Aksarasenja

Aksarasenja
Salah Paham



Aksa sengaja datang lebih pagi dari biasanya dan tetap bertahan di parkiran sekolah, menunggu Senja. Sejak kemarin, gadis itu terus menghindar darinya, padahal paginya mereka masih baik-baik saja. Dia tidak ingin hubungan baik mereka rusak tanpa alasan yang jelas.


Aksa menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di motor, ketika melihat Senja memasuki gerbang sekolah menggunakan motor matic kesayangannya.


"Motornya udah dibenerin," gumam Aksa.


Aksa segera menghampiri Senja yang sedang memarkirkan motornya.


"Nja, gue mau bicara," ucap Aksa.


Senja tak menjawab. Gadis itu malah fokus membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan saat ia melepas helmnya.


"Senja."


Senja menarik nafasnya lalu menatap Aksa. "Mau ngomong apa?"


"Gak di sini." Aksa langsung menarik tangan Senja menjauh dari parkiran. Cowok itu membawa Senja menuju taman sekolah.


"Lo kenapa?"


"Aku? Nggak kenapa-kenapa," jawab Senja.


"Jangan bohong, Nja. Lo ngehindarin gue dari kemarin siang."


Senja menarik nafasnya panjang. Cewek itu mengulas senyum tipis meski hatinya kembali sakit saat mengingat ucapan dan juga vidio yang Amara tunjukkan kemarin.


"Senja?"


"Kemarin kamu habisin bekalnya?" tanya Senja. Dia tidak mungkin langsung mengatakan pada Aksa sesuai yang Amara katakan.


"Maaf, kemarin gue gak habisin bekalnya. Bekalnya jatuh gara-gara ditabrak Jafar. Jafar gak sengaja, dia didorong Amara dan malah nabrak gue. Makanannya tumpah. Tapi, makanannya gue pungut dan buang di tempat sampah. Nanti gue ganti tempat bekalnya."


Senja terdiam. Dia ternyata sudah salah paham pada Aksa. Dia tidak sadar, jika Amara hanya mengatakan kebohongan padanya.


"Kenapa?"


Senja menggeleng. Walaupun hubungannya dengan Amara tidak baik, dia tidak akan menghancurkan hubungan Aksa dan Amara, dan membuat Aksa membenci cewek itu dengan menceritakan semua yang diberitahu Amara padanya.


"Jangan bohong, Nja."


"Aku kemarin sempet liat kamu buang bekal yang aku kasi. Aku salah paham. Aku pikir kamu gak suka—"


"Maaf," potong Aksa cepat, membuat Senja menatap wajahnya.


"Bukan salah kamu. Aku yang salah paham."


"Tetap aja, gue yang buat lo salah paham. Seharusnya gue ngomong sama lo."


"Ya udah. Aku juga minta maaf," ucap Senja, sambil tersenyum tipis. Membuat Aksa langsung mengacak pelan rambutnya.


"Iiihh... rambut aku berantakan, Zay."


Aksa tersenyum. Dengan begitu lembut, ia kembali merapihkan rambut Senja. Cowok itu berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Senja. "Ayo, ke kelas."


Senja menatap tangan Aksa, kemudian menepisnya pelan. "Gak usah digandeng," ucap Senja seraya berdiri.


Kening Aksa mengerut. "Kenapa emangnya?"


"Kamu emangnya gak tau? Hampir satu sekolahan ngomongin kita." Gadis itu melangkah pelan, diikuti Aksa yang berjalan disampingnya.


"Omongin gimana?" tanya Aksa. Dia bukannya tidak tahu jika sebagian besar siswa siswi di sekolah mereka membicarakan dirinya dan Senja. Bahkan ia juga tahu jika mereka juga membicarakan tentang Senja dan Arhez. Tapi, dia ingin mendengar Senja bercerita padanya. Sejak mereka dekat, Senja jarang sekali bercerita tentang dirinya.


"Ya... gitu. Kamu tahu kan, gak semua orang suka sama kita. Ada yang gak masalah kita deket, ada yang benci."


"Bukannya ada yang bilang kita pacaran?"


Sontak Senja menoleh menatap Aksa. Pipinya sedikit memerah, dan gadis itu salah tingkah. Aksa yang melihatnya mengulum senyum. Senja terlihat menggemaskan.


"Kam-kamu tau, kenapa malah nanya lagi?"


"Gue ngetes lo, jujur apa nggak. Ternyata gak jujur."


"Eh, aku jujur ya."


"Jujur dari mana nya?"


"Itu, kan aku bilang ada yang gak masalah kita deket. Itu termasuk ada yang dukung kita pacaran,"


"Ya udah, kita pacaran."


Deg!


Senja menghentikan langkahnya. Matanya sedikit melotot menatap Aksa.


"Jangan aneh-aneh!" ucap Senja kemudian langsung berjalan meninggalkan Aksa.


Aksa sedikit terkekeh melihat Senja salah tingkah. Tapi, ucapannya barusan tidak main-main. Dia benar-benar ingin Senja menjadi pacarnya.


Tatapan Aksa tak sedikitpun berpindah dari Senja yang berjalan cepat meninggalkannya. Hingga tepat saat Senja menghilang dibalik lorong kelas, seseorang memanggilnya.


"Aksa!"


Amara dengan senyum lebar mendekati Aksa. Namun, dalam hatinya begitu kesal saat mengingat Aksa bersama Senja tadi. Ya, dia melihat semuanya. Dan lagi, ia gagal membuat dua orang itu saling salah paham.


"Mau ke kelas kan?"


"Hmm...." Aksa hanya berdehem menjawab pertanyaan Amara. Keduanya lalu berjalan bersama.


"Pulang sekolah, aku bareng kamu, boleh?"


Aksa tak menjawab. Sejak tadi, ia sudah berpikir akan mengantar Senja ketika pulang sekolah nanti.


"Gak bisa, Mar."


Amara tersenyum. Senyum yang begitu di paksakan. "Ooh," jawabnya. "Mau anterin Senja?" lanjut Amara yang hanya dibalas anggukkan kecil Aksa.


Amara berdecak dalam hati. Setelah itu, tidak ada perbincangan lagi di antara mereka hingga tiba di kelas.


***


Setelah memarkirkan motornya di garasi, Aksa bergegas menuju pintu. Namun, belum sempat tangannya mambuka pintu, bunyi bel pagar rumahnya terdengar. Cowok itu segera berbalik dan mendapati sang Mama, Ratna, berdiri di depan pagar. Di belakangnya, ada sebuah mobil yang sepertinya mobil milik sang Mama.


Dari hari dimana ia mulai menerima kembali Mamanya, wanita itu terus mengunjunginya. Wanita itu sepertinya lupa dengan apa yang dikatakan Aksa ketika di restoran. Bahkan, senyum di wajah itu tak pernah luntur meski Aksa jarang meresponnya.


Aksa menarik nafas pelan. Dengan langkah santai, cowok itu berjalan menuju pagar dan membukakan pintu pagar.


"Nak," sapa Ratna, lalu mengusap pelan rambut Aksa. Satu kemajuan. Jika di awal, Aksa selalu menghindar ketika Ratna hendak mengusap kepalanya, sekarang cowok itu membiarkannya.


Aksa kembali menutup pintu pagar, lalu melangkah bersama sang mama.


"Mama bawain makanan. Mama siapin, ya?"


"Hmm." Aksa berdehem, kemudian berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Ratna hanya memandang punggung lebar putranya. Setelah itu, ia mengalihkan tatapannya, menatap seisi rumah yang dulunya menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami dan kedua anaknya.


Tak terasa, air mata wanita itu menetes. Seandainya kejadian buruk itu tidak terjadi, ia mungkin masih berkumpul bersama keluarga kecilnya. Ia tidak akan menolak untuk menemani detik-detik terakhir putrinya sebelum pergi untuk selamanya.


"Ekhm!"


Deheman Aksa membuat Ratna terkesiap. Wanita itu dengan cepat mengusap air matanya, kemudian menatap Aksa.


"Nak," ucapnya sambil tersenyum.


Aksa balas menatap wanita itu. Ia tahu, Mamanya menangis. Terbesit rasa ingin memeluk wanita itu, namun egonya terlalu tinggi untuk melakukannya.


"Ayo, ke ruang makan. Mama siapin makanannya buat kamu." Ratna langsung bergegas menuju dapur, lalu menyiapkan makanan yang dibawanya untuk Aksa.


Dia juga menyendokkan makanan yang ia sajikan ke piring sang putra. Bahkan, Aksa yang sedang makan pun tak lepas dari pandangannya.


Mama harap, Mama sama kamu bisa lebih dekat lagi, Aksara. Batin Ratna.


Setelah menyudahi makannya, Aksa bergegas mengangkat piring kotornya dan membawanya menuju wastafel. Cowok itu mencuci bekas makannya.


Ratna hendak melarang, namun ia urungkan. Tapi, saat Aksa akan membersihkan meja makan, ia benar-benar melarangnya.


"Biar Mama saja," ucap Ratna.


Aksa tak melawan. Ia membiarkan sang Mama yang membersihkan meja makan. Setelah selesai, mereka sama-sama menuju ruang keluarga dan duduk disana.


Awalnya Aksa menolak. Namun, Ratna tetap kekeh membujuknya, mengatakan jika ia ingin membicarakan sesuatu. Dan pada akhirnya, Aksa menyetujui permintaan sang mama.


"Gimana sama sekolah kamu?" tanya Ratna.


"Baik," balas Aksa.


"Hubungan kamu sama Arhez?"


"Kalau nggak ada yang penting, Aksa mau istirahat."


Ratna tersenyum mendengarnya. Walaupun dia ingin kedua anaknya itu berhubungan baik, tetap saja ia tidak bisa memaksakan mereka.


"Maaf, Mama buat kamu gak nyaman," ucap Ratna. "Mama mau minta sesuatu sama kamu," lanjutnya. Aksa tak menanggapi ucapan sang Mama. Wajahnya terlihat dingin.


"Mama... Boleh ketemu papa kamu?"


Pertanyaan Ratna sontak membuat Aksa menatapnya tajam. Wajah dinginnya terlihat tak bersahabat. Namun, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak meneriaki sang Mama.


Melihat reaksi Aksa, Ratna menjadi gugup. Jujur, dia tidak berniat apa-apa. Dia hanya ingin bertemu mantan suaminya itu. Terakhir kali, mereka bertemu saat sidang perceraian mereka. Setelah itu, tidak ada kabar lagi mengenai sang mantan suami.


"Kamu jangan salah paham dulu. Mama ingin minta maaf pada papa kamu. Mama mau menjelaskan beberapa hal yang papa kamu nggak ketahui," ucap Ratna. Ya, perceraian antara ia dan Herman berjalan baik.


Herman juga tak menyulitkan maupun menyudutkannya. Laki-laki itu menerima semua keputusan yang Ratna buat dengan tangan terbuka.


Aksa menarik nafasnya dalam. Selama ini, papanya tidak pernah membicarakan mengenai mamanya. Entah karena papanya marah atau sedang berusaha melupakan mamanya, Aksa juga tidak tahu. Yang jelas, ia takut papanya drop saat bertemu kembali dengan Mamanya.


"Aksa gak bisa bolehin tanpa persetujuan papa," ucapnya. "Aksa bakal minta izin papa dulu."


Ratna tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Nak."


"Ya," balas Aksa.