Aksarasenja

Aksarasenja
Menepati Janji Pada Aksa



Aldi masih terdiam. Otak dan hatinya terus membenarkan ucapan Senja. Aldi menarik nafasnya panjang kemudian menepikan mobilnya. Cowok itu juga mematikan mesin mobilnya, kemudian menatap Senja yang menunduk. Gadis itu benar-benar menyesali ucapannya.


"Senja," panggil Aldi lembut, membuat Senja mendongak. Aldi tersenyum, tidak ingin membuat Senja takut padanya.


"A-Abang...."


Aldi mengusap pelan kepala Senja. "Apa yang kamu katakan benar. Seharusnya Abang gak melakukan itu semua. Seharusnya Abang bicarakan semuanya sama kamu. Tapi, Abang gak yakin kamu bakalan bisa pura-pura membenci Abang."


Senja terdiam dengan mata yang menatap wajah sang Abang. Ia bisa melihat kebenaran dari sorot mata Aldi. Ia terlalu cepat menyimpulkan sebelum mendengar penjelasan cowok itu.


"Mau dengerin cerita Abang sekarang?" Senja menggeleng, membuat kening Aldi mengerut. "Kenapa?" lanjutnya bertanya.


"Senja mau dengerin, tapi di cafe nanti."


"Ya udah. Kita ke cafe."


***


Senja menatap sendu wajah Aldi. Air matanya beberapa kali menetes mendengar penjelasan sang Abang. Selama ini, Aldi menyimpan bebannya sendirian. Cowok itu bahkan rela jika adiknya membenci dirinya, dan itu semua demi kepentingan sang adik.


"Maafin Senja, Abang. Senja udah salah paham sama Abang selama ini. Senja kira, Abang ngelakuin itu semua karena Abang benar-benar gak suka sama Senja."


"Udah, jangan nagis lagi. Semuanya udah lewat. Sekarang kita fokus untuk kesembuhan kamu," ucap Aldi sembari mengusap air mata Senja.


"Iya. Tapi, cewek yang pernah bantuin Abang setelah Abang dipukul itu, siapa?"


"Suatu saat kamu bakal tau siapa dia."


"Ihhh, Abang ngeselin deh. Siapa yang nolongin Abang? Ayo dong, kasi tau."


"Kapan-kapan aja. Cepetan habisin roti gandum nya. Setelah itu kita ke aquarium."


"Nggak usah ngalihin pembicaraan deh."


"Ya udah kalau gak mau. Kita gak jadi ke aq—"


"Iya iya, Senja gak akan maksa Abang lagi," ucap Senja dengan wajah cemberutnya. Membuat Aldi dengan gemas mencubit pipi lesungnya.


Setelah Senja menghabiskan roti gandumnya, kakak beradik itu segera menuju mall NS sesuai permintaan Senja. Karena hari sudah begitu petang, Aldi menghentikan mobilnya di salah satu tempat ibadah.


"Abang mau sholat dulu," ucap Aldi yang hanya diangguki Senja. Gadis itu belum bisa melakukan ibadah wajibnya karena tamu bulanannya.


Aldi meraih jaket miliknya di jok belakang mobil, kemudian memberikannya pada Senja. "Pakai ini. Makin malam makin dingin."


"Makasih, Bang," ucap Senja sambil menerimanya.


Aldi segera berlalu meninggalkan Senja. Setelah beribadah, cowok itu kembali menghampiri Senja dan melajukan mobilnya menuju mall. Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di sana.


Aldi dengan penuh rasa sayang menggandeng tangan Senja ke tempat tujuan mereka.


"Mbak, tiketnya dua untuk dewasa," ucap Aldi pada seorang perempuan yang bertugas melayani pembelian tiket. Wanita itu tersenyum genit, namun diabaikan Aldi.


Setelah menerima tiket, Aldi dan Senja segera memasuki aquarium. Wajah Senja terlihat sumringah melihat berbagai macam hewan laut yang ada di aquarium tersebut. Hal itu membuat Aldi ikut tersenyum.


"Abang."


"Hmm?"


"Besok Zayyan ajak Senja ke rumah papanya," ucap Senja dengan tatapan yang fokus menatap ikan-ikan yang kesana kemari dengan bebas.


Aldi terdiam. Pikirannya berkecambuk. Ia tidak tahu, harus mengizinkan Senja atau melarangnya. Jujur, ia belum bisa menerima Aksa ataupun Arhez untuk dekat dengan Senja.


Senja menoleh dengan senyum mengembang. Gadis itu langsung memeluk sang Abang dengan perasaan bahagia. Senang sekali diberi izin oleh sang Abang.


"Makasih, Abang. Senja janji gak akan pulang malam."


***


Esok harinya, setelah pulang sekolah, Senja benar-benar menepati janjinya untuk ikut Aksa ke rumah Herman, papa Aksa. Arhez juga ikut, karena itu merupakan permintaan sang mama. Ratna bersama Hengky menggunakan mobil. Dua orang itu menunggu Aksa, Arhez, dan Senja, di depan gerbang sekolah. Lalu mereka berangkat bersama.


Setelah sejam perjalanan, mereka tiba disana. Aksa dan Senja masuk terlebih dahulu, kemudian Ratna, Hengky, dan Arhez. Mereka dipersilahkan Bi Darsi untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu Aksa menjemput papanya di kamar.


"Hati-hati, Pa," ucapan Aksa lantas membuat semua yang ada di sofa dan sedang berbincang dengan Pak Ijan menoleh. Ratna menatap lekat sang mantan suami. Dan tanpa tersadar, air matanya menetes. Wanita itu mengusapnya dengan cepat. Hengky yang menangkap jika istrinya itu menangis, menggenggam erat tangan sang istri, seolah sedang menghiburnya.


Aksa mendudukan pelan sang Papa di sofa, lalu ikut duduk di sebelahnya. Herman menatap Ratna, kemudian menatap Hengky lalu Arhez. Laki-laki itu memberikan senyum pada mereka.


"Se-selamat datang, Ra-Ratna, He-Hengky. A-aku senang ka-kalian berkunjung," ucap Herman dengan bibir bergetar. Mendengar itu, air mata Ratna kembali jatuh. Ia tak menyangka, takadir matan suaminya seperti ini. Sementara Hengky, pria itu tersenyum pada Herman.


"Apa kabar, Mas?" ucap Ratna. Wanita itu kembali mengusap air matanya.


"Se-seperti yang kam-kamu lihat," balas Herman, diakhiri dengan senyumannya.


"Di-dia putra ka-kalian?" Mata Herman tertuju pada Arhez, yang dibalas Arhez dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Iya," ucap Hengky. "Arhez, beri salam pada om Herman," lanjutnya. Tak banyak bicara, Arhez mendekati Herman dan mencium punggung tangan laki-laki itu.


Herman kembali tersenyum saat Arhez mencium tangannya. Dengan sebelah tangan yang gemetar, ia menepuk pelan puncak kepala Arhez. "Be-berteman baiklah de-dengan Ak-sa. Di-dia juga sa-saudaramu."


Arhez hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, ia kembali ke tempatnya.


Suasana menjadi hening sejenak. Hingga beberapa saat kemudian, Hengky kembali bersuara. Laki-laki itu mulai membuka suara, menjelaskan tujuan mereka datang dan keinginan mereka untuk memperbaiki hubungan antara dua keluarga.


Melihat pembicaraan serius itu, Aksa, Senja, dan Arhez memilih untuk tidak ikut campur. Aksa mempercayakan Pak Ijan dan Bi Darsi untuk menemani sang Papa mengobrol dengan Ratna dan Hengky. Sementara mereka bertiga memilih untuk duduk di bawah pohon rindang samping rumah tersebut.


"Lo gak mau ceritain sesuatu ke gue, Nja?" tanya Arhez tiba-tiba. Mereka duduk berdua di bawah pohon karena Aksa sedang ke toilet. Arhez mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Senja mengenai Senja yang tidak masuk sekolah sehari lalu.


"Cerita apa?"


"Cerita soal lo yang gak masuk sekolah sehari lalu."


"Bukannya gue udah cerita? Gue kan nginep di rumah teman bang Aldi, terus—"


"Bangun kesiangan?" ucap Arhez, menyela ucapan Senja. Gadis itu mengangguk polos membenarkan ucapan Arhez. "Lo bohong," seru Arhez yang langsung membuat Senja menatapnya.


"Gue tau, lo dirawat di rumah sakit saat itu."


Senja terdiam. Ia meneguk ludahnya. Ia baru sadar, Arhez pasti mengetahuinya karena yang menanganinya adalah dokter Rahila, tante Arhez.


"Tau dari dokter Rahila?"


"Iya," balas Arhez. "Kenapa—"


Arhez yang hendak melanjutkan ucapnnya segera mengurungkan niatnya saat melihat Aksa berjalan mendekati mereka. Cowok itu segera merubah ekpresi wajahnya menjadi datar.


"Seharusnya lo sama Zayyan berteman baik, sama seperti yang om Herman bilang," gumam Senja yang masih bisa didengar Arhez, namun tak dijawab cowok itu.


Aksa mengambil tempat tepat di seblah Kanan Senja. Cowok itu menyodorkan minuman kemasan botol pada Senja. "Buat lo," ucap Aksa. Gadis itu menerimanya, tapi tak berniat meminumnya. Ia masih ingat dengan jelas, apa yang dikatakan dokter Rahila padanya.


Setelah Senja menerimanya, Aksa beralih memberikan sebotol minuman lagi pada Arhez. Cowok itu tak mengatakan apapun selain hanya menyodorkan botol minuman itu ke arah Arhez.


Arhez meliriknya sejenak, kemudian meraih botol tersebut dengan wajah datar. "Thanks," ucap Arhez. Ia rasa, tidak buruk juga jika ia mulai menerima Aksa sebagai teman atau saudaranya. Dan diam-diam, Senja menahan senyum melihat interaksi keduanya yang sama-sama kaku.