Aksarasenja

Aksarasenja
Jalan-jalan Di Rumah Aksa



Senja menatap dua piring nasi goreng yang terhidang di atas meja. Itu adalah nasi goreng buatan Aksa. Akhirnya, setelah menunggu hampir lebih dari tiga puluh menit, ia akan segera mencicipi nasi goreng buatan Aksa.


Hap....


Satu sendok nasi goreng buatan Aksa masuk ke mulut Senja. Gadis itu diam sembari terus mengunyah makanannya.


"Gimana?" tanya Aksa.


"Eee... Enak," jawab Senja sambil tersenyum, membuat Aksa ikut tersenyum.


Senja kembali melahap nasi gorengnya, sementara Aksa tetap diam memandangi wajah Senja. Cowok itu tak sedikit pun menyentuh nasi goreng miliknya.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Senja. Nasi goreng di piringnya sudah hampir habis. Sementara di piring Aksa, masih utuh.


"Liat lo makan aja, gue udah kenyang."


"Emang bisa?"


Aksa tersenyum. Ia meraih segelas air, kemudian memberikannya pada Senja. "Habisin dulu makanannya, setelah itu baru ngomong."


Senja tak menjawab. Ia fokus menghabiskan makanannya sesuai yang Aksa katakan. Setelah itu, ia meneguk segelas air yang Aksa berikan hingga tersisa setengah.


"Udah kenyang?"


Senja mengangguk. "Banget. Makasih ya, udah buatin buat aku. Kapan-kapan aku juga buatin buat kamu."


Aksa mengulas senyum tipis. Senja pun ikut tersenyum. Akhir-akhir ini, Aksa lebih banyak tersenyum saat bersamanya.


"Boleh," jawab Aksa. "Pulang dari sini, langsung ke cafe atau ke rumah dulu?"


"Kayaknya ke rumah dulu."


"Mau jalan-jalan sebentar?"


"Ke mana?"


"Keliling rumah aja."


"Boleh. Ayo!"


Aksa bangun di ikuti Senja. Cowok itu kembali menggenggam tangan Senja. Ini bukan yang pertama kalinya. Tapi, jantung Senja selalu berdetak cepat ketika Aksa menggenggam tangannya.


"Ini dulunya ruang kerja papa," jelas Aksa, saat mereka tiba di salah satu ruangan di lantai bawah.


"Kalau di lantai atas, ada kamar gue sama dua ruangan kosong. Dulunya, itu kamar Farah sama ruangan yang dia gunain buat latihan nari."


"Farah suka nari?"


"Hmm.... Dia suka tarian tradisional."


Aksa kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman belakang rumahnya. Tangannya masih tetap menggenggam tangan Senja, seolah dia akan kehilangan gadis itu jika ia melepaskan pegangannya.


"Pasti ini tempat kesukaan tante Ratna," celetuk Senja tanpa sadar saat tiba di halaman belakang rumah. Di sana, ada sebuah taman kecil yang ditanami beberapa jenis bunga. Ada sebuah kursi panjang yang berhadapan langsung ke taman. Senja yakini, jika itu adalah tempat kesukaan Ratna. Karena wanita itu pernah bercerita padanya jika dia suka duduk menatap bunga-bunga yang tumbuh di taman.


Aksa diam, tak merespon Senja. Hingga beberapa detik berikutnya, Senja melotot saat sadar akan ucapannya.


"Zay, ak-aku gak bermaksud—"


"Gak papa. Ayo, duduk!"


Kini giliran Senja yang terdiam. Gadis itu kembali dibuat terkejut dengan respon Aksa. Cowok itu tidak marah, tidak kasar, atau apapun yang bisa melukai hati Senja. Aksa malah memperlakukan Senja sebaliknya. Ia menarik lembut tangan Senja yang di genggamnya, kemudian mendudukkan gadis itu di kursi panjang tersebut. Aksa juga ikut duduk.


"Taman ini bukan tempat kesukaan Mama. Taman ini buatan Farah sama papa. Setelah tau mama suka taman yang banyak bunganya, Farah merengek ke papa, minta dibuatin taman ini. Tapi sayang, Mama gak sedikitpun tertarik. Dia lebih suka sama pekerjaannya."


"Kayaknya, gue sama Farah ada cuman karena tuntutan keluarga. Bukan atas dasar suka atau cinta."


Senja menatap wajah tampan Aksa dari samping. Ia bisa melihat guratan sedih di wajah tampan itu. Perlahan, tangannya terulur mengusap punggung tangan Aksa yang masih menggenggam tangannya.


"Jangan pernah berpikiran kayak gitu, Zay. Tante sayang sama kamu, Farah, sama om juga. Coba sekali aja kamu dengar penjelasan tante. Jangan nilai tante Ratna dari apa yang kamu tau aja. Aku yakin, kamu akan buka hati kamu buat maafin tante Ratna setelah kamu dengar penjelasan dari dia."


Aksa terdiam. Sementara Senja, gadis itu tetap menatap Aksa, menantikan jawaban apa yang akan Aksa katakan.


"Zay, tante Ratna gak pernah ada niat buat ninggalin kalian. Dia memang kurang memberikan perhatiannya pada kalian, tapi dia sayang sama kalian," uacpa Senja, mulai menceritakan apa yang dia tahu tentang Ratna.


"Saat tante berhasil kabur, tante dipertemukan dengan papa Arhez. Karena selama diculik, tante mendapat banyak penyiksaan, tubuh tante lemah dan tidak sadarkan diri. Beruntung om Hengky berbaik hati menolong tante. Tante koma. Dan saat sadar, tante depresi dan sempat kehilangan sebagian ingatannya. Tante sendiri yang cerita sama aku, Zay."


Aksa semakin bungkam mendengar penjelasan Senja. Hatinya terasa sakit saat mendengar kenyataan mengenai sang mama. Meski begitu, rasa kecewanya pada sang mama masih begitu besar.


"Kapan-kapan, temani gue ketemu mama," ucap Aksa.


"Kamu beneran kan?"


"Ya. Gue harus dengar sendiri dari mama. Gue tau, lo gak mungkin bohong. Tapi, gue pengen denger mama yang ngejelasin sendiri ke gue."


"Iya, aku ngerti. Kalau kamu udah benar-benar siap, kasi tau aku. Aku bakal kabarin tante," ujar Senja dengan raut senangnya. Kedua tangannya ia lepaskan dari Aksa, lalu dengan perasaan bahagia, ia mengusap wajahnya dengan penuh rasa syukur. Akhirnya, salah satu harapannya dikabulkan Tuhan.


Aksa hanya mampu menatap Senja dengan segaris senyum di bibirnya. Hingga detik berikutnya, tangannya terulur mengusap lembut rambut Senja.


"Makasih, Nja."


***


"Mbak, kalau mas ganteng itu yang layanin kita, boleh nggak?" Pertanyaan seorang pelanggan wanita membuat Senja menoleh mengikuti arah tunjuknya.


Dia sebenarnya sedang mencatat pesanan dari salah satu meja, yang menjadi tempat empat orang gadis. Tapi, sepertinya keempat gadis itu tidak ingin dilayani olehnya. Mereka malah menunjuk ke arah Tama yang sedang menawarkan minum pada Rara.


Ya, ada Rara di cafe tersebut. Gadis itu datang ke cafe karena mendapat traktiran dari Senja. Jika tidak, ia sangat malas datang. Dan alasannya selalu sama. Yaitu ada Tama yang sudah pasti membuat moodnya buruk.


"Bisa nggak mbak?"


"Saya tanya orangnya dulu, ya? Dia ketua disini. Jarang banget ngelayanin pelanggan," jawab Senja sopan.


Setelah mendapat anggukkan keempat pelanggan tersebut, Senja langsung menghampiri Tama yang masih setia berdiri di dekat meja Rara.


"Lo seriusan Ra, gak mau minum?"


"Gak."


"Ck. Gue pengen banget lo nyobain. Gue sendiri yang buatin."


"Gue gak mau! Gue makan sama minum semuanya kecuali buatan lo!"


"Udah, Kak. Rara lagi bad mood, jangan diganggu dulu," ucap Senja yang saat ini sudah berada di dekat mereka. "Oh ya, Kak. Pelanggan yang di meja itu pengennya Kak Tama yang layanin."


"Cewek-cewek itu?" tanya Tama, mengikuti arah pandang Senja.


"Iya. Ciee.... Kak Tama. Nambah penggemar nih."


"Bisa aja lo, Nja. Ya udah, gue layanin mereka dulu," ujar Tama. Dan sebelum meninggalkan Rara dengan Senja, cowok itu mengulurkan tangannya mengacak pelan rambut Rara, lalu melenggang santai meninggalkan mereka.


Rara yang mendapat perlakuan tersebut mendengus kesal, sementara Senja malah terkekeh melihat ekspresi lucu wajah Rara.


"Lo sama Kak Tama lucu," ucap Senja dengan kekehan kecilnya. Cewek itu menarik kursi di depan Rara.


"Lucu apanya? Tama itu ngeselin, Nja."


"Ngeselin gitu tapi lo suka kan?"


"Gak usah ngaco deh, Nja!"


"Hehehe... Canda, Ra. Tapi, asal lo tahu ya, Kak Tama itu banyak penggemarnya. Hampir semua cewek yang datang kesini minta dilayanin sama Kak Tama. Kalau nggak, minta foto, minta nomor WA, minta nama akun sosial media atau—"


"Banyak amat," celetuk Rara, memotong ucapan Senja.


"Ya itu, resiko orang ganteng."


"Masih gantengan Bang Aldi."


"Ck. Terserah lo deh. Oh ya, lo mau pesan apa?"


"Terserah lo yang traktir."


"Oke."