
Taman rumah sakit adalah pilihan Senja sebagai tempat agar ia bisa duduk bercerita bersama Arhez. Keduanya duduk di kursi panjang yang tersedia di sana. Senja menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya.
"Gue sakit, Hez. Kanker hati."
Deg!!
Arhez diam membeku. Jantungnya berdetak cepat mendengar pengakuan Senja. Perasaan khawatir seketika muncul dalam dirinya.
"Ka-kanker hati?" Senja mengangguk pelan. "Sejak kapan?"
"Gue baru taunya saat kita masuk kelas 12. Sejak SMP, gue sering sakit di ulu hati. Gue pikir, itu cuman karena gue telat makan. Selain itu, wajah gue pucat banget, beda sama yang lain. Karena itu gue dandan kayak gini."
"Gue gak nyangka lo tega sama gue, Nja."
Senja dan Arhez sama-sama menoleh ke belakang. Di belakang mereka, Rara berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Rara..." gumam Senja dan Arhez bersamaan.
Senja segera berdiri dan menghampiri sahabatnya itu. Ia meraih tangan Rara dan menggenggamnya erat.
"Kenapa, Nja? Kenapa lo tega nyembunyi in hal sebesar itu dari gue? Gue sahabat lo, kan? Atau, lo selama ini gak pernah anggap gue sebagai sahab—"
"Jangan ngomong gitu, Ra," potong Senja. "Lo sahabat gue. Bahkan gue udah anggap lo sebagai saudara gue."
"Terus, kenapa lo gak jujur sama gue kalau lo sakit? Lo bisa cerita sama Arhez, tapi gue enggak?"
"Senja gue paksa cerita," sahut Arhez yang masih berdiri di tempatnya semula.
Rara menatap Senja, yang kini juga menatapnya. "Maaf..." ucap Senja lirih. "Ayo, duduk dulu. Gue bakal cerita semuanya sama lo."
Rara tak menjawab. Namun, ia tetap mengikuti Senja yang dengan lembut menarik tangannya. Gadis itu mendudukan Rara di antara ia dan Arhez. Setelah itu, cerita mengenai hal yang selama ini ia sembunyikan mengalir begitu saja.
Rara yang mendengarkannya pun meneteskan air mata. Sementara Arhez, cowok itu membisu dan sesekali menarik panjang nafasnya.
"Jadi, selama ini sakit di perut bagian atas lo itu bukan karena maag? Tapi, karena penyakit lo?"
Senja mengangguk pelan. "Gue harap, lo berdua gak ngomong ke siapa-siapa, termasuk bang Aldi."
"Bang Aldi gak tau?" tanya Rara. Dia cukup kaget mendengar pengakuan Senja.
"Gak, Ra. Bang Aldi gak tau."
"Ya Allah, Senja. Kenapa lo gak kasi tau?!"
"Kecilin suara lo, Ra," ucap Arhez. Selain telinganya terasa sakit, dia juga tidak suka Rara berteriak pada Senja.
"Maaf, Hez..." cicit Rara. "Kenapa sih, Ra, lo gak kasi tau bang Aldi? Apa jangan-jangan, lo juga gak kasi tau bokap sama nyokap lo?" Meskipun ia belum pernah bertemu dengan orang tua Senja, ia tahu mengenai pasangan suami istri itu yang bekerja mengurus perusahaan mereka di luar negeri.
Senja kembali menggeleng pelan. Hal itu membuat Rara spontan menepuk jidatnya. "Ya Allah, Senja. Kenapa sih, lo sembunyi in itu dari mereka?"
"Gue gak mau mereka khawatir, Ra."
Entah mereka akan khawatir atau nggak, aku juga nggak tau. mama sama papa gak pernah hubungi aku. Saat aku menghubungi mereka, aku sendiri yang akan menelan kekecewaan karena gak ada sedikit pun respon dari mereka. Bang Aldi juga hanya akan terus marah dan meninggalkanku sendiri di rumah. Aku hanya dianggap sebagai manusia yang menyusahkan. Dan aku gak mau semakin menyusahkan mereka. Biar bebanku, aku sendiri yang menanggungnya. Batin Senja.
Suasana diantara mereka hening. Tidak satu pun dari ketiga orang itu mengeluarkan suara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, suara Arhez terdengar.
"Nja," panggil Arhez, membuat Senja menoleh. Rara pun juga ikut menoleh. "Ayo, gue anterin lo pulang. Lo harus banyak istirahat."
Senja menggeleng. "Gue bawa motor, Hez."
"Gue tetap anter lo!"
"Gue juga!" sahut Rara.
Senja menarik nafasnya. Ia tidak bisa menolak lagi jika begini. "Ya udah. Lo berdua boleh anterin gue. Tapi, kita pakai motor masing-masing. Gue gak mau matic kesayangan gue ditinggal di sini," ujar Senja, diiringi senyum manis berlesung pipinya.
"Ya udah, lo sama Arhez duluan ke parkiran. Gue mau izin ke mama dulu."
"Tante disini juga, Ra?"
"Hmm. Jengukin ayahnya Tama yang lagi sakit."
"Ayah kak Tama sakit? Pantesan kak Tama izin tiga hari."
"Udah baikan, kayaknya hari ini udah bisa pulang. Mama gue aja yang jiwa sosialnya tinggi banget. Sampai-sampai jenguknya tiap hari," ucap Rara dengan wajah sebalnya. Ia benar-benar kesal pada mamanya. Setiap hari selama ayah Tama dirawat di rumah sakit, mamanya itu selalu mendesaknya agar ikut menjenguk. Membuatnya begitu jengkel.
Senja dan Arhez menahan senyum melihat ekspresi kesal Rara. Entahlah, gadis itu terlihat lucu saat kesal.
"Ya udah, kita ke parkiran duluan," ucap Senja yang dibalas anggukkan oleh Rara.
***
"Lo yakin, mau ke cafe?" tanya Rara. Saat ini, ia sedang berada di rumah Senja, tepatnya di kamar sahabatnya itu. Ia menatap Senja yang tengah sibuk mengoleskan beberapa produk kecantikan di wajahnya.
"Iya. Sekalian mau izin gak masuk seminggu."
"Hah? Seminggu? Lo mau kemana seminggu?"
Senja menarik nafasnya pelan. Ia merapihkan produk kecantikan yang ia gunakan tadi, kemudian berbalik menatap Rara. "Lo lupa? Minggu depan kita ujian akhir?"
"Iya, gue lupa."
"Ck. Belum tua aja udah pikun."
"Gak usah ngeledek."
"Hehehe... Udah ah. Ayo, kasian kak Chesie sama kak Manda sendiri."
"Ayo."
Dua gadis itu bergegas keluar dari kamar. Keduanya berjalan bergandengan. Rara menoleh sejenak pada Senja. Ia berharap, ia dan Senja selamanya akan seperti ini. Ia tidak ingin kehilangan sahabat sebaik Senja.
"Tetap bareng gue seperti ini, Nja," ucap Rara.
Senja menoleh pada cewek itu, kemudian mengulas senyum. Senyuman manis dan menenangkan.
"Semuanya akan baik-baik aja, Ra," jawabnya.
***
Senja menghentikan motornya di parkiran cafe, setelah tiba disana. Hal berbeda dilakukan Rara. Gadis itu berhenti di pinggir jalan depan cafe tanpa mematikan mesin motornya. Dia harus segera kembali karena sang mama tiba-tiba menelpon menyuruhnya segera pulang, saat di pertengahan jalan tadi.
"Jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Hati-hati," ucap Senja, setelah memarkirkan motornya.
"Iya. Gue balik dulu," balas Rara. Setelah mendapat anggukkan Senja, gadis itu melajukan motornya meninggalkan area cafe.
Senja memasuki cafe, kemudian menyapa Chesie dan Manda. Gadis itu cukup terkejut melihat Tama ada di cafe. Padahal, ayah cowok itu sedang berada di rumah sakit.
"Lho? Kak Tama kenapa disini? Bukannya ayah Kak Tama lagi di rumah sakit?"
"Ayah udah dibolehin pulang siang tadi. Lo tau dari siapa Ayah gue di rumah sakit?"
"Rara. Tadi Rara di rumah," ucap Senja.
"Rara kok bisa tau?" tanya Manda yang diangguki Chesie. Dua orang itu tidak tahu jika orang tua Tama dan Rara dekat. Yang ia tahu, Tama dan Rara adalah dua orang yang ketika bertemu pasti akan berantem.
"Nyokap Rara tiap hari jengukin bokap gue sama Rara. Bokapnya Rara juga. Tapi, karena bokapnya sibuk kerja, gak tiap hari jenguknya."
Manda dan Chesie mengangguk paham atas apa yang Tama jelaskan. Setelah itu, mereka kembali sibuk melayani pelanggan cafe.