Aksarasenja

Aksarasenja
Akhir Cinta (END)



Aldi terdiam menatap gundukan tanah yang ditaburi banyak bunga. Wajahnya terlihat lesu dengan raut sedih yang terlihat nyata. Papa dan mamanya baru saja kembali ke mobil, meninggalkannya sendiri.


"Bang!" panggilan itu membuatnya menoleh. Disana, berdiri Rara, Arhez, Amara, Parto, Tama, Manda, Chesie, Bagas, Jafar, Roni, dan Dean. Ada Ratna, Hengky, orang tua Rara, dan orang tua Tama juga.


Tapi Aldi sadar, ada satu orang yang hilang. Dia Aksa. Cowok yang cukup keras kepala jika menyangkut Senja. Namun, ketika semuanya mendekat ke arahnya, dia baru bisa melihat dengan jelas. Aksa berada paling belakang diantara mereka semua. Cowok itu berdiri diam tanpa niat mendekat.


Rara menatap perih gundukan tanah tersebut. Nama Senja Amalia terpampang jelas di nisan yang berdiri tegak. "Gue punya harapan besar buat kita terus sama-sama, Nja. Gue udah bayangin, gimana keseharian kita waktu kuliah bareng nanti. Tapi lo tega. Lo tega hancurin semua harapan gue. Lo ninggalin gue, Nja," ucap Rara dengan air mata yang terus jatuh.


"Gue gak nyangka lo bakal secepat ini ninggalin kita. Lo secepat ini pergi dari gue, Nja. Maafin gue yang gak bisa dapetin donor yang cocok buat lo. Dan terima kasih buat semua kenangan yang udah lo tinggalin buat gue," ucap Arhez.


"Lo sahabat gue, saudara gue, dan orang baik yang pernah gue kenal. Lo akan selalu gue ingat samai kapan pun, Nja," ucap Parto.


"Lo adik angkat gue yang paling baik. Makasih udah hadir di hidup gue sama yang lain," ujar Tama.


Satu persatu dari mereka memberikan ucapan terakhir untuk Senja. Namun, tidak dengan Amara, Chesie dan Manda. Ketiga cewek itu hanya mampu menangis. Lidah mereka kelu, tak mampu berbicara meski hanya satu kata.


"Tante gak tau, gimana cara tante ucapin makasih ke kamu, Nak. Bahkan berkali-kali ucapan terima kasih pun gak akan bisa imbang dengan segala kebaikan kamu. Tante akan selalu berdoa buat kamu, sayang," ucap Ratna. Sejak awal mendengar kabar kematian Senja tadi, air mata Ratna tak pernah kering. Ia terus terusan menangis.


Setelah semuanya usai, mereka bergegas meninggalkan pemakaman. Aldi juga ikut pergi dari tempat itu. Disaat itulah Aksa berjalan mendekat.


Langkahnya gontai. Sisi rapuh yang selama ini mati-matian ia sembunyikan, kini ia perlihatkan begitu saja. Baru sebentar dia merasa bahagia, takdir kembali membuatnya terluka. Dan kali ini, lukanya lebih hebat dari sebelumnya.


Aksa duduk bersimpuh di samping makam Senja. Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Tidak ada kata apapun yang terucap dari mulut cowok itu. Dia hanya diam dan terus memandangi gundukan tanah tersebut.


Setlah hampir sepuluh menit terdiam, Aksa pun mengucapkan sesuatu.


"Senja Amalia," gumam Aksa.


"Senja Amalia!" suara Aksa terdengar sedikit lebih keras.


"Senja Amalia!!" Aksa berteriak cukup keras. "Hiks... Kenapa lo gak jawab! Gue manggil lo, Nja! Kenapa lo gak jawab! Kenapa.... Hiks...."


"Kenapa lo bohong sama gue, Nja?! Lo udah janji bakal terus sama gue. Lo gak akan ninggalin gue. Lo ingkar janji...."


"Lo tau? Gue sakit sekarang, Nja. Gue sakit ditinggalin papa. Dan gue semakin sakit saat tau, lo juga ninggalin gue."


"Lo boleh marah sama gue gara-gara lebih percaya Amara daripada lo. Tapi, gue mohon.... Gue mohon sama lo, jangan siksa gue kayak gini, Nja..."


"Lo boleh benci sama gue. Lo boleh lakuin apa aja ke gue. Tapi gue mohon, jangan ninggalin gue kayak gini, Nja."


"Gue gak bisa, gue gak sanggup dengan semua kenyataan ini, Nja. Gue harus gimana...."


"Seharusnya lo di sisi gue sekarang. Kuatin gue, temani gue saat papa pergi. Sama kayak yang lo lakuin saat Farah ninggalin gue dulu. Seharusnya lo disini, Nja. Kenapa lo malah ikut pergi...." lirih Aksa. Laki-laki itu terus menangis. Hingga beberapa menit kemudian, dia terjatuh tak sadarkan diri.


***


Beberapa minggu berlalu. Kenyataan pahit masih membekas di hati setiap orang yang dekat dengan gadis baik itu. Terutama Aldi. Cowok itu menatap seisi rumah yang begitu sepi. Rumah besar yang hanya ia tinggali bersama bi Haya. Mama dan Papanya sudah kembali ke luar negeri.


"Den, handphonenya ketinggalan." Suara Bi Haya membuyarkan lamunan Aldi. Cowok itu menoleh pada Bi Haya dan tersenyum tipis.


"Makasih, Bi."


"Sama-sama, Den. Ya udah, Bibi mau ke dapur dulu. Aden hati-hati berangkatnya."


"Iya, Bi."


Cowok itu kemudian memasuki mobil dan melajukannya meninggalkan pekarangan rumah. Ia menoleh ke kursi sebelahnya. Tempat yang selalu Senja duduki ketika mereka berpergian bersama.


"Seharusnya kamu sekarang duduk disini. Tapi, sayang. Sekarang gak bisa. Abang udah izinin kamu buat ikut wisudaan Abang. Tapi kamu sekarang malah jauh dari Abang," ucap Aldi.


***


Aksa berdiri diam di pesisir pantai. Dia baru saja dari makam papanya. Dan seperti biasa, dia akan selalu menyempatkan diri menatap senja di pesisir pantai.


Aksa menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya. Pandangannya menatap lurus ke arah langit sore yang sudah berwarna jingga. Dan semua kenangannya bersama Senja berputar di ingatannya.


Ia bahkan bisa mendengar tawa Senja. Ia juga bisa mendengar semua ucapan Senja. Seolah gadis itu berada di dekatnya dan masih menghirup udara yang sama dengannya.


"Langit yang indah," gumam Senja, namun masih dapat di dengar Aksa.


"Ya. Senja memang indah," sahut Aksa yang membuat Senja langsung menoleh menatapnya.


"Tapi, sayang. Dia cuman sebentar."


Kali ini, Aksa yang menoleh menatap Senja. Tatapan keduanya bertemu, tapi Senja segera memutusnya.


"Walaupun cuman sebentar, gue bisa liatnya tiap hari."


Senja kembali menarik segaris senyum. "Gak bisa tiap hari kalau ada mendung atau hujan," ujar Senja.


Aksa terkekeh kecil, membuat Senja terpaku. Ini kali pertama Aksa terkekeh karena ucapannya.


"Gue kalah kalau lo bilang gitu," ucap Aksa.


Aksa kembali menarik nafasnya. Sepenggal percakapannya dengan Senja itu, membuatnya menyadari sesuatu.


"Lo benar, Nja. Senja itu indah, tapi cuman sebentar. Buktinya Lo. Senja yang cuman ada sebentar di hidup gue. Lo pergi sekarang. Lo ninggalin gue. Ninggalin luka dan kenangan yang selalu buat gue tersiksa. Gue rindu lo, Senja. Tapi gue gak bisa bawa lo ke pelukan gue. Senja gue udah pergi...."


Aksa mengerjabkan matanya, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang. Sekarang ia kembali menjadi Aksa yang dulu, Aksa yang akan selalu menyembunyikan sisi rapuh dalam hidupnya.


Aksa memutuskan pandanganya pada langit senja. Ia merogoh handphonenya dan menyalakannya. Terlihat jelas foto Senja yang ia jadikan wallpaper handphonenya.


"Lo akan selalu jadi cewek nomor satu di hati gue, Nja. Makasih atas semua perjuangan lo buat gue. Dan maaf, atas semua luka yang gue ciptain buat lo," ucap Aksa, lalu mengecup foto cantik Senja dengan lesung pipi yang membuatnya semakin cantik.


"Gue cinta sama lo. Dan selamanya akan cinta sama lo," lanjutnya. Hidupnya memang akan terus berlanjut. Tapi, cintanya telah berakhir. Dan tidak akan ada cinta lain lagi di hidup Aksa.


...*...


...*...


...*...


**END**


Hallo semuanya. Akhinya kita udah sampai di akhir novel AksaraSenja. Makasih buat kalian yang udah setia baca novel ini. Maaf ya, novelnya terkesan buru-buru buat ditamatin. Tapi emang dari awal konsepnya udah kayak itu. Terlepas dari itu semua, aku mau ucapin makasih sekali lagi. Sampai jumpa di novel selanjutnya.


Salam dari Aquilaliza buat Readers tercinta 💗💗. Bahagia selalu. Jangan lupa baca novelku yang lain.