." Setelah berbicara seperti itu, Agam menutup kembali kaca helmnya dan melajukan motornya ke arah Al berada. Mon dan Tristan masih diam di tempat. "Lo mau ikut Agam tan?" Tanya Mon lalu Tristan menggelengkan kepalanya. "Engga, kita liatin aja sih Agam sama Al."


"Al?" Setelah sampai, Agam langsung menghampiri Al, membuat Al terkejut dan terheran dengan keberadaan Agam di sana.


Kening Al berkerut. "Kalo lo mau ngajak gue berantem, jangan hari ini gua lagi gak mood."


"Lo kan? Lo kesini karena mau berantem sama gua mewakili Alexi kan?"


Agam menggelengkan kepalanya. "Engga Al, justru gua cuma mau nanya sama lo ngapain lo di sini?"


"Bukan urusan lo."


Agam bertolak pinggang. "Emang bukan sih, gua cuma.."


"Kasian?" Al memotong pembicaraan.


Agam tidak menjawab, ia sengaja diam supaya Al banyak berbicara. "Gua gak butuh di kasianin sama sahabatnya musuh gua. Mending sekarang lo pergi gak usah ikut campur urusan orang deh lo. Pergi sana!" Al mengusir Agam.


"Di masa lalu. Bukan 100% salah lo Al. " Agam berhenti sebentar. "Bukan juga 100% salah Alexi. Di sini kalian yang sama-sama egois! Menyalahkan satu sama lain karena satu wanita yang udah gak ada." Lanjut Agam. Agam lebih mendekat ke hadapan Al. "Lo suka Aleta sih anak baru yang mirip banget sama Felly, Alexi juga dia suka pake banget sama Aleta. Walaupun Aleta sama masalah lo sekarang mungkin gak ada sangkut pautnya. Tapi Al, mau sampe kapan lo sama Alexi bakal begini terus? Kalian saudara, kalian sepupuan. Gua tau bokap lo sama bokap Alexi emang lagi 'memperebutkan sesuatu' tapi coba mengalah lo harus lawan dengan cara berdamai. Kalo lo sama Alexi masih terus terusan musuhan dan saling meperebutkan, kalian gak akan pernah dapat. Take care bos!" Sebagai penutupan dan pamit Agam menepuk pundak Al supaya Al lebih percaya diri.


Agam kembali menaiki motornya dan meninggalkan Al yang masih diam mencerna setiap kata-kata yang di lontarkan oleh Agam. Mon dan Tristan yang tadi menunggu di jarak yang tidak jauh menyusul Agam yang kini sudah pergi.



Kini waktunya bersenang senang, Itulah yang kini ada di pikiran Aleta dan Alexi. Ketika sebelumnya mereka pulang dulu ke rumah Aleta untuk mengganti baju dan juga meminta izin kepada ibu Aleta, kini Alexi dan Aleta sudah berada di taman hiburan Dufan.


Aleta sangat bersemangat sekali saat baru memasuki pintu masuk di Dufan ia semoat berfoto di depan tulisan besar yang bertuliskan Dufan. Tempat itu memang salah satu ikon berfoto para pengunjung Dufan, memamerkan bahwa tempat dengan biaya masuk yang terbilang mahal itu sudah pernah mereka kunjungi begitu juga dengan Aleta dan Alexi. Secara bergantian mereka memotret satu sama lain.


"Lo mau main apa dulu ta?" Tanya Alexi begitu sudah berada di dalam Dufan. Mereka memang sudah semakin akrab seperti layaknya bersahabat yang sudah bertahun tahun lamanya. Aletapun kini mulai santai dengan Alexi. Mungkin...


"Gue mau naik itu." Aleta menunjuk Halilintar/rollercoaster.


Alexi menelan ludah. "Serius lo berani?"


Aleta mengangguk mantap. "Serius lah..! Kenapa lex lo takut..?"


"Engga, udah ayo kita naik." Kata Alexi memasang wajah cool.


"Ok!"


Mereka pun menaiki wahana Halilintar/rollercoaster itu. Alexi menaiki dengan wajah yang ragu berbanding terbalik dengan Aleta yang sangat antusias menaiki wahana ekstrem tersebut. Namun karena Alexi lelaki, ia tidak mau kalah dengan Aleta yang notabennya adalah seorang perempuan. Bisa bisa Alexi akan di ejek terus oleh Aleta.


Saat kereta rollercoaster mulai meluncur Alexi menutup matanya dan mencoba untuk stay cool. Namun percobaannya gagal, Alexi berteriak histeris dan ketakutan sedangkan Aleta yang duduk di sampingnya tertawa geli melihat tingkah laku Alexi yang lucu itu.


Benar benar tidak habis pikir, di mana kereta itu meluncur di saat itu lah Alexi histeris membuat Aleta malu tetapi lucu juga. Setelah wahana itu berhenti, Aleta memandangi Alexi dengan wajah yang datar.


"Kenapa?" Tanya Alexi saat ia menyadari bahwa Aleta sedang menatapnya.


Aleta hanya menyuruh Alexi bangun dengan isyarat pergerakan tangannya. Alexi mengerti, ia pun turun dari wahana mengerikan itu dan berjalan mendahului Aleta.


"Heh Alexi?" Aleta memanggil Alexi, namun karena malu dan takut di ejek Alexi pura-pura tidak mendengar. "Alexi...!" Lagi Alexi pura-pura tidak mendengar. Karena geram, Aleta menarik tangan Alexi membuat Alexi terhenti langkahnya. "Alexi!"


Dengan santainya Alexi berkata. "Kenapa?" Dengab wajah tak punya berdosa.


Aleta mengenyampingkan kesalnya itu lalu bertanya ke Alexi. "Mau naik apa lagi?"


Alexi sempat berpikir beberapa saat lalu ia menujuk ke salah satu wahana yaitu bianglala. "Gua mau naik itu."


"Bianglala? Lo yakin?"


Alexi mengangguk. "Hm! Gua naik itu aja."


Aleta menahan tawanya di hadapan Alexi. "Kalo mau ketawa, ketawa aja kali gausah di tahan-tahan." Setelah mendengar ucapan Alexi Aleta pun tertawa geli mengingat kejadian tadi saat menaiki wahana rollercoaster, di mana wajah tampan Alexi berganti dengan wajah yang penuh lawakan. Mengingat wajah Alexi saja sudah mengocok perut Aleta.


Alexi menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Udah?"


Aleta berhenti tertawa. "Udah.."


"Yaudah ayo keburu sore loh..." Alexi menggenggam tangan Aleta membuat Aleta terkejut sepanjang perjalanan menuju wahana bianglala Aleta memandangi tangannya yang di gandeng oleh seorang lelaki ini kali pertama baginya.


Alexi menggenggam tangan Aleta sampai masuk kedalam bianglala, Alexi melepaskan genggamannya karena ia melihat Aleta yang terdiam sambil menatapi tangan mereka yang terpaut.


"So..sorry." Hanya itu yang bisa Alexi katakan.


Hening, Suasana seketika hening. Aleta dan Alexi sama sama diam. Namun, karena Alexi tidak tahan dengan suasana mencekam ini Alexi akhirnya membuka suara. "Aleta?"


Aleta menoleh. "Hm?"


"Lo.. Lo suka banget belajar ya?"


Aleta mengangguk kikuk. "I.. Iya, kenapa?"


"Lo gak mau nanya gus suak apa?"


Dengan ragu Aleta menanyakannya ke Alexi. "Emang lo suka apa?"


"Suka lo..."


Huh Up dua hari ini panjang lagi hehe, jangan lupa dukung terus Alexi ya:)