Aksarasenja

Aksarasenja
Kado Untuk Teman Papa



Setelah selesai makan bersama Aksa dan Arhez, Senja langsung berpamit pulang lebih dulu. Aldi sudah marah-marah saat tiba di rumah dan tidak ada Senja disana.


"Biar gue aja yang anterin lo," ucap Aksa yang langsung mendapat gelengan dari Senja.


"Nggak. Aku pulang sendiri aja. Bang Aldi bakalan makin marah kalau liat kamu anterin aku."


"Gue aja yang anterin lo," kata Arhez.


Senja menggeleng. "Nggak, Hez. Gue naik ojek aja. Gue takut bang Aldi juga nggak suka sama lo."


Arhez terdiam. Setelah beberapa menit menunggu, ojek online yang dipesan Senja tiba. Gadis itu segera menaikinya dan meninggalkan kedua cowok yang masih terus menatapnya.


***


Aldi menatap tajam Senja yang baru saja tiba dengan ojek online. Adiknya itu sudah membuatnya menunggu sejak tadi.


"Lo kemana aja sih?! Keluyuran? Cari perhatian sama si cowok brengsek itu?" Aldi bertanya sarkas.


Senja hanya mampu menarik nafasnya. Dia tahu, siapa yang dimaksud cowok brengsek oleh abangnya itu. Aksa la orangnya. Aksa tidak tahu apa-apa, tapi disalahkan oleh Aldi.


"Bang, Senja—"


"Masuk!" Aldi langsung berbalik setelah mengatakan itu pada Senja.


Lagi-lagi Senja menarik nafasnya, kemudian mengikuti Aldi memasuki rumah. Entah sampai kapan Aldi akan bersikap seperti itu padanya. Yang jelas, ia akan terus berharap agar abangnya itu bisa kembali seperti dulu.


"Lo cepetan makan! Setelah itu, siap-siap."


"Kita mau kemana, Bang?"


"Nggak usah nanya!"


Aldi lagi-lagi meninggalkan Senja. Gadis itu hanya bisa diam menatap abangnya yang berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Senja berjalan ke arah dapur. Terlihat beberapa makanan terhidang disana. Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari bi Haya. Tapi, wanita paruh baya itu tidak ia temukan.


"Non?"


Senja terkejut. "Ya Allah, Bi. Aku kaget."


"Hehehe... maaf, Non."


"Iya, gak papa. Oh ya, Bi. Makanannya disimpan lagi aja. Aku udah makan sama teman tadi."


"Oohh... iya, Non."


"Ya udah. Senja ke kamar dulu, ya. Mau siap-siap ikut sama bang Aldi."


Senja langsung meninggalkan dapur setelah berpamitan dengan Bi Haya. Gadis itu membersihkan dirinya kemudian mengenakan pakaiannya.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dan langsung menuju ruang tamu. Disana, Aldi sudah menunggunya. Cowok itu menatap sang adik dengan sorot yang tak bisa dipahami.


"Ayo!" ucapnya setelah memutuskan tatapannya dari Senja.


Senja hanya mengangguk. Ia lalu berjalan mengikuti Aldi yang berjalan di depannya.


"Kita mau kemana, Bang?"


"Masuk!" Bukannya menjawab, Aldi malah menyuruh Senja memasuki mobil. Cowok itu juga ikut masuk dan mulai mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman mereka.


Bi Haya yang menutup kembali pintu gerbang menatap kepergian kedua anak atasannya.


Di perjalanan, Senja hanya diam. Dia tidak ingin membuat Aldi semakin marah.


"Kita ke mall." Aldi memulai pembicaraan. Senja menoleh menatap Abangnya. Gadis itu tersenyum tipis kemudian mengangguk.


Dari ekor matanya, Aldi bisa melihat jika adiknya itu tersenyum. Ia tak membalas, hanya berusaha untuk tetap fokus dan tidak menoleh pada gadis itu.


"Iya, Bang."


"Lo nggak boleh jauh-jauh dari gue! Dengerin apa yang gue bilang!" Senja kembali tersenyum. Jujur, hatinya menghangat mendengar ucapan Aldi yang terkesan sangat menjaganya.


"Satu lagi. Kalau gue ketemu siapapun nanti, lo harus ngejauhin gue. Tapi, usaha in supaya tetap dalam jangkauan gue."


Deg!


Senja terdiam. Dia baru saja merasa senang. Tapi, ucapan Abangnya barusan membuat hatinya terluka. Apa dia seburuk itu sampai abangnya tidak ingin orang lain tahu, jika mereka memiliki hubungan? Perasaannya benar-benar terluka.


Tiba di mall, Aldi dan Senja bergegas turun. Tapi, sebelum itu, Aldi menyuruh Senja mengenakan masker dan juga kaca mata. Entah untuk apa, Senja juga tidak tahu. Gadis itu hanya menuruti ucapan abangnya.


Aldi juga meminta Senja untuk berjalan lebih dulu. Dia mengikuti Senja dari belakang.


Karena Aldi yang menyuruhnya memilih hadiah, ia akan memilih hadiah sesuai keinginannya.


"Aldi!" Panggilan itu menghentikan langkah Aldi. Senja juga ikut berhenti dan berbalik, melihat orang yang memanggil Aldi.


Aldi yang melihat Senja ikut berbalik pun melotot pada gadis itu. Matanya memberi isyarat agar Senja kembali berbalik dan terus berjalan.


"Lo ngapain disini?" Pertanyaan tersebut membuat Aldi langsung mengalihkan tatapannya.


"Hah? Gue mau nyari kado buat teman bokap gue yang ulang tahun."


Senja yang sudah berbalik sempat mendengar jawaban Aldi yang terkesan ramah pada gadis yang menyapanya itu. Jauh berbeda saat Aldi bersamanya. Cewek itu tersenyum kecut kemudian melanjutkan langkahnya. Membiarkan abangnya itu berbincang dengan gadis yang baru saja menyapanya tersebut.


"Lo kenapa sih?" Cewek yang diketahui sebagai teman Aldi itu menoleh mengikuti arah pandang Aldi yang sejak tadi tidak fokus padanya.


"Nggak kenapa," jawab Aldi dengan tenang, membuat cewek itu menganggukkan kepalanya. "Lo sama siapa ke sini?" tanya Aldi.


"Sama om." Jawaban singkat cewek itu membuat Aldi mengangguk pelan kepalanya. Ia tahu siapa "om" yang dimaksud temannya itu. Dan ia berharap om itu segera datang dan membawa cewek di depannya ini pergi.


"Ya udah. Gue duluan, ya. Om gue udah datang."


Aldi berucap syukur dalam hati. Ia mengangguk, dan setelah memastikan cewek itu pergi, Aldi segera menyusul Senja. Dalam hatinya, ia berdoa semoga Senja tidak seperti temannya itu. Semoga adik satu-satunya terjaga dari segala perbuatan buruk tersebut.


"Udah?"


Pertanyaan Aldi membuat Senja yang sedang melihat-lihat berbalik. Gadis itu menatap abangnya dengan senyuman tipis.


"Udah. Lagi dibungkus."


Aldi mengangguk. Setelah selesai, Senja segera membawa paper bag berisi barang yang sudah terbungkus kertas kado. Aldi pun segera membayar, kemudian berlalu bersama Senja.


"Eeemm... Abang!" panggil Senja ketika sudah berada dalam mobil.


"Hmm." Aldi hanya berdehem. Ia tetap fokus mengendarai mobilnya.


"Tadi itu, siapa?"


"Teman gue."


Senja terdiam. Hanya teman, dan Aldi bersikap lembut. Seandainya Aldi bisa bersikap seperti tadi padanya, ia akan sangat bahagia.


Tapi, Senja segera menepis semua pikirannya itu. Aldi mau menjawab pertanyaannya saja, itu sudah cukup.


Setelah beberapa menit berkendara, Aldi dan Senja tiba di rumah.


"Acaranya jam 7. Lo harus siap-siap sebelum itu." Senja mengangguk. Gadis itu lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Dia duduk di pinggir ranjang, lalu mengeluarkan handphonenya dan menyalakannya dengan harapan mendapat pesan dari sang mama dan papa. Namun, ia harus menelan rasa kecewa. Tidak ada satupun pesan dari mama atau papanya.


Senja menarik nafasnya dalam. "Apa mama sama papa udah nggak sayang lagi sama senja? Sama bang Aldi? Senja kangen sama mama sama papa. Senja mau kita berkumpul lagi kayak dulu walaupun mama sama papasering nggak di rumah. Senja kengen tidur dipeluk mama."


Gadis itu mengusap air matanya. "Senja sakit, ma, pa..." lirih Senja.