
Aldi terdiam menatap Senja yang masih terlelap. Mengingat Senja merintih sakit semalam membuat hatinya terluka. Kenapa tidak dia saja yang merasakan sakit itu. Dia rela menukarnya, menggantikan Senja menanggung semua rasa sakit itu.
Lamunan Aldi buyar saat Senja menggeliat pelan dan terbangun.
"Udah bangun?" tanya Aldi lembut yang hanya dibalas anggukkan kecil oleh Senja.
"Masih sakit? Biar Abang panggilin dokter."
Senja menggeleng. "Enggak. Senja udah enakan."
"Kalau sakit, bilang sama Abang. Jangan dipendem sendiri," ucap Aldi. "Suster udah anterin sarapan. Mau sarapan sekarang?"
"Senja mau ke toilet."
"Ya udah. Ayo!"
Aldi segera membantu Senja bangun dan turun dari brankar. Cowok itu juga menuntun sang adik menuju toilet yang ada di ruangan tersebut. Ia lalu menunggu Senja di depan pintu toilet.
Tak lama kemudian, Senja kembali keluar. Wajah gadis itu sudah bersih tanpa make up. Membuat Aldi bisa melihat wajah pucat Senja.
Rasa bersalah kembali menyelimuti Aldi. Ia tidak bisa menyalahkan Senja karena menyembunyikan semua itu darinya. Yang pantas disalahkan adalah dirinya. Ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk Senja.
"Maaf," gumam Aldi. Sudah berkali-kali ia mengucapkan kata itu untuk Senja. Namun, tetap saja rasa bersalahnya tak pernah hilang. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya.
"Udah berkali-kali Abang minta maaf. Senja udah bilang, Senja udah maafin Abang."
"Tetap saja Abang bersalah, Nja."
Senja menarik nafasnya panjang. "Ya udah, terserah Abang aja." Senja kembali melangkah menuju brankarnya. Gadis itu duduk di pinggir brankar sembari menatap Aldi yang berjalan ke arahnya.
"Kapan Senja boleh pulang?" tanya Senja, membuat Aldi menatapnya.
"Abang belum pasti kapan kamu boleh pulang. Tapi, menurut Abang, kamu dirawat dulu beberapa hari."
"Gak. Senja mau pulang. Senja mau sekolah. Minggu depan Senja ujian."
Aldi menarik nafasnya, kemudian ikut duduk di sisi brankar, tepat di sebelah Senja. Cowok itu merangkul pundak adiknya. "Ya udah, nanti abang omongin sama dokter Rahila. Tapi, kamu harus janji. Apapun yang kamu rasain, bilang sama Abang."
"Iya, Senja janji."
"Ya udah. Sekarang kamu sarapan, habis itu istirahat lagi. Abang mau pulang bentar ganti baju, bolehkan?"
Senja mengangguk. "Jangan lupa bawa alat make up Senja."
Keninga Aldi mengerut. "Buat apa?" tanyanya heran.
"Senja terlalu pucat. Senja gak mau diperhatiin banyak orang gara-gara wajah Senja pucat."
Aldi mengangguk sembari tersenyum dan mengusap lembut kepala Senja. Kemudian, ia dengan telaten menyuapi Senja.
Setelah selesai, Aldi berpamitan pada Senja. Ia meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Namun, belum semapat tangannya meraih gagang pintu, Senja kembali memanggilnya.
"Abang."
"Iya?" Aldi berbalik menatap Senja.
"Eemm... Senja kengen sama mama papa...."
Aldi terdiam. Ia juga merasakan hal yang sama. Ia rindu dengan kedua orang tuanya yang tak sedikitpun memberikan kabar. Dia juga sering menghubungi mereka. Namun, tidak satupun pesan, telpon maupun emailnya dibalas oleh mereka.
Tak ingin membuat Senja sedih, Aldi memberikan senyum terbaiknya pada sang adik. "Tenang aja. Abang bakal coba hubungi mama sama papa."
***
Arhez berjalan dengan malas menuju ruang kelas Aksa. Jika bukan karena mamanya yang memaksa untuk memberikan bekal itu pada Aksa, ia tidak akan mau menemui cowok itu.
Bagas dan Jafar yang melihat kedatangan Arhez langsung memberitahu Aksa. Keduanya sudah tahu bagaimana hubungan Aksa dan Arhez. Mereka tak sengaja bertemu mama Arhez saat mereka main ke rumah Aksa. Saat itu, Ratna sedang memasak untuk Aksa.
Aksa memutuskan menceritakan tentang dirinya dan Arhez yang merupakan saudara tiri.
"Sa, Arhez ke sini," ucap Bagas, membuat Aksa menoleh. Cowok itu berdiri dan menghampiri Arhez.
"Ada apa?" tanya Aksa saat berhadapan dengan Arhez.
"Bekal buat lo, dari mama," ucap Arhez dengan suara pelan. Beruntung di kelas itu hanya ada mereka berempat. Entahlah, ia tidak mau satu sekolah tahu jika dia dan Aksa bersaudara.
Aksa meraihnya. Hatinya sudah mulai luluh dengan sang mama. Ia menatap kotak bekal itu, lalu menatap Arhez.
"Lo tau Senja dimana?" tanya Aksa. Sejak semalam, ia terus memikirkan Senja. Di tambah lagi, gadis itu tidak masuk sekolah hari ini. Membuatnya semakin khawatir.
"Di kelasnya," jawab Arhez acuh. Ia hanya menebak. Ia baru saja tiba dan belum ke kelas Senja sama sekali.
"Senja gak masuk."
"Hmm. Kata art nya, Senja dibawa abangnya semalam. Handphonenya juga ketinggalan di rumah."
Arhez terdiam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, cowok itu berbalik hendak pergi meninggalkan Aksa.
"Kalau lo tahu sesuatu, kabarin gue." Suara Aksa membuat Arhez menghentikan langkahnya. Ia berpikir, sejak kapan ia dan Aksa terlihat dekat seperti ini? Tak mau memusingkannya, ia melanjutkan jalannya.
***
Aldi berdecak kesal saat satu panggilan masuk dari nomor seseorang yang paling dibencinya. Orang yang menjadi alasan ia merubah dirinya menjadi Abang yang buruk untuk Senja.
Aldi mengabaikannya, membuat panggilan itu terhenti. Tapi tak lama, handphonenya kembali berdering oleh nomor yang sama.
"Di angkat, Bang. Siapa tau penting."
"Gak penting," balas Aldi. "Udah selesai siap-siap nya?"
"Udah."
"Ya udah. Ayo!"
Aldi segera menggandeng tangan Senja keluar dari ruangan tersebut. Sore ini, Senja dibolehkan pulang. Langkah keduanya menuju parkiran. Setelah nyaman duduk di mobil, Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Abang udah coba nelpon mama sama papa?" Pertanyaan Senja memecah keheningan dalam mobil tersebut.
Aldi mengangguk. "Udah."
"Gimana?"
Aldi menggeleng, yang berarti tidak ada respon dari kedua orang tuanya itu. Senja menarik nafasnya panjang. Setelah itu, tak ada percakapan lagi diantara keduanya hingga mereka tiba di rumah.
Kening Senja mengerut saat melihat motor Rara terparkir di halaman rumahnya. Sepertinya, tidak hadirnya ia di sekolah membawa sahabatnya itu untuk menemuinya.
"Abang, Senja masuk duluan ya. Ada Rara di dalam," ucapnya, sembari melepas seatbelt. Aldi hanya menganggukkan kepalanya.
Senja segera keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah. Di sofa ruang tamu, Rara duduk dengan sepiring camilan buatan Bi Haya dan segelas minuman di depannya. Tapi, dari bentuknya yang masih utuh, sepertinya belum disentuh sama sekali oleh Rara.
Melihat kedatangan Senja, gadis itu berdiri dan bergegas menghampiri sang sahabat kemudian langsung memeluknya.
"Gue khawatir banget sama lo, Nja," ucap Rara pelan. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Sepertinya gadis itu sedang menahan tangisnya.
"Gue gak apa-apa," balas Senja, mencoba menenangkan Rara.
Pelukan keduanya terlepas. Senja menatap sahabatnya itu dari atas hingga bawah. Seragam sekolah masih melekat di tubuh gadis itu. Tas sekolahnya juga teronggok di sofa. Sudah bisa Senja tebak, Rara langsung ke rumahnya setelah pulang sekolah.
"Kenapa?" tanya Rara bingung melihat tatapan Senja yang mengamatinya.
"Lo... bau," ucap Senja membuat Rara melotot ke arahnya. Senja terkekeh kemudian melangkah mundur menghindari Rara yang sepertinya akan mengejarnya.
"Awas lo, ya, bilangin gue bau. Kalau gue dapat, gue gelitikin lo sampai nangis."
"Coba aja," balas Senja sambil memeletkan lidahnya. Gadis itu hendak berlari, namun tangannya ditahan cepat oleh Rara.
"Gak usah lari. Gue malas ngejar."
"Gue pikir lo mau gelitikin gue."
"Gak ah. Bisa dimarahin gue sama bang Aldi, si calon suami gue yang tampan rupawan gara-gara gelitikin lo."
"Idih, pake calon suami segala. Emang Bang Aldi mau sama lo?"
"Ya, gak tau.... Tapi kan, soal hati gak ada yang tau."
"Terserah lo deh," balas Senja, sedikit malas meladeni sahabatnya itu. Senja berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Rara pun ikut duduk bersama Senja. Cewek itu meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.
"Nih, catatan buat lo belajar."
Senja tersenyum dan menerimanya. Gadis itu kemudian memeluk sang sahabat. "Makasih, Ra."
"Iya. Tapi, gak geratis. Bentar malam gue nginep sini."
"Boleh. Gue malah seneng lo nginep sini."
Aldi masuk dan langsung menghampiri Senja dan Rara. "Abang mau keluar sebentar. Kamu gak apa-apa kan Abang tinggalin?"
"Iya, gak papa."
"Ra, jangan pulang dulu, ya, temenin Senja."
"Siap, Bang."
"Rara bolehkan nginap sini?" tanya Senja yang langsung mendapat anggukkan Aldi.