Aksarasenja

Aksarasenja
Gue Sayang Sama Lo, Senja



Aksa menggenggam erat tangan Senja sembari melangkah menuju ruangan VVIP sebuah restoran, lebih tepatnya restoran milik Hengky, papa Arhez.


Kedatangan mereka membuat banyak pasang mata pengunjung restoran menatap mereka. Wajah dingin Aksa semakin mendingin saat matanya tak sengaja menangkap pengunjung pria yang menatap kagum pada Senja. Bahkan genggamannya di tangan Senja semakin ia eratkan.


"Kenapa?" tanya Senja lembut.


"Nggak. Seharusnya lo pakai masker ke sini."


"Kenapa? Aku jelek ya?"


"Bukan jelek. Tapi, terlalu menarik perhatian orang-orang."


Senja terdiam mendengar jawaban Aksa. Ia tahu, Aksa tidak suka dengan dandannya yang berlebihan ini. Bukan hanya Aksa, sebagian teman-temannya di sekolah juga tidak suka. Tapi, biar bagaimana pun, ia akan tetap berdandan seperti ini. Ia tidak ingin wajah pucatnya dilihat banyak orang.


"Cowoknya ganteng banget."


"Iya, ceweknya juga cantik."


Senja yang kebetulan mendengar bisikan tersebut, tersenyum. Hal itu tak lepas dari mata Aksa. Selain itu, dia juga mendengar bisikan yang memuji dirinya dan Senja.


"Seneng dibilang cantik?" tanya Aksa, yang langsung dibalas anggukan Senja.


"Seneng. Siapa yang gak seneng dibilang cantik? Kamu gak seneng dibilang ganteng?"


"Berlebihan."


"Emang ganteng kok."


Deg!


Jantung Aksa berpacu cepat setelah mendengar pujian tak langsung Senja. Bahkan, telinganya sampai memerah. Dan tanpa disadari, ia tersenyum dengan perasaan bahagia.


Sementara Senja, gadis itu merutuki mulutnya yang begitu mudah keceplosan. Dan itu membuat Senja canggung, dan tak ada pembicaraan lagi hingga mereka menemui salah satu pelayan yang akan mengantar mereka ke ruang VVIP.


***


Suasana di ruang VVIP begitu hening setelah Ratna selesai menjelaskan semua alasannya. Hanya terdengar isakan kecil dari bibir Ratna.


Di ruangan itu, Senja duduk diantara Aksa dan Arhez. Di depan mereka, ada Ratna dan Hengky, suaminya. Ratna memang memberitahu suami dan anaknya jika Aksa sudah bersedia mendengar penjelasannya. Dia tidak ingin ada perselisihan lagi antara dia dan Arhez jika ia memberitahu mereka.


"Saya minta maaf sama kamu, Aksa. Saya juga salah dalam kejadian itu. Seharusnya saya berusaha lebih keras lagi untuk menemukan identitas Mama kamu. Saya minta maaf karena sudah menikahinya."


Aksa terdiam sebelum akhirnya membuka suara. "Jujur saja, rasa kecewa dan terluka masih membekas di hati saya. Saya akan berusaha untuk menerima. Dan saya harap, kalian jangan memaksa saya."


"Iya, Nak. Mama nggak akan maksa kamu. Yang penting kamu selalu ingat, kapan pun kamu mau ketemu Mama, Mama siap. Pintu rumah juga selalu terbuka buat kamu."


"Iya. Pintu rumah kami selalu terbuka buat kamu, kapan pun kamu ingin berkunjung," tambah Hengky. Laki-laki itu melirik putranya, Arhez.


"Gue gak maksa lo nerima gue sebagai saudara tiri lo. Tapi, kalau lo udah siap nerima gue, gue bakal nerima lo juga," ucap Arhez yang sontak membuat senyum terbit di bibir Senja, Ratna dan juga Hengky.


Setelah selesai, kelima orang itu segera meninggalkan restoran. Ratna mendekati Aksa, berniat mengusap kepala Aksa. Namun, belum sempat tangannya terulur, Aksa sudah lebih dulu mengenakan helmnya.


"Senja balik sama gue," ucap Arhez, dan langsung mendapat tatapan tajam Aksa yang baru selesai mengaitkan helmnya.


"Senja sama gue!" kata Aksa dengan penuh penegasan. Cowok itu meraih helm yang tergantung di motornya, kemudian memakaikannya pada Senja.


"Ayo!"


Senja mengangguk. Ia lalu berbalik menatap Ratna, Hengky dan Arhez. Gadis itu mendekat dan meraih tangan kedua suami istri itu lalu menciumnya.


"Senja sama Zayyan pamit dulu, Om, Tante."


"Iya, Nak. Hati-hati."


"Gue balik dulu, Hez."


"Ya. Hati-hati. Kalau Aksa gak anterin lo sampai rumah, langsung telpon gue."


Senja hanya mengangguk pelan sembari terkekeh kecil. Arhez, meski terkenal nakal, cowok itu cukup humoris saat bersama Senja.


Setelah berpamitan, Senja dan Aksa meninggalkan ketiga orang tersebut. Tidak ada yang bersuara di antara mereka. Hingga akhirnya, Aksa memelankan laju motornya, membuat Senja menatap bingung dirinya melalui spion motor.


"Kenapa?" tanya Senja.


"Gak," balas Aksa yang lagi-lagi mendapat anggukkan Senja. "Mau beli sesuatu gak?" tanya Aksa ketika mereka akan melewati sebuah mini market.


Senja menggelang. "Enggak."


"Ke pantai deket tempat papa bentar, ya?"


"Sekalian jengukin om?" Aksa mengangguk. "Ya udah. Ayo!"


***


"Pemandangan disini gak pernah mengecewakan ya?" ucap Senja. Kini, ia dan Aksa berada di pantai yang biasa mereka kunjungi setelah menemui Herman, papa Aksa.


"Ya. Makanya gue suka lama-lama disini."


Suasana hening sejenak sebelum akhirnya Aksa kembali bersuara. "Makasih, Nja," ucapnya, membuat Senja menoleh menatapnya.


"Makasih buat apa?"


"Maksih udah mau temani gue sampai sekarang. Makasih udah bantuin gue perbaiki hubungan gue sama mama. Maafin gue yang selalu kasar sama lo. Maaf—"


"Sama-sama. Dan aku udah maafin kamu dari dulu. Semua yang terjadi itulah namanya proses. Dan sekarang, hasilnya udah mulai kita rasain. Jadi, kamu nggak perlu ungkit-ungkit yang lalu lagi. Cukup kamu ingat, dan jadikan semua itu sebagai pelajaran."


Aksa mengangguk. Netranya kembali menatap langit senja yang begitu indah. Pemandngan yang selalu mampu membuatnya tenang. Cowok itu kemudian melihat ke arah Senja. Gadis itu juga sedang menikmati langit senja.


"Nja!"


"Hmm?" sahut Senja tanpa menoleh.


"Gue harap, lo gak akan tinggalin gue."


Senja hanya tersenyum tipis. Entah kenapa, ia tidak ingin mengulang janji yang sama seperti yang ia ucapkan pada Aksa saat di rumah cowok itu.


Tak mendapat jawaban Senja, Aksa meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Ayo, balik! Bentar lagi bakalan gelap," ucap Aksa.


"Ayo!"


Kedua remaja itu lalu melangkah bersama menyusuri pantai. Beberapa kalimat candaan yang terlontar dari bibir Senja menemani langkah santai mereka.


Genggaman tangan Aksa pada tangan Senja terlepas, digantikan oleh usapan lembut Aksa pada puncak kepala Senja. Perbedaan tinggi mereka membuat Senja mendongak saat merasakan usapan lembut tersebut.


Netranya keduanya bertemu. Dan dengan raut dingin dan seriusnya, Aksa berucap, "Gue sayang sama lo, Senja."


Deg!!


Jantung Senja berdegup kencang. Gadis itu sontak menghentikan langkahnya. Pipinya memerah dan lidahnya kelu. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus merespon ucapan Aksa.


"Ma-maksud kam-kamu?"


Aksa tersenyum lebar lalu mengacak rambut Senja, lalu berlari meninggalkan Senja.


"Zayyan!!"


"Kejar gue! Kalau lo bisa, gue kasi tau maksudnya. Plus gue kasi hadiah!!" balas Aksa, ikut berteriak.


Merasa tertantang, Senja pun berlari mengejar Aksa. Senja yang lebih pendek tak bisa menyusul Aksa yang tinggi dan memiliki langkah lebar. Alhasil, gadis itu menyusun rencana untuk bisa menangkap Aksa.


Senja berhenti dan tiba-tiba tertunduk sembari memegang perutnya. Aksa yang tadi berlari sambil sesekali menoleh pun menghentikan larinya. Cowok itu segera berlari berlawanan arah dengan raut khawatir yang terlihat jelas di wajah dinginnya.


"Nja! Senja! Lo kenapa?" tanya Aksa saat berada di dekat Senja. Ia memegang kedua bahu Senja dan terus menatap wajah Senja yang tertunduk dengan perasaan khawatir.


"Senja! Lo kenapa?"


"Senja! Bilang sama gue, lo kenapa?"


Senja yang tak kunjung mengangkat wajahnya membuat perasaan khawatir Aksa semakin menjadi. Dan dengan lembut, Aksa mencoba mendongakkan wajah Senja. Hal itu berhasil. Ia bisa melihat wajah Senja sekarang.


"Lo sakit? Mana yang sakit? Maafin gue udah buat lo sakit kayak gini."


Jujur, Senja sudah tidak bisa menahan tawanya saat ini.


"Pfftttt... hahaha..." tawa Senja pecah. Gadis itu menatap wajah khawatir Aksa yang terlihat lucu baginya.


"Hahaha... maaf. Aku capek ngejar kamu. Jadi, aku pura-pura sakit aja. Sekarang aku udah bisa nangkap kamu. Se—"


Deg!!


Senja terpaku saat Aksa tiba-tiba menariknya dalam pelukan hangat cowok itu. Aksa memeluknya erat, seolah begitu takut kehilangannya.


"Za-Zayyan...."


"Jangan gini, Nja. Gue gak suka. Gue khawatir sama lo. Gue gak mau kehilangan lo."


"Zayyan...."


Aksa semakin mengeratkan pelukannya. Entah perasaan seperti apa yang Aksa rasakan, Senja tidak tahu. Dia hanya bisa terdiam menerima pelukan erat Aksa dengan jantung yang berdegup cepat.