Aksarasenja

Aksarasenja
Diantar Pulang



Hari sudah mulai petang, dan Senja masih berada di rumah Aksa. Sedangkan Aksa sendiri, ia sedang pergi mengantar Amara pulang.


"Hoam... Ngatuk banget gue," ucap Senja. Matanya sudah begitu sayup, tak mampu menahan kantuk. Meski begitu, Senja tetap lanjut menghafal semua yang ditulisnya.


"Ya Allah, ngantuk banget."


"Tapi, kalau aku tidur dikit nggak apa-apa kali ya. Lagian Aksa pasti agak lama baliknya," gumam Senja. Gadis itu meletakan lembarannya, kemudian menjadikan kedua tangannya sebagai bantal yang bertumpu pada meja. Gadis itu tertidur sambil duduk.


Sepuluh menit setelah Senja tertidur, Aksa kembali. Cowok itu tak jadi mengantar Amara. Dia memaksa Amara pulang bersama jemputannya yang tak sengaja berpapasan di depan komplek. Dia sedikit lama karena berurusan dengan ibu-ibu komplek yang meminta bantuannya.


Aksa berjalan pelan dan duduk di sebelah Senja. Matanya lekat menatap Senja yang sedang tertidur. Ia menarik nafasnya, kemudian meraih lembaran yang ditulis Senja. Senyuman tipis muncul di bibir Aksa saat melihat dua golongan yang belum diberi centang oleh Senja. Itu menandakan jika hanya tersisa dua golongan yang belum dihafal Senja.


Aksa kembali menatap Senja. "Lo cepat ngerti maksud gue."


Aksa melatakan kembali lembaran tersebut kemudian beranjak menuju kamarnya.


***


Senja terbangun dan meregangkan tubuhnya. Tapi, aksinya tershenti saat matanya mendapati Aksa duduk di depannya. Cowok itu menatapnya, dan sontak ia menurunkan tangannya kemudian meringis canggung.


"Za-Zayyan. Udah balik anterin Amara?" tanyanya kikuk.


"Hmm."


Senja menoleh kesamping sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Benar-benar canggung.


Senja berdehem pelan kemudian meraih handphonenya. Matanya seketika melotot melihat jam yang tertera di layar handphonenya. Pukul 17 : 56. Sontak ia menoleh pada Aksa.


Senja meneguk ludahnya melihat Aksa sudah berganti pakaian dan juga kelihatan segar. Sepertinya cowok itu sudah selesai mandi.


"Kamu... Udah dari tadi pulangnya?"


"Hmm."


Senja kembali menoleh ke samping dan menepuk pelan jidatnya. Berarti ia sudah tertidur sejam lebih. Dan yang memalukan, Aksa melihatnya tertidur.


"Eemm... Kalau gitu, aku pulang dulu."


"Lo ke cafe?"


"Enggak. Aku izin hari ini."


"Kenapa lo kerja?"


"Aku balik dulu. Makasih udah bantuin." Senja meraih tasnya juga lembaran miliknya. Ia seolah sedang menghindari pertanyaan Aksa.


Aksa meraih kunci motornya kemudian bangun dan mengikuti langkah Senja. Mengunci pintu, Aksa lalu mendekati Senja yang sudah berada di atas motornya.


"Gue anterin lo," ucap Aksa, membuat Senja menatapnya.


"Nggak usah, Zay. Aku bisa pulang sendiri."


Tak peduli dengan ucapan Senja, Zayyan menuju garasi dan mengeluarkan motornya. "Ayo!"


Senja tersenyum padanya, membuat pipi lesungnya terlihat. Aksa kembali dibuat mematung oleh senyum manis Senja.


"Zayyan?"


Aksa tersadar lalu berusaha untuk tetap bersikap tenang, meskipun dia salah tingkah karena ketahuan menatap Senja.


"Ayo jalan," ucapnya, membuat Senja mengangguk.


Senja melajukan motornya diikuti motor Aksa. Gadis itu berhenti saat tiba di depan gerbang. Ia turun, kemudian membuka gerbang rumah Aksa.


"Biar gue yang kunci in," seru Aksa yang mendapat anggukkan dari Senja.


Setelah mengunci pagar, Aksa melajukan motornya sejajar dengan motor Senja.


"Lusa ada pemilihan osis baru kan di sekolah?" tanya Senja, mencoba memulai pembicaraan.


"Iya. Kalau disuruh milih, lo pilih siapa?" tanya balik Aksa, membuat Senja senang. Dia merasa dihargai oleh cowok itu.


"Kayaknya gue pilih April. Walaupun cewek, dia punya karakter seorang pemimpin. Dia pernah jadi anggota osis kan?" Aksa mengangguk. "Kalau kamu pilih siapa?"


"Gue juga April."


Senja tersenyum, sambil tetap fokus mengendarai motornya. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka hingga tiba di rumah Senja.


"Makasih udah anterin, Zay."


"Oke," balasnya. "Gue balik."


Setelah mendapat anggukan Senja, Aksa kembali melajukan motornya. Cowok itu membawa motornya menuju kediaman sang Papa. Sudah dua hari dia tidak menemui laki-laki itu.


Sudah banyak pesan yang dikirimkan Bi Darsi dan Pak Ijan, menanyakan mengenai keadaannya. Mereka pasti sangat khawatir padanya. Di perjalanan, Aksa menyempatkan diri malaksanakan sholat. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya.


Aksa memarkirkan motornya saat tiba di rumah yang hanya seluas halaman belakang rumahnya.


"Assalamu'alaiakum," ucap Aksa sembari mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka dan tampak Bi Darsi yang masih mengenakan mukenannya.


"Den Aksa," ucap Bi Darsi, mempersilahkan Aksa masuk.


"Papa mana, Bi?"


Aksa mengangguk. Cowok itu langsung menuju kamar sang Papa.


Tok... Tok... Tok...


"Pa, ini Aksa."


"Ma-masuk," suara bergetar yang terdengar dari dalam kamar membuat Aksa membuka pelan pintu. Cowok itu masuk dan langsung mendapat senyuman hangat dari sang Papa.


Aksa mendekat dan mencium punggung tangannya. "Gimana kabar Papa?"


"Papa baik," ucapnya dengan bibir yang sedikit bergetar. Dan itu merupakan suatu kemajuan bagi Aksa. Keadaan sang Papa sedikit lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu.


"Papa udah makan?"


"Sore tadi udah. Makan malam belum," ucapnya membuat Aksa tersenyum tipis. "Kamu udah sholat?"


"Udah, Pa. Tadi mampir ke masjid sebelum sampai sini."


Laki-laki paruh baya itu mengangguk. Tangannya terangkat menyentuh kepala putranya.


"Kamu sehat kan?"


"Sehat, Pa. Aksa selalu sehat. Papa nggak usah khawatirin Aksa. Papa cukup fokus sama proses penyembuhan Papa. Biar kita bisa sama-sama lagi."


Laki-laki itu terdiam. Dia sepertinya tidak ingin kembali ke rumah yang penuh kenangan itu. Kenangan yang membuatnya bahagia sekaligus terluka.


"Kamu kenapa datang jam segini?"


Aksa menarik nafasnya saat paham jika Papanya mengalihkan pembicaraan mereka. Sepertinya sang Papa masih tidak ingin membahas mengenai tinggal di rumah yang di tempati Aksa saat ini. Tak ingin membuat sang Papa kembali terluka, Aksa mengabaikan topik pembicaraan sebelumnya dan menanggapi pertanyaan sang Papa.


"Aksa bantuin teman belajar."


Laki-laki paruh baya itu mengangguk. "Kapan olimpiade?"


"Seminggu lagi."


"Kamu nggak belajar?"


"Tadi udah, Pa. Nanti belajar lagi," jawab Aksa.


Aksa dan sang Papa terus berbincang-bincang. Sesekali Aksa menanyakan apa yang Papanya butuhkan. Ia akan menghubungi orang kepercayaan Papanya untuk membawakan semua kebutuhan sang Papa.


***


Satu persatu siswa siswi SMA Gerhana memasuki aula. Hari ini adalah hari dimana diadakan pemilihan osis baru. Senja duduk di tengah-tengah antara Rara dan Arhez. Sementara Parto, ia bersama Dean dan Roni berada di baris belakang barisan Senja.


"Pulang sekolah, lo berdua sibuk nggak?" tanya Arhez tiba-tiba.


"Gue enggak," sahut Rara cepat.


"Gue ada kerjaan," ucap Senja.


"Ck. Gak bisa ditunda emangnya?" Arhez menatap Senja.


"Nggak bisa. Kenapa emangnya?"


"Roni mau rayain ulang tahun sepupunya. Dia mau kita ikutan."


"Rayain dimana?" tanya Rara antusias.


"Belum tau. Entar dikabarin lagi sama sepupunya."


"Eeemm... Gimana kalau di Diana's Cafe aja? Aku bisa ikutan."


"Kenapa harus disana?" Arhez terlihat bingung.


"Aku kerja disana."


"Lo kerja?" Senja mengangguk. "Ngapain kerja? Bukannya—"


"Nggak ada alasan kenapa gue kerja." Jawaban Senja membuat Arhez diam dan mengangguk. Meski masih penasaran, dia tidak ingin memaksa Senja memberitahunya. Dia menghargai keputusan cewek itu.


Arhez menoleh pada Roni dan memberitahu cowok itu mengenai ucapan Senja. Setelah itu, ia kembali menoleh ke depan.


Arhez terus mengajak Senja dan Rara berbicara, sembari menunggu semua siswa siswi berkumpul. Laki-laki itu juga melontarkan beberapa candaan yang membuat Senja dan Rara tertawa.


Hal tersebut tak terlepas dari tatapan Aksa yang baru saja tiba. Cowok itu mengepalkan tangannya saat melihat Senja tertawa bersama Arhez. Lagi-lagi perasaan tak suka itu muncul.


"Kenapa lo bengong di sini, Sa?" tanya Jafar.


"Iya, Sa. Lo kenapa sih? Bingung lihat kursinya yang kebanyakan? Noh, lihat depan sana. Kursi lo ada di barisan kedua. Udah di siapin sama calon mantan anggota lo," kata Bagas.


Tanpa menanggapi kedua sahabatnya, Aksa langsung menuju kursinya. Wajah dingin cowok itu terlihat semakin menyeramkan.


"Kenapa sih, si Aksa?"


"Nggak tau, Far. Sahabat lo aneh."


"Sahabat lo juga, bego!" Jafar menoyor kepala Bagas, membuat cowok itu mendengus kesal. Ingin membalas, tapi Jafar sudah berjalan meninggalkannya.