ALEXI

ALEXI
ALEXI - 30. BERUBAH



Tin.. Tin.. Suara klakson mobil membuat Al menoleh dan mencari keberadaan mobil itu. "Al..!" Pagil Olin dari dalam mobil, ia melambaikan tangan seraya dengan senyuman yang ia perlihatkan untuk Al.


Al melihat ke arah Olin, ia langsung saja menghampiri Olin yang masih di dalam mobil. Tetapi, sat Al semakin dekat dengan mobil, Olin memutuskan untuk keluar. Saat itu Olin tidak menyetir sendiri, melainkam di temani sang sopir suruhan Neandro.


"Lo ngapain di sini?" Kata pertama Al begitu ia sudah berada di hadapan Olin.


"Suruh eyang jemput kamu."


"Gua bisa pulang sendiri."


"Engga bisa! Eyang suruh aku jemput kamu.. Ayolah Al..." Olin berkata sambil memohon di hadapan Al namun Al hanya diam.


Sedangkan di sisi lain ada Alexi dan Aleta yang baru saja keluar kelas. Aleta masih seperti tadi, diam tak banyak bicara. Padahal, Aleta adalah orang yang ceria.


"Let.." Alexi menyentuh pundak Aleta.


"Hm?"


"Gua ngambil motor dulu di parkiran,lo tunggu di gerbang ya?"


Aleta hanya mengangguk tanpa ekspresi. Alexi pun meninggalkan Aleta untuk mengambil motormya yang ia parkir di parkiran, sedamgkan Aleta berjalan pelan ke arah gerbang. Aleta.


Setelah sampai di parkiran, Aleta bersebelahan dengan Al dan juga Olin, namun Aleta tidak menyadarinya. Ia terlalu lelah untuk memperdulikan orang orang di sekitarnya.


Saat sedang sedikit berdebat dengan Al, Olin yang tidak sengaja melihat Aleta menjadi gagal fokus. "Aleta?" Panggil Olin.


Aleta menoleh ke arah Olin dan ia hanya tersenyum tanpa mengatakan apa apa.


"Lo.. Sekolah..? Bukannys tadi di rumah eyang?" Tanya Olin ke Aleta, membuat Aleta dan Al bingung.


"Maksud lo? Eyang siapa?" Tanya Aleta bingun.


"Lo tadi liat Aleta di rumah eyang?" Tanya Al namun ia bertanya sembari berbisik di telingan Olin.


Olin mengangguk. "Iya."


"Gua sama Olin pulang duluan ya let.." Kata Al, lalu dengan tergesa gesa Al menarik lengan Olin untuk masuk ke dalam mobil.


Aleta tidak memperdulikan pemandangan tadi. Namun, yang ia bingung apa maksud dari ucapan Olin. "Eyang? Sejak kapan gue manggil engkong abah pake sebutan eyang?" Di pikrkan dari sudut manapun Aleta masih tidak mengerti. Lagi pula sedari tadi pagi ia sedang duduk manis mendengarkan pelajaran di sekolahnya. Jadi siapa?


Saat sedang bergelut dengan pikirannya, Alexi datang dengan motornya memberi sinyal dengan membunyikan klakson untuk Aleta. Namun, Aleta tidak bergeming ia masih dengan pikirannya sendiri.


"Aleta!" Alexi terpaksa memanggil Aleta dengan sedikit bentakan supaya Aleta tersadar.


"Eh Alexi?" Aleta memasang wajah terkejut.


"Lo kenapa bengong gitu sih let? Muka lo nambah pucet lagi, lo sakit ya?" Tanya Alexi dengan wajah khawatir.


Aleta menggelengkan kepalanya. "Engga kok gue gak sakit!"


Alexi menghela nafas. "Yaudah nih helmnya, kita pulang." Kata Alexi sembari menyodorkan helmnya.


______________________________________


"Olin?" Panggil Al.


"Kenapa?" Kata Olin dengan nada marah karena lengannya yang di tarik kemcang oleh Al yang menimbukan rasa sakit dan bisa ia jamin bahwa esok akan ada memar ke unguan di daerah lengannya.


Al mengambil lengan Olin yang tadi ia cengkeram. "Maafin gua ya.." Al berkata dengan lembut dan tulus, membuat Olin luluh di buatnya.


Olin hanya mengangguk.


"Tapi gua, boleh nanya sesuatu ga?"


"Nanya apa Al?"


"Soal tadi.."


"Oh Al.." Saat Olin ingin menyebutkan nama Aleta, Al menutup mulut Olin dengan telapak tangannya. Sukses membuat Olin terdiam.


Al menggeleng. "Engga di sini." Kata Al berbisik.


Olin paham, ia hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa apa. Lalu singkat cerits mereka akhirnya sudah sampai di rumah Al. Al sengaja tidak berbicara di dalam mobil karena sang sopir adalah anak buah eyangnya. Ia tahu, pembicaraannya sekarang pasti akan di adui oleh supir itu ke eyangnya.


Mereka sudah di dalam rumah, Al dan Olin kini tengah duduk di mini bar yang di miliki rumah itu. Sengaja Al mengajak Olin ke sana supaya, tidak ada seorangpun ysng mendengarnya, termasuk ibu Al sendiri.


"Tadi... Kamu mau nanyain tentang Aleta kan?" Olin berbicara terlebih dahulu.


"Iya. Maksud dari yang lo omongin itu apa? Kenapa Aleta di rumah eyang?"


Olin menaruh gelas berisi Wine terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Al. "Tadi saat sebelum aku jemput kamu, ada orang yang miripppp banget sama Aleta. Itu mirip banget! Tapi.. Ada perbedaan antara mereka berdua."


"Apa?" Al mulai penasaran.


"Tahi lalat."


Al mengerutkan dahinya. "Tahi lalat?"


Olin mengangguk mantap. "Hm! Kalo yang aku liat perempuan tadi di tempat eyang itu punya tahi lalat di sini, di bawah bibir. Kecil hampir gak keliatan tapi aku tau jelas kalo itu tahi lalat. Tapi.. Waktu aku liat di bawah bibir Aleta, aleta gak punya tahi lalat. Tapi beneran Al! Selain itu mereka mirip banget!"


"Felly.." Al bergumam.


"Apa Al?"


"Terus, lo tau apa yang di omongin mereka?"


Olin menggeleng. "Engga... Eyang langsung nyuruh aku jemput kamu.."


______________________________________


"Di rumah ada siapa?" Tanya Alexi ketika ia dan Aleta baru saja sampai di depan rumah Aleta.


"Ibu."


"Yaudah, gua langsung pulang aja kalo gitu."


"Kenapa pulang?"


Alexi mengelus puncak kepala Aleta. "Lo kan lagi sakit, mending lo istirahat. Ok?"


Aleta menggeleng gelengkan kepalanya. "Gak mau! Gue mau sama lo. Plisss bentar aja lex.." Mohon Aleta.


"Yaudah." Alexi turun dari motornya dan menggandeng tangan Aleta untuk masuk ke dalam rumah. Namun, belum sampai membuka pagar rumah segerombolan orang turun dari satu mobil. Berpakaian serba hitam, berbadan besar besar, dan berwajah seram membuat Aleta dan Alexi sedikit takut.


"Kalian siapa?" Tanya Alexi dengan suara lantak.


"Maaf Tuan Alexi, atas perintah Tuan Early kami harus membawa anda ke sana." Ujar salah satu orang itu.


"Eyang? Tapi kan bisa telpon gua! Apaan sih pake pake nyuruh bodyguard segala!"


"Kami hanya mengikuti perintah Tuan."


"Bilang sama eyang, nanti gus nyusul! Lo semua duluan aja."


"Tapi tuan.."


"Alexi..?" Satu perempuan baru saja keluar dari mobil itu. Ia menghampiri Alexi dan Aleta. Entah mengapa pandangan Alexi tidak bisa beralih dari wanita yang baru saja turun itu, sampai sampai genggaman tangan Alexi dengan Aleta terlepas. Membuat Aleta bingung. Sama halnya seperti Alexi, pandangan Aleta tidak luput dsri wanita itu. Namun bedanys Aleta adalah betapa bingungnya dengan perawakan yang perempuan itu miliki dan ia hampir sama.


"Hai!" Perempuan itu menyapa Alexi sembaro tersenyum sendu.


Entah dorongan dari mana, Alexi secara tiba tiba memeluk perempuan itu dengan erat di hadapan Aleta. Aleta terkejut bukan main, is menahan air mata. Aleta berpikir mungkin itu salah satu kerabatnya yang sudah lama tidak bertemu, tapi berapa keras pun usaha Aleta untuk berpikir positif, Aleta tetap tidak bisa! Ini sungguh menyakitkan. Di tambah wanita yang di peluk oleh Alexi itu membalas pelukannyan.


Sepersekian detik kemudian Alexi dan wanita itu melepaskan pelukannya. Alexi masih tidak bisa berpaling dari wanita di sampingnya itu. "Ayo lex kita kerumah eyang.."


Seperti di hipnotis, Alexi mengiyakan ajakannya dengan senyuman di wajah Alexi. "Lex.." Panggil Aleta, Aleta sudah tidak bisa menahan air matanya.


Alexi menoleh lalu menghampiri Aleta. "Gua pulang dulu ya?"


"Tapi lex.. Gue mau lo di sini."


"Eyang manggil gua let.."


"Tapi lex.." Aleta menahan Alexi dengan memegang lengan Alexi.


"Lo bukan anak kecil Aleta!" Alexi mulai membentak Aleta, membuat Aleta terdiam.


Alexi sempat merasa bersalah terhadap Aleta, namun ia malah meilih pergi meninggalkan Aleta dan menarik tangannya yang di pegangi oleh Aleta. Alexi menaiki motornya bersama wanita itu yang di boncengi oleh Alexi. Alets masih memandangi Alexi sampai akhirnya motor yang di kendarai Alexi semakin menjauh.. Menjauh.. Menjauh.. Dan hilang..