
"Yang lo mau beli udah semua ta?" Tanya Brian ketika mereka sudah selesai membeli keperluan di toserba itu.
Aleta melihat isi kantung plastiknya itu yang berisikan banyak makanan dan keperluan Aleta dan rumahnya. "Udah lengkap." Kata Aleta setelah selesai melihat.
Mereka tengah duduk di kursi yang di sediakan di depan toserba tersebut. Aleta dan Brian sengaja beristirahat terlebih dahulu sembari memakan mie instan cup di sana.
Aleta berkali kali mengecek ponselnya, takut saja Alexi mengirimnya pesan text supaya bisa Aleta balas cepat. Namun, entah berapa kalipun Aleta mengecek ponselnya, tidsk ada satupun notif yang masuk dari Alexi.
"Lo ngecekin hp mulu, kenapa sih? Alexi gak ngabarin lo emang?"
Aleta menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Engga."
Brian melihat ke arah jam yang melingkar di lengan kirinya. "Baru jam setengah 9, mungkin dia lagi ngobrol sama eyangnya jadi gak sempet kabarin lo, atau dia lagi di jalan. Nanti juga dia ngabarin." Kata Brian berusaha membuat pikiran Aleta jernih.
Aleta menghela nafas. "Mungkin..."
"Udah gak usah mikir yang macem macem, abisin tuh mie instan lo. Gua mau balik mau tidur."
"Iya.. Iya..."
Sedangkan di sisilain ada Alexi yang baru saja sampai kerumahnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang berukuran king size miliknya itu. Alexi terlentang dengan kedua tangan berada di samping kepalanya. Alexi menghela nafas panjang sembari menutup kedua matanya perlahan. "Ah!" Keluah frustrasi Alexi dengan mendudukan tubuhnya di atas kasur. Ia mengacak rambutnya yang rapih tertata menjadi berantakan dan tidak beraturan.
Ponsel Alexi berbunyi mengalihkan pikiran Alexi, ia mengambil ponselnya itu dan tertera nama Aleta di layar ponselnya. Dengan ragu Alexi menekan tombol hijau yang berarti menerima panggilan dari sang kekasih Aleta. "Halo ta?" Sapa Alexi.
"Lo di mana?"
"Di rumah."
"Lo... Kenapa gak ngabarin gue?"
"Maaf ta... Tadi ngobrol sama eyangnya terlalu asik jadi lupa ngabarin lo. Maaf ya..?"
Terdengar helaan nafas di sebrang sama. "Yaudah gapapa."
"Lo lagi di rumah?"
"Engga."
"Terus lo di mana?"
"Gue lagi cari angin."
"Sama siapa?"
"Brian."
"Bener Brian?"
"Bener lex.."
"Oh yaudah... Lo kapan balik kerumah? Udah malem loh. Lo naik apa? Jalan kaki atau naik motor sama sepupu lo itu?"
Aleta tertawa. "Hahahaha.."
"Kenapa ketawa?"
"Ya lagian nanyanya satu satu dong bang... "
Alexi ikut tertawa. "Hahaha.."
"Oyah, besok lo udah mulai masuk sekolah ya?"
"Hm. Seneng kan lo gua balik lagi?"
"Gak seneng."
"Gak seneng?" Dengan nada kecewa.
"Pftt!" Aleta menahan tawanya.
"Punya gebetan baru lo ya? Siapa? Agan? Tristan? Mon? Atau sih kampret Al?"
"Hahaha... Apa sih kenapa temen lo di sebutin coba."
"Al enggak termasuk ya."
"Iya iya.. Segitunya sama kak Al.."
"Udah gua tutup telponnya. Lo balik, terus tidur. Gua juga abis ini mau tidur ta capek."
"Hm. Ini juga gue lagi jalan arah balik kok."
"Yaudah lo hati hati ya?"
______________________________________
"Lo gak ke atas Al?" Tanya Olin begitu mereka sampai di rumah.
"Gua mau bikin minuman dulu, lo mau?"
Olin mengangguk. "Boleh! Lo mau minum di sini atau di kamar?"
"Di sini aja."
"Ok." Olin mengikuti langkah kaki Al menuju dapur untuk membuat minuman segar.
Ketika Al sedang sibuk membuat minuman dingin untuk mereka berdua, diam diam Olin mengeluarkan ponselnya dan memotret Al yang sedang menuangkan es ke gelas.
"Jangan foto orang sembarangan." Kata Al membuat Olin terpaku oleh perkataan Al.
Dengan perlahan Olin menurunkan ponselnya dan tersenyum ke arah Al. "Kok kamu tau... Aku... Lagi foto kamu?"
"Cara lo megang hp."
Olin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah.. Gitu ya..."
"Tapi gapapa, simpan aja foto gua, tapi lain kali lebih baik lo bilang dulu." Kata Al sembari berjalan menuju Olin dengan kedua tangan memegang gelas berisi minuman. "Ini minuman lo." Al menyodorkan segelas minuman dingin ke Olin.
Olin tersenyum. "Makasih." Lalu menyeruput minuman dingin yang tadi di buat oleh Al.
Saat sedang asik meminum minuman yang ia buat sendiri, tiba tiba ponsel Al bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Al pun morogoh saku celananya dan mengambil ponsel yang ia taruh di sana. Saat Al melihat ke arah layar ponsel tersebut terdapat tulisan 1 pesan dari Eyang, dengan segera Al membuka dan membaca isi pesan dari sang eyang.
"Terus membuat Olin senang Al, itu cara kau menghormati eyangmu. Jangan buat dia terluka! Atau kau dan kedua orang tuamu akan kehilangan segalanya! Jika aku kehilangan Olin, maka bisnisku yang selama ini aku jaga akan hancur! Kau mengerti cucuku?" Itu lah isi pesan dari sang eyang. Membuat mood Al seketika hancur, raut wajah Al juga berubah menjadi murung.
"Al kamu gapapa?" Tanya Olin saat ia melihat perubahan raut wajah Al.
"Ah.. Engga gapapa. Gua duluan ke kamar ya, besok gua sekolah jadi gus harus bangun lebih pagi." Kata Al lalu ia beranjak dari kursi itu dan pergi meninggalkan Olin.
______________________________________
"Selamat datang bro, kangen gua seminggu gak ketemu lo." Itu Mon yang berbicara kepada Alexi ketika Alexi baru saja sampai ke sekolah. Mon malah berancang ancang akan memeluk Alexi namun dengan segera Alexi menendang Mon pelan. Mon memang memiliki sifat yang humoris, tak ayal jika tidak ada Mon mereka bertiga akan terasa garing.
"Jijik gua dengernya Mon." Timpal Tristan. Di antara mereka ber4 tristanlah yang paling jutek dan ketus. Ia akan memasang muka tidak suka di hadapan orsng yang ia benci, tidak bisa berpura pura biasa saja.
"Udah udah lo berdua ribut aja." Lerai Agam. Agam ini adalah sosok penengah di antara mereka bertiga, Agam juga termasuk orang yang sabar dan baik.
Kalau Alexi, ia adalah sosok yang cuek namun tetap perhatian. Intinya, sifat mereka masing masing melengkapi kekurangan mereka satu sama lain.
Saat mereka tengah berbincang dan bercanda, Agam melihat Aleta dan Brian yang baru saja datang ke sekolah. Agam langsung memberi sinyal kepada Alexi bahwa di sana ada sang kekasih Aleta yang baru saja tiba. Alexi menoleh ke arah yang di tunjukan Agam, benar saja ada Aleta sedag berjalan bersama Brian di susul Febbi di arah belakang menghampiri Aleta. Pandangan Aleta dan Alexi bertemu namun saat Aleta hendak memberi senyuman kepada Alexi, Alexi malah membuang muka dan kembali mengobrol dan bercanda dengan ketiga temannya.
Agam yang melihat pemandangan aneh itupun hanya diam sembari melihat ke arah Alexi dan Aleta secara bergantian.
15mnt kemudia bel berbunyi, Alexi, Agam, Tristan, dan Mon berjalan ingin menuju kelas. Namun, di tengah tengah perjalanan mereka Agam menghentika langkah kakiknya. "Lex anter gua ke kamar mandi sebentar."
"Kaya anak perawan aja lo gam." Kata Mon.
"Udah biarin aja, ayo!" Tristan merangkul tangan Mon membuat Mon jijik, dan mengundang gelak tawa dari Agam dan juga Alexi.
"Ayo!" Ajak Alexi.
"Tunggu Lex!"
Kening Alexi berkerut. "Kenapa? Katanya lo mau ke kamar mandi?"
"Di sini aja, gua mau nanya sesuatu sama lo."
"Apaan?"
"Lo lagi ada masalah sama Aleta?"
"Kenapa tiba tiba lo nanya gitu?"
"Engga, gua liat lo pagi ini cuek banget sama Aleta. Setau gua lo itu bucin banget lex Aleta."
"Kalo lo gak mau ke toilet, gua mau kekelas." Alexi pergi begitu saja.
"Lex? Lex? Alexi..!"
__________________________________
cerita baruuuuu❤