
Senja terdiam mendengar pertanyaan Aldi. Dia tidak menyangka Aldi akan mengetahui hal tersebut. Dia tidak tahu, siapa dokter yang menanganinya tadi hingga membocorkan hal itu pada sang abang.
"Jawab Abang, Nja."
Senja masih tetap diam. Ingin sekali ia mengatakan, bagaimana ia bisa bercerita jika Aldi saja tidak punya waktu untuknya. Namun, ia tidak ingin melukai perasaan Aldi dengan kata-katanya itu.
Aldi yang melihat Senja tak berniat menjawabnya pun menarik nafas panjang. Tangannya kembali terulur mengusap kepala Senja.
"Maafin Abang. Seharusnya Abang paham, ini bukan salah kamu. Ini salah Abang karena gak pernah ada waktu buat kamu."
Senja mendongak menatap Aldi yang dibalas dengan senyuman oleh lelaki itu. "Abang," panggil Senja.
"Hmm?"
"Jangan marah-marah sama Senja. Jangan lama-lama tinggalin Senja sendiri. Kembali jadi Abang Senja yang dulu."
Aldi mengangguk. "Abang janji gak akan marah-marah, gak akan tinggalin Senja lama-lama. Abang akan selalu ada buat kamu. Tapi, untuk waktu dekat ini, Abang belum bisa nepatin semuanya. Ada banyak hal yang harus abang urus. Tapi, Abang bakal luangin waktu sebentar buat kamu."
Senja mengangguk. "Iya," jawab Senja. "Oh ya, Abang. Kapan Abang wisuda?"
"Bulan depan."
"Senja mau datang ke acara wisuda Abang."
"Boleh. Abang bakalan senang banget."
"Gak usah pakai masker atau topi, ya?"
Aldi terdiam. Perasaan bersalah kembali menyelimutinya. Selama ini dia sering meminta Senja menutup wajahnya dengan masker dan topi, seolah tidak ingin orang-orang tahu mengenai Senja yang memiliki hubungan dengannya. Dan lagi, ia melakukan itu semua bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin melindungi Senja.
"Abang?" Senja kembali bersuara ketika melihat Aldi hanya diam. Suara itu membuyarkan lamunan Aldi, membuat cowok itu segera menatap Senja.
"Kalau abang gak suka, senja gak apa-apa pakai mas—"
"Kamu boleh pergi tanpa masker dan topi," sahut Aldi cepat. Senja tersenyum manis mendengarnya.
Sementara di rumah, Bi Haya sedang mengantar pulang Tama dan Manda hingga ke depan gerbang. Dua orang itu datang mengantar barang-barang Senja yang tertinggal di cafe, termasuk motor Senja.
"Sekali lagi, terima kasih ya, Nak Tama sama Nak Manda udah mau repot anterin barang-barang non Senja."
"Iya, Bi. Kabarin kita mengenai kondisi Senja," ucap Tama. Bi Haya tadi sempat memberitahu mereka jika Senja pingsan dan diantar ke rumah sakit oleh Aldi.
"Iya, Nak. Tapi, untuk sekarang Nak Tama sama Nak Manda jangan ketemu Non Senja dulu. Den Aldi lagi marah. Bibi nggak tau kenapa. Jangan sampai kedatangan kalian memicu kemarahan den Aldi lagi."
"Iya, Bi. Bibi tanang aja. Tolong Bibi kabarin kita soal kondisi Senja, ya," ucap Manda.
"Iya, Nak Manda."
Setelah sedikit perbincangan itu, Tama dan Manda benar-benar pergi meninggalkan rumah Senja. Bi Haya pun kembali menutup pagar dan kembali ke rumah. Namun, saat kakinya menginjak teras rumah, handphone Senja berdering. Bi Haya segera meraih benda tersebut dari dalam tas Senja. Tertera nama Zayyan di layar handphone tersebut.
Bi Haya terdiam. Ia tidak berani menjawab panggilan itu. Alhasil, ia mengabaikan panggilan tersebut dan lanjut berjalan memasuki rumah. Namun, saat tiba di ruang tamu, handphone Senja kembali berdering dengan panggilan dari nama yang sama.
Bi Haya menarik nafasnya kemudian memberanikan diri menjawab telpon tersebut.
"Hallo?" ucap Bi Haya.
"Hallo. Maaf, ini handphone Senja kan?" ucap Aksa saat mendengar suara berbeda yang menjawab telponnya.
"Iya. Maaf, ini saya art di rumah Non Senja."
Aksa terdiam senjenak, kemudian kembali bersuara. "Senja nya di mana, Bi?"
"Non Senja lagi keluar sama den Aldi." Bi Haya terpaksa berbohong. Dia tidak tahu siapa orang yang kontaknya diberi nama Zayyan oleh Senja ini. Jika ia beritahu yang sebenarnya, ia takut Aldi tidak menyukai orang itu.
"Oh. Ya udah Bi. Nanti kalau Senja udah balik, tolong bilangin kalau saya telpon."
"Iya."
Setelah sambungan telpon terputus, Bi Haya bernafas lega. Entah kenapa, ia takut salah bicara. Tak berapa lama, deringan handphone kembali terdengar. Kali ini handphone Bi Haya yang berdering. Wanita paruh baya itu segera menjawabnya saat melihat nama Den Aldi di layar handphonenya.
"Hallo, Den."
"Oh iya, Den. Bagaimana keadaan Non Senja sekarang?"
"Senja... dia gak apa-apa. Nanti saya ceritain sama bibi kalau udah pulang."
"Iya, Den. Aden sama Non Senja butuh sesuatu? Biar besok pagi Bibi bisa anterin ke rumah sakit."
"Gak usah, Bi. Besok kayaknya saya ke rumah dulu," ucap Aldi. "Ya udah. Saya tutup dulu telponnya."
"Iya, Den."
Setelah panggilan terputus, Bi Haya segera berlalu menuju kamarnya. Dia akan berusaha memejamkan mata, meski sebenarnya ia susah untuk melakukannya.
"Semoga Non Senja baik-baik saja," gumamnya.
***
Aksa terdiam sembari menatap handphonenya. Perasaannya sejak tadi tidak enak. Rasa khawatir tiba-tiba menyelimutinya. Entah kenapa, pikirannya terus tertuju pada Senja. Perasaannya semakin tak karuan saat yang mengangkat telponnya tadi bukan Senja, melainkan art di rumah Senja.
"Setelah gue kenal lo, lo gak biasanya pergi tanpa bawa handphone. Kemana sebenarnya bang Aldi bawa lo, Nja?" gumam Aksa.
Aksa terdiam sejenak, memikirkan cara agar mengetahui kabar Senja. Dia benar-benar tidak tenang dan begitu khawatir pada gadis itu.
Ingin ke cafe, tapi di jam segitu, cafe sudah pasti ditutup. Pada akhirnya, Aksa memutuskan untuk menghubungi Rara. Siapa tahu, cewek itu memiliki informasi tentang Senja.
Satu panggilan, langsung dijawab Rara. Sepertinya gadis itu masih terjaga.
"Hallo?"
"Hallo, Ra."
"Iya. Ada apa, Sa, nelpon malem malem?"
"Gue mau tanya soal Senja. Dia ada bilang ke lo dia dibawa ke mana sama bang Aldi?"
"Enggak. Gue gak tau sama sekali kalau Senja pergi sama bang Aldi. Tadi Senja berangkat ke cafe kok. Gue tadi di rumah Senja. Kita juga berangkat bareng ke cafe. Cuman gue gak sempet mampir ke cafe. Dan juga, bang Aldi gak di rumah dari pagi sampai sore."
"Lo kenal sama teman-taman Senja yang di cafe?"
"Kenal."
"Punya nomor mereka nggak?"
"Punya."
"Share ke gue."
"Oke."
Setelah mendapat jawaban Rara, panggilan terputus. Rara sedikit heran dengan Aksa yang tiba-tiba kepikiran menghubunginya. Tapi, gadis itu tak ambil pusing. Ia segera membagikan kontak Tama, Manda dan Chesie pada Aksa. Semoga ketiga orang itu bisa menjawab pertanyaan Aksa.
Namun, ia juga penasaran, kemana Aldi membawa Senja. Dan perasaannya tiba-tiba menjadi khawatir pada sahabatnya itu. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Aksa agar memberitahu soal Senja padanya jika mendapatkan informasi.
Rara
Jangan lupa kabarin gue kalau lo tau kemana bang Aldi bawa Senja.
Aksa tak membalas pesan tersebut. Ia hanya fokus menghubungi salah satu dari ketiga rekan kerja Senja. Ia memilih mengirimkan chat pada Tama. Ya, dia beberapa kali pernah diajak bicara oleh Tama saat ia mengantar Senja ke cafe.
Tak butuh waktu lama untuk Tama membalas pesannya. Aksa segera membaca chat tersebut.
Tama
Tadi abangnya Senja sempet ke cafe dan bawa Senja pergi. Cuman, gue maupun Chesie sama Manda gak tau ke mana mereka pergi.
Aksa menarik nafas panjang. Ia harus menelan rasa kecewa karena Tama, maupun Manda dan Chesie juga tidak tahu dimana Aldi membawa Senja.
Sementara Tama, laki-laki itu menggumamkan kata maaf untuk Aksa, karena sudah membohonginya. Ia takut jika ia mengatakan yang sebenarnya, Aksa akan langsung ke rumah sakit. Sedangkan bi Haya melarang mereka untuk menjenguk Senja untuk saat ini.