Aksarasenja

Aksarasenja
Berita Buruk



Aldi beserta kedua orang tuanya dan juga sang sahabat, Ren, masih setia berada di depan ruang rawat Senja. Perasaan khawatir Aldi semakin bertambah ketika dokter belum juga keluar sejak tadi.


"Duduk, Al," ucap sang mama, Mila, dengan suara lembut.


"Gak bisa, Ma. Dokter gak pernah selama ini kalau tangani Senja. Berarti Senja benar-benar gak bisa tahan sama sakitnya."


Decitan pintu yang dibuka membuat Aldi menghantikan langkahnya, kemudian langsung menghampiri Dokter Rahila. Raut wajah dokter wanita itu sama cemasnya dengan Aldi.


"Gimana keadaan adik saya, Dok?"


"Kondisinya sangat buruk. Tindakan operasi harus segera dilakukan secepatnya. Apa pihak keluarga sudah menemukan donor yang cocok?"


Aldi menggeleng lemah. Dia sudah menghubungi beberapa orang untuk membantunya mencari donor yang cocok untuk Senja. Namun, takdir belum memihak padanya. Bahkan Randa sudah menghubungi beberapa suruhannya di luar negeri untuk mencari donor yang cocok. Dia berniat akan membawa putrinya berobat disana.


"Saya mau mendonorkan hati saya untuk putri saya, Dok," ucap Mama Senja, Mila.


"Ma, Mama punya riwayat darah tinggi," ucap Aldi. Mila terdiam. Ia tidak bisa membantah ucapan anaknya.


Aldi menatap Papanya dengan sendu. "Papa juga gak bisa..." lirih Aldi. Dia tahu betul, bagaimana riwayat kesehatan sang Papa.


"Gue mau coba. Kalau cocok, kalian boleh ambil hati gue," ucap Ren.


Dokter Rahila mengangguk. Namun, saat dirinya hendak pergi bersama Ren untuk melakukan tes kecocokan, seorang suster tiba-tiba keluar dengan raut panik.


"Dok, kondisi pasien semakin menurun."


Tanpa mengatakan apapun, Dokter Rahila langsung masuk ke ruangan. Membuat rasa khawatir di hati orang-orang yang menunggu Senja di depan pintu semakin dalam.


"Pa, Mama takut..." lirih Mila, sambil memeluk tangan suaminya. Air matanya tak mampu ia tahan. Setelah lama tak bertemu putrinya dan sempat melupakan anak manis itu, sekarang dia malah dihadapkan dengan kenyataan yang menyakitkan.


"Tenang, Ma. Kita berdoa saja untuk putri kita," ucap Randa. Meski begitu, tak bisa ia pungkiri jika dirinya teramat mengkhawatirkan Senja. Bahkan dirinya sedang menahan diri mati-matian untuk tidak menangis.


Sedangkan Aldi, laki-laki itu terduduk lemas di lantai tepat di samping pintu ruang rawat Senja. Tidak ada yang tahu, sehancur apa dia saat ini. Hatinya terus menggumamkan doa agar Tuhan mau berbaik hati menyelamatkan Senja. Dia mau menukar apapun yang dia miliki, asalkan Senja tetap bersamanya.


Sementara dari kursi tunggu, Ren menatap ketiga orang itu dalam diam. Dia pernah berada di situasi seperti ini. Dia Tahu betul bagaimana rasanya. Dan itu sangat menyakitkan.


Setelah sepuluh menit menunggu, decitan pintu kembali terdengar. Aldi dengan cepat bangun, begitu juga dengan Randa yang mendorong sedikit cepat kursi roda sang istri, lalu Ren yang juga ikut mendekat.


Dokter Rahila keluar dengan raut sedih. Dokter cantik itu menatap satu per satu wajah anggota keluarga Senja.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"


Dokter Rahila menggeleng. "Maaf, kami sudah berusaha dengan baik."


Deg!!


Tubuh Aldi terhuyung mendengar ucapan Dokter Rahila. Beruntung ada Ren yang berdiri di dekatnya, dan langsung menahannya. Dadanya sesak. Ia tak mampu bernafas dengan baik.


"Dok, ada pasien kecelakaan baru saja meninggal. Hatinya cocok dengan pasien atas nama Senja Amalia." Seorang suster tiba-tiba datang dan memeberitahukan jika donor hati untuk Senja sudah ada. Namun, gelengan kecil Dokter Rahila membuat suster itu mengerti, Senja tak membutuhkan donor hati lagi.


***


Aksa tiba di kediaman sang Ayah. Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan berlari masuk ke rumah. Sudah banyak orang yang duduk mengelilingi sang papa yang terbujur kaku. Aksa melewati orang-orang tersebut dan terduduk lemah di samping sang papa.


"Maafin Aksa..." lirihnya. "Aksa gak ada di detik-detik terakhir papa...."


Air mata Aksa jatuh. Baru semalam ia berbicara dengan sang papa. Semuanya baik-baik saja. Bahkan suaranya yang biasanya terbata, terdengar cukup lantang. Papanya juga bahkan berpesan agar terus mengabarinya mengenai keadaan Senja. Dan kata yang paling Aksa ingat itu, ketika papanya berpesan untuk menghargai segala yang ada padanya saat ini.


"Papa cuman mau bilang, jangan pernah sia-sia in yang ada pada kamu saat ini. Hargai apa yang kamu punya. Karena pada akhirnya, semua akan pergi saat tiba waktunya."


"Aksa gak pernah nyangka, kalau itu pesan terakhir papa buat Aksa..." lirihnya lagi.


Ia menatap lekat wajah sang papa untuk terakhir kalinya. Air matanya terus menetes tanpa mampu ia hentikan. Sosok Ayah yang paling dia sayang sudah tiada.


"Mama gak pernah nyangka papa kamu bakal pergi secepat ini. Rasanya baru kemarin Mama punya kesempatan buat ketemu papa kamu. Sekarang.... Hiks...." Ratna tak mampu melanjutkan ucapannya. Sosok yang terbaring kaku saat ini adalah laki-laki yang selalu baik dan lembut padanya. Walau begitu banyak kesalahan yang ia buat, tidak sedikit pun Herman membencinya. Bahkan membentak pun, laki-laki itu tidak pernah melakukannya.


Hengky merangkul sang istri dan berusaha menenangkannya. Sebelah tangannya terulur mengelus pelan bahu Aksa. Dia tahu, bagaimana perasaan sang istri dan juga Aksa. Dan ia bisa melihat, serapuh apa anak laki-laki yang tengah menangis di samping jasad ayahnya itu.


Sementara di barisan belakng para pelayat, Arhez dan semua teman Aksa yang datang, terdiam. Mereka turut mengirimkan doa dalam hati untuk papa Arhez.


Setelah jasad pak Herman selesai dikafan kan, semuanya sama-sama mengantar jasad pak Herman ke pemakaman yang berada di samping rumah tersebeut. Herman sendiri yang meminta untuk dimakamkan di halaman samping rumahnya, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah proses pemakaman usai, Aksa duduk diam di samping makam sang Ayah. Dia masih tidak menyangka, papanya akan meninggalkannya.


"Duluan aja, Ma. Aksa masih mau disini."


"Ya udah kalau kamu masih mau disini. Mama ke rumah duluan ya, mau bantuin Bi Darsi." Aksa hanya mengangguk pelan.


Ratna dan Hengky bergegas meninggalakan Aksa. Kini tersisa Aksa dan teman-temannya yang masih setia menemani Aksa.


Rara yang sejak tadi tidak tenang pun mendekat pada Chesie dan Manda yang berdiri berdekatan. Perasaannya tidak enak. Ia terus saja teringat Senja.


"Kak, gue balik duluan, ya? Gue mau ke rumah sakit," bisik Rara.


"Sekalian aja. Gue juga mau balik lagi ke rumah sakit," sahut Chesie.


"Gue juga," timpal Manda.


Rara menganggukkan kepalanya. Ia berjalan mendekati Aksa dan berjonggok tepat di sebelah cowok itu.


"Sa, gue balik dulu ya? Mau ke rumah sakit lagi, liatin Senja."


Aksa menoleh menatap Rara. "Terus kabarin gue," ucapnya yang dibalas anggukan Rara.


"Ya udah. Gue—"


Drrtt... Drrtt... Drrtt....


Getaran telpon membuat ucapan Rara terhenti. Gadis itu merogoh handphonenya, kemudian langsung menjawab. Itu adalah telpon dari Aldi.


"Hallo, Bang?"


"Ra, Senja...."


"Senja kenapa, Bang?" tanya Rara. Perasaannya semakin tak enak. Bahkan air matanya sudah menggenang. Dia takut. Takut kejadian buruk menimpa sahabatnya.


"Sen-Senja udah gak ada, Ra."


Deg!!!


Tubuh Rara mematung. Air matanya seketika jatuh membasahi pipi. "Gak mungkin..." lirih Rara.


"Sekarang gue sama mama papa, sama Ren, udah selesai ngurus jenazahnya. Kita mau ke pemakaman."


"Gak! Gak mungkin! Abang bohongkan sama Rara!! Bang Aldi bohong kan!!" teriak Rara. Gadis itu tak mampu membendung perasaan sedihnya.


Reaksi Rara yang seperti itu membuat semua terkejut. Semuanya berubah panik, terutama Aksa yang berada tepat di samping Rara.


"Kenapa, Ra? Telpon dari siapa?"


Rara tak menggubris pertanyaan Aksa. Gadis itu terus menangis.


"Bang Aldi! Bang Aldi bilang sama Rara!! Abang bohongkan!"


"Enggak, Ra.... Abang gak bohong."


"Hiks.... Gue gak percaya...." lirih Rara.


Arehz sudah dipenuhi rasa khawatir menghampiri Rara. Begitu juga Parto yang ikut menghampiri Rara. Arhez memegang kedua bahu gadis itu dan memaksa Rara menatapnya.


"Bilang sama gue! Bang Aldi ngomong apa?" tanya Arhez tegas.


"Hiks... Hiks.... Senja, Hez. Bang Aldi bilang... Hiks.... Senja udah gak ada. Senja meninggal.... Hiks...."


Deg!!


Semua orang terdiam mendengar ucapan Rara. Pegangan Arhez di bahu Rara melemah. Ia seolah tak memiliki kekuatan. Parto terdiam mematung. Sementara Aksa, laki-laki itu hanya mampu membisu dengan wajah pucat pasi. Kata 'Senja meninggal' terus berputar di pikirannya dan terdengar di telinganya.


Senja meninggal? Gak! Gue gak percaya. Senja udah janji sama gue. Dia gak akan ninggalin gue.


Chesie dan Manda sudah menangis sambil berpelukan. Tama, cowok itu tak mengatakan apa-apa. Dia syok mendengarnya. Senja, dia sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya. Sementara Bagas, Jafar, Dean dan Roni ikut meneteskan air mata. Senja gadis baik yang pernah mereka kenal. Senja adalah sahabat terbaik mereka.


Dan Amara, gadis itu hanya mampu diam dengan air mata yang terus-terusan menetes. Dia baru saja berbaikan dengan Senja, dan sekarang dia mendapat berita buruk mengenai gadis itu. Dia Senja, gadis baik itu sudah pergi, meninggalkan segala rasa bersalah yang masih tertanam dalam diri Amara.