Aksarasenja

Aksarasenja
Hukuman Berakhir



Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Satu persatu siswa keluar dari kelas masing-masing. Tapi, tidak dengan Senja, Rara dan Parto. Ketiga orang itu masih santai membereskan buku-buku dan alat tulis mereka.


"Gimana? Lo berdua udah siapkan?" tanya Senja pada kedua sahabatnya. Hari ini, mereka akan menyelesaikan hukuman yang pak Rahmat berikan.


"Udah dong, Nja. Udah dua minggu lebih pak Rahmat kasi kesempatan buat kita."


Parto mengangguk, membenarkan ucapan Rara. "Iya. Apalagi cara ngafalin yang lo ajarin gue paham banget. Jadi, udah lancar gue ngafalinnya." Kali ini Rara yang mengangguk, membenarkan ucapan Parto. Cara menghafal tabel periodik yang Senja ajarkan benar-benar dapat dipahami dengan baik oleh mereka.


Senja yang mendengarnya terkekeh. "Itu cara yang diajarin Zayyan pas gue lagi belajar di rumahnya."


"Pantes aja. Lo dapetnya dari sumber yang akurat. Jadi gampang deh." Senja kembali terkekeh mendengar ucapan Rara.


"Hu'um. Jadi, kita harus makasih nih, sama Aksa?" tanya Parto.


"Harusnya sih," sahut Senja.


Setelah itu, ketiga remaja tersebut keluar dari kelas. Langkah ketiganya berhenti saat beretemu Arhez. Sepertinya cowok itu hendak menuju kelas Senja.


"Mau kemana?" tanya Senja.


"Mau nyamperin lo!" jawabnya. "Ayo, balik! Gue anterin lo pulang."


"Mereka bertiga nggak bisa pulang sekarang! Mereka masih punya urusan dengan pak rahmat."


Kedatangan Aksa membuat Arhez mengeraskan rahangnya. Dia kesal sekali melihat Aksa yang sepertinya sengaja mengganggu waktunya bersama Senja.


"Lo orang kepercayaan pak Rahmat kan? Bilang sama pak Rahmat, jam sekolah udah selesai. Nggak seharusnya mereka masih di sekolah," sarkas Arhez.


Aksa menatap cowok itu sekilas, kemudian langsung menarik lembut tangan Senja. Namun, Arhez dengan cepat menahan sebelah tangan senja.


"Gue nggak izinin Senja pergi!" ucap Arhez.


"Lo nggak ada hubungannya sama urusan mereka dengan pak Rahmat!" balas Aksa.


"Semua urusan yang berkaitan dengan Senja, itu urusan gue juga."


Aksa menatap tajam Arhez. Rahangnya mengeras, namun dia masih mampu menahan emosinya.


Senja yang melihat pertengkaran itu, menarik nafasnya. Cewek itu melepaskan tangannya dari genggaman Arhez juga dari genggaman Aksa. Ia lalu menoleh pada Arhez.


"Hez, gue sama Rara sama Parto mau nyelesai in urusan kita sama pak Rahmat. Lo mau kita bertiga terus-terusan dipanggil pak Rahmat gara-gara hukuman belum selesai-selesai?" Arhez menggeleng pelan.


"Lo kalau mau pulang duluan, nggak apa-apa pulang aja. Tapi, kalau mau tungguin, kita janji nggak akan lama."


"Maaf, Nja. Gue kayaknya pulang duluan. Mau anterin Papa sama Mama ke bandara."


Rahang Aksa kembali mengeras mendengar Arhez menyebut "Mama". Hatinya seolah tak terima mendengar itu.


"Ya udah. Lo —"


"Pak Rahmat nggak suka menunggu!" Aksa memotong ucapan Senja, dan langsung menarik tangan gadis itu meninggalkan Arhez. Membuat Arhez menatap keduanya dengan pandangan dingin.


Rara dan Parto yang melihat kejadian itu hanya bisa menggaruk tengkuk mereka dengan perasaan canggung.


"Eemm... Hez, kita ke pak Rahmat dulu ya," pamit Rara kemudian berjalan mendahului Parto.


"Gue ke pak Rahmat dulu. Lo pulang hati-hati." Setelah menepuk pundak Arhez dua kali, Parto dengan cepat melesat mengikuti Rara. Jujur saja, ia sedikit takut pada Arhez yang sedang dalam mode dingin.


***


Pak Rahmat menatap ketiga murid yang diberi hukuman olehnya sejak beberapa minggu yang lalu. Senyum mengembang sempurna di bibirnya setelah ketiga siswanya itu mampu menyelesaikan hukumannya.


"Bapak senang kalian bisa ngafalinnya. Bapak harap, kalian bertiga tetap ingat apa yang kalian hafal, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama."


"Iya, Pak." Senja, Rara dan Parto menjawab serentak. Senyum cerah pun juga terukir di bibir ketiga remaja tersebut. Sangat berbeda dengan Aksa yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datarnya.


"Kita bakal selalu ingat sama apa yang udah kita dapat, Pak. Kita janji, nggak akan ulangi kesalahan yang sama," ucap Senja meyakinkan.


Pak Rahmat mengangguk. Setelah itu, Senja, Rara, dan Parto berpamitan pada Pak Rahmat. Tak lama kemudian, Aksa pun ikut pamit menyusul ketiga orang itu.


"Lo bareng gue atau Parto, Nja?"


Belum sempat Senja menjawab pertanyaan Rara, Aksa dari arah belakang langsung menyela. "Senja bareng gue!" ucapnya, membuat ketiga orang itu menoleh menatapnya.


"Lo... mau anterin Senja pulang?" tanya Parto ragu. Jujur, walaupun Aksa mulai baik pada Senja, tetap saja dia masih ragu pada cowok itu.


"Hmm." Aksa berdehem singkat. Ia mendekati Senja kemudian meraih tangan gadis itu. Setelah itu, ia membawa Senja menjauh dari Rara dan Parto.


Tapi, sebelum benar-benar menjauh, Aksa berbalik menatap Rara dan Parto. "Gue bukan orang jahat yang bakal nyakitin Senja tiap saat. Lo berdua hanya nggak tau alasannya. Dan cuma ngeliat dari satu sisi."


Setelah mengatakan itu, Aksa kembali menarik Senja menuju parkiran. Cowok itu memakai helmnya, kemudian menyuruh Senja menaiki motornya.


"Naik."


Senja diam. Dia hanya menatap Aksa dengan segala pikiran yang ada di otaknya. Aksa mengangkat sebelah alisnya saat Senja tak meresponnya.


"Senja?"


"Aku minta maaf kalau ucapan Parto nyakitin kamu. Tapi, aku nggak bisa pulang bareng kamu." Tanpa menunggu jawaban Aksa, Senja langsung berbalik, hendak meninggalkan Aksa. Namun, Aksa dengan cepat menahannya.


"Kenapa?"


Aksa diam dan menatap kepergian Senja yang menghampiri Rara dan Parto, yang kebetulan memarkirkan motor mereka cukup jauh dari Aksa. Cowok itu menarik nafasnya.


Maaf kalau selama ini gue nyakitin lo, Nja. Gue nggak ada maksud. Gue harap, lo nggak akan jauhi gue setelah gue mulai nerima lo di hidup gue. Batin Aksa lirih.


Rara dan Parto yang melihat Senja kembali pun mengernyit bingung.


"Kenapa, Nja?" tanya Parto.


"Gue mau bareng kalian."


"Lho? Kenapa?" tanya Rara.


"Nggak kenapa. Cuman, kita kan udah janjian mau pulang bareng."


Rara dan Parto saling memandang, kemudian menatap ke arah Aksa yang masih diam di atas motornya sembari balas menatap mereka.


"Aksa bohongin lo?"


"Enggak. Emang guenya yang nggak mau." Rara mengangguk mendengarnya.


"Ya udah. Lo bareng gue. Parto biar sendiri."


Rara segera menaiki motornya kemudian menghidupkannya, lalu Senja ikut menaikinya. Setelah itu, Rara melajukan motornya meninggalkan sekolah diikuti Parto yang mengendarai motornya dari belakang. Saat melewati Aksa, mereka membunyikan klakson motor mereka.


Melihat kepergian mereka, Aksa juga melajukan motornya. Dia mengikuti motor Rara dan Parto. Entah kenapa, dia ingin mengikuti mereka.


Awalnya, Senja, Rara, dan Parto biasa saja karena memang mereka masih searah. Tapi, saat belokan menuju rumahnya, Aksa tidak berbelok. Dia malah terus mengikuti ketiga orang itu.


"Aksa ikutin kita?" tanya Rara.


"Nggak tau. Mungkin dia ada urusan yang jalannya searah sama kita."


Rara hanya mengangguk dan kembali fokus mengendarai motornya. Senja sesekali memperhatikan Aksa melalui spion motor Rara.


Parto juga sadar jika Aksa mengikuti mereka. Dia tidak mempermasalahkannya sedikit pun. Saat tiba di belokan menuju tempat tinggalnya, Parto membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan pada kedua sahabatnya itu.


Dan kini tinggal Rara dan Senja yang terus diawasi Aksa. Hingga berbelok ke perumahan tempat tinggal Senja pun, Aksa terus mengikuti mereka.


"Ya udah. Gue balik dulu, Nja," pamit Rara setelah tiba di depan rumah Senja.


"Iya. Makasih, Ra. Hati-hati lo baliknya."


Rara mengangguk lalu melajukan motornya meninggalkan perumahan Senja. Dia juga membunyikan klakson saat melewati Aksa yang masih diam memperhatikan Senja.


"Kamu kenapa ikutin kita?"


"Lo bohong, Nja."


Senja sedikit terkejut mendengar ucapan Aksa. Dia berbohong? Soal apa?


"Tadi lo bilang mau belajar bareng Rara sama Parto."


Senja meneguk ludahnya. Dia lupa. Tadi dia membuat alasan seperti itu.


"Aku—"


"Lo nggak suka gue ngomong kasar sama sahabat lo?"


"Nggak. Aku nggak bermaksud begitu. Cuman aku nggak enak sama Rara sama Parto."


Aksa menarik nafasnya. "Sebelum gue ajak lo pergi, gue bakal izin sama mereka."


Senja tertegun. Apa ini benar-benar Aksara Zayyan? Dia belum pernah melihat sikap itu dari cowok yang dulunya menyandang status sebagai ketua osis di sekolahnya itu. Dan sekarang Aksa memperlihatkan padanya.


"Gue nggak akan bawa lo tiba-tiba kayak tadi."


Senja menatap Aksa dan mengulas senyum tipis. Membuat Aksa terdiam sesaat memperhatikan senyum manis berlesung pipi itu. Dan entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.


Namun, semuanya berlangsung singkat. Perhatian keduanya teralihkan saat mendengar deru motor yang tiba-tiba berhenti di depan mereka. Dia Aldi, Abang Senja dan juga pemilik motor tersebut. Cowok itu turun dari motornya dan langsung menatap sengit Aksa.


"Ngapain lo disini?" tanyanya dengan nada tak bersahabat.


"Abang—"


"Diam Senja!!" Aldi membentak. Hal itu membuat Senja terkejut, sementara Aksa mengeraskan rahangnya. Rasanya ia tidak terima melihat Senja dibentak.


"Lo bisa ngomong baik-baik," kata Aksa. Nada suaranya masih begitu tenang.


"Lo nggak perlu ikut campur!!" balas Aldi. "Senja, masuk!!"


Gadis itu terdiam. Ia mengalihkan tatapannya yang tadi menatap punggung Aldi, kini menatap Aksa.


"Senja!!" Aldi kembali membentak, membuat Senja langsung berbalik dan membuka gerbang rumah. Gadis itu berjalan memasuki rumah tanpa berbalik. Dia benar-benar tidak ingin Abangnya semakin marah, dan berakhir dengan semakin buruknya hubungan mereka.


Aldi menoleh ke arah Senja. Setelah memastikan Senja masuk dan pintu rumah tertutup, Aldi lekas mendekati Aksa. Cowok itu meraih kerah seragam Aksa dan mencengkramnya kuat.


"Gue ingatin lo!! Jangan dekati adik gue!! Lo nggak pantas buat dia!!"


Aldi dengan kasar melepas cengkramannya. Laki-laki itu berlalu dari hadapan Aksa dan mendorong motornya memasuki gerbang. Ia lagi-lagi menatap sengit Aksa saat berbalik uantuk menutup pintu gerbang. Setelah itu, dia benar-benar meninggalkan Aksa sendirian di depan gerbang rumahnya.