
Aksa menatap beberapa foto Senja yang beberapa hari ini ia ambil diam-diam di sekolah maupun di saat mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Senyum tipis menghiasi wajah dingin namun terlihat tampan itu.
Semenjak ia dan Senja berbaikan, ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Sebagian beban yang disimpannya menghilang. Hari-hari nya menjadi lebih baik.
Ibu jarinya terus menggeser layar handphone, hingga berhenti tepat pada foto Senja yang diambil diam-diam oleh Jafar saat pesta ulang tahun papa Arhez. Senja benar-benar sangat cantik malam itu. Tapi, Aksa tidak seberuntung yang lain, yang bisa melihat Senja secara langsung.
Dan tanpa Aksa sadari, sejak tadi Bagas dan Jafar terus memperhatikannya. Dua cowok itu bahkan mengintip apa yang sedang Aksa lihat dari arah belakang Aksa.
"Ekhm! Yang fotoin cewek diam-diam, keliatannya seneng banget," celetuk Bagas yang sontak membuat Aksa berdecak tak suka. Cowok itu berbalik, lalu menatap kedua sahabatnya yang sepertinya sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Lo berdua mau gue usir?" tanya Aksa dengan raut tenang, namun begitu dingin.
"Hehehe... Santai, Sa. Kita berdua cuman bercanda," ucap Jafar sambil menyengir.
Dua orang itu sedang berada di rumah Aksa. Keduanya berencana akan belajar dan bermalam di rumah Aksa. Kalau pun Aksa akan mengusir mereka, setidaknya mereka habiskan dulu makanan yang tersisa.
Aksa kembali berdecak. Ia berbalik, lalu memperbaiki duduknya, kemudian meraih salah satu buku. Bagas dan Jafar yang melihatnya pun segera duduk di dekat Aksa.
"Lo suka sama Senja, Sa?" tanya Bagas yang mendapat pelototan Jafar. Cowok itu cukup takut kalau emosi Aksa terpancing oleh ucapan Bagas.
Aksa melirik Bagas sekilas, kemudian kembali fokus pada buku yang dipegangnya.
"Kalau suka, ngomong aja sama Senja, Sa. Bisa-bisa lo keduluan Arhez."
"Mulut lo bisa diem gak sih!" kesal Jafar pada Bagas. Namun, ucapan Jafar diacuhkan Bagas.
"Gue gak yakin Senja mau," ujar Aksa, tapi matanya masih fokus pada buku.
Bagas tersenyum mendengar jawaban Aksa. Sementara Jafar, cowok itu menghembuskan nafas lega. Ternyata Aksa tidak terpancing emosinya.
"Belum lo coba. Kenapa langsung gak yakin?"
"Gue sadar, Gas. Gue selama ini kasar sama Senja. Gue gak baik sama dia."
"Nah, itu yang harus lo perbaiki, Sa." Bukan Bagas yang menjawab, tapi Jafar. "Lo harus bisa dapatin hati dan cinta Senja. Cewek sebaik Senja nggak boleh lo lepasin, Sa." Cowok itu mengatakan dengan menggebu-gebu.
"Ck. Tadi aja lo ketakutan. Sekarang hebohnya minta ampun," celetuk Bagas. "Tapi, gue setuju sih sama ucapan lo."
"Gue senang banget dengar Aksa ngerespon lo. Gue bakal dukung lo terus, Sa." Jafar menepuk-nepuk pelan bahu Aksa.
Aksa mengulas senyum tipis. Ia akan memiliki Senja. Dia tidak akan membiarkan orang berharga di hidupnya pergi lagi.
***
Sesuai tekadnya yang ingin Senja terus berada di sisinya, Aksa akan sebisa mungkin berusaha membuat Senja nyaman dengannya.
"Lo sukanya makan apa?" tanya Aksa. Cowok itu sedang membonceng Senja. Aksa kembali mengajak Senja pulang sekolah bersamanya.
"Nasi goreng buatan bang Aldi," ucap Senja dengan sedikit senyuman. Aksa bisa melihatnya dari spion motornya.
"Kalau gue buatin buat lo, gimana?"
"Emang bisa?"
"Bisa."
"Boleh. Buat dimana?"
"Rumah gue."
Senja terdiam sejenak saat mendengar jawaban Aksa. Tak mendengar jawaban Senja, Aksa kembali meliriknya dari spion motor.
"Kenapa? Gak mau ke rumah gue? Atau, mau di rumah lo aja? Tapi, lo nggak boleh ngusir gue kalau bang Aldi marah-marah ke gue."
Senja terkekeh pelan di belakang Aksa. Ia tak menyangka, seorang Aksara Zayyan sekarang sudah banyak omong dibanding Aksara Zayyan yang dulu.
"Sekarang kamu banyak omong, ya? Gak kayak dulu, banyak diam nya."
"Gue kayak gini cuman sama lo."
Senja tak membalas. Namun, senyum di wajahnya tak sedikitpun menghilang.
"Gimana? Jadinya di rumah gue atau lo?"
"Di rumah kamu aja."
Aksa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika ia menyetujui ucapan Senja. Cowok itu melajukan motornya sedikit lebih kencang. Membuat Senja tanpa sengaja memegang erat kedua sisi seragamnya.
Setelah beberpa menit, kedua remaja itu memasuki komplek perumahan yang ditinggali Aksa. Namun, ekspresi wajah Aksa langsung berubah dingin saat berada tepat di depan gerbang rumahnya.
Dari sana, ia bisa melihat Ratna duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.
"Biar aku yang buka—"
"Sini, gue lepasin helmnya," ucap Aksa pada Senja setelah turun dari motor.
Senja tak melawan. Ia membiarkan Aksa melepas kaitan helmnya, meski dalam hatinya merasa tak enak pada Ratna yang berdiri menatap mereka. Aksa seolah tidak menganggap ada Ratna disana.
"Aksa Mama—"
"Gue tutup pagar dulu," ucap Aksa, memotong ucapan sang Mama. Cowok itu dengan santainya melenggang menuju pagar rumah setelah meletakkan helm Senja dan helmnya.
"Tante, maafin Zayyan, Tan. Zayyan begitu cuman karena belum bisa nerima semua yang terjadi dalam hidupnya."
Ratna tersenyum tipis pada Senja. "Nggak apa-apa, Nak. Bisa liat wajah Aksa dari dekat aja, Tante udah senang banget."
Aksa kembali mendekati Senja setelah menutup pintu pagar. Cowok itu meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat.
"Ayo!" ajaknya, menarik pelan tangan Senja.
"Aksa, Mama mau bicara sama kamu," ucap Ratna, menghalangi jalan Aksa dan Senja.
"Gak ada yang perlu diomongin." Aksa kembali menarik Senja. Namun, Senja diam mematung tak berniat mengikuti Aksa. Membuat cowok itu ikut terhenti, kemudian berbalik menatap Senja.
"Kenapa?"
"Aku nggak akan ikut kamu kalau kamu nggak kasi kesempatan buat Tante ngomong."
"Nja —"
"Sampai kapan, Zay? Sampai kapan kamu terus bersikap seperti ini sama Tante? Tante Ratna Mama kamu, Zay. Dia tersiksa setiap kali kamu abaikan dia. Kasi dia satu kesempatan buat ngejelasin semuanya sama kamu."
"Maaf, Nja." Tanpa peduli dengan ucapan Senja, Aksa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Senja, lantas berjalan masuk, meninggalkan dua wanita beda usia itu.
"Tante—"
"Nggak apa-apa, Senja. Kamu tolong perhatiin Aksa, ya? Tenangin dia. Tante mau pamit dulu."
Senja mengangguk. "Iya. Tante hati-hati," ucap Senja yang dibalas anggukkan oleh Ratna.
Setelah Ratna pergi, Senja baru menghampiri Aksa. Langkahnya pelan menuju sofa ruang tengah, saat mendapati Aksa duduk disana sambil menopang kepalanya yang tertunduk dengan menggunakan kedua tangannya.
Senja mengambil tempat tepat di sebelah Aksa, sedikit memberi jarak diantara mereka.
"Kamu kenapa?" tanya Senja, namun tak mendapat jawaban dari Aksa.
Senja menarik nafasnya. "Maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan kamu sama tante Ratna. Tapi, aku takut suatu saat nanti kamu nyesal, Za— maksud aku Aksa."
"Maaf tadi aku kelepasan panggil kamu Zayyan," lanjut Senja.
Aksa mendongakan wajahnya menatap Senja. Cowok itu tersenyum tipis. "Gak papa."
"Maksudnya?"
"Gak papa panggil gue Zayyan. Sekarang gue bolehin lo panggil Zayyan," ucap Aksa, masih dengan tersenyum tipis.
Senyum langsung terukir di bibir Senja setelah mendengarnya. Membuat lesung di kedua pipinya napak semakin jelas.
"Beneran?"
"Hmm."
"Makasih," ucap Senja ceria. Entah mengapa, rasanya ia sangat bahagia.
Aksa terus menatap wajah cantik berlesung pipi itu. Hatinya menghangat. Jantungnya berdegup cepat. Namun, ia tetap tenang seperti biasanya.
"Ada satu syarat," kata Aksa tiba-tiba, membuat Senja menghentikan senyumnya.
"Apa?"
"Lo harus janji, gak akan tinggalin gue, Nja."
Senja kembali menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Gadis itu mengulurkan jari kelingkingnya pada Aksa. "Janji gak bakal tinggalin kamu," ucap Senja.
Aksa mengangkat tangannya, lalu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Senja. "Lo udah janji, gak boleh ingkar."
Senja mengangguk. "Ya udah. Sebagai tanda terima kasih, biar aku aja yang masakin. Kamu ganti baju gih!" seru Senja.
"Gak. Biar gue yang masak. Lo tinggal duduk manis, dan cobain masakan gue nanti."
"Gak apa-ap—"
"Stt... Gak boleh bantah, Senja. Okey?"
Setelah mengatakan itu, Aksa beranjak dari duduknya, bergegas menuju kamarnya. Cowok itu meninggalkan Senja yang mematung, masih tak percaya dengan Aksa yang menghentikan ucapannya dengan menempelkan jarinya ke bibir Senja, dan mengusap lembut kepala Senja sebelum beranjak menuju kamar.