Aksarasenja

Aksarasenja
Hadiah Untuk Papa Arhez



Beberapa hari berlalu. Aksa, dia benar-benar tidak peduli dengan semua peringatan Aldi. Dia juga membuktikan ucapannya, jika ia akan meminta izin pada Rara dan Parto ketika ingin mengajak Senja pulang bersama.


Seperti yang terjadi saat ini. Dia sedang menunggu Senja di depan kelas gadis itu. Rara dan Parto tidak terkejut lagi melihat Aksa di depan kelas mereka. Pasalnya, Aksa melakukan hal itu sejak beberapa hari yang lalu.


"Nungguin Senja?" tanya Rara yag hanya dibalas anggukan oleh Aksa.


"Senja masih ngomong sama Bu Trya," timpal Parto yang lagi-lagi dibalas anggukkan oleh Aksa.


Rara dan Parto menggaruk tengkuk masing-masing dengan perasaan canggung. Walaupun Aksa sering mendekati mereka dan meminta izin untuk pulang bersama Senja, tetap saja rasa canggung itu ada saat berhadapan dengan Aksa.


"Lho? Za— Aksa?" Senja meralat panggilannya untuk Aksa. Entah kenapa, susah sekali dia menghilangkan kebiasaannya itu.


"Gue mau ajak lo balik bareng gue."


"Tapi, aku udah janji sama Arhez mau temenin dia beli kado buat papanya."


"Beneran, Nja?" tanya Rara antusias, yang dibalas anggukkan kepala oleh Senja. "Waahh... Arhez kok manis banget sih. Beruntung benget yang jadi istri Arhez nanti. Udah ganteng, perhatian lagi."


"Gue juga ganteng plus perhatian, Ra," sambung Parto bercanda. Membuat Rara menggeplak lengan cowok itu. Senja yang melihatnya hanya terkekeh.


"Jangan sok kegantengan deh!" sinis Rara. Membuat Parto memutar bola matanya.


"Ya ya. Yang paling ganteng di mata lo kan cuman bang Aldi sama Arhez." Ucapan Parto sontak membuat Senja dan Rara terkekeh bersamaan.


"Senja!" Panggilan Arhez seketika menghentikan kekehan Senja dan Rara. Keempat orang itu menoleh ke arah Arhez.


Cowok itu mendekat. Sekilas ia melirik Aksa yang berdiri tepat di samping Senja.


"Jadi kan?" tanya Arhez memastikan.


"Jadi. Ayo!"


"Gue ikut!"


Dua kata yang keluar dari mulut Aksa, membuat semua menoleh pada cowok itu. Senja tidak menyangka jika Aksa akan mengatakan itu. Tapi, ia merasa jika ini merupakan kesempatan bagus agar Aksa dan Arhez bisa berdekatan dan perlahan memperbaiki hubungan mereka yang penuh dengan perselisihan.


"Kamu serius?"


"Hmm."


"Nggak! Gue nggak setuju lo ikut!" celetuk Arhez.


"Arhez. Lo kok gitu?"


"Senja. Gue nggak suka dia ada di dekat gue. Gue lagi males berantem sama dia."


"Arhez." Senja menatap Arhez dengan tatapan memohonnya. Dan Arhez sangat lemah jika Senja sudah seperti ini. Dia tidak bisa menolaknya. Dengan terpaksa Arhez menganggukkan kepalanya setuju. Membuat Senja tersenyum kegirangan.


***


Motor Aksa dan Arhez berhenti tepat di depan mall. Senja turun dari motor Arhez, kemudian ketiganya berjalan bersama memasuki mall.


"Shhh... Hez, gue kayaknya kebelet. Lo berdua duluan aja ke toko jamnya."


Tanpa menunggu jawaban Aksa maupun Arhez, Senja langsung berlalu dari hadapan kedua cowok itu.


Aksa berjalan terlebih dahulu, diikuti Arhez dari belakang. Tampang dingin nan tampan kedua cowok itu menarik perhatian banyak wanita yang ada di mall tersebut. Namun, keduanya tak menghiraukan mereka.


Hingga mereka tiba di depan toko yang menjual jam, masih banyak pasang mata yang menatap mereka.


Arhez melirik Aksa yang hanya diam. Mereka masih berdiri di depan toko jam. Menunggu Senja yang belum juga kembali dari toilet.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Getaran handphone di saku celana Arhez membuat cowok itu segera meraihnya. Tertera tulisan Mama di layar handphonenya. Arhez segera menjawabnya.


"Hallo, Ma?"


"Hallo, nak. Kamu dimana? Ini udah jam pulang sekolah."


"Arhez lagi di mall, Ma."


Aksa yang berdiri tak jauh dari Arhez, cukup mendengar percakapan tersebut. Bisa ia rasakan rasa khawatir sang mama pada Arhez, yang merupakan saudara tirinya.


Muncul pertanyaan dalam benaknya. Mengapa mamanya meninggalkan mereka? Apa karena papanya tidak sekaya papa Arhez? Atau karena dia dan Farah terlalu nakal? Tapi, ia merasa ia dan Farah selalu menjadi anak yang patuh. Papanya juga tidak menuntut banyak dan selalu menuruti semua yang wanita itu inginkan.


"Aduh! Maaf maaf," ucap gadis tersebut dan hanya dibalas deheman oleh Aksa.


"Hallo, Arhez. Ada apa?"


"Nggak, Ma. Ini ada yang nabrak Aksa."


"Aksa?"


Ck. Keceplosan lagi. Batin Arhez berdecak.


Seharusnya ia tidak mengatakan jika dia sedang bersama Aksa sekarang.


"Arhez. Bilang sama Mama. Kamu lagi sama Aksa, Nak?"


Aksa yang mendengar itu menatap datar Arhez. Arhez juga balas menatap cowok itu.


"Iya, Ma." Arhez menjawab dengan malas.


"Kalian temanan?"


"Nggak, Ma. Kebetulan ketemu. Arhez sama Senja."


"Ohh... Gimana keadaan Aksa?"


"Dia baik. Ya udah, Ma. Arhez tutup dulu."


Tanpa mendengar jawaban sang Mama, Arhez langsung memutuskan sambungan telponnya. Hatinya tidak terima jika mamanya terus bertanya tentang Aksa.


"Lho? Kalian belum masuk?" Senja yang baru tiba cukup heran melihat Aksa dan Arhez yang masih diam di depan toko jam tersebut. Padahal, ia rasa sudah cukup lama ia meninggalkan dua cowok itu.


"Kita tungguin lo," jawab keduanya bersamaan. Aksa dan Arhez saling melempar tatapan tajam. Membuat Senja yang melihatnya mengulum senyum.


"Ya udah. Ayo, masuk!" Senja langsung menarik tangan Aksa dan Arhez bersamaan.


Setelah cukup lama, Senja dan Arhez akhirnya memilih jam yang cocok untuk papa Arhez. Sementara Aksa, dia hanya memperhatikan kedua orang itu. Tatapannya tertuju pada Senja. Gadis itu tersenyum.


Dan entah kenapa, sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyum. Tapi, senyum itu langsung pudar saat ia ingat, bukan ia yang menjadi alasan Senja tersenyum, melainkan Arhez.


"Udah selesai. Ayo, kita makan dulu. Gue laper banget."


Senja menatap Arhez yang kini sedang memegang perutnya. Gadis itu terkekeh kecil. "Emang rakus ya, lo. Tadikan udah makan di kantin. Dua kali malah nambahnya. Masa masih laper?"


"Jam terakhir sebelum pulang gue main basket, Nja. Tenaga gue abis gara-gara ngejar bola."


"Alasan! Bilang aja lo—"


"Ayo!" Aksa langsung menarik tangan Senja agar berjalan lebih cepat meninggalkan Arhez. Membuat ucapan gadis itu terpotong dan terpaksa mengikuti langkah Aksa.


Arhez yang kesal pun melangkah cepat mengikuti Aksa dan Senja.


"Lo apaan sih? Main tarik-tarik?" kesal Arhez.


"Lo berdua lambat! Gue juga lapar."


Jawaban Aksa membuat Arhez berdecak. Dia tahu, itu hanya alasan Aksa. Cowok itu memang tidak suka jika dia dekat-dekat Senja.


Sedangkan Senja, gadis itu menggeleng pelan sembari menahan senyumnya.


Ketiga orang itu memasuki sebuah restoran dan memesan makanan. Senja menatap kedua cowok itu. Segaris senyum kembali menghiasi wajahnya.


"Senang banget liat kalian berdua dekat gini," ucap Senja.


"Gue nggak suka lo ngomong gitu," sahut Aksa.


"Gue apalagi. Gue nggak suka dekat sama orang yang hatinya sekeras batu!"


Ucapan Arhez sontak membuat Aksa menoleh padanya. Rahang cowok itu mengeras. Tangannya terkepal erat, membuat urat-uratnya muncul. Senja bisa melihat, jika cowok itu sedang menahan emosinya.


"Eemm... Kata bu Trya, dua bulan lagi, ujian kelulusan." Senja mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Berharap jika emosi Aksa bisa mereda.


Tak ada respon dari keduanya membuat Senja tersenyum canggung. Gadis itu memilih diam sembari menunggu pesanan mereka datang.