
Jam istirahat, Senja bolak balik kesana kemari mencari Rara. Gadis itu katanya ke kantin, tapi hingga sekarang belum juga kembali. Saat Senja ke kantin, Rara malah tidak ada disana.
"Rara kemana sih? Handphone juga gak dibawa lagi," gumam Senja, sambil menatap handphone Rara yang dipegangnya.
"Eh, lo liat Rara gak?" tanya Senja pada salah satu siswi.
"Rara? Dia kayaknya ke warung samping sekolah."
"Ooh... Ya udah. Makasih ya?"
Pantesan gak ketemu ketemu dari tadi. Batin Senja.
Senja segera berjalan menuju warung samping sekolah. Namun, saat belokan lorong kelas, ia tanpa sengaja bertemu Aksa. Keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang saling menatap. Tapi, tak berlangsung lama. Senja langsung memutuskan tatapannya, kemudian melanjutkan jalannya, meninggalkan Aksa tanpa sepatah kata pun.
Aksa terdiam, kemudian berbalik menatap Senja yang berjalan menjauh. Cowok itu menghembuskan nafas kasar, lalu berbalik melanjutkan jalannya.
***
"Lo gimana sih, Ra. Mau jajan di warung belakang bilang-bilang, dong. Gue sampe pusing nyariin lo," ucap Senja. Dia dan Rara sedang berjalan ke arah gedung kelas.
"Hehehe... Maaf ya, Nja. Gue tiba-tiba kepengin makan di warung sebelah. Lo tau sendiri kan, gue kalau lagi dapet gimana?"
"Ck! Terserah lo— Amara! Awas!"
Prak!!
Tubuh Amara langsung terdorong hingga tersungkur. Sementara Senja, gadis itu berjongkok sembari memegang bahunya yang baru saja tertimpa pot bunga berukuran sedang.
Rara yang tadi berjalan bersama Senja mematung sejenak. Kejadian di depannya begitu cepat. Jika ditanya kapan Senja berlari meninggalkannya dan mendorong Amara, sudah pasti ia menjawab tidak tahu.
"Akhhh...."
Ringisan Senja membuat Rara tersadar dan langsung menghampirinya. Wajahnya langsung berubah khawatir ketika melihat sedikit noda darah pada seragam di bagian bahu Senja.
"Astaghfirullah! Senja, bahu lo berdarah!" pekik Rara. Gadis itu dengan segera membantu Senja bangun. Siswa siswi yang menikmati waktu istirahat mereka di sekitaran tempat itu langsung berkumpul, mengerumini Senja, Amara dan Rara.
"Ayo, Nja, ke UKS."
Senja mengangguk sebagai jawaban. Pundaknya bebar-benar terasa sakit. Meski begitu, ia menyempatkan diri mendongak ke lantai tiga sekolah. Dia tahu pelaku yang menjatuhkan pot tersebut.
Arhez bersama Dean dan Roni yang kebetulan melewati tempat itu, langsung menerobos kerumunan. Wajahnya seketika berubah khawatir saat melihat Senja yang dibantu Rara. Cowok itu segera ikut membantu Senja.
"Nja, Lo kenapa?"
"Ada yang sengaja jatuhin pot ke Amara, dan gak sengaja kena Senja karena Senja nolongin Amara."
Mendengar itu, Arhez melirik Amara yang mulai berusaha berdiri. Hanya beberapa detik. Setelah itu, ia kembali fokus pada Senja.
"Ayo, ke UKS, biar bahu lo bisa diobatin," ucap Arhez yang sempat melihat noda darah di bahu Senja. Arhez beserta kedua sahabatnya dan juga Rara segera membawa Senja menuju UKS.
Amara hanya diam memperhatikan keempat orang itu yang mulai menjauh. Dia kemudian menatap pot bunga yang kini tergeletak di depannya. Dia juga tidak peduli dengan lututnya yang berdarah.
Siapa yang ngelakuin itu? Gue gak yakin potnya jatuh sendiri. Dan... Kenapa lo nolongin gue, Nja? Gue udah banyak salah sama lo. Batin Amara.
"Mar?"
"Mara?"
"Eh? A-Aksa."
"Lutut lo berdarah. Ayo, gue anterin ke UKS." Amara gelagapan. Ia tidak ingin ke UKS sekarang. Entah kenapa ia tidak mau bertemu Senja, Arhez ataupun yang lainnya.
"Sa, lukanya cuman dikit. Gak perlu ke UKS."
"Gak! Lo harus ke UKS."
"Tapi—"
"Ayo!" Aksa langsung menarik tangan Amara menuju UKS. Dia tidak peduli dengan penolakan Amara.
Tiba di depan UKS, mereka bertemu dengan Arhez, Dean dan Roni. Tatapan Aksa dan Arhez bertemu. Hubungan keduanya sudah cukup membaik. Mereka sering bertemu karena Ratna sering mengajak Arhez ikut ketika dia berkunjung ke rumah Aksa.
Namun, sejak kasus pembullyan Amara itu, hubungan keduanya mendingin. Tidak ada sapaan diantara keduanya meskipun ada Ratna diantara mereka.
Aksa memutuskan tatapannya dan beralih membuka pintu UKS. Tapi, belum sempat tangannya memutar knop pintu, Arhez menahannya. Membuat tatapan keduanya kembali bertemu dengan sorot yang berbeda.
"Biarin Amara masuk sendiri," ucap Arhez.
"Kenapa?" tanya Aksa dingin.
"Senja diobatin di bagian bahu."
Aksa terdiam. Ia paham dengan apa yang Arhez katakan. Dia melepaskan pegangannya pada knop pintu, lalu membiarkan Amara masuk.
Suara pintu dibuka membuat Senja, Rara dan salah satu petugas UKS menoleh. Rara menatap sinis Amara. Ia sudah tahu kebenaran tentang pembullyan itu dari Arhez. Sementara Senja dan petugas UKS kembali fokus mengobati bahu Senja yang ternyata terdapat memar yang cukup besar.
Senja juga sudah tahu mengenai bukti itu. Dia memilih untuk diam saja dan tidak membahasnya lagi. Dia bahkan melarang Arhez mengungkapkan kenyataan itu pada Aksa maupun pihak sekolah. Biarkan dia dipandang buruk. Dia juga tidak ingin Aksa merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Hatinya cukup terluka dengan semua yang Aksa lakukan.
"Udah, Nar?" tanya Senja pada gadis berkaca mata yang merupakan petugas UKS. Dia adik kelas Senja yang lugu dan polos. Tidak ada kebencian yang terpancar dari mata gadis itu untuk Senja.
"Udah, Kak," balasnya.
"Ya udah. Kita keluar dulu," ucap Rara setelah Senja merapihkan seragamnya.
Senja dan Rara bergegas meninggalkan ruangan UKS. Namun, baru selangkah, Senja dan Rara dikejutkan oleh ucapan Amara.
"Makasih, Nja," ucap cewek itu.
Senja terdiam, begitupun Rara. Bahkan Nara, si petugas UKS pun ikut terkejut mendengarnya. Sudah menjadi rahasia umum jika Amara tidak suka pada Senja. Hanya Aksa yang tidak tahu seperti apa Amara yang sebenarnya.
Senja menarik nafasnya kemudian berbalik menatap Amara. Senyum tipis terukir di bibirnya. Membuat Amara merasakan perasaan aneh. Perasaan bersalah dan marah pada dirinya sendiri.
"Sama-sama. Lo harus hati-hati. Gak semua orang yang dekat dan baik sama lo, benar-benar baik. Gue bukan bermaksud merusak hubungan lo dengan sahabat lo. Tapi lo harus tau, Siska yang ngejatuhin pot itu." Setelah mengatakan apa yang dilihatnya tadi, Senja berjalan keluar bersama Rara.
Pintu yang dibuka membuat Aksa dan Arhez yang sejak tadi perang dingin mengalihkan tatapan mereka. Keduanya sama-sama menatap ke arah pintu. Arhez langsung menghampiri Senja.
"Udah diobatin?" tanyanya perhatian. Membuat Aksa berdecak dalam hati.
"Udah. Ayo, kembali ke kelas. Seharusnya kalian gak disini. Bentar lagi masuk," ucap Senja, membuat Arhez, Dean, dan Roni mengangguk. Bagas dan Jafar yang belum lama tiba pun ikut mengangguk. Keduanya langsung ke UKS setelah mendengar tentang kejadian tersebut dari beberapa siswa yang mengetahuinya.
Tanpa melirik Aksa sedikit pun, Senja berjalan meninggalkan tempat itu bersama Arhez dan yang lainnya. Aksa hanya mampu diam dan menatap mereka. Hingga mereka menghilang dari pandangannya, dia masuk menghampiri Amara.