
Beberapa hari berlalu. Tinggal tiga hari, ujian akhir akan dimulai. Setiap siswa semakin mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian. Hal yang sama terjadi pada Senja. Saat ini, gadis itu tengah belajar di kamarnya. Sesekali decakan keluar dari bibirnya yang sedikit pucat, karena tidak dioleskan lipstik atau liptint seperti biasanya. Wajanya juga tak dibalut make up seperti biasanya.
"Rara kok belum dateng, sih. Gue kan gak tau cara ngerjain soal ini. Tapi, dia bisa gak ya?" gumam Senja.
Gadis itu menarik nafasnya kemudian meraih botol minumnya. Lagi-lagi ia menarik nafasnya ketika mendapati botol minumnya kosong.
"Ambil minum dulu," ucapnya, kemudian bergegas menuju dapur untuk mengisi botol kosongnya sekalian minum. Namun, saat tiba di pintu dapur, terdengar bel rumah berbunyi, diikuti dengan ketukan pada pintu.
Bi Ijah yang sedang berberes hendak bergegas membuka pintu. Tapi, Senja segera menghentikannya. "Biar Senja aja, Bi," ucapnya.
Senja kemudian berlalu menuju pintu. Ia rasa, yang datang adalah Rara. Karena sejak petang tadi, gadis itu mengatakan jika ia akan belajar bersama Senja sekalian menginap.
Ceklek...
Deg!!
Senja terdiam begitu pun dengan Aksa di depannya. Ya, yang datang adalah Aksa, bukan Rara. Keduanya sama-sama terkejut. Senja terkejut karena yang datang adalah Aksa bukan Rara, dan Aksa yang terkejut sekaligus tepana melihat wajah polos Senja tanpa make up, yang belum pernah ia lihat selama ini. Gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.
Cantik. Batin Aksa.
"Za-Zayyan?"
Suara itu membuat Aksa tersadar dari keterpanaannya. Ia mengerjabkan matanya kemudian tersenyum pada Senja. Namun, senyumnya seketika luntur tergantikan dengan wajah khawatir saat sadar jika wajah Senja terlihat pucat.
"Lo sakit?"
"Hah? Aku—"
"Siapa yang datang, Nja?" Suara Aldi yang datang dari arah belakang Senja membuat Senja menoleh. Wajah Aldi berubah dingin saat melihat Aksa berdiri di depan pintu rumahnya. Dia mempercepat jalannya hingga berdiri tepat di sebelah Senja.
Jika dia boleh jujur, dia belum sepenuhnya menyukai Aksa dan membiarkan cowok itu mendekati Senja. Ia masih tidak terima Senja disakiti, walaupun dia sendiri juga menyakiti Senja. Tapi, entah kenapa, melihat Senja disakiti orang lain, rasanya lebih sakit.
Sementara itu, Senja bernafas lega. Kedatangan Aldi membuatnya tidak harus menjawab pertanyaan Aksa.
"Lo ngapain kesini malam-malam?" tanya Aldi, berusaha santai pada Aksa.
"Gue mau balikin ini," ucap Aksa sembari menyodorkan kotak bekal yang dikasi Senja pagi tadi. Biarkan saja Aldi menganggapnya konyol. Ia tidak peduli. Yang jelas, ia bisa bertemu Senja malam ini. Entah kenapa, belajarnya tidak fokus karena otak dan hatinya terus terarah pada Senja. Dan kotak bekal yang dibawanya menjadi perantara agar ia bisa bertemu Senja.
"Gak ada kerjaan! Besok juga bisa lo kasi di sekolah!" ketus Aldi, mengambil kotak bekal tersebut dari tangan Aksa. Aksa tak membalas. Dia hanya diam dengan mata yang kembali menatap Senja.
"Ngapain lo masih disini? Udah sana balik!"
Senja menatap Abangnya. Ia sedikit tidak suka dengan suara ketus Abangnya pada Aksa.
"Abang, gak usah ketus gitu ngomongnya," ucap Senja lembut. Aldi menarik nafasnya panjang, kemudian tersenyum pada Senja. Setelah itu ia beralih menatap Aksa dengan senyum terpaksa.
"Lo balik ya, Aksa. Udah malem. Gak baik pelajar kayak kamu keliaran malem-malem. Seharusnya kamu istirahat," ucap Aldi dengan suara ramah yang dipaksakan. Melihat itu, Aksa menahan tawa melihat wajah kesal Aldi.
"Mau ketawa lo?!"
"Gak," jawabnya. "Ya udah, gue balik dulu. Senja, gue balik dulu," ucap Aksa kemudian mengusap pelan puncak kepala Senja. Membuat Aldi melotot ke arahnya. Sementara Aksa, ia dengan santainya berbalik, berjalan meninggalkan Senja dan Aldi.
"Alasan aja tu cowok," gumam Aldi membuat Senja tersenyum tipis pada sang Abang. "Rara belum dat—"
Belum sempat Aldi menyelesaikan ucapannya, terlihat Rara datang dengan mengendarai motornya. Setelah memarkirkan motornya, gadis itu langsung menghampiri Senja dan Aldi.
"Maaf ya, Nja, Bang, gue telat."
"Hehehe... Maaf," balasnya sambil menyengir.
"Ya udah, ayo masuk!" ajak Aldi yang langsung diangguki kedua cewek itu.
***
Jam pelajaran telah usai. Semua siswa siswi bergegas kembali ke kediaman masing-masing. Rara dan Parto masih setia menunggu Senja yang sedang berada di toilet.
"Jadi orang pinter, emang sesibuk itu ya, To?" tanya Rara sembari melirik motor Aksa yang masih terparkir di parkiran. Aksa sedang dipanggil oleh Pak Rahmat. Sepertinya sesuatu yang penting.
"Mana gue tau, Ra. Gue kan belum pernah jadi orang pinter," sahut Parto.
"Belajar biar pinter."
"Eleh, pake nasihatin gue. Lo juga kali." Rara berdecak kesal mendengar jawaban Parto.
Setelah beberapa menit, Senja menghampiri mereka. Gadis itu tersenyum pada Rara dan Parto.
"Lho? Arhez mana?" tanya Senja saat tiba di dekat keduanya, dan menyadari jika motor Arhez menghilang.
"Arhez udah duluan, Nja. Dia ditelpon Dean, terus buru-buru gitu," jelas Rara dan dibalas anggukkan Senja.
"Pipi lo kenapa, Nja? Kayak bekas tamparan gitu?" tanya Parto. Sejak tadi ia terus memperhatikan bekas tamparan yang samar di pipi Senja. Membuat Rara ikut memperhatikannya.
Senja tersenyum manis. "Ini, tadi ada nyamuk nempel di pipi gue. Gue mukulnya terlalu kenceng, jadi berbekas."
Rara dan Parto saling tatap. Entah kenapa, mereka tidak yakin dengan penjelasan Senja.
"Kenapa? Kalian gak percaya?" Rara dan Parto menggeleng ragu. "Udah ah. Ayo, balik!"
"Ayo."
Ketiga orang itu segera mengendarai kendaraan mereka meninggalkan sekolah.
Sementara di dalam gedung sekolah, Arhez melangkah menuju ruang kelasnya. Ia hendak mengambil tasnya yang tertinggal. Namun, langkahnya berhenti saat mendapati Amara berjalan ke arahnya dengan penampilan yang tidak biasanya.
Gadis itu berjalan sedikit pincang. Penampilannya begitu berantakan. Rambutnya acak-acakan. Pipinya memerah karena bekas tamparan. Sudut bibirnya sedikit berdarah.
Aksa segera menghampirinya dengan perasaan khawatir. Bagaimana pun, ia dan Amara cukup dekat. Gadis itu juga baik padanya. Selain itu, Amara memiliki nasib yang sama dengannya dulu. Mereka sama-sama ditinggal oleh seorang Ibu. Bedanya, Amara ditinggal mamanya karena sang mama telah meninggal. Sementara dia, dia kehilangan sang mama karena musibah yang membuat sang mama memiliki keluarga baru.
"Mar, lo kenapa?" tanya Aksa. Dia memegang kedua bahu Amara.
"Hiks... Gue dibully, Sa.... Hiks...."
"Dibully? Siapa? Siapa yang ngebully lo? Bilang sama gue!"
"Sen-Senja. Senja yang—"
Bruk!
Tubuh Amara ambruk. Aksa dengan cepat menangkap tubuh itu. Pikirannya berkecambuk. Ia tidak menyangka Senja setega itu pada Amara. Ia kembali teringat bagaimana Senja membentak Amara pagi tadi, saat Amara tak sengaja menumpahkan bekal Senja.
"Gue gak nyangka lo setega itu, Nja," gumam Aksa, kemudian menggendong Amara, membawa gadis itu menuju UKS.