
Amara tertunduk diam setelah mengakui semua perbuatannya pada Aksa. Bukan hanya kebohongannya mengenai kasus pembullyan. Dia menjelaskan semua perbuatannya selama ini pada Senja. Dia harap Aksa memaafkannya dan tidak memusuhinya.
"Sa—"
"Gue benar-benar kecewa sama lo, Mar! Gue gak bisa bilang kalau gue gak marah. Gue gak nyangka, kepercayaan gue ke lo selama ini lo balas dengan semua kebohongan lo. Lo udah buat gue nyakitin orang yang paling berarti di hidup gue, Mar!"
"Lo sendiri tau, gue suka sama Senja dari awal kita masuk SMA Gerhana. Tapi gue tepis semua perasaan gue dan percaya dengan semua kebohongan lo! Disaat gue mulai kembali sama perasaan gue, lo lagi-lagi buat gue benci sama Senja. Dan sampai akhirnya rasa benci itu tertanam makin besar."
"Gue gak pernah sadar, secara gak langsung, Senja selalu ada buat gue. Dan bodohnya gue, gue malah abai in Senja. Semua itu karena gue percaya sama lo! Dan disaat hubungan gue sama Senja membaik, lo kembali buat kita saling jauh, Mar! Gue gak pernah berpikir kalau lo bakal hancurin gue segitunya. Lo buat gue benci sama orang yang gue cinta, dan gue hampir kehilangan orang yang udah berjuang buat gue terlepas dari masa lalu buruk gue."
"Sa, gue minta maaf. Gue benar-benar minta maaf sama lo. Gue... hiks... gue ngelakuin itu semua karena gue takut, Sa. Gue takut gue bakal kehilangan lo...."
"Bukan gitu caranya, Mar!" balas Aksa. Cowok itu menarik nafasnya panjang. "Gue tau ucapan gue nyakitin. Perbuatan lo gak mudah dimaafin. Jadiin itu pelajaran," ucap Aksa, kemudian berjalan meninggalkan Amara sendiri.
Amara terdiam dengan air mata yang menetes. Ini memang salahnya. Dia harus menerimanya. Amara mengusap air matanya kasar, kemudin melangkah kembali ke ruangan Senja. Walaupun tidak ada yang menyukai dia berada di ruangan tersebut kecuali Senja, dia akan tetap kembali ke ruangan itu. Dia akan menebus kesalahannya pada Senja.
***
Ruangan Senja terasa hangat dipenuhi candaan yang di lontarkan Tama. Laki-laki itu datang bersama Manda dan Chesie. Wajah tegang Chesie juga sedikit lebih relaks ketika tahu, tidak ada Aldi disana. Hanya ada sahabat-sahabat Senja disana.
"Lo kenapa diam aja dari tadi?" tanya Chesie pada Amara yang sejak tadi hanya berdiri diam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Chesie satu-satunya orang yang tidak tahu seperti apa wajah Amara. Dia hanya tahu perlakuan Amara pada Senja.
Amara hanya diam tak menjawab. Itulah yang dilakukannya sejak tadi. Dia hanya akan berbicara jika Senja mengajaknya bicara.
"Gak usah ngomong sama dia, Kak. Dia bisu," sarkas Arhez.
"Hez! Lo keterlaluan," tegur Senja.
"Dia itu Amara. Kalau Kak Ches gak ingat siapa Amara, biar gue jel—"
"Udah, Ra. Gue ingat Amara."
Amara menunduk. Ternyata dia begitu dikenali oleh teman-teman Senja. Sudah pasti ia dikenal mereka karena perbuatan buruknya. Dan sekarang, dia merasa berada di lingkungan yang salah.
"Ra, bisa gak sih gak usah ungkit-ungkit. Amara juga manusia yang bisa aja buat kesalahan. Jangan terus-terus buat dia merasa bersalah," ucap Senja.
"Iya, Ra. Gue setu—"
"Diam Tama!!" tegas Rara dan Manda bersamaan, membuat Tama langsung diam.
"Mar, lo jangan marah ya sama teman-taman gue. Gue minta maaf atas nama mereka. Gue minta maaf karena udah buat lo gak nyaman."
"Gak papa, Nja. Gue pantes dapat ini semua," jawab Amara.
Chesie yang tadi berdiri di dekat Amara melirik gadis itu. Dia bisa merasakan kesedihan Amara. Entah kenapa, ia merasa gadis itu tidak sejahat yang terlihat.
Decitan pintu yang terbuka membuat semua menoleh. Aldi tersenyum pada Senja kemudian menatap satu persatu yang ada di ruangan tersebut. Dia cukup terkejut melihat Amara di ruangan adiknya. Tapi, keterkejutannya hanya sejenak. Tatapannya malah terpaku pada Chesie yang berdiri di dekat Amara.
"Abang kemana aja? Katanya pergi sebentar. Tapi lama benget pulangnya."
Aldi tersenyum. Ia mengusap lembut rambut Senja. "Abang ada keperluan penting banget. Abang kira bentar doang, tapi ternyata lama," ucap Aldi. Senja mengangguk dengan wajah yang sedikit di tekuk. Membuat Aldi terkekeh pelan. Interaksi kakak adik itu tak lepas dari perhatian semua yang ada di ruangan tersebut.
"Jangan ngambek, dong. Abang ada kejutan buat kamu."
"Kejutan?"
"Iya," balas Aldi. "Sekarang, kamu tutup mata."
"Ya udah, Senja tutup mata. Awas ya, kalau Abang bohong."
"Enggak."
Senja mulai menutup matanya. Aldi juga turut menutup mata gadis itu dengan telapaknya. Dia kemudian memberi isyarat pada Arhez untuk memanggil seseorang yang berada di luar.
Cowok itu menurut. Tiba di luar, dia bertemu dengan dua orang yang tak dia kenal. Mungkin, itu kerabat Senja dan Aldi, pikir Arhez.
"Om, Tante, ayo masuk! Senja udah tungguin."
Kedua orang itu segera mengikuti Arhez. Si laki-laki berjalan masuk sambil mendorong kursi roda si perempuan. Kedatangan kedua orang itu membuat tiap orang di ruangan itu penasaran, kecuali Aldi dan Chesie. Ya, Chesie mengenali dua orang itu. Dan ia harap, mereka tidak menyadari kehadirannya di ruangan tersebut.
"Abang, udah?"
"Iya." Aldi melepaskan tangannya dari mata Senja. "Sekarang buka mata kamu." Senja menurut. Perlahan, ia membuka matanya.
Deg!!
"Mama.... Papa..." lirih Senja. Air matanya menetes seketika. Rasanya ia sangat bahagia. Namun, ia tidak tahu harus berkata apa. Yang mampu ia lakukan hanya mengulurkan tangannya, meminta agar Papanya atau mamanya mendekat dan memeluknya.
Randa mendorong kursi roda Mila, istrinya, agar lebih dekat pada Senja. Senja langsung menunduk memeluk leher mamanya.
"Hiks.... Senja senang banget. Senja kangen sama Mama," ucap gadis itu, memeluk erat mamanya.
"Mama juga kangen Senja. Maafin mama ya, gak bisa jagain kamu. Gak bisa bareng kamu."
"Hiks.... Gak apa-apa, Ma. Mama ada di sini, udah obatin semua rindu Senja. Senja senang banget, Ma."
Senja melepas pelukannya pada sang mama, lalu beralih memeluk sang papa. "Senja juga kangen banget sama Papa.... Hiks.... Hampir tiap hari Senja terus kirim pesan buat mama sama papa."
"Papa juga rindu sama Senja, sama Abang. Maafin Papa sama Mama yang gak pernah ada waktu buat kalian. Maafin Papa sama Mama ya?"
Senja mengangguk dalam pelukan Papanya. "Senja sayang sama Papa Mama."
"Papa juga sayang banget sama Senja, sama Abang juga," ucap Randa. Laki-laki itu menarik Aldi, sehingga bergabung dalam pelukan hangat itu. Mila juga ikut masuk dalam pelukan. Dia bersyukur, Tuhan masih memberinya dan sang suami kesempatan hidup dan bertemu anak-anak mereka. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.