Aksarasenja

Aksarasenja
Akhirnya Aksa Tahu



Aldi, Arhez dan Bi Haya berdiri di depan ruangan UGD dengan perasaan cemas. Sejak Senja dibawa masuk ke ruangan itu bersama dokter dan perawat, belum satu orang pun dari dokter maupun perawat yang keluar. Hal itu membuat mereka semakin cemas.


Ya Allah, lindungi adik saya, Ya Allah. Batin Aldi.


Aldi terus mondar mandir di depan ruangan tersebut. Hingga beberapa saat, pintu ruangan terbuka dan keluar dokter Rahila. Ketiga orang itu dengan cepat menghampiri sang dokter.


"Gimana keadaan Senja?" tanya Aldi dan Arhez bersamaan.


"Keadaan Senja mengkhawatirkan. Operasi harus segera dilakukan. Kami, pihak rumah sakit belum mendapatkan donor hati yang cocok untuk Senja," ucap Dokter Rahila.


Bahu Aldi meluruh mendengar ucapan Dokter Rahila. Dia sedikit goyah dan hampir saja terjatuh. Beruntung Arhez menahannya.


"Ap-apa yang harus saya lakukan, Dok?" tanya Aldi lemah. Matanya berkaca-kaca sekarang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah berusaha untuk mencari donor hati yang cocok untuk Senja. Namun, dia belum menemukannya. Mama dan Papanya juga tak kunjung menelpon balik atau sekedar membalas pesannya.


"Untuk saat ini, kita terus berusaha mencari donor yang cocok buat Senja. Banyak-banyak berdoa agar kita dimudahkan dan Senja bisa pulih," ucap dokter Rahila. "Untuk sementara, Senja akan kami pindahkan ke ruang rawat."


Aldi, Arhez dan Bi Haya hanya mengangguk. Arhez menatap kepergian sang tante. Ia menarik nafasnya panjang. Seandainya hatinya cocok dengan Senja, sudah pasti dia akan mendonorkannya. Sayangnya, apa yang ia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Setelah mengetahui Senja menderita kanker hati, Arhez langsung menanyakan pada sang tante semua alternatif pengobatan untuk Senja. Cowok itu bahkan melakukan tes untuk memastikan hatinya cocok dengan Senja atau tidak. Dan dia harus menelan kekecewaan setelah tahu, tidak ada kecocokan sama sekali antara dia dan Senja.


"Senja pasti baik-baik aja, Bang. Gue yakin!" ucap Arhez, berusaha menghibur Aldi, walaupun dia sendiri merasa begitu khawatir.


Ketiganya langsung mengikuti beberapa perawat yang memindahkan Senja ke ruang rawat. Aldi tidak sedetik pun menjauh dari adiknya yang sedang tertidur. Menatap wajah pucat Senja yang kian terlihat meski tertutup make up.


"Senja harus janji sama Abang. Senja harus kuat. Abang pasti dapatin pendonornya. Abang juga janji, bakal usahain buat mama sama papa pulang," ucap Aldi sambil mengusap-usap lembut kepala Senja.


Arhez hanya diam menatap Aldi dari sofa. Sementara Bi Haya, wanita paruh baya itu sudah pulang ke rumah. Arhez kembali menunduk, menatap layar handphonenya. Sejak tadi, dia menelpon Aksa. Dia tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari Aksa, dan akan melanggar janjinya pada Senja. Dia tidak ingin Senja terus bersalah di mata Aksa.


Arhez berdecak kesal saat telpon maupun chatnya tidak dibalas Aksa. Bahkan Aksa memblokir nomornya. Dengan perasaan kesal, Arhez bangun dari duduknya dan mendekati Aldi.


"Bang!" panggilnya, membuat Aldi menoleh ke arahnya. "Gue mau keluar sebentar. Nanti gue balik lagi ke sini." Aldi hanya mengangguk. Setelah itu, Arhez keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan rumah sakit.


***


Arhez memarkirkan motornya di halaman rumah Aksa. Langkah lebarnya langsung memasuki rumah Aksa yang terbuka pintunya. Wajahnya begitu dingin menyeramkan.


"Kamu sih, aku kan udah bilang. Jangan dipantulin, jadi jatuhkan paper bag—" ucapan Amara langsung terhenti saat melihat Arhez berdiri di depannya dan Aksa. Langkah keduanya langsung berhenti.


Ya, Amara sedang berada di rumah Aksa. Gadis itu mengantar cake buatannya yang ia simpan di paper bag untuk Aksa coba. Saat dia sampai, Aksa sedang bermain basket di halaman belakang rumah. Namun, bola yang terpantul mengenai paper bag yang Amara taruh di meja, tak jauh dari sisi lapangan basket. Alhasil paper bagnya jatuh. Cake buatan Amara pun cukup hancur.


Aksa menatap datar Arhez yang berdiri sambil melipat tangannya di dada. Tatapan Arhez begitu merendahkan Aksa dan Amara.


"Huh, lo berdua cocok! Yang satu pembohong, yang satu penghianat!" ucap Arhez.


"Maksud lo apa?" tanya Aksa. Laki-laki itu sedikit maju mendekati Arhez.


"Lo ngapain kesini?"


"Gue mau kasi tau lo kebenaran soal kasus bully Amara." Mata Arhez melirik Amara yang terdiam di belakang Aksa. Bisa ia lihat raut cemas gadis itu.


"Kebenaran apa? Lo mau bilang sama gue kalau Senja gak bersalah?"


"Emang Senja gak bersalah!"


"Lo sebaiknya pulang! Gak guna lo disini," ucap Aksa kemudian berjalan meninggalkan Arhez dan Amara.


Arhez lagi-lagi melirik Amara sejenak, kemudian mengikuti Aksa. "Gue punya buktinya kalau Senja gak bersalah."


Aksa menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Arhez dengan sebelah alis terangkat. "Tunjukin ke gue buktinya."


Arhez mengangguk. Laki-laki itu merogoh saku hoodie nya, mengambil handphone. "Ck!" Arhez berdecak kesal saat tak mendapati handpohonenya di saku hoodie nya. "HP gue ketinggalan." Aksa tak mengatakan sepatah kata pun dan melanjutkan jalannya.


"Lo harus dengerin gue, Sa! Senja gak bersalah. Semua itu hanya akal-akalan Amara. Amara berbohong kalau dia dibully Senja. Justru dia yang nampar Senja di toilet. Dia sendiri juga yang buat dirinya berantakan. Dia juga nampar dan lukain dirinya sendiri."


"Cerita lo gak masuk akal!" balas Aksa tetap melanjutkan jalannya. Kali ini, cowok itu berbelok dan menaiki tangga.


"Semuanya emang gak masuk akal. Tapi, itu yang sebenarnya terjadi," ucap Arhez. "Sa, lo seharusnya ingat. Sesabar apa Senja ngadepin lo. Sebesar apa Senja berusaha buat nyatuin lo sama mama. Dia bahkan gak pernah marah saat lo nyakitin dia. Seharusnya lo tau, cewek kayak Senja gak mudah nyakitin orang."


Aksa masih tetap melanjutkan jalannya. Meskipun begitu, hatinya terenyuh mendengar semua yang Arhez katakan. Benar, Senja begitu penting dalam hidupnya. Gadis itu yang kembali mewarnai hidupnya, dan perlahan menutup luka-lukanya. Tidak bisa ia pungkiri, dia juga merindukan sosok Senja berada di dekatnya.


Namun, kesalahan yang Senja lalukan membuatnya ingin memberi pelajaran pada gadis itu. Dia masih belum ingin melihat wajahnya.


"Senja sakit, Sa! Kanker hati!"


Deg!


Langkah Aksa yang akan menginjak anak tangga terakhir seketika terhenti. Dadanya seperti terhimpit batu besar. Begitu sesak dan menyakitkan. Amara yang ikut mendengarnya pun, terkejut. Gadis itu terdiam mematung.


Aksa berbalik dan langsung menuruni tangga. Ia berhenti tepat di depan Arhez dan mencengkram hoodie Arhez. "Jangan bercanda, Hez! Kesehatan seseorang bukan untuk lo permainin!"


"Gue gak bercanda. Sekarang Senja dirawat di rumah sakit Medika. Senja butuh donor hati. Dan belum ada satupun hati yang cocok sama Senja, termasuk gue."


Deg!!


Tangan Aksa terlepas dari hoodie Arhez. Tanpa mengatakan apapun, Aksa berlari menaiki tangga. Laki-laki menuju kamarnya, mengganti kaos yang ia kenakan dengan kaos yang baru, lalu meraih kunci motornya. Cowok itu menutup pintu kamarnya dan kembali menuruni tangga dengan cepat. Ia seolah lupa pada Arhez dan Amara. Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalakan kedua orang itu.


Setelah kepergian Aksa, Arhez berbalik menatap Amara. Tatapannya begitu dingin dan tak bersahabat. Dan tanpa mengatakan apapun, Arhez berjalan meninggalkan Amara.