
Senja menatap Aksa yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum tipis. Dia baru saja kembali dari toilet, hendak ke parkiran untuk pulang bersama Rara. Namun, Aksa tiba-tiba menghadangnya. Ia sedikit gugup saat Aksa menatapnya dengan tatapan dinginnya.
"Kenapa?" Satu pertanyaan lolos dari mulut Aksa. Ia tidak terima karena sejak pagi tadi, Senja seolah menghindar darinya. Gadis itu selalu memberi alasan saat ia hendak berbicara.
"A-aku udah ditungguin—"
"Parto sama Rara?" potong Aksa, yang diangguki cepat oleh Senja.
"Mereka udah balik," ucap Aksa, masih menatap dingin Senja.
"Hah? Ta-tapi, Rara udah ngomong pulangnya bareng aku."
"Gue yang suruh dia sama Parto duluan." Senja terdiam. "Lo bareng gue. Gue mau ajak lo pergi."
"Hah? Kemana?"
Tak menjawab, Aksa langsung meraih tangan Senja dan menarik lembut gadis itu menuju parkiran sekolah.
Aksa mengambil salah satu helmnya dan memakaikannya pada Senja. Membuat jantung gadis itu berdetak cepat karena jarak mereka yang begitu dekat. Setelah membantu senja mengenakan helm, Aksa pun mengenakan helmnya.
"Ayo, naik!" kata Aksa setelah berada di atas motor dan menghidupkan motornya tersebut. Senja ragu, namun ia tetap menuruti ucapan Aksa.
Setelah memastikan Senja duduk dengan nyaman diatas motornya, Aksa pun melajukan kendaraan roda dua itu meninggalkan sekolah.
Perjalanan yang memakan waktu satu jam itu ditemani keheningan. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Sebenarnya, Senja sangat ingin bertanya, kemana mereka akan pergi. Namun, ia mengurungkannya, takut jika Aksa merasa risih padanya.
Senja mengerutkan kening saat memasuki perkampungan yang masih terlihat asri. Ia semakin dibuat penasaran saat motor Aksa berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
"Ayo, turun!"
"Ini... Rumah siapa?"
"Bokap gue."
Senja terdiam. Ia semakin dibuat bingung dengan jawaban Aksa. Ia pikir, papa Aksa bekerja di luar ngeri seperti papa dan mamanya. Namun pikirannya salah. Papa Aksa malah tinggal di kampung yang cukup terpencil seperti ini. Ia kembali bertanya-tanya, kenapa dia tidak tinggal bersama Aksa? Apa salahnya tinggal berdua dengan anak sendiri?
"Ayo!" Suara Aksa menyadarkan Senja dari pikirannya. Ia terlalu larut dalam pikirannya, hingga helm yang dipegangnya diambil Aksa pun ia tak sadar.
"Ayo!" ujar Aksa lagi. Kali ini, Senja menganggukkan kepalanya.
Dan lagi, Senja kembali dibuat berdebar saat Aksa tiba-tiba menggenggam tanganya dan membawanya menuju rumah sederhana tersebut.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum," ucap Aksa. Tak berapa lama, pintu dibuka oleh Bi Darsi.
Wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat Aksa datang bersama seseorang. Yang ia tahu, Aksa sangat tidak suka orang asing tahu mengenai kehidupannya yang begitu rumit. Meskipun begitu, Bi Darsi cukup pandai menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia tersenyum ramah pada Aksa dan Senja, gadis yang sama sekali tak ia kenal.
"Den Aksa. Ayo, masuk!"
Aksa mengangguk, lalu kembali menarik lembut tangan Senja, memasuki rumah tersebut.
"Duduk, Nja," kata Aksa, menyuruh Senja duduk saat mereka tiba di ruang tengah rumah tersebut.
"Papa mana, Bi?" tanya Aksa, ikut duduk bersama Senja.
"Bapak lagi mandi, Den. Ada Pak Ijan yang jagain," ucap Bi Darsi.
Aksa mengangguk. Suami istri itu memang sangat telaten mengurus papanya. Ia tidak salah mempercayai sang papa pada mereka.
"Den Aksa kalau mau masuk, masuk aja."
Aksa kembali mengangguk. Ia lalu menoleh pada Senja. "Gue ke kamar papa dulu," ujarnya yang dibalas anggukan Senja.
Setelah Aksa ke kamar sang papa, Bi Darsi yang tadinya berdiri, kini berjalan mendekati Senja. Wanita paruh baya itu tersenyum, yang langsung dibalas senyum oleh Senja.
"Neng cantik pacarnya den Aksa?"
"Hah? E-engak, Bi. Saya temannya," sahut Senja cepat. Pipinya memerah karena ulah Bi Darsi.
"Neng malu, ya? Nggak apa-apa, ngaku aja. Bibi malah seneng lho den Aksa punya pacar. Asal Neng tau, den Aksa baru kali ini bawa gadis ke sini."
Senja tersenyum canggung. Ia tidak tahu, harus mengatakan apa pada wanita di depannya ini.
"Hati-hati, Pa." Suara Aksa yang terdengar membuat Senja merasa lega. Dalam hatinya ia bersyukur karena diselamatkan dari situasi canggung ini.
Senja menoleh ke arah Aksa yang kini sedang berjalan mendekatinya bersama seorang laki-laki yang berjalan dengan bantuan tongkat. Ia yakin, jika lelaki itu adalah Papa Aksa. Tubuh lelaki itu sedikit gemetar, sepertinya dia mengalami stroke.
Di belakang kedua orang itu, ada seorang laki-laki yang sepertinya dimaksud Pak Ijan oleh Bi Darsi tadi.
"Pelan-pelan, Pa," ucap Aksa lagi, membantu Papanya duduk di single sofa tak jauh dari Senja.
Setelah membantu Papanya, Aksa mengambil tempat di sebelah Senja. Cowok itu melirik Senja sejenak, lalu beralih menatap sang Papa.
"Kenalin, Pa. Dia Senja, orang yang waktu itu bantuin Aksa anterin bunga ke makam Farah."
Pak Herman mengangguk. Tatapannya yang semula pada Aksa, kini berpindah pada Senja.
"Sa-saya Herman, Pa-pa Aksa."
"Saya Senja, Om," sahut Senja.
"T-terima kasih, Nak, s-sudah bantuin Aksa."
"Kam-kamu pacarnya Aksa?"
"Hah? Bu-bukan, Om."
"A-Aksa nggak p-pernah bawa s-siapa pun ke sini. Kam-kamu orang pertama. Om pikir, kamu s-spesial buat Aksa," ucap Herman sembari tersenyum pada Senja.
Senja hanya bisa balas tersenyum mendengar ucapan Papanya Aksa tersebut. Ia melirik Aksa, dan cowok itu hanya diam sambil fokus menatap sang Papa.
Perbincangan antara Senja dan Pak Herman berlanjut. Senja, gadis itu dengan lembut menanggapi setiap pertanyaan Herman. Wajah Herman berseri-seri, seolah menunjukkan jika dia sangat bahagia hari ini.
Setelah cukup lama berbincang, Aksa dan Senja memutuskan untuk pulang, karena hari sudah cukup petang. Aksa kembali membantu sang Papa menuju kamar setelah Senja berpamitan pada laki-laki itu.
Aksa dengan telaten membantu sang Papa berbaring ketika tiba di kamar.
"Aksa." Panggilan itu tak membuat Aksa menghentikan gerakannya menarik selimut untuk menyelimuti sang Papa hingga sebatas pinggang.
"Iya, Pa."
"Pa-pa s-senang hari ini. T-terima kasih," ujar lelaki itu, yang sontak membuat Aksa mengangguk dan tersenyum.
"Pa-pa s-senang kamu bawa Senja. D-dia seperti Farah. T-terima kasih udah obati ri-rindu Papa," lanjut laki-laki itu.
Aksa mengangguk. Dia tidak tahu jika Papanya akan sesenang ini. Dia hanya ingin mengenalkan Senja pada Papanya. Dan ternyata, kehadiran Senja memberi efek besar pada perasaan sang Papa.
"Ya udah. Aksa pamit dulu." Cowok itu meraih tangan sang Papa dan menciumnya.
"Hati-hati."
"Iya, Pa."
Aksa segera keluar dari kamar sang papa, setelah berpamitan. Cowok itu kemudian langsung mengajak Senja ke halaman depan setelah berpamitan dengan Bi Darsi dan Pak Ijan.
"Udah?" tanya Aksa, memastikan jika Senja sudah duduk nyaman di atas motornya.
"Udah," jawab Senja.
Aksa melajukan motornya menjauh dari rumah sang papa. Dan seperti biasa, Aksa akan menyempatkan diri untuk ke pantai.
"Kita mau kemana?" tanya Senja.
"Ke pantai."
Setelah jawaban Aksa, tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya, hingga mereka tiba di pantai. Aksa memarkirkan motornya ketika sampai.
Cowok itu maraih tangan Senja dan membawa gadis itu menyusuri pasir pantai. Senja hanya bungkam sambil tetap mengikuti langkah Aksa.
Entah Aksa sadar atau tidak, menggenggam tangan Senja seerat ini. Dan jujur, efeknya tidak baik untuk jantung Senja.
Langkah Aksa berhenti, membuat Senja ikut berhenti. Cowok itu terdiam dengan matanya yang terus menatap semburat jingga di langit. Meskipun begitu, genggamannya pada tangan Senja tak sedikitpun mengendur.
Melihat Aksa, Senja pun ikut menatap ke arah langit. Segaris senyum tipis terukir di bibirnya.
"Langit yang indah," gumam Senja, namun masih dapat di dengar Aksa.
"Ya. Senja memang indah," sahut Aksa yang membuat Senja langsung menoleh menatapnya.
"Tapi, sayang. Dia cuman sebentar."
Kali ini, Aksa yang menoleh menatap Senja. Tatapan keduanya bertemu, tapi Senja segera memutusnya.
"Walaupun cuman sebentar, gue bisa liatnya tiap hari."
Senja kembali menarik segaris senyum. "Gak bisa tiap hari kalau ada mendung atau hujan," ujar Senja.
Aksa terkekeh kecil, membuat Senja terpaku. Ini kali pertama Aksa terkekeh karena ucapannya.
"Gue kalah kalau lo bilang gitu," ucapnya.
Hening. Ituah yang terjadi setelah Aksa menjawab ucapan Senja tersebut. Senja sedikit tidak nyaman dengan genggaman Aksa yang semakin erat. Dan dengan perlahan, Senja melepaskan tangannya dari genggaman Aksa.
"Maaf," ucap Aksa canggung ketika menyadarinya, dan langsung melepas genggamannya pada Senja. Senja hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis.
"Eemm... Makasih, Nja."
"Untuk apa?"
"Makasih karena lo udah mau ke sini. Papa gue senang lo datang."
"Sama-sama."
"Kata papa, lo udah bantu dia ngobatin rindunya ke Farah."
"Kok bisa?"
"Nggak tau. Mungkin karena lo cewek."
Senja hanya mengangguk sebagai responnya pada Aksa.
"Papa dulu nggak gini. Dia sehat dan selalu menjadi papa yang baik. Tapi semuanya berubah setelah perusahaan papa mulai jatuh, dan...."
Semua cerita tentang papanya dan Farah mengalir begitu saja dari mulut Aksa. Membuat Senja turut merasakan semua kepedihan yang cowok itu rasakan.