
Sudah beberapa hari Senja di rawat di rumah sakit. Dan selama itu, Aksa, Arhez dan Rara terus berada di rumah sakit bersama Senja dan Aldi.
"Nah, ini bubur gandum pesenan lo. Kalau ini buah anggur dari mamanya Tama. Katanya anggurnya masih seger. Dibawa papanya Tama pagi tadi dari rumah neneknya," ucap Rara sembari mengeluarkan barang-barang tersebut dari tote bag.
Senja tersenyum. "Makasih ya, Ra, udah repot-repot."
"Gak repot. Yang penting lo seneng dan kembali sehat," ucap Rara. "Oh ya, kata mama, lo harus abisin bubur gandumnya. Terus mamanya Tama titip pesan buat lo. Katanya cepat sembuh."
Senja lagi-lagi tersenyum. Dia dekat dengan mamanya Rara. Dia kenal mama Tama karena mama Rara yang mengenalkannya. Dan dari situlah awal mula dia mendapat pekerjaan di cafe bersama Tama, Manda dan Chesie.
"Mau makan sekarang buburnya?" tanya Aksa lembut. Senja menatapnya sejenak, lalu menggeleng. Setelah itu ia kembali menatap Rara.
Aksa menarik nafasnya pelan. Senja benar-benar menjaga interaksinya dengannya. Senja terus saja menggeleng ketika ia menawarkan sesuatu. Gadis itu bahkan tidak mau menatapnya lama. Walaupun begitu, dia tidak akan meninggalkan Senja. Dijawab dengan gelengan saja, dia sudah cukup senang.
"Hez, bantuin gue duduk," ucap Senja, menatap Arhez yang berdiri di sisi kirinya.
"Gue aja," ucap Aksa hendak membantu Senja, tapi dengan cepat ditahan Arhez. Membuat tatapan tajam keduanya bertemu.
"Senja minta tolongnya sama gue!" tegas Arhez.
"Gue juga bisa tolongin Senja."
"Masalahnya, bukan lo yang dimintai tolong sama Senja."
Aksa terdiam. Tatapannya semakin tajam menatap Arhez. Rara yang melihat kedua cowok itu memutar bola matanya malas. Sejak hari pertama Aksa dan Arhez bertemu, mereka selalu berantam.
Arhez tanpa memperdulikan Aksa, langsung membantu Senja duduk. Wajah dingin yang sempat ia tunjukkan pada Aksa seketika menghilang setelah bertatapan dengan Senja.
"Mau sesuatu lagi?" tanya Arhez dan mendapat gelengan Senja.
Senja melirik Aksa yang diam tertunduk. Hatinya jadi tidak tega pada cowok itu. Sudah cukup selama 4 hari ini ia mendiami Aksa dan selalu menolak apapun yang cowok itu tawarkan padanya. Dan Aksa selalu sabar menghadapi sikapnya itu.
Senja menarik nafasnya panjang, lalu menoleh sepenuhnya pada Aksa.
"Zayyan," panggil Senja lembut membuat Aksa mendongak. Jangan tanyakan seperti apa perasaan Aksa saat ini. Ia teramat bahagia mendengarnya.
"Ada apa? Mau sesuatu?" tanya Aksa cepat. Binar kebahagiaan benar-benar terpancar dari mata itu.
"Gue pengen buburnya. Suapin gue." Senyum langsung mengembang dari bibir cowok. Ia dengan cepat mengangguk dan meraih bubur yang diletakkan di atas nakas oleh Rara. Cowok itu dengan telaten menyuapkan bubur tersebut pada Senja.
Arhez dan Rara hanya bisa menyaksikan mereka. Keduanya senang melihat Senja yang makan lebih banyak dari beberapa hari lalu. Meski begitu, Arhez tidak bisa menyangkal, ia merasa cemburu melihat mereka.
"Udah, Zay. Gue udah gak mau lagi," ucap Senja, setelah memakan setengah bagian bubur tersebut.
"Ya udah. Ini, minum dulu." Aksa mengulurkan segelas air putih yang langsung diraih Senja. Gadis itu meneguknya, kemudian mengembalikannya pada Aksa.
***
Rara terdiam di sofa ruang rawat Senja sembari mengunyah kripik kentang yang dibelinya tadi. Meski begitu, matanya tak fokus pada kripik kentang di genggamannya. Dia lebih fokus pada Aksa dan Arhez yang kini terdiam patuh mendengar setiap perkataan Senja. Mereka seperti anak baik dan penurut yang sedang mendengar ocehan sang ibu. Pemandangan yang belum sama sekali ia lihat.
"Gue nggak suka liat lo berdua berantem kayak tadi," ucap Senja. "Seharusnya lo berdua ngerti, ini rumah sakit, bukan tempat buat lo berdua berantem."
Ya, hampir saja kedua cowok itu saling pukul di ruangan Senja tadi. Entah apa masalahnya, tidak ada yang tahu. Keduanya tadi duduk bersama di sofa setelah mengantar Ratna dan Hengky keluar usai menjenguk Senja. Keduanya membiarkan Rara berada di kursi samping Senja. Tapi tiba-tiba, kedua cowok itu saling mencengkram kerah baju. Beruntung, seorang suster datang untuk mengecek kondisi Senja. Sehingga mereka tidak melanjutkan aksi yang lebih dari sekedar mencengkram kerah baju.
Mendengar ucapan Senja, baik Aksa maupun Arhez tak ada satupun yang menjawab. Mereka tahu, mereka benar-benar salah kali ini.
"Lo berdua bukan anak kecil lagi."
"Maaf," gumam Aksa.
"Maafin gue, Nja. Janji, gak akan berantem lagi," ucap Arhez.
Senja menarik nafasnya. "Gue pengen lo berdua janji sama gue. Lo berdua harus baikan dan gak boleh berantem lagi. Apapun keadaannya. Lo berdua harus saling dukung, sebagai saudara dan sebagai teman. Selesai in masalah dengan baik, jangan langsung beratem kayak tadi."
Aksa dan Arhez langsung menoleh menatap Senja. Setelah itu, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa? Lo berdua gak mau janji sama gue? Ya udah. Lo berdua mending balik. Gak usah—"
"Kita mau janji!" jawab Aksa dan Arhez cepat dan bersamaan. Membuat Rara terkekeh pelan melihat kedua cowok itu.
"Lucu banget," gumam Rara, sambil memasukkan kripik kentang ke mulutnya.
"Gue juga. Gue bakal berlaku baik ke Aksa," sahut Arhez.
Senja tersenyum mendengarnya. Entahkah kedua cowok itu sungguh-sungguh dengan ucapan mereka atau tidak, yang jelas ia begitu behagia mendengarnya.
Tok... Tok... Tok....
Suara ketukan pintu membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh. Rara yang sedang santai di sofa langsung beranjak membuka pintu. Langkah gadis itu terhenti saat di depan pintu. Dia bisa melihat siapa orang yang mengetuk pintu ruangan tersebut. Dia Amara. Dan Rara ragu membuka pintu untuk gadis itu.
"Siapa, Ra?" tanya Senja lembut, membuat Rara berbalik menatapnya. Gadis itu berjalan cepat menghampiri Senja, Aksa dan Arhez.
"Yang datang, Amara, Nja."
"Bukain aja," ujar Senja.
"Gak!" ucap Aksa dan Arhez bersamaan. "Gak usah dibukain. Dia kesini malah buat lo tambah sakit," lanjut Arhez. Kilatan amarah dan kebencian terlihat jelas dari mata cowok itu.
"Jangan di dengerin, Ra. Bukain gih! Kasian Amara nya."
Rara hanya bisa mengangguk. Sebenarnya, ia setuju dengan Aksa dan Arhez yang tak mengizinkan Amara masuk. Tapi, karena Senja yang memintanya membiarkan Amara, ia akan menurut saja.
Rara kembali mendekati pintu dan membukanya. Sementara di depan pintu, Amara terdiam mematung ketika pintu terbuka lebar. Tatapan Aksa dan Arhez yang tajam membuatnya tak berkutik dan beberapa kali meneguk ludah.
"Ayo, Masuk!" ucap Rara. Nada bicaranya sedikit tak ramah.
Amara kembali meneguk ludahnya. Ia menundukkan wajahnya sembari berjalan masuk. Dia ingin menghindari tatapan tajam kedua cowok itu.
Langkahnya berhenti di sebelah brankar Senja, membuatnya berhadapan dengan Aksa dan Arhez. Namun, ia akan berusaha sebisa mungkin menghindari tatapan itu. Amara mengangkat wajahnya menatap Senja. Dan kini, ia bisa dengan jelas melihat wajah pucat Senja.
"Ha-hai," sapa Amara.
"Hai," balas Senja, sedikit mengulas senyum.
"Gi-gimana keadaan lo, Nja?"
"Seperti yang lo liat. Gue gak bisa bilang gue baik-baik aja sekarang. Tapi, gue berharap gue akan baik-baik aja."
Amara terdiam. Ia tidak tahu, apalagi yang akan dia katakan. Dia begitu jarang berbicara baik pada Senja. Semua ucapannya pada Senja selalu ucapan jelek, merendahkan dan menghina. Dan sekarang dia bingung sendiri.
"Kenapa?" tanya Senja, berusaha mengeluarkan Amara dari kebingungannya.
"E-engak. O-oh, ini... Gue bawain roti gandum, nasi beras merah, sama sayur-sayuran yang baik buat lo."
"Makasih, Mar," ucap Senja.
"Gak usah dimakan! Lo mending bawa pulang makanan lo!" ujar Arhez dingin.
"Hez! Lo gak boleh gitu."
"Nja, lo gak bisa semudah itu percaya sama orang. Gak ada orang yang bisa baik dalam waktu sesingkat itu. Bisa jadi dia ngasi makan yang gak seharusnya lo makan. Lo bisa makin sakit."
"Hez—"
"Gue emang sering jahat sama Senja. Tapi gue gak pernah kepikiran kayak apa yang lo pikirin," ucap Amara, memotong ucapan Senja yang hendak menegur Arhez.
"Gak ada yang tau isi hati lo. Walaupun lo jelasin, gak akan ada yang mudah percaya. Dan lo sendiri yang cipata in persepsi itu di otak kita," sahut Rara.
"Ra, lo gak boleh ngomong kayak gitu."
"Nja, lo jangan terlalu baik sama orang," sahut Arhez.
Aksa yang sejak tadi terdiam pun bergegas berpindah ke dekat Amara. Raut wajahnya begitu dingin menyeramkan.
"Ikut gue!" ucap Aksa, dan langsung menarik kasar tangan Amara. Jujur, dia sudah menahan dirinya sejak tadi.
"Zay—"
"Ini urusan gue, Nja! Lo istirahat sekarang," ucapnya, kemudian meninggalkan ruangan tersebut.