Aksarasenja

Aksarasenja
Hubungan Baik



Senja, Chesie, Tama dan Manda berjalan bersama keluar dari cafe. Tama berbalik dan menutup pintu. Sementara Senja, Chesie, dan Manda menunggunya.


"Lo nggak bawa motor kan, Nja?" tanya Manda.


"Iya. Motor gue mogok lagi, Kak," jawab Senja.


"Ya udah, lo sama gue aja," sahut Chesie. Dia kebetulan menggunakan motor tadi.


"Boleh?"


"Boleh lah, Nja. Masa sama adik sendiri nggak dibolehin," celetuk Tama. Mereka berjalan bersama menuju parkiran.


Senja terdiam mendengar ucapan Tama. Ia teringat abangnya, Aldi. Dulu, Aldi pernah mengatakan kalimat seperti itu padanya. Rasanya dia sangat bahagia. Tapi sekarang, Aldi begitu berbeda.


"Lho? Bukannya itu temen lo, Nja?" Manda menunjuk ke arah parkiran, dimana Aksa sedang duduk di atas motornya.


Senja yang tadinya sedang larut dalam pikirannya langsung mengangkat wajahnya, mengikuti arah tunjuk Manda. Keningnya mengerut melihat Aksa disana.


"Zayyan?" gumamnya pelan.


Keempat orang itu mendekat dan berdiri di dekat Aksa.


"Zay— Aksa, kenapa kamu masih disini?"


Wajah Aksa tak menunjukkan ekspresi apapun. Cowok itu menatap ketiga rekan kerja Senja, kemudian beralih menatap gadis itu.


"Gue tungguin lo," jawabnya tanpa melepas tatapannya pada Senja.


"Kenapa? Ada yang mau kamu omongin lagi?"


"Nggak ada."


Senja diam. Aksa ini membingungkan. Tidak ada sesuatu yang ingin dia bicarakan lagi. Tapi, dia malah menunggunya di parkiran.


"Ayo pulang!"


Senja tersentak mendengar ajakan Aksa. Apa dia sedang berkhayal? Tapi, kenapa terasa nyata?


"Senja, lo diajakin balik sama temen lo!" Senggolan Manda di lengannya membuat Senja yakin, jika ini bukan hayalannya. Aksa benar-benar mengajaknya pulang.


"Ta-tapi, gue pulang bareng Kak Chesie."


"Nggak apa-apa. Lo pulang bareng dia aja," ucap Chesie. Gadis itu kemudian menatap Aksa. "Senja pulang bareng lo. Jagain dia. Anterin sampai rumahnya," lanjut gadis itu.


"Jangan samapai lo macam-macam! Sampai terjadi sesuatu sama Senja, lo orang pertama yang gue cari!" sambung Tama.


Aksa mengangguk, kemudian kembali mengajak Senja. "Ayo!"


"Kak Tama, Kak Chesie, sama Kak Manda hati-hati. Gue balik duluan."


"Iya, Nja. Lo berdua juga hati-hati."


Setelah Senja berpamitan dengan ketiga rekan kerjanya, Aksa melajukan motornya menjauh dari parkiran cafe tersebut.


Dalam perjalanan, Senja maupun Aksa tidak ada yang memulai pembicaraan. Senja ingin, tapi sesuatu yang ingin dia bicarakan mungkin akan membuat Aksa marah. Lebih baik ia diam.


"Lo dekat sama Arhez?" Pertanyaan Aksa membuat Senja menatapnya melalui spion. Bisa ia lihat bagian mata Aksa yang tak tertutup helm. Mata tajam itu fokus menatap jalanan.


"Iya. Arhez teman aku sekarang."


"Cuma teman?" tanya Aksa seakan tak percaya dengan jawaban Senja.


"Iya."


Jawaban tanpa ragu-ragu Senja membuat Aksa terdiam. Entah kenapa pertanyaan itu melintas di pikirannya. Dan dengan bodohnya ia mengungkapkannya pada Senja.


Suasana perjalanan mereka mendadak hening setelah jawaban Senja. Hingga samapai rumah Senja pun, keduanya tak berbicara lagi.


"Makasih udah anterin aku."


"Sama-sama. Gue balik."


"Iya. Hati-hati."


Langkah Senja menuju pintu rumah seketika terhenti di teras, saat pintu rumah dibuka. Di ambang pintu, Aldi berdiri sambil bersidekap.


"Dari mana lo?"


Senja meneguk salivanya. Suara dingin Aldi dan tatapan tajam Abangnya itu membuat tenggorokannya kering.


"Senja!"


"Se-Senja dari belajar kelompok di rumah Parto," ucap gadis itu gugup.


"Siapa yang anterin lo?"


Dari deru motor yang terdengar, sudah bisa ia pastikan jika motor itu bukan milik Rara. Ia keluar rumah dengan cepat, berharap bisa melihat siapa yang mengantar adiknya. Tapi sayang sekali, sebelum ia mencapai pintu, motor yang mengantar Senja sudah melaju pergi.


"I-itu Zayyan, Bang."


"Zayyan?" Kening Aldi mengerut. Dia tiba-tiba ingat dengan kejadian Senja yang mengejar-ngejar Aksa saat pulang sekolah waktu itu. Saat itu Senja juga memanggil Aksa dengan sebutan Zayyan.


"Maksud lo, Aksa? Cowok yang lo kejar-kejar itu?"


"Bang, Senja—"


"Jauhin dia!" Setelah mengucapkan itu, Aldi langsung meninggalkan Senja.


Gadis itu menarik nafasnya. Ia menatap punggung lebar Aldi yang berjalan menjauh darinya.


Maafin Senja udah bohongin abang. Dan maaf, Senja nggak bisa jauhin Zayyan sekarang. Batin Senja.


***


Sejak pertemuan Aksa dan Senja di Cafe malam itu, hubungan keduanya di sekolah semakin baik. Aksa tidak menghindari Senja lagi seperti biasanya. Hal itu membuat Rara dan Parto heran. Begitu juga Arhez dan kedua sahabatnya, Dean dan Roni.


Bagas dan Jafar merasa senang melihat Aksa dan Senja yang mulai dekat. Sementara Amara dan kedua sahabatnya, menggeram kesal melihat Aksa yang mulai dekat dengan Senja.


"Nih, kotak bekal lo!" Aksa menyodorkan kotak bekal pada Senja. Hal itu membuat seisi kantin menatap mereka berdua. Sudah menjadi rahasia umum jika Aksa tidak suka dengan Senja bahkan membencinya. Tapi, apa yang mereka lihat sekarang menunjukkan bahwa semua itu tidak benar.


Senja menatap Aksa yang berdiri di sampingnya sambil melempar senyum pada cowok itu. Sementara Arhez yang sedang duduk berhadapan dengan Senja, menatap Aksa dengan raut dinginnya.


"Makasih udah habisin," ucap Senja.


"Seharusnya gue yang ucapin terima kasih," balas Aksa.


"Liat lo berdua akur gitu, rasanya aneh," celetuk Parto. Membuat Rara kesal dan langsung mencubit lengannya.


"Aduh! Apaan sih, Ra!"


"Lo bisa diem nggak?" bisik Rara dengan gigi bergemelatuk. Membuat Parto bergidik.


"Udah? Balik sana ke tempat lo!!" Suara bernada ketus milk Arhez membuat Aksa menoleh padanya. Keduanya saling bertatapan dengan aura permusuhan.


Senja yang melihatnya pun jadi gelagapan, takut jika Aksa dan Arhez bertengkar. Hal yang sama dirasakan Rara, Parto, Dean, dan Roni. Mereka tidak ingin dua cowok itu mengacau di kantin saat mereka sedang menikmati waktu istirahat mereka.


Tiba-tiba Bagas dan Jafar datang dan langsung merangkul pundak Aksa.


"Tega benar lo, Sa. Ke kantin nggak bilang-bilang," ucap Bagas.


"Iya. Tega bener lo, Sa. Gue sama Bagas sampe pusing cariin lo."


Aksa tak menjawab. Ia memutuskan kontak matanya dengan Arhez, kemudian beralih menatap kedua sahabatnya. Membuat Bagas dan Jafar meneguk ludah, mendapati tatapan tak bersahabat dari Aksa.


"Eh, ada Senja disini," ucap Bagas mulai menghindari tatapan Aksa.


"Iya, ya. Ada Senja, sama yang lain juga. Hallo semuaa," sambung Jafar, menyapa teman-teman yang lain yang disambut dengan senyuman oleh Rara dan Parto. Dean dan Roni hanya menganggukkan kepala mereka. Sementara Arhez, cowok itu hanya diam dengan raut dingin. Tangannya kemudian meraih air mineral dan memberikannya pada Senja.


"Makasih, Hez." Gadis itu tersenyum setelah menerima botol air mineral yang Arhez berikan.


Aksa yang melihat kejadian tersebut mengepalkan tangannya yang kini berada di saku celana seragamnya. Entah kenapa, ia tidak suka dengan sikap dan juga tatapan Arhez pada Senja.


"Gue ke kelas dulu." Tanpa menunggu jawaban Senja, Aksa langsung berlalu meninggalkan kantin. Bagas dan Jafar pun sampai terheran dengan tingkah sahabat mereka itu. Dan akhirnya mereka memilih untuk menyusul Aksa.


Sementara itu, dari arah tengah kantin, Amara, Siska dan Sonya menyaksikan kejadian itu. Amara mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tidak suka melihat Aksa berdekatan dengan Senja. Dalam hatinya, ia berjanji akan menghancurkan hubungan baik yang baru saja dibangun oleh Aksa dan Senja itu.