Aksarasenja

Aksarasenja
Bertemu Aldi Di Cafe



Hari semakin menggelap, dan suasana cafe semakin ramai. Senja yang baru saja kembali dari tempat penyimpanan langsung menghampiri Chesie, Manda, dan Tama.


"Ramai ya? Lebih ramai dari kemarin," ucap Senja.


"Iya. Seneng banget gue," jawab Tama.


"Nja, tolong tanya in ke meja itu ya? Gue mau ke toilet bentar," ucap Chesie sembari menunjuk ke arah satu meja yang di kelilingi 4 cowok dan 2 cewek.


"Iya, Kak."


Senja langsung mengambil sebuah notes dan bergegas menuju meja yang di tunjuk Chesie.


"Permisi, sa—"


Deg!!


Senja terdiam mematung menatap salah satu cowok yang duduk di tempat tersebut. Begitu juga dengan cowok tersebut. Wajahnya terlihat begitu dingin. Tatapan tajamnya menghunus ke arah Senja.


"Bang Aldi...." batin Senja lirih.


"Mbak!" Suara salah satu cewek membuat Senja tersadar dari rasa terkejutnya.


"Eh, ma-maaf."


"Iya, saya mau pesan ini." Cewek itu menunjukkan salah satu menu yang ada di buku menu. Senja mulai mencatatnya. Sesekali ia melirik Aldi yang tampaknya tak peduli dengan kehadirannya. Aldi benar-benar berpura-pura untuk tidak mengenalnya. Hal itu membuat perasaannya terluka.


"Ada lagi?" tanya Senja, sedikit memberikan senyum. Membuat tiga cowok teman Aldi terpaku memandangnya.


"Cantik," gumam salah satu cowok itu.


"Pake banget," sambung seorangnya.


"Mbak, boleh minta nomor WA sama instagram nya nggak?"


Senja hanya balas tersenyum. "Kalau nggak ada lagi, saya permisi," ucap Senja, mengabaikan ketiga cowok itu. Setelah mengucapkan itu, Senja beranjak pergi. Meski begitu, ia masih bisa mendengar percakapan keenam pelanggan cafe tersebut.


"Lo kenal sama tu cewek, Di?" tanya teman cowok Aldi.


"Gak!"


"Tapi, dia kayaknya kenal sama lo," sahut seorang teman cowoknya lagi. Dan itu mendapat anggukan dari ketiga temannya.


"Cewek mana yang gak sok kenal kalau liat cowok ganteng kayak Aldi?" sahut seorang cewek yang sejak tadi terdiam.


"Kayak lo?" celetuk seorang cowok yang langsung membuat cewek itu terdiam.


Senja yang mulanya memelankan langkahnya pun sedikit mempercepatnya. Gadis itu memberikan notes yang dipegangnya pada Tama yang sedang membantu Manda menyiapkan pesanan.


"Ini notesnya, Kak. Gue mau ke toilet bentar."


Tanpa menunggu jawaban Tama, Senja segera berlalu menuju toilet. Chesie yang baru saja keluar dari toilet tak sengaja berpapasan dengan Senja.


"Mau ke toilet juga, Nja?"


"Iya, Kak."


Setelah itu, Senja langsung memasuki toilet dan Chesie kembali menemui Manda dan Tama.


Senja berdiri bersandar di dinding dalam toilet. Matanya berkaca-kaca. Apa sebenci itu Aldi padanya, sampai mengatakan jika ia tak mengenalinya? Hatinya begitu sakit saat tak dianggap oleh abang sendiri.


"Apa salah Senja, bang? Apa salah Senja sampai abang begitu gak suka sama Senja? Abang benar-benar berubah. Abang bukan bang Aldi yang senja kenal dulu..." lirihnya dengan air mata yang berjatuhan membasahi pipi.


***


Suasana cafe terlihat sudah sepi. Senja, Chesie, Manda, dan Tama mulai berberes sebelum mereka meninggalkan cafe. Namun tiba-tiba, seorang cowok masuk dengan tampang dinginnya.


"Eh, lo mau apa? Cafe udah ditutup," ucap Tama, mencoba menahan cowok itu.


"Bukan urusan lo!" jawab cowok itu, mendorong Tama agar tidak menghalangi jalannya.


"Urusan gue! Lo datang ke tempat gue dengan gak sopan. Dan gue berhak ngelarang lo!"


Aldi menatap tajam Tama, lalu tanpa mengatakan sesuatu, ia melayangkan satu pukulan ke wajah tampan Tama.


Tama yang mendapat pukulan tak tinggal diam. Cowok itu balas memukul Aldi. Manda yang hendak membersihkan salah satu meja terkejut melihat perkelahian tersebut. Alhasil, ia berteriak.


"Tama! Ya Allah, Tama!" teriaknya. Dan tanpa berpikir, Manda langsung berlari mendekati kedua orang itu. Dengan susah payah, ia mendorong Aldi yang sedang mencengkram kerah baju Tama. Dorongannya berhasil membuat cengkraman Aldi terlepas.


Senja dan Chesie yang sedang di ruang penyimpanan berdecak kesal mendengar keributan tersebut. Mereka pikir, Tama dan Manda sedang berdebat.


"Gue udah selesai, Kak. Gue bantuin Kak Manda sama Kak Tama dulu, ya. Catatannya disini," ucap Senja, meletakan catatannya di atas kulkas.


"Iya. Gue bentar lagi nyusul," sahut Chesie.


Senja segera berlalu menemui Tama dan Manda. Keningnya mengerut ketika melihat ada seorang lagi yang kini wajahnya terhalang tubuh Tama yang tinggi tegap.


"Kak, ada ap—"


Deg!!


Senja membeku saat Tama dan Manda berbalik. Disana, Aldi dengan raut penuh amarahnya menatap Senja tajam. Tanpa mengatakan apapun, cowok itu menerobos Manda dan Tama, menghampiri Senja.


"A-Abang...."


Aldi di kuasai amarah. Cowok itu tak peduli dengan wajah takut Senja. Ia meraih kasar tangan Senja, lalu mencengkramnya kuat.


"Pulang!!" ucapnya dengan suara yang dingin nan tegas.


Senja menggeleng pelan, bersamaan dengan air mata yang menetes. Jujur, ia takut dengan Aldi yang sekarang.


"PULANG, SENJA!!"


"Lo gak bisa maksa dia."


Deg!


Aldi tertegun mendengar suara itu. Suara yang begitu familiar baginya. Suara yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Aldi menoleh pelan ke sumber suara.


Deg!


Baik Aldi maupun Chesie sama-sama terdiam. Ya, pemilik suara itu adalah Chesie. Gadis itu tersulut emosinya saat melihat Senja diperlakukan kasar.


Aldi dengan cepat memasang wajah dinginnya, untuk menutupi rasa terkejutnya. Begitu juga dengan Chesie yang berusaha tenang berhadapan dengan orang dari masa lalunya.


"Bukan urusan lo!" balas Aldi, kemudian kembali fokus pada Senja.


Chesie tak tinggal diam. Dia mendekat dan mencoba melepaskan cengkraman Aldi. "Ini urusan gue karena lo nyakitin Senja. Senja disini kita anggap sebagai saudara. Lo gak berhak perlakuin dia kayak gini."


"Huh! Gak berhak lo bilang? Senja adik gue! Gue berhak ngatur hidup Senja, termasuk buat dia berhenti kerja disini."


"Abang!"


"APA?! LO MAU NGELAWAN?!" bentak Aldi. "Sekarang lo pilih. Mau ikut gue pulang, atau tetap disini bareng mereka, tapi jangan pernah anggap gue Abang lo! Hubungan abang adik putus saat ini juga."


Senja tersentak mendengar ucapan Aldi. Gadis itu mendongak menatap sang Abang yang terlihat serius dengan ucapannya.


"Abang... hiks...."


"Gue suruh lo milih! Bukan nagis!"


"Lo keterlaluan tau gak?" ucap Tama. Cowok itu mendekat dan menyentak tangan Aldi yang mencengkram kuat tangan Senja, hingga terlepas. Membuat Aldi menatap nyalang ke arahnya.


"Jangan ikut campur urusan gue!!" Aldi hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Tama. Namun, Senja dengan cepat menghalangi.


"Senja ikut Abang!" putus Senja.


Dan tanpa menunggu, Aldi langsung menarik tangan Senja keluar dari cafe. Ia tidak peduli dengan ringisan Senja. Bahkan tas dan kunci motor Senja masih tertinggal.


"Naik!" ucap Aldi saat tiba di parkiran.


"Motor Senj—"


"Naik, Senja!!" Aldi kembali membentak. Alhasil, Senja menurut. Gadis itu menaiki motor Aldi, kemudian memeluk erat pinggang cowok itu. Jujur, dia sangat takut saat Aldi memacu motornya dengan kecepatan tinggi.