
Al dan Olin sudah sampai di taman yang jaraknya tidak jauh itu dari rumah Al. Mereka berduapun duduk di ayunan yang berada di taman itu. Olin mengayun ayun pelan dengan kedua kakinya sedangkan Al hanya duduk diam.
"Tadi kamu di luar rumah abis dari mana?" Tanya Olin.
"Engga dari mana mana."
"Terus kenapa kamu di luar?"
Sempat diam sebentar lalu menghela nafas. "Tadi ada Aleta dateng sama sepupunya."
"Ada apa mereka malem malem gini kerumah?"
"Nanya rumah Alexi."
"Oh gitu.." Olin mengangguk angguk.
Al menoleh ke arah Olin. "Lo sendiri?"
"Hm?" Olin juga menoleh ke arah Al.
"Kenapa tadi baru balik?"
"Oh itu.. Dari rumah eyang."
"Rumah eyang?"
"Hm!"
"Ngapain kesana?"
"Pamit. Besokan aku pulang." Olin melanjutkan omongannya. "Tapi Aleta mau apa ya kerumah Alexi?" Olin memasang wajah seperti memikirkan sesuatu.
Al mengangkat kedua bahunya. "Gatau. Kenapa lo jadi kepo gitu sama urusan orang?" Tanya Al dengan nada sinis.
"Eh! Ah engga gak gitu.. 'Padahal aku cuma niat supaya obrolan kita gak putus..' Yakan bingung aja kenapa pacaran kok tapi gak tau rumahnya." Kata Olin Alasan.
Al tidak menjawab.
"Kamu suka ya.. Sama Aleta?" Pertanyaan Olin membuat Al menatap sinis Olin.
"Iya." Jawaban singkat yang Olin harap bukan itu yang ia dengar.
"Kasian ya kamu."
Al mengerutkan dahinya. "Maksud lo?"
"Suka sama orang yang gak pernah natap kamu." Mata Olin mulai berkaca kaca. "Kaya aku.. Suka sama orang yang deket banget, tapi aku ngerasa dia jauh banget!" Satu air mata Olin yang terjun tanpa permisi.
Al hanya menatap Olin.
"Aku selalu bersikap menonjol, tapi tetap orang lain yang selalu menjadi pusat perhatian dia. Aku selalu menatapĀ dia, tapi dia selalu menatap orang lain." Olin terisak.
"Lin.."
"Aku sama kaya kamu Al. Kamu suka Aleta yang gak suka sama kamu! Dan aku suka kamu yang gak pernah suka sama aku!" Olin berdiri dan menghapus air matanya. "Aku memilih pergi, karena aku merasa cinta yang aku kejar gaakan pernah aku dapatin Al. Kamu itu terlalu jauh Al sampai aku gak mampu meraih kamu." Setelah mengatakan itu Olin pergi meninggalkan Al.
"Olin!" Al bediri dan memanggil Olin namun ia tidak mengejar, Al pikir akan lebih baik jika Olin sendiri. Akrena kehadiran Al malah membuat Olin semakin sedih. Al menghela nafas, ia kembali duduk di ayunan itu seraya dengan Al yang mengusap wajahnya kasar dang mencengkram rambunya sendiri. Ia sangat frustrasi dan juga terkejut. Bukan kah ucapan Olin tadi adalah ungkapan perasaan Olin secara tidak langsung? Oh ayolah Al! Secara tidak langsung Al telah menyakiti orang yang menyukainya.
______________
Keesokan harinya...
"Om tante! Olin pamit ya.. Maaf selama di sini Olin selalu nyusahin om dan tante.." Ujar Olin.
Nency tersenyum ke arah Olin dan mengusap rambut Olin. "Engga sayang! Olin gak ngerepotin kok, malah tante senang karena ada temannya di sini. Walaupun ada Al, tapi tante juga pengen punya anak perempuan supaya bisa di ajak shopping dan kesalon. Kalo Al kan baru temenin bentar aja udah minta pulang aja." Pandangan Nency kini beralih ke arah Al.
"Lain kali kamu datang lagi ya Olin." Kata Brata seraya dengab senyuman kilas khasnya.
Olin mengangguk semangat. "Siap Om..!" Kini Olin melihat ke arah Al. "Aku pamit ya Al.." Olin melambaikan tanganya dengan senyuman yang tak lupa ia suguhkan untuk Al.
"Iya, hati-hati."
"Al! Antar Olin ke bandara." Pinta Brata.
"Eh gausah Om! Olin bisa sendiri kok." Tolak Olin.
"Gapapa, gua anter." Al mengambil koper dari tangan Olin dan berjalan lebih dulu membuat Olin kaget.
"Kalo gitu Olin pamit! Dah om tante..!" Pamitnya terburu buru karena ia berniat menyusul Al yang sudah berada di mobil yang terus menerus membunyikan klakson. Olin pun berlari ke arah mobil membuat Al yang melihatnya dari dalam mobil hanya tertawa melihat tingkah dan ekpresi lucu Olin.
"Maaf maaf!" Saat Olin masuk dengan seketika wajah Al kembali datar. Al pun melajukan mobilnya ke arah bandara. "Hari ini kamu gak sekolah?" Tanya Olin.
"Engga."
"Kamu bolos?"
"Gak usah khawatir! Sekolahan punya bokaonya Alexi, mau gak masuk berapa hari juga gak akan di DO. Paling di skors."
Plak! Olin memukul lengan Al dengan kencang, terbukti dari suara keras dari pukulan Olin itu terdengar. Olin menutup mulutnya dengan telapak tanganya karena terkejut. "Ups!"
Al menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia menatap dengan sinis ke arah Olin. Dengan wajah yang merasa bersalah Olin mengungkapkan bahwa itu tidak sengaja, Olin memang berniat memukul Al namun tidak sekencang itu. Olin menurunkan tangannya yang tadi menutupi mulutnya. "Al aku ga- Hmp..!" Olin terkejut bukan main, bagaimana bisa Olin tidak terkejut! Secara tiba-tiba Al membungkam bibir Olin dengan menciumnya. Mata Olin membulat sempurna karena kaget pada awalnya, namun lama kelamaan Olin menerima ciuman Al orang yang ia sangat sukai itu.
______________________________________
3 hari kemudian...
"Alexi! Lo tau gak Aleta kemana? Udah tiga hari nih dia gak masuk." Tanya Febbi sahabat Aleta.
Alexi yang kala itu sedang di kantin bersama tiga shabatnya itu hanya diam tanpa menoleh ke arah Febbi.
"Woy lex gue tanya nih!" Febbi kesal.
Alexi melirik Febbi sebentar. "Gak tau."
"Ck! Lo kan pacarnya lex, masa lo gak tau?!" Febbi mulai membentak Alexi.
Alexi berdiri menghapad Febbi kini Alexi benar benar menakutkan. "Gua gak tau!" Setelah mengatakan itu Alexi pergi begitu saja meninggalkan ketiga sahabatnya dan juga Febbi yang masih mematung di sana.
"Sorry ya Feb, Alexi lagi dalam mode tidak bisa di ganggu." ujar Mon.
"Iya bener feb! Beberapa hari ini Alexi cepet emosi terus juga banyak diem. Gua tanya dia selalu menghindar." Ujar Agam.
"Kayanya dia lagi ada masalah sama Aleta deh guys." Celetuk Tristan.
Febby, Mon, dan Agam menoleh ke arah Tristan. "Kayanya lo bener tan." Kata Agam.
"Yaudah kita samperin aja tuh kunyuk." Kata Mon namaun di tahan oleh Agam.
"Jangan Mon, tadi lo sendiri yang bilang kalo Alexi lagi dalam mode tidak bisa di ganggu. Lo mau kena imbasnya di marah marahin sama Alexi? Kan lo tau sendiri Alexi kalo lagi kaya gitu kaya ibu ibu lagi pms, galak!" Ujar Agam.
"Iya bener kata Agam, mending gausah ganggu dia dulu. Nanti kalo dia ngerasa butuh kita, dia bakal cerita." Sahut Tristan.
"Gini aja feb. Lo nanti ke rumah Aleta aja pulang sekolah, kita bertiga anter." -Agam.
"Iya gua juga mikirnya gitu. Tapi gausah di anterin lah.. Takutnya bener Aleta sama Alexi lagi ada masalahkan Aletanya jadi gak nyaman. Mending kalian bertiga, ajak ngobrol pelan pelan aja Alexi, siapa tau dengan kalian tanya pelan pelan Alexi bakal cerita sama masalah apa yang lagi dia sama Aleta laluin." Kata Febbi menjelaskan.
"Yaudah ok."