
Senja memarikirkan motornya tepat di sebuah toko bunga. Sebuah toko yang tidak begitu besar. Senja langsung menghampiri seorang wanita yang sepertinya pekerja di toko bunga tersebut.
"Permisi, Bu."
"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ambil pesanan atas nama Aksara Zayyan, Bu."
"Oohh... Pesanannya nak Aksa? Sama Nak Senja ya?" tanya wanita tersebut. Sepertinya Aksa sudah memberitahunya mengenai orang yang akan mengambil pesanannya.
"Iya, Bu."
"Ya udah. Nak Senja duduk di situ. Saya ambil pesanannya dulu."
Wanita itu segera berlalu setelah Senja menganggukkan kepalanya. Selang beberapa saat, wanita itu kembali dengan membawa buket bunga Lily yang begitu indah.
"Ini Nak."
Senja berdiri dan meraih buket bunga tersebut. Tatapannya menunjukkan kekaguman pada bunga Lily putih yang indah tersebut.
"Bayarannya udah di transfer sama nak Aksa."
Senja mengangguk. "Ya udah, Bu. Makasih, ya? Saya pamit dulu."
Setelah berpamitan pada wanita tersebut, Senja kembali melajukan motornya menuju pemakaman. Tiba disana, Senja membeli bunga untuk ditaburkan ke makam Farah.
Senja melangkah melewati begitu banyak makam. Langkah gadis itu terhenti tepat di depan makam bertuliskan Farah Fadila Binti Herman. Gadis itu kemudian berjongkok di sisi makam tersebut dan meletakan buket bunga Lily di dekat nisan Farah.
"Assalamu'alaikum," ucap Senja pelan. "Hai, Farah. Aku Senja, teman Zayyan. Maksudku, Aksara Zayyan. Aku disuruh dia buat anterin bunga Lily ini ke makam kamu. Katanya, hari ini hari ulang tahun kamu. Selamat, ya."
"Aku berdo'a, semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin."
Setelah mengucapkan beberapa patah kata, Senja mengangkat tangannya, membacakan do'a untuk Farah. Kemudian, ia menaburkan bunga ketika selesai berdo'a.
"Kamu siapa?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang wanita membuat gerak tangan Senja yang sedang menabur bunga terhenti. Cewek itu mengangkat wajahnya menatap wanita yang berdiri menjulang di depannya.
Senja menyipitkan matanya ketika melihat wanita tersebut. Keningnya pun ikut mengerut. Ia seperti pernah melihat wanita tersebut.
"Tante—"
"Saya tanya, kamu siapa? Kenapa kamu ada di makam putri saya?"
"Pu-putri?" Senja bangun dari duduk jongkoknya dan berdiri menghadap wanita tersebut.
"Iya. Farah, dia putri saya."
"Saya temannya Zayyan, Tante." Wanita itu terdiam. Raut wajahnya terlihat cukup terkejut. "Maksud saya, Aksara Zayyan, Tan."
"Aksa?"
Senja mengangguk. Matanya tak lepas menatap wanita itu. Bisa ia lihat pancaran sendu mata itu saat menyebut nama Aksa.
"Aksa putra Saya. Farah adiknya," ucap wanita itu yang merupakan Ratna, Mama Aksa.
Senja terdiam. Sekarang ia ingat wanita ini. Dia adalah wanita yang sama saat bersama Aksa di depan toko waktu itu.
"Kenapa kamu disini? Kamu kenal dengan putri saya?" tanya Bu Ratna. Dia akui, dia Ibu yang buruk. Tidak banyak yang ia tahu mengenai Aksa dan Farah selama mereka bersama.
"Saya nggak kenal sama putri Tante. Tapi, Zayyan minta tolong saya buat anterin bunga Lily ke sini."
"Kamu panggil Aksa, Zayyan?"
"Eeemm... Iya, Tan." Senja meringis, takut jika wanita itu sama seperti Aksa, tidak suka jika dipanggil Zayyan. "Saya... Nggak boleh ya panggil Zay—"
"Boleh, Nak. Tante nggak apa-apa, kamu panggil Aksa, Zayyan."
Senja tersenyum mendengar jawaban Bu Ratna. Ia senang, wanita itu tidak melarangnya memanggil Aksa dengan nama Zayyan.
"Makasih, Tante."
"Iya," jawabnya. "Oh ya, saya Ratna." Wanita itu mengulurkan tangannya pada Senja. Dan dengan cepat Senja membalasnya.
Bu Ratna mengangguk. Keduanya sama-sama melepaskan jabatan tangan mereka.
"Kamu ada waktu nggak setelah ini? Tante mau ngomong sama kamu."
Senja terdiam sejenak. Berpikir mengiyakan tawaran wanita itu atau tidak.
"Tante hanya mau ngomong soal Aksa. Sepertinya, kamu satu-satunya orang yang Aksa percaya. Dia tidak pernah meminta orang lain untuk mengantar bunga kesukaan Farah. Dia sendiri yang akan melakukannya."
"Ya udah, Tan. Saya mau."
Bu Ratna tersenyum. "Terima kasih, Nak."
Senja mengangguk. Bu Ratna kemudian mendekati makam Farah. Setelah menyapa sang putri dan mengirimkan do'a. Wanita itu bergegas pergi bersama Senja.
***
Sebuah cafe menjadi tempat pilihan Senja dan Bu Ratna. Senja terdiam mendengar semua cerita Bu Ratna tentang Aksa. Tentang bagaimana Aksa marah padanya. Tidak ingin bertemu dengannya. Dan kemungkinan putranya itu sudah membencinya.
Senja tak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menjadi pendengar yang baik untuk Bu Ratna. Terkadang, matanya pun ikut berkaca-kaca melihat Bu Ratna yang menangis.
"Maafin tante, ya, jadi curhat gini sama kamu," ucap Bu Ratna seraya mengusap air matanya yang kembali jatuh.
"Nggak apa-apa, Tan."
"Terima kasih, ya, Nak." Senja menganggukkan kepalanya.
"Mama!"
Senja dan Bu Ratna sontak menoleh saat mendengar seorang memanggil. Senja terdiam, sementara Bu Ratna tersenyum tipis.
"Arhez..." gumam Senja lirih.
Kebetulan seperti apa ini? Arhez, mamanggil Bu Ratna yang merupakan Mama Aksa dengan sebutan Mama. Dan dari cerita Bu Ratna, dia memiliki anak sambung. Dan kemungkinan anak sambung Bu Ratna adalah Arhez. Berarti Aksa dan Arhez, mereka saudara tiri.
"Kenapa handphone Mama nggak bisa dihubungi? Arhez khawatir. Ini juga udah hampir gelap. Pak Parman juga nggak angkat telpon Arhez."
"Handphone Mama lowbat, Nak. Pak Parman Mama nggak tahu. Mungkin dia ketiduran di mobil."
Arhez menarik nafasnya. Ia kemudian berbalik, menatap ke arah orang yang bersama Mamanya. Ia tidak sempat melihatnya tadi. Fokusnya hanya tertuju pada sang Mama.
"Senja? Lo kok bisa sama Mama gue?" tanya Arhez dengan kening mengerut.
"Kita nggak sengaja ketemu. Senja tolongin Mama waktu pusing di toilet tadi," potong Bu Ratna cepat.
Senja terdiam. Sepertinya Bu Ratna tidak ingin Arhez tahu tentang dirinya yang berkunjung ke makam Farah.
"Mama nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Arhez khawatir.
"Enggak. Cuman pusing sebentar, terus baikan." Arhez mengangguk. "Oh ya, Mama nggak tahu kalau kalian saling kenal. Kalian satu sekolah?"
"Iya, Ma. Senja teman dekat Arhez," jawab Arhez, membuat Bu Ratna menoleh pada Senja, yang dibalas senyuman manis gadis itu.
Arhez kemudian kembali menatap Senja. "Lo ngapain disini, Nja? Ketemu siapa?" tanya Arhez. Cowok itu menarik salah satu kursi dan duduk.
"Gue tadi kesini diajak Kak Dita, temannya bang Aldi. Terus nggak sengaja ketemu Tante Ratna di toilet. Kak Dita juga sama kita tadi, kok. Tapi udah balik duluan karena ada urusan."
"Udah kenal berapa lama sama Mama gue?"
"Belum lama. Baru tadi," ucap Senja sambil menyengir, membuat Arhez gemas dan mengacak pelan rambutnya.
"Lo emang cewek baik. Makasih udah nolongin Mama gue."
"Iya, sama-sama. Udah kewajiban sesama manusia saling tolong menolong."
Senja, Arhez dan Bu Ratna melanjutkan perbincangan mereka beberapa menit. Arhez menceritakan tentang Senja pada Bu Ratna. Membuat wanita itu tahu mengenai gadis yang sudah mau mendengar semua ceritanya.
Setelah itu, mereka menyudahi obrolan mereka dan meninggalkan cafe. Arhez meminta izin pada sang Mama untuk mengantar Senja ke tempat kerjanya. Namun, wanita itu tak mengizinkannya kecuali dia juga ikut mengantar Senja.
Dan akhirnya, Senja berangkat kerja dengan diantar Arhez dan Bu Ratna menggunakan kendaraan masing-masing.