Aksarasenja

Aksarasenja
Pertemuan Amara Dan Aldi



Hari libur memang waktunya untuk beristirahat dan bersenang-senang. Tapi, Senja lebih memilih untuk ke cafe. Ingin di rumah, tapi tidak ada Aldi disana. Bi Haya juga sibuk dengan pekerjaannya. Setelah membantu beberapa pekerjaan Bi Haya yang bisa ia kerjakan, Senja berpamitan menuju Cafe.


"Kak Chesie kenapa?" tanya Senja. Dia baru kembali setelah membersihkan meja ketika pengunjung cafe pergi.


"Pusing, Nja."


"Sakit?"


Chesie menggeleng. Namun, belum sempat ia membalas ucapan Senja, Manda datang dan langsung menjawab pertanyaan Senja.


"Nggak sakit dia, Nja. Dia pusing gara-gara mikirin mantannya. Gak sengaja ketemu kemarin," celetuk Manda, membuat Chesie berdecak kesal.


"Gak usah didengerin."


Senja tersenyum. "Lo masih suka sama mantan lo, Kak?"


Chesie melotot. Kenapa Senja malah ikut-ikutan Manda? Membuatnya semakin pusing saja.


"Udah deh, gue males ladenin lo berdua. Gue istirahat bentar di ruang istirahat."


Senja dan Manda terkekeh saat Chesie bangkit dan meninggalkan mereka.


"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Senja.


"Di pusing gara-gara begadang semalam."


"Berarti bukan karena mantannya?"


"Hehehe... Bukan, Senja. Tadi gue cuman becanda. Chesie semalam begadang gara-gara nangisin laptopnya rusak. File skripsinya ada di dalam, belum sempet dia copy."


"Ya Allah, kasian banget."


"Iya, kasian banget. Tapi, pagi-pagi tadi udah dibawa Tama ke tempat servis."


"Semoga rusaknya nggak parah, terus filenya nggak hilang."


Manda mengangguk, mengiyakan ucapan Senja. Kedua cewek itu kemudian kembali bekerja melayani beberapa pengunjung. Tak lama kemudian, Tama datang.


"Gimana? Udah bener?" tanya Manda.


Tama tersenyum. "Udah." Cowok itu melepas tasnya, lalu mengeluarkan laptop Chesie dari tasnya.


"Filenya gimana, Kak?" tanya Senja.


"Filenya aman. Tapi, kayaknya ni laptop harus diinstal ulang."


"Nanti aja, setelah gue selesai skripsi," sahut Chesie yang baru keluar dari ruang istirahat.


"Secepatnya aja, Kak. Lo skripsinya pake laptop gue," ujar Senja.


Chesie tersenyum pada gadis itu. "Nggak usah, Nja."


"Ck. Jangan nolak, Kak. Lo kayak sama siapa aja. Besok gue bawa laptopnya. Entar pulang, langsung dibawa ke tempat servis aja."


Chesie lagi-lagi tersenyum. Cewek itu mendekati Senja dan memeluknya. "Makasih, Nja."


"Sama-sama." Senja balas memeluk Chesie. Manda yang melihatnya pun juga mendekat dan ikut memeluk dua cewek itu.


"Aku juga pengen peluk," ucap Tama yang sontak mendapat tatapan tajam Chesie dan Manda. Sementara Senja, ia terkekeh melihat ekspresi lucu Tama saat mendapat tatapan tajam Chesie dan Manda.


"Nggak usah gitu juga natapnya. Gue cuma becanda," ucap Tama. "Oh ya, Nja. Tadi Arhez minta lo temuin dia di parkiran."


"Arhez?" Kening Senja mengerut. Ia melepas pelukannya pada Manda dan Chesie, lalu beralih menatap Tama.


"Iya. Cowok yang waktu itu ikut rayain ulang tahun disini, itu Arhez kan namanya?"


"Iya, Kak. Sekarang masih di parkiran?"


Tama menggaruk tengkuknya. Ia tidak yakin jika Arhez masih menunggu Senja di parkiran. Soalnya, Arhez sudah memberitahunya sejak dia baru kembali dari tempat servis tadi. Dan ia lupa memberitahu Senja. Mungkin saja cowok itu sudah pergi karena menunggu terlalu lama.


"Eeemmm... Gue juga nggak yakin Nja, kalau dia masih di parkiran."


"Ya udah. Biar gue mastiin sendiri."


Senja segera berlalu ke parkiran. Ternyata Arhez masih di tempat itu. Senja dengan cepat mendekati Arhez yang duduk di motornya sembari memainkan handphonenya.


"Hez!" Panggilan Senja membuat cowok itu mendongak. Ia menatap Senja sambil tersenyum tipis.


"Nggak mau jadi pusat perhatian," ucap Arhez yang memicu kekehan kecil Senja. Gadis itu paham maksud Arhez.


"Narsis!" ujar Senja yang berhasil membuat Arhez terkekeh pelan.


"Gue mau ngomong sama lo sebentar."


"Boleh. Ayo, ngobrolnya di dalam aja."


Arhez menggeleng. "Nggak, Nja. Di sini aja. Gue nggak lama ngomongnya. Cuman mau mastiin sesuatu." Senja mengangguk. Gadis itu mengulas senyum tipis sembari menunggu apa yang ingin Arhez bicarakan.


"Lo tau soal gue sama Aksa saudara tiri?"


Glek!!


Senja mematung. Ia terdiam sambil menatap Arhez. Meskipun wajah cowok itu terlihat biasa saja saat mengatakannya, tapi dari sorot matanya, Senja tahu jika dia kecewa.


"Maaf, Hez." Senja menunduk, merasa bersalah pada cowok itu.


Arhez menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis. "Bukan salah lo. Lo nggak akan tau kalau mama nggak ngomong."


"Tante nggak salah, Hez. Itu murni perasaan seorang ibu yang ingin anaknya kembali."


Arhez terdiam beberapa detik, lalu menarik nafasnya. "Tapi gue terlanjur kecewa, Nja."


"Gue tahu lo kecewa. Gue juga bakal ngerasain hal yang sama kalau gue ada di posisi lo. Tapi, tante Ratna lebih menderita, Hez. Bebannya makin bertambah saat dia tahu, lo marah dan kecewa sama dia."


Arhez lagi-lagi menarik nafasnya. Ia kembali terbayang wajah Ratna semalam. Wanita yang dipanggilnya mama itu terus menangis.


"Omongin baik-baik sama tante, Hez."


Arhez mengangguk. Yang dikatakan Senja benar. Dia sudah melakukan kesalahan semalam. "Gue bakal berusaha omongin semuanya baik-baik sama mama."


***


Sementara di sebuah restoran, Aldi sedang menunggu seseorang yang sepertinya sudah membuat janji dengannya. Namun, sudah lewat lima menit, orang tersebut belum juga muncul.


Aldi menghidupkan handphonenya, mengotak-atik benda pipih tersebut guna mengusir bosan.


"Maaf gue telat."


Aldi yang semula menunduk, mendongakkan wajahnya menatap orang yang baru saja berbicara dengannya. Dia Amara, gadis seusia adiknya, Senja, yang tiba-tiba datang menemuinya saat acara ulang tahun papa Arhez semalam.


Jika bukan karena gadis itu ingin membicarakan soal Senja dan Aksa, Aldi tidak akan repot-repot menunggunya.


"Cepet ngomong!" suruh Aldi saat Amara sudah duduk berseberangan dengannya.


"Gue sebenarnya kasian sama Senja. Di sekolah, dia terus-terusan ngejar Aksa, sementara Aksa nggak pernah peduli sama dia. Aksa juga sering kasarin Senja. Senja juga pernah dibawa ke uks gara-gara sikap kasar Aksa. Gue harap, dengan gue kasi tau lo, lo bisa lebih tegas ke Senja. Gue cewek. Gue tahu gimana perasaan Senja. Gue nggak mau Senja dipandang rendah sama teman-taman di sekolah."


"Apa yang buat gue harus percaya sama lo?" tanya Aldi. Dia tidak bisa percaya begitu saja pada orang yang baru dia kenal.


"Gue punya buktinya."


Amara mengeluarkan ponselnya, kemudian memperlihatkan foto-foto Senja bersama Aksa. Foto saat Senja diperlakukan tidak baik oleh Aksa. Ia juga menunjukkan rekaman, dimana Aksa bersikap kasar pada Senja.


Rahang Aldi mengeras. Meskipun ia sering marah-marah pada Senja, rasanya dia tetap tidak rela adiknya diperlakukan buruk seperti itu.


"Kirim semua itu ke gue," ucap Aldi.


Amara mengangguk. "Nomor lo?" Gadis itu mengulurkan handphonenya yang langsung disambut Aldi. Cowok itu mengetikan nomor WhatsApp nya di handphone Amara. Setelah itu, Amara mengirimkan semua foto dan vidio yang dia punya pada Aldi.


"Kalau gitu, gue balik dulu," ucap Amara.


Amara bergegas pergi meninggalkan Aldi. Senyum kemenangan menemani langkah Amara menuju mobilnya.


Sementara Aldi, dia kembali melihat foto dan vidio yang dikirim Amara. Dia benar-benar tidak menyangka jika adiknya itu mendapat perlakuan buruk dari Aksa selama ini.


Ketika dirinya hendak beranjak dari duduknya untuk kembali ke rumah menemui Senja, handphonenya tiba-tiba berdering.


"Hallo," sapa Aldi pada orang yang menelponnya.


"..."


"Gue segera ke situ," ucap Aldi lalu memutuskan panggilan tersebut. Laki-laki itu berdecak kesal, kemudian melangkah menuju parkiran setelah membayar makanan yang dipesannya.