
Senja menatap pantulan wajahnya di cermin. Tangannya terulur menyentuh wajahnya yang tak terbalut make up. Wajahnya terlihat semakin pucat dari sebelumnya. Dia menarik nafas kemudian melepaskannya. Entah berapa lama lagi Tuhan memberinya hidup, ia tidak tahu. Yang jelas, ia ingin menikmati hidupnya saat ini.
Tok... Tok... Tok...
"Non Senja!" panggil bi Haya dari luar kamar Senja.
"Iya, bi," sahut Senja. Gadis itu masih di tempatnya. Ingin membuka pintu untuk wanita paruh baya itu, namun ia takut si bibi akan melihat wajah pucatnya.
"Bibi mau izin ke pasar dulu. Bahan makanan udah habis, non."
"Iya, Bi. Bawa aja kunci cadangannya. Senja juga mau pergi."
"Iya, non."
Setelah percakapan singkat itu, bi Haya berlalu dari depan kamar Senja. Sementara Senja, ia memoleskan beberapa produk kecantikan di wajahnya, kemudian melenggang keluar dari kamar.
"Kayaknya, bibi udah pergi," gumam Senja, saat rumah terasa begitu sepi.
Gadis itu keluar dari rumah dan langsung menuju garasi. Ia mengeluarkan motor maticnya, kemudian melajukannya meninggalkan rumah.
***
Arhez menatap sang mama yang kini memegang rantang berisi makanan. Wajah cowok itu terlihat lesu. Seharusnya hari libur ia habiskan untuk bersantai, mengajak Senja jalan-jalan, atau main ke rumah Dean atau Roni. Tapi sayang, Senja katanya ada urusan. Sementara Dean dan Roni, tidak menjawab telpon maupun chat Arhez.
Dan sekarang, Mamanya malah menyuruhnya mengantar makanan untuk tantenya yang bekerja di rumah sakit. Ingin menolak, tapi ia tidak tega pada sang Mama.
"Ma, agak siangan dikit boleh nggak?" tanya Arhez. Dia benar-benar malas sekarang.
"Sekarang aja, ya. Kalau agak siangan, nanti jam makan siangnya lewat. Kamu tahu sendirikan, jadwal tante kamu padat?"
Arhez menarik nafasnya. Jika yang menyuruhnya bukan Ratna, dan yang di rumah sakit itu bukan adik kandung papanya, dia tidak akan mau repot-repot menuruti mereka.
"Ya udah. Arhez anterin. Tapi, buat papa?"
"Mama sendiri yang anterin."
Arhez segera menyambar kunci motornya, dan menenteng rantang yang dikasi Ratna. Cowok itu berpamitan pada Ratna, lalu bergegas keluar.
Saat tiba di garasi, Arhez berdecak kesal. Seharusnya ia mengendarai mobil saja. Jika menggunakan motor, ia akan kesulitan memegang rantang tersebut. Tapi, ia sudah terlanjur membawa kunci motor, dan terlalu malas untuk kembali mengambil kunci mobil.
"Pakai motor, bisa?" tanya Ratna yang sempat mengikuti Arhez.
Cowok itu berbalik dan mendapati sang Mama tersenyum padanya. Matanya melirik tangan sang Mama yang memegang kunci mobilnya. Segaris senyum muncul di bibirnya.
"Repot," sahutnya sembari mendekati Ratna. Jawaban Arhez membuat Ratna terkekeh pelan.
Ratna mengulurkan kunci mobil yang dipegangnya pada Arhez. "Nih, kunci mobil kamu. Mama tau, kamu pasti kerepotan kalau pakai motor."
"Makasih, Ma," ucap Arhez, meraih kunci mobil tersebut, kemudian memberikan kunci motornya pada Ratna.
"Iya. Makasih juga udah mau bantuin Mama."
Arhez mengangguk pelan. Cowok itu kemudian menuju mobil dan mengendarainya menjauhi rumah.
Arhez manyipitkan matanya saat melewati jalanan sepi dan melihat dua preman yang sedang menahan seorang gadis. Ingin mengabaikan, tapi Arhez tak tega. Cowok itu menghentikan mobilnya tak jauh dari sana, dan mendekati mereka.
Langkahnya berhenti saat melihat siapa yang diganggu dua preman itu.
"Amara," gumam Arhez. Langkahnya semakin ia percepat saat salah satu preman menarik kasar tas Amara.
Bugh...
Satu pukulan langsung Arhez layangkan pada seorang preman. Membuat preman itu tersungkur.
"Arhez," gumam Amara, yang detik berikutnya berubah menjadi teriakan. "Arhez! Tolongin gue!"
"Diam!!" Salah satu preman yang memegangi Amara membentak.
Arhez menghampiri satu preman lagi yang sedang memegang Amara. Tatapannya tajam menatap preman tersebut.
"Lepasin dia!"
"Gak akan! Lo jangan ikut campur!"
Arhez yang geram dengan tak sabaran menendang perut preman tersebut, kemudian menarik Amara hingga gadis itu menubruk tubuhnya.
Amara terdiam. Tubuhnya menegang saat ia tak sengaja memeluk tubuh Arhez. Jantungnya berdetak cepat dan pipinya memerah.
Menyadari itu, dengan cepat ia melepas pelukannya pada tubuh Arhez.
Arhez mendekati preman tersebut dan kembali memukulnya beberapa kali. Setelah itu, ia meludahi mereka kemudian menarik Amara menjauh.
"Makasih, Hez...." Amara tertunduk sambil berjalan di sebelah Arhez. Entah kenapa, ia malu karena tak sengaja memeluk Arhez.
Sementara Arhez, cowok itu hanya diam tak membalas. Saat tiba di dekat mobil, Arhez menghentikan langkahnya. Ia merogoh handphonenya lalu memesan taksi. Dan tak butuh waktu lama, taksi pun tiba.
"Balik sana!" ujar Arhez, kemudian memasuki mobilnya. Membiarkan Amara pulang menggunakan taksi yang dipesannya.
Amara hanya bisa menatap mobil Arhez yang melaju. Entah kenapa, ia sakit hati dengan sikap Arhez tersebut.
"Ayo, neng." Ucapan supir taksi membuat Amara mengalihkan tatapannya. Cewek itu mengangguk, kemudian memasuki mobil.
***
Senja menatap selembar kertas berisi laporan mengenai penyakit yang di deritanya. Senja menghela nafasnya. Semua yang tertulis di lembaran itu menunjukkan jika hidupnya tak akan bertahan lama.
"Kankernya menyebar dengan cepat. Tidak ada obat lagi yang bisa kamu minum. Operasi adalah jalan satu-satunya."
Senja tersenyum tipis, membuat sang dokter memuji kelapangan hati Senja menerima garis takdirnya.
Kanker hati, itulah penyakit yang menggerogoti tubuh Senja. Kenyataan yang membuat Senja menjadi gadis ber-make up tebal, demi menutupi wajah pucatnya.
"Saya harap, kamu mau jujur pada keluargamu, Senja. Dengan begitu, mereka bisa membantu pihak rumah sakit untuk menemukan pendonor hati yang cocok dengan kamu."
"Donor hati?"
Senja dan sang Dokter langsung menoleh ke sumber suara. Wajah Senja menegang, sementara si Dokter menatap orang tersebut dengan kening mengerut.
Di ambang pintu, Arhez berdiri menatap dua wanita beda usia itu. Langkahnya mendekat, berdiri di sisi meja antara Senja dan Rahila, sang Dokter yang merupakan Tante Arhez.
"Kamu ke sini? Kenapa nggak kabarin Tante dulu?" tanya Rahila.
"Gak sempat, Tan," sahut Arhez. "Donor hati? Maksudnya apa, Tan? Donor hati buat siapa?" tanya Arhez, namun matanya melirik Senja yang hanya terdiam membeku.
"Arhez, ini urusan pasien Tante. Tante gak bisa cerita sama kamu."
"Pasien Tante sahabat Arhez, Tan," jawabnya. Tatapannya lalu mengarah pada Senja. "Lo sakit, Nja? Donor hati buat siapa?"
"H-Hez, gue —"
"Jangan bohong sama gue, Nja."
Senja terdiam, kemudian menghela nafasnya panjang. Dia tidak bisa menghindar lagi dari Arhez. Sepertinya, pilihan yang tepat adalah ia harus jujur.
"Gue akan cerita sama lo. Tapi, gak disini."
Arhez mengangguk. Ia kemudian meletakkan rantang makanan yang dibawanya ke atas meja. "Makan siang buat Tante. Maaf Arhez gak bisa temenin Tante makan."
Wanita itu tersenyum menatap Arhez. "Gak apa-apa. Makasih, ya."
Arhez mengangguk. Setelah itu, ia dan Senja berpamitan meninggalkan Dokter Rahila.