Aksarasenja

Aksarasenja
Zayyan Gak Sejahat Yang Abang Lihat!



Senja terduduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Begitu juga dengan Rara yang ikut gelisah melihat Senja gelisah. Keduanya mengkhawatirkan Aldi yang masih belum kembali.


"Ya Allah, abang. Abang kemana sih? Ini udah jam dua belas lewat. Kenapa masih belum pulang?" gumam Senja.


"Lo emangnya gak tau bang Aldi kemana, Nja?"


"Enggak, Ra. Bang Aldi gak ngomong dia mau kemana."


Bi Haya datang sembari membawa dua gelas air. Wanita itu juga tidak bisa memejamkan matanya. Ia ikut khawatir dengan Aldi yang belum pulang sejak tadi.


"Minum dulu, Non Senja, Nak Rara."


Senja dan Rara mengangguk. Kedua gadis itu meraih gelas tersebut dan meneguk airnya.


"Non Senja udah coba nelpon?"


"Udah Bi. Tapi nomornya gak aktif."


"Lo punya nomor temannya bang Aldi?" tanya Rara dan dijawab dengan gelengan oleh Senja.


"Gue gak—"


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu rumah membuat ketiga perempuan itu menoleh. Senja bergegas cepat menuju pintu dan membukanya.


"Abang," ucap Senja dan langsung memeluk Aldi. Ya, yang mengetuk pintu tersebut adalah Aldi.


Aldi balas memeluknya. Senja selalu sama, selalu mengkhawatirkan dirinya. Rara dan Bi Haya yang melihatnya pun bernafas lega.


"Abang kemana aja? Kenapa baru pulang sekarang?"


"Maafin abang."


"Senja khawatir."


"Masuk dulu, ya? Nanti abang ceritain semuanya."


Senja mengangguk pelan. Ia melepaskan pelukannya, kemudian berjalan bersama Aldi memasuki rumah tersebut. Aldi menatap Bi Haya dan juga Rara, kemudian tersenyum pada keduanya.


"Saya minta maaf sudah buat kalian khawatir," ucapnya.


Bi Haya mengangguk, begitu juga dengan Rara. Mereka kemudian duduk bersama bersiap mendengar cerita Aldi. Cowok itu hanya menceritakan tentang dirinya dan Tama yang membantu polisi menangkap para penjahat itu. Sementara sisanya, ia hanya akan menceritakan pada Senja nanti.


***


Senja dan Rara sudah siap dengan seragam masing-masing. Keduanya sarapan bersama, lalu berangkat bersama juga menuju sekolah. Aldi ingin mengantar, namun ia harus menyelesaikan urusannya semalam.


Tiba di parkiran sekolah, Senja disambut dengan senyuman tampan Aksa. Cowok itu datang lebih pagi, dan sengaja menunggu Senja di parkiran.


"Ra, lo duluan aja. Gue mau ngomong sama Senja," ucap Aksa tanpa menatap Rara.


"Pagi-pagi udah mau ngobrol?"


Wajah Aksa langsung berubah dingin mendengar ucapan Rara. Membuat gadis itu mendengus pelan, kemudian berjalan meninggalkan Senja dan Aksa.


"Rara ngambek," ucap Senja.


"Biarin. Gue mau ngomong sama lo, bentar."


Tanpa menunggu jawaban Senja, Aksa langsung menarik lembut tangan gadis itu. Taman sekolah lagi-lagi menjadi pilihan Aksa untuk berbicara dengan Senja.


"Mau ngomong apa?" tanya Senja ketika keduanya sudah duduk di kursi panjang yang tersedia di taman.


"Hubungan gue sama mama udah membaik."


Senja tersenyum. Ia senang mendengar kabar baik itu. "Alhamdulillah, aku seneng denger nya. Terus, kamu sama Arhez? Om Hengky?"


Aksa menarik nafasnya. "Gue lagi berusaha menerima mereka sebagai keluarga."


"Makasih Zay, udah beritahu aku berita baik ini. Aku bener-bener seneng banget dengernya."


Aksa ikut tersenyum melihat Senja tersenyum. Entahlah, senyum gadis itu begitu meluluhkan hatinya dan membuat jantungnya berdetak cepat. Dan Aksa, ia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mencubit pipi gadis itu.


Apa yang lo pikirin, Sa! batin cowok itu.


"Gue juga mau bawa mama sama keluarga barunya buat ketemu papa. Mama sendiri yang minta. Dan papa, dia izinin mereka datang waktu gue membicarakan hal itu dengannya."


"Kamu serius?"


"Iya."


Aksa tersenyum tipis kemudian mengusap pelan kepala Senja. "Nanti ikut ya, ke rumah papa."


"Kapan?"


"Besok, pulang sekolah." Senja mengangguk dengan senyum manis yang terus terukir di bibirnya.


Sementara itu, dari kejauhan Amara menatap Aksa dan Senja dengan perasaan kesal. Melihat keduanya semakin dekat membuatnya semakin membenci Senja. Gadis itu mendengus pelan kemudian berbalik.


Deg!


Amara terdiam ketika matanya bertemu dengan mata tajam Arhez yang kini menatapnya. Jantungnya kembali berdetak cepat, sama seperti saat Arhez menyelamatkan dia dari preman waktu itu.


Arhez mendekat, lalu berhenti tepat di sebelah Amara. "Kalau sampai lo macam-macam sama Senja, lo gak akan lepas dari gue!" bisik Arhez kemudian melanjutkan jalannya.


Amara terdiam. Entah kenapa, ucapan Arhez membuatnya sedih.


"Senja. Semua ini karena Senja," gumamnya, menyalahkan Senja atas ancaman yang Arhez berikan padanya.


***


Kehadiran Aldi di sekitaran sekolah Senja menarik perhatian banyak siswa dan siswi yang baru saja pulang. Cowok itu berdiri bersandar di mobilnya sambil memainkan handphonenya. Dia datang untuk menjemput Senja.


"Ya Allah, calon suami gue datang, Nja!" ucap Rara heboh. Gadis itu mengabaikan tatapan Aksa, Arhez, Bagas, Jafar, Dean dan Roni, yang menatap aneh dirinya yang sedang kegirangan melihat Aldi di depan gerbang sekolah. Sementara Senja dan Parto, dua orang itu sudah biasa melihat kelakuan luar biasa Rara.


"Gue tau, Abang gue ganteng. Lo gak usah ngaku-ngaku jadi calon istrinya," ucap Senja.


"Ck. Siapa yang bilang gue calon istrinya sih?"


"Ya, lo yang bilang. Kata lo, bang Aldi calon suami lo. Berarti lo calon istrinya," celetuk Parto.


"Idih, sok tau! Tapi, gak papa deh lo berdua anggap gue calon istrinya bang Aldi. Berarti gue didukung sama kalian." Sontak ucapan Rara membuat Senja menarik nafas lalu membuangnya. Sementara Parto, ia memutar bola matanya jengah.


"Iya in aja, To," ucap Senja, tidak tahu harus menjawab apa ucapan Rara barusan. "Ya udah, gue duluan ya," lanjut Senja, berpamitan pada teman-temannya itu. Semuanya mengangguk, termasuk Aksa dan Arhez.


"Hati-hati," ucap Aksa dan Arhez bersamaan, membuat Senja terkekeh pelan.


Setelah itu, Senja benar-benar berlalu menghampiri abangnya yang kini menatap ke arahnya. Dengan senyum yang merekah, Senja meraih tangan sang Abang dan menciumnya.


"Dia siapa? Kok Senja pake cium tangan segala?"


"Gak tau."


"Kayaknya dia yang waktu itu jemput Senja. Tapi, gue gak yakin. Soalnya waktu itu pake helm, gak keliatan mukanya."


Senja mengabaikan perkataan-perkataan itu. Ia memasuki mobil setelah Aldi membukakan pintu mobil untuknya. Setelah itu mobil melaju meninggalkan sekolah.


"Abang mau ajak kamu jalan-jalan, mau gak?"


Senja menoleh kemudian mengangguk. "Mau. Kemana?"


"Kali ini, kamu yang pilih tempatnya."


"Ya udah, Senja mau ke cafe outdoor yang ada di jalan LS, terus main ke aquarium di mall NS."


"Boleh. Tapi, kamu harus ingat pesan dokter Rahila."


"Iya. Maka nya Senja milih cafe itu. Di sana ada makanan yang aman dikonsumsi Senja."


Aldi tersenyum. Ia mengulurkan sebelah tangannya kemudian mengusap lembut kepala Senja.


"Oh ya, Abang."


"Hmm?" Aldi menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada jalanan.


"Abang kenapa gak suka sama Zayyan sama Arhez?"


Wajah Aldi berubah datar mendengar mana Aksa dan Arhez disebut Senja. "Abang gak suka kamu dikasarin si Aksa."


"Sekarang Zayyan udah berubah, Abang. Zayyan baik banget sama Senja. Dulu dia kayak gitu karena risih sama Senja. Senja yang salah karena terus ganggu Zayyan."


"Tetap aja, dia gak harus kasarin kamu."


"Abang, Zayyan gak sejahat yang Abang liat! Hidup Zayyan gak seberuntung kita, Bang."


"Jalan hidup gak semuanya sesuai yang kita mau. Seharusnya dia gak jadiin itu alasan."


"Abang juga jadiin masalah hidup Abang sebagai alasan. Dan sampai sekarang, Senja gak tau masalah apa yang sampai buat Abang bersikap buruk sama Senja." Ucapan tersebut keluar begitu saja dari mulut Senja. Membuat Aldi terdiam, sadar akan kesalahannya.


Sadar akan apa yang ia katakan, Senja menutup mulutnya. Ia tidak bermaksud menyinggung Abangnya. "Maaf.... Senja gak bermaksud nyakitin perasaan Abang...."