
"Aletaa... Bangun sayang udah siang kamu gak mau sekolah?"
Saat kalimat itu menyapa ke telinga Aleta, Aleta langsung membuka matanya lebar lebar. Ia terdiam sejenak. "Mimpi? Itu cuma mimpi?" Aleta merubah posisinya menjadi duduk ia mersakan natanya yang sembab dan kepalanya yang pusing. Ia terdiam memikirkan mimpi buruk yang ia alami.
"Aleta..!" Dari luar sang Ibu sudah mulai kelelahan membangunkan Aleta.
"Iya mah Aleta udah bangun kok..."
"Cepet nak Alexi udah nunggu kamu nih."
"Iya suruh Alexi tunggu..."
Aleta kembali terdiam. "Alexi? Berarti bener ini cuma mimpi. Tapi kenapa... Kenapa berasa seolah itu nyata?" Aleta menggeleng gelengkan kepalanya. "Engga engga engga! Itu cuma mimpi Aleta.. Jangan di pikirin! Hal kaya gitu gak akan terjadi!" Aleta mengambil nafas dalam lalu ia buanh perlahan. Aleta pun beranjak dari tempat tidurnya dan mengarshkan kakinya ke kamar mandi yang berads di dalam kamarnya.
Dengan terburu buru karena ini sudah mepet, setelah 15 menit mandi dan bersiap akhrnya Aleta pun keluar dari kamarnya. Hari ini Aleta tidak sempat menguncir setengah rambutnya seperti biasa di karenakan sudah tidak ada waktu lagi. Di tambah Alexi sudah menunggu lama.
Aleta menghampiri Alexi yabg sedang duduk bersama ibunya di teras rumah. "Lex maaf ya lama?" Kata Aleta setelah sudah berada di hadapan Alexi, Aleta berkata dengab wajah penuh penyesalan.
Alexi terdiam memandangin Aleta tanpa berkata apa apa, Alexi sangat lekat sekali memandangi Aleta sampai sampai Aleta dan ibunya di buat bingung dengan tatapan aneh Alexi. "Aleta.. Kenapa lo mirip Felly?" Itu kata Alexi di dalam hatinya, ternyata ia memandangin Aleta karena di saat rambut Aleta yang panjang di biarkan tergerai itu membuat Aleta sangat mirip dengan Felly, membuat Alexi mengingat lagi sosok Felly.
"Nak Alexi?" Sentuhan tangan ibu Aleta membuat Alexi tersadar.
"Eh iya tante?"
"Aleta udah siap nak Alexi.. Cepat berangkat kalian nanti telat."
"Oh iya tante, kalo gitu Alexi pamit berangkat sekolah dulu ya tante." Alexi mencium tangan ibu Aleta. Di susul Aleta yang juga mencium tangan sang ibu dan berpamitan.
Aleta dan Alexi berjalan beriringan menuju motor Alexi yang di parkir di depan gerbang rumah Aleta. Namun ada yang membuat Alexi tidak nyaman, yaitu Aleta yang terlihat sangat murung dan wajah Aletapun pucat. Alexi tidak langsung menanyakan kenapa Aleta seperti itu, ia menunggu nanti saja saat sudah sampai di sekolah mereka.
Singkat cerita merekapun samapai di sekolah, Aleta dan Alexi kini sedang berada di parkiran motor untuk memarkirkan motor Alexi. Lagi, wajah muram Aleta tidak berubah sama sekali. Bahkan saat baru saja mereka turun dari motor Aleta seperti orang linglung berjalan tanpa melepas helm yang ia pakai.
"Aleta?" Alexi menarik lengan Aleta, Aleta terlihat samgat terkejut.
"Kenapa lex?"
Alexi menghela nafas. "Lo mau ke kelas pake helm?"
Secara otomatis telapak tangan Aleta menyentuh helm tersebut, lalu ia tersenyum malu. "Oh iya.." Aleta pun melepaskan helmnya dan memberikannya ke Alexi.
"Lo kenapa ta?" Tanya Alexi sembari mengambil helm dari tangan Aleta.
"Gapapa kok lex."
"Tapi gua perhatiin dari tadi, lo itu lesu banget muka lo pucet lagi.. Lo sakit..?" Alexi memegang dahi Aleta.
Aleta menjauhi tangan Alexi. "Engga lex."
"Tapi lo gak biasanya kaya gini let, gua tau lo! Lo itu ceria. Cerita sama gua.. Hm?" Alexi berusaha membujuk Aleta.
Aleta menghela nafas. "Tadi malam gue mimpi lex.. "
"Mimpi? Mimpi apa sampe buat lo kaya gini?"
"Mimpi lo putusin gue."
Alexi membulatkan matanya karena saking terkejutnya dengan penjelasan Aleta. "Hah?" Alexi tidak bisa berkata apa apa.
"Gue itu apa Aleta.. ?" Alexi terlihat penasaran.
Aleta tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Engga kok lupain aja lagian juga cuma mimpi, gue.. Terlalu berlebihan tadi."
Alexi mengelus rambut Aleta. "Lo bener gapapa..?"
Aleta mengangguk mantap. "Hm! Gue gapapa. Yaudah yuk ke kelas udah bell."
______________________________________
"Bagaimana Olin, kamu betah di indonesia?" Suara khas lelaki paruh baya itu bertanya ke pada Olin yang sedang duduk berhadapan dengannya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan pemilik perusahaan Early, sih tua bangka yang licik. Neandro!
Olin menyeruput pelan teh yang di sajikan. "Betah eyang.." Katanya sembari tersenyum ke arah Neandro.
"Kau mau tinggal di sini? Masalah tempat tinggal dan sekolah kamu tidak usah khawatir Olin, ayah Alexi sepupu Al adalah pemilik sekolahan yang sekarang Al dan Alexi sedang tempati. Dan.. Jangan lupa! Bahwa orang tua di hadapan kamu ini, memiliki hotel dan apartemen yang banyak di seluruh kota di indonesia." Kata Neandro sembari menyombongkan ke kayaan yang is miliki.
Olin tersenyum. "Bisakah?"
"Apa maksudmu? Tentu saja bisa! Tidak ada yang tidak bisa oleh Neandro! Hahaha.." Neandro tertawa.
"Meyakinkan ayahku?" Tanya Olin dengan satu alis yang terangkat.
"Tentu.. Tentu saja bisa! Ayah kamu dan eyang sudah berteman lama.. Jangan khawatir kan itu, percayakan saja kepads eyang. Ok?"
Olin mengangguk. "Baik."
"Tetapi, sebagai gantinya ada hal yang harus kamu lakukan Olin." Neandro mengecilkan sedikit volume suaranya saat berbicara.
"Apa itu?"
Neandro mengisyaratkan Olin untuk mendekat, akhirnys Olin pun mendekat. Ternyata Neandro sih tua bangka yang licik itu membisikan seusatu ke Olin. Tidak tahu apa yang Neandro katakan, hanya terlihat Olin yang mengangguk angguk paham ketika Neandro membisikan sesuatu ke telinganya.
"Tunggu, memangnya apa salah anak itu eyang?" Tanya Olin setelah Neandro selesai berbisik.
"Ah.. Kamu tidak perlu tau Olin.. Yang harus kamu tau adalah lakukan yang tadi eyang suruh.."
"Tapi eyang... " Olin terdengar ragu.
"Kau mau tinggal di sini bukan? Supaya bisa bertemu dengan Al?" Neandro memasang smirk di wajahnya.
"Iya eyang.."
"Jangan lupakan bahwa Al juga jatuh hati sama dia Olin.."
Olin menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa. "Eyang?" Satu panggilan itu membuat Neandro dan Olin menoleh secara bersamaan. Mata Olin menyipit, ia seperti pernah melihat sosok wanita itu namun dia tidak ingat di mana.
Olin memperhatikan si 'wanita' itu berjslan menghampiri ia dan juga Neandro.
"Ada manggil saya?" Kata si 'wanita' itu, ada tatapan tidak suka di wajahnya saat ia melihat ke arah Neandro.
Neandro tersenyum banyak arti. "Ke angkuhanmun tidak berubah dari dulu ya?"
"Aleta ya..?!" Suara kencang Olin membuat si 'wanita' itu dan Neandro terkejut. "Temennya Al kan?" Si 'wanita' itu tambah di buat bingung saat Olin menyebut nama Al.