
Aksa menatap sang Papa yang kini terbaring di ranjangnya. Cowok itu langsung menuju kediaman sang Papa setelah pulang sekolah tadi. Dia mendapat kabar yang tidak mengenakan. Papanya terjatuh saat di kamar mandi.
"Maafin saya, Den Aksa. Saya gak jagain Papa Den Aksa dengan baik. Saya teledor," ucap Pak Ijan.
"Saya mau dengar ceritanya, Pak. Gimana Papa saya bisa jatuh," ucap Aksa. Matanya terus menatap sang Papa yang tertidur.
"Tadi, Bapak saya tinggalin pas lagi tidur, Den. Saya bersihin mobil, Bibi lanjut masak di dapur. Saya juga nggak tau gimana Bapak bisa jatuh. Saya langsung ke kamar waktu dengar bunyi gedubrak. Sampai di dalam, Bapak udah terbaring di lantai, Den."
"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit?"
"Bapaknya gak mau, Den. Jadi, saya suruh Bibi nelpon dokter kesini."
Aksa menarik nafasnya panjang. "Ya udah. Pak Ijan lanjutin aja kerjaannya. Biar saya yang jagain Papa disini."
"Iya, Den. Saya permisi."
Setelah pak Ijan keluar dari kamar tersebut, Aksa meraih handphonenya dan menghidupkannya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apikasi chatnya. Banyak sekali notif chat yang masuk. Ia membaca beberapa chat yang penting dan mengabaikan sebagiannya.
Om Mirwan
Assalamu'alaikum Den.
Ada beberapa dokumen yang harus Aden dan Pak Herman tandatangani. Apakah saya harus mengantarnya ke tempat Aden?
^^^Aksa ^^^
^^^Nggak usah, om. Biar saya ke tempat om. Nanti setelah maghrib. ^^^
Perusahaan yang dimiliki Papanya, sudah beralih nama menjadi milik Aksa. Hanya saja, om Mirwan–orang kepercayaan sang Papa yang mengurus perusahaan tersebut. Setelah berusia 20 tahun nanti, Aksa akan mulai ikut mengurus perusahaan. Meski begitu, semua hal yang berurusan dengan perusahaan harus tetap mengetahui Aksa dan sang Papa.
Aksa yang sedang fokus pada handphone pun mengalihkan pandangannya ketika tangan sang Papa menyentuh lengannya. Dengan segera, ia mematikan handphonenya dan menatap sang Papa.
"A-Aksa..." lirih laki-laki itu.
"Iya, Pa. Papa butuh sesuatu?"
"Minum."
Aksa dengan segera mengambil minum dan membantu sang Papa untuk minum. Setelah itu, ia kembali membantu Pak Herman berbaring.
"Kam-kamu sendiri?"
"Iya, Pa."
"Pa-pa gak liat Se-Senja udah hampir se-seminggu. Aj-ajak Senja lagi kesini."
Aksa terdiam. Apa yang harus ia katakan pada Papanya? Hubungannya dengan Senja hingga hari ini belum juga membaik. Bahkan Senja tak mengirim pesan padanya lagi sejak hari terakhir dia berbicara dengan Senja.
Melihat keterdiaman Aksa, Pak Herman menyentuh tangan cowok itu. Membuat Aksa kembali menatapnya.
"A-ada apa?" tanyanya terbata.
Aksa menggeleng pelan. "Gak ada apa-apa, Pa. Kita lagi fokus ujian aja. Jadi, kita belum ada waktu." Pak Herman hanya mengucapkan kata "ooh" untuk membalas putranya. Tapi, entah kenapa, ia merasa Aksa sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Walaupun begitu, ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Biarkan Aksa sendiri yang akan menceritakan semuanya padanya.
"Ka-kapan ujian selesai?"
"Dua hari lagi."
"Se-setelah ujian selesai, ba-bawa Senja kemari ya?"
"Su-suruh saja Mirwan kemari," jawabnya, membuat Aksa sedikit lega karena sang Papa tak membicarakan Senja lagi.
"Nggak. Kalau om Mirwan kemari, Papa pasti banyak bicara sama dia. Papa pasti lupa istirahat."
Pak Herman terkekeh mendengar ucapan Papanya. Aksa benar-benar mengingat bagaimana kebiasaannya ketika bersama Mirwan. Ia selalu lupa waktu jika sudah mengobrol mengenai perusahaan bersama Mirwan.
"Hehehe... Kam-kamu ini," ucapnya. "Kal-kalau begitu, kam-kamu berangkat sekarang saja. Se-sekarang sudah sangat sore."
"Ya udah, Aksa pamit dulu. Papa harus banyak istirahat."
Setelah menyalimi sang Papa, Aksa bergegas meninggalkan kamar sang Papa. Ia lalu berpamitan pada Pak ijan dan Bi Darsi. Setelah itu, dia meninggalkan kediaman sang Papa. Dan seperti biasa, dia akan menyempatkan dirinya melihat senja di pantai. Ia akan menenangkan pikirannya sejenak.
***
Jika setiap siswa akan belajar mempersiapkan ujian akhir yang masih belum usai, maka hal berbeda dilakukan Amara. Gadis itu malah mengunjungi apartemen Siska. Dia benar-benar tidak puas dengan jawaban Arhez. Dia harus mencari tahu sendiri. Bukan soal bukti kebohongan dirinya, melainkan soal persyaratan yang Siska ajukan pada Arhez.
Tok... Tok... Tok....
Amara mengetuk pintu unit Siska dengan keras dan tak sabaran. Membuat si pemilik unit berdecak kesal.
"Bisa gak ketuknya gak— Amara?"
Bukannya menyapa Siska, Amara malah mendorong Siska masuk ke unitnya kemudian mengunci pintu.
"Lo apa-apaan sih, Mar?!" kesal Siska.
"Lo yang apa-apaan! Lo sengaja kasi bukti ke Arhez dan minta dia main sama lo sebagai syaratnya!"
"Hah? Kok lo bisa tau?" tanya Siska pura-pura kaget. Sebenarnya dia sudah tau jika Arhez marah-marah pada Amara dua hari lalu.
Dia sempat mengikuti Arhez yang menarik Amara ke rooftop sekolah. Yang membuatnya terkejut, ternyata Arhez merekam obrolan mereka waktu itu. Dan yang semakin buat dia terkejut, ternyata Amara dan Arhez sahabatan saat kecil.
Awalnya dia mengikuti Arhez karena ingin bertanya, kenapa Arhez tidak menepati janjinya malam itu. Dan ia baru sadar, Arhez gak akan pernah nepatin janjinya, karena cowok itu memiliki rekaman percakapan mereka. Jika ia memaksa, sudah pasti Arhez akan balik mengancamnya.
"Maaf ya, Mar. Gue bongkar kebohongan lo. Gue udah muak sama lo yang suka seenaknya sama gue."
"Cih! Gue gak peduli lo muak atau enggak sama gue! Yang jelas, lo harus jujur sama gue! Apa Arhez bener nyamperin lo? Apa yang lo sama Arhez lakuin!"
Siska tersenyum. Sepertinya mengerjai Amara akan sangat menyenangkan.
"Eeemm.... Gimana ya?" Siska mulai bercerita sambil tersenyum. Seolah-olah sedang membayang sesuatu yang ia lakukan bersama Arhez, yang nyatanya tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. "Malam itu, Arhez datang nyamperin gue. Tarus... Kita berdua... Akkhhh... Malam itu gue rasa bahagia banget, Mar. Sikap Arhez ke gue baik banget. Arhez juga perlakuin gue lembut. Dia gak dingin kayak biasanya—"
"Stop! Stop Siska!" bentak Amara. Air mata gadis itu sudah menggenang di pelupuk mata. Entah kenapa, hatinya begitu sakit mendengar cerita Siska. Rasanya jauh lebih sakit daripada saat dia melihat Aksa jalan bersama Senja.
"Eh, kenapa lo nangis? Lo juga mau, main sama—"
Plak!!
Amara tidak tahan. Gadis itu langsung menampar Siska sebelum cewek itu menyelesaikan ucapannya.
"Lo apa-apaan sih, Mar? Lo—"
Plak!!
Lagi. Amara kembali menapar Siska. Sekarang, dia benci gadis dihadapannya itu. "Gue nyesel pernah kenal lo! Gue nyesel pernah temenan sama lo!" ucap Amara kemudian berjalan keluar dari unit Siska.
"Cih! Gue juga nyesel pernah temenan sama lo! Shhh... Sakit banget tamparannya. Amara sialan!!" umpat Siska.