Aksarasenja

Aksarasenja
Penyesalan Aldi



Aldi menarik kasar tangan Senja saat mereka tiba di rumah. Cowok itu dengan kasar menutup pintu rumah dan membawa Senja menuju ruang trngah.


"Abang, sakit," ucap Senja. Membuat Aldi melepas cengkramannya dengan kasar.


"Lo jadi adek, bisa nggak sih nurut? Lo kerja? Buat apa? Hah? Buat bayarin si brengsek Aksa supaya mau deketan sama lo!"


"Abang!! Abang gak behak ngomong kayak gitu tentang Aksa. Aksa bukan cowok murahan yang minta dibayar."


"Kalau Aksa gak kayak gitu, terus siapa? Lo? Lo yang—"


"Cukup! Abang tau gak, ucapan Abang nyakitin Senja?"


"Gue lebih sakit saat lo gak nurut apa kata gue!"


Senja mengusap air matanya. Dan tiba-tiba, ulu hatinya terasa sakit. Namun, sebisa mungkin ia mencoba menahannya.


Jangan sekarang Ya Allah, sakitnya. Batin Senja.


"Lo bisa nggak nurut apa kata gue! Gue gak suka lo keliaran di luar sana."


"Kenapa? Kenapa gak suka?" balas Senja, sembari menahan rasa sakit di ulu hatinya yang kian menjadi. "Abang malu kalau teman-teman abang tau, Senja adik Abang? Abang sadar gak, yang buat Senja gak betah di rumah itu Abang! Abang tiap hari ninggalin Senja sendiri di rumah. Bi Haya? Senja gak tega harus minta Bi Haya temani Senja, sementara dia kecapean seharian ngurusin rumah." Aldi terdiam membeku mendengar ucapan Senja. Kata-kata Senja telak mengena di hatinya.


Senja kembali mengusap air matanya. Rasa sakit di ulu hatinya semakin tak tertahan. Pandangannya pun mulai mengabur. Namun, Senja tetap berusaha bertahan dan mengungkapkan isi hatinya.


"Hiks... Senja cuma pengen Abang ada buat Senja. Gak tiap hari juga gak apa-apa. Senja cuman pengen abang ngeluangin waktu buat Senja. Cukup mama sama papa yang gak Senja tau kabarnya. Se-Senja cuman pengen Abang jadi Abang Senja yang dulu. Senja cuman pengen Bang Aldi yang dulu kembali. Se-Senja rin...."


Bruk!


Tubuh Senja ambruk sebelum menyelsaikan ucapannya. Aldi yang berdiri di dekatnya langsung menangkap tubuh gadis itu. Raut marahnya seketika berubah menjadi khawatir.


"Nja? Senja? Bangun," ucap Aldi sembari menepuk pelan pipi Senja.


Bi Haya yang sejak tadi memperhatikan dua saudara yang bertengkar itu, segera menghampiri. Dia juga sangat khawatir saat melihat Senja tiba-tiba pingsan.


"Senja!"


"Aden, Non Senja kenapa?" tanya Bi Haya.


"Saya nggak tau, Bi. Tolong siapin mobil, saya mau ke rumah sakit," ucap Aldi yang langsung diangguki Bi Haya.


Wanita paruh baya itu segera berlari menuju kamar Senja, mengambil kunci mobil Senja. Dia tidak berani memasuki kamar Aldi.


Semenetara di ruang tengah, Aldi menggendong Senja dan membawa gadis itu keluar rumah.


Bi Haya sedikit berlari menuju garasi. Wanita itu membuka pintu mobil dan membiarkan Aldi membaringkan Senja di jok belakang.


"Bibi tolong jagain rumah,"


"Iya, Den. Aden hati-hati," ucap Bi Haya sambil mengangguk.


Aldi segera memasuki mobil dan mengendarainya meninggalkan rumah. Laju kencang mobil Aldi mempersingkat waktu mereka untuk sampai di rumah sakit.


Aldi segera menggendong Senja keluar mobil saat tiba di rumah sakit.


"Sus, tolong periksa adik saya," ujar Aldi.


"Mari ikut saya."


Aldi segera mengikuti langkah si suster. Mereka memasuki ruangan UGD dan membaringkan Senja di brankar. Setelah itu, Aldi diminta untuk menunggu di luar.


Cowok itu tak membantah. Ia bergegas keluar dan menunggu di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut.


***


Tadi, setelah memeriksa Senja, dokter meminta Aldi untuk mengikutinya menuju ruangannya. Dia dokter Rahila, dokter yang menangani Senja. Dia benar-benar mengkhawatirkan pasiennya dan ingin yang terbaik untuk Senja. Karena itu, dia memilih untuk melanggar janjinya pada Senja dan memberitahu Aldi.


"Penyakit Senja sudah begitu serius. Kami sedang berusaha untuk mencari donor yang cocok dengan Senja," ucap dokter Rahila.


"Maaf jika saya baru memberitahu Anda sekarang. Seandainya saya ada saat Senja pingsan dan dibawa ke sini waktu itu, saya pasti akan memberitahu anda. Senja melarang saya memberitahu siapapun mengenai penyakitnya. Tapi, saya melanggar janji saya hari ini. Saya harap, pihak keluarga bisa membantu kami, pihak rumah sakit untuk mendapatkan pendonor untuk Senja."


"Saya bersedia mendonorkan hati saya untuk Senja, Dok."


Dokter Rahila terdiam, kemudian mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu."


Aldi segera melakukan pemeriksaan bersama dokter Rahila. Namun, sayang sekali. Hati Aldi tidak cocok dengan Senja.


Cowok itu berjalan gontai, keluar dari ruang pemeriksaan. Ia kembali membaca laporan kesehatan Senja. Dan tanpa terasa, air matanya menetes.


Aldi mengusap air matanya. Namun, tanpa diminta air mata itu kembali menetes. Ia terbayang akan semua sikap kasarnya pada Senja selama ini.


"Maafin Abang, Nja..." lirih Aldi.


Ia menyesal. Tanpa ia sadari, sikap buruknya selama ini membuat Senja semakin sakit.


Saat tiba di dapan ruang rawat Senja, Aldi kembali mengusap air matanya, kemudian membuka pelan pintu ruangan tersebut. Ia masuk dan duduk di kursi samping brankar Senja. Tatapannya tak lepas menatap Senja.


"Maaf..." gumamnya lirih. Air matanya kembali jatuh. Ia tidak menyangka akan menjadi secengeng ini. Tapi, bukan keinginannya untuk menangis. Air matanya dengan sendirinya jatuh. Khawatir, takut, semuanya menjadi satu dalam hati dan pikirannya.


Ia takut kehilangan adik satu-satunya. Adik yang selalu ia kasari dan ia bentak selama ini. Tapi, ia melakukannya bukan tanpa alasan. Ada hal yang menjadi alasan dia bersikap buruk pada Senja.


"Emh...." Erangan lirih itu membuat Aldi tersadar dari pikirannya. Secepat mungkin ia mengusap air matanya, tak ingin Senja tahu jika dia menangis.


"Ab-Abang?" ucap Senja pelan. Aldi tak membalasnya. Cowok itu terdiam.


Melihat Aldi yang hanya diam, membuat Senja mengalihkan tatapannya pada tangannya yang terpasang selang infus.


"Maaf. Maaf karena Senja udah bantah ucapan Abang. Senja—"


"Kenapa gak jujur sama Abang?" Seketika Senja mengangkat wajahnya menatap Aldi. Suara lembut Aldi membuatnya cukup terkejut.


"A-Abang...."


Aldi meraih tangan Senja dan menggenggamnya. Tak hanya itu, cowok itu juga mencium punggung tangan adiknya.


"Maafin Abang. Abang udah jadi Abang yang buruk buat kamu."


Senja mengulas senyum manis dan tulus. Aldi yang seperti ini membuat hatinya menghangat.


"Senja udah maafin Abang. Senja gak akan pernah bisa marah sama Abang."


Aldi tertegun mendengarnya. Sebaik itu adik yang selama ini ia kasari dan ia abaikan. Sudah begitu banyak kesalahan yang ia buat, dan Senja dengan begitu mudahnya memaafkannya dan mengatakan tidak akan pernah bisa marah padanya.


"Makasih, Nja." Senja hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun, senyum Senja seketika luntur saat mendengar pertanyaan Aldi.


"Kenapa gak jujur sama Abang?"


"Maaf. Senja tau, pada akhirnya Abang pasti akan tau. Maaf Senja udah diam-diam kerja. Maaf Senja ngebantah Abang. Senja—"


"Bukan soal itu, Nja," potong Aldi. Tangannya terulur mengusap rambut Senja. Hal yang sering ia lakukan dulu, sebelum ia merubah dirinya menjadi kakak yang kasar dan jahat.


"Terus, soal apa?"


"Soal penyakit yang ada di tubuh kamu."


Deg!!