Aksarasenja

Aksarasenja
Minta Tolong



Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali antara Arhez dan Senja. Hingga tiba di depan rumah Senja, Arhez menghentikan motornya di depan gerbang rumah, mengikuti motor Senja yang juga berhenti di depan gerbang.


"Makasih ya Hez, udah anterin gue."


"Sama-sama," balasnya. "Oh ya, Nja."


"Hmm?"


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Apa?"


"Gue suka sama lo."


Senja terdiam. Dia bukannya membanggakan diri, tapi mengenai perasaan suka Arhez padanya sudah ia rasakan sejak Arhez mulai mendekatinya. Dari tatapan dan perlakuan cowok itu padanya, membuat ia sadar mengenai persaan Arhez. Tapi, dia memilih mengabaikannya dan hanya ingin berteman dengan laki-laki itu.


"Arhez. Gue—"


"Gue tau, perasaan lo ke gue nggak sama kayak perasaan gue ke lo. Gue nggak maksa lo buat nerima gue. Gue cuma mau ungkapin isi hati gue, Nja. Gue berharap, lo nggak akan jauhin gue setelah lo tahu perasaan gue ke lo."


"Gue nggak akan jauhin lo, Hez. Lo tetap sahabat gue. Makasih udah suka sama gue. Dan maaf karena gue buat lo terluka."


Arhez tersenyum tipis. "Bukan salah lo. Perasaan nggak ada yang bisa maksain. Gue berhak ungkapin isi hati gue. Dan lo berhak menolak. Gue cuma berharap hubungan pertemanan kita baik-baik aja setelah ini."


Senja tersenyum. "Pasti."


"Ya udah. Gue balik dulu. Lo langsung tidur, jangan begadang."


"Iya. Lo hati-hati."


Arhez mengangguk. Setelah itu, ia melajukan motornya menjauh dari rumah Senja.


***


Aksa mendekati Senja yang sejak tadi duduk diam di kursi taman. Tidak ada Rara atau pun Parto yang menemaninya. Gadis itu terlihat hanya terdiam melamun.


"Gue boleh duduk?"


Senja mendongak dan mendapati Aksa berdiri di dekatnya. Ia tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Boleh," ucapnya.


Aksa duduk dengan sedikit memberi jarak antaranya dan Senja. Ia melirik Senja yang kembali terdiam. "Lo kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa."


"Di mana dua sahabat lo?"


"Rara sama Parto nggak masuk."


Kini giliran Aksa yang diam. Dia tidak tahu harus memulai dari mana pembicaraannya dengan Senja. Dia bukan tipe orang yang banyak bicara dan pandai mencari topik pembicaraan.


"Di mana Bagas sama Jafar? Nggak bareng kamu?"


"Kenapa lo tanya mereka?" Aksa merasa tak suka saat Senja malah menanyakan kedua sahabatnya itu. Tatapannya pun berubah datar menatap Senja.


"Cuma nanya. Soalnya sering bareng kamu."


"Gue nggak tau mereka di mana. Gue abis dari lab."


"Dari lab? Pasti bereng Amara?"


"Hmmm."


"Kenapa nggak ajak ke kantin? Biasanya kalian —"


"Nggak perlu lo bahas Amara. Gue ke sini mau ngomong sama lo."


Kening Senja mengerut mendengar ucapan Aksa. "Ada apa? Kayaknya serius."


"Besok gue olimpiade."


Senja mengangguk. "Iya, aku tahu. Aku nggak akan gangguin kamu belajar. Nggak akan chat kamu. Pokoknya nggak akan buat kamu pusing dan nggak fokus belajar. Kamu tenang aja," ucap Senja tanpa menatap Aksa.


"Gue nggak minta lo ngelakuin semua itu."


Senja menoleh dan menatapnya. "Maksud kamu?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong anterin bunga ke makam Farah."


"Kamu serius minta tolong aku?"


Aksa mengangguk. "Nggak ada yang bisa gue mintai tolong. Dari sekian banyak yang kenal gue, cuma lo yang banyak tau soal gue." Senja terdiam. "Kenapa? Lo nggak bisa?"


"Hah? Nggak. Aku bisa kok," jawab Senja cepat.


"Besok hari ulang tahun Farah. Gue udah pesan bunganya. Lo tinggal ambil. Nanti gue share tempatnya."


Senja mengangguk. "Ya udah. Besok pulang sekolah aku langsung ke makam Farah," ucap Senja. Jika dia boleh jujur, dia begitu penasaran, siapa Farah dalam kehidupan Aksa? Ingin bertanya pada cowok itu, Senja urungkan. Dia tidak ingin membuat Aksa marah.


"Thank's," ucap Aksa yang lagi-lagi mendapat anggukkan dari gadis itu. "Lo nggak ke kantin?" Entah kenapa, dia ingin berbicara banyak dengan Senja. Dia sendiri tidak mengerti dengan jalan pikirnya.


"Nggak. Gue udah—" Ucapan Senja seketika terhenti saat ia merasakan sakit tepat di bagian hatinya.


Shhh... Sakit. Ya Allah, sakit banget. Batinnya.


"Lo kenapa?" Raut wajah Aksa terlihat bingung melihat Senja menempelkan tangannya di perut bagian atasnya.


"Ng-nggak. G-gue ke toilet dulu." Senja langsung berlari minggalkan Aksa yang kebingungan.


Tiba di toilet, Senja langsung masuk ke salah satu bilik toilet. Gadis itu berdiri bersandar sambil menahan rasa sakit. Beruntung ia menggunakan dandanan tebal seperti biasanya. Jika tidak, wajah pucatnya akan terlihat jelas.


Setelah merasa sedikit baikan, gadis itu berjalan gontai keluar dari toilet. Namun, baru selangkah ia menjauh dari tempat itu, kesadarannya mulai menghilang, dan detik berikutnya gadis itu jatuh pingsan.


Aksa yang tadi sempat mengikuti Senja berlari cepat dan menangkap tubuh gadis itu.


"Senja," panggilnya sambil menepuk pelan pipi gadis itu. Merasa tak ada respon, Aksa langsung menggendongnya dan membawanya ke UKS.


Aksa yang menggendong Senja menarik banyak perhatian siswa-siswi yang sedang menikmati jam istirahat mereka. Amara beserta dua sahabatnya, Sonya dan Siska segera menghampiri Aksa. Begitu juga dengan Arhez, Dean dan Roni.


"Aksa, Senja kok digendong?" tanya Amara. Aksa mengabaikan pertanyaan Amara dan tetap fokus menuju UKS.


"Senja kenapa? Lo apain dia?" Kali ini Arhez yang bertanya. Raut wajahnya terlihat khawatir. Lagi-lagi Aksa tak menjawab. Laki-laki itu berbelok lalu memasuki UKS.


Aksa membaringkan Senja di brankar, kemudian segera ditangani petugas UKS. Setelah beberapa kali berusaha menyadarkan Senja, mereka pun berhasil.


"Senja, lo gak papa? Aksa nyakitin lo?" tanya Arhez. Cowok itu langsung menggeser Aksa saat melihat Senja sadar.


"G-gue gak apa-apa. Zayyan nggak nyakitin gue," jawab Senja, membuat Arhez melirik tajam Aksa. Aksa tak memberi respon. Cowok itu hanya diam menatap Senja. Sementara Amara, gadis itu memutar bola matanya mendengar jawaban Senja.


"Lo kenapa tiba-tiba pingsan?" Suara Aksa membuat Senja menoleh ke arahnya. Tatapan tajam cowok itu cukup mengintimidasi Senja.


"A-aku dari tadi pagi mules, keluar masuk toilet. Mungkin gara-gara itu aku pingsan karena kekurangan cairan," alibi Senja, dan Aksa hanya mengangguk.


Senja menarik nafas lega dan bersyukur dalam hati karena Aksa tak banyak bertanya. Jika tidak, ia mungkin akan keceplosan mengatakan yang sebenarnya.


Setelah beberapa saat, Dean, Roni, Amara, Sonya dan Siska pergi dari UKS. Senja memilih untuk istirahat di UKS. Dan Aksa juga Arhez pun memilih untuk tetap di UKS bersama Senja.


"Lo mending balik ke kelas. Persiapin diri lo buat olimpiade besok," ucap Arhez, menatap tak suka pada Aksa.


"Lo mending diem! Senja lagi istirahat!" sarkas Aksa. Matanya tak lepas menatap Senja yang sudah memejamkan matanya.


Arhez tersenyum miring, kemudian terkekeh pelan. Membuat Aksa menatapnya dengan tatapan sengit.


"Kenapa? Lo marah? Suara gue ganggu Senja yang lagi istirahat? Sadar! Sejak kapan lo peduli sama Senja? Lo udah banyak nyakitin Senja! Sikap lo itu yang buat banyak orang menjauh, termasuk Mama Ratna!"


Tatapan Aksa langsung menajam menatap Arhez. Keduanya saling menatap dengan sorot tajam yang terpancar di mata masing-masing.


Tangan Aksa mengepal kuat. "Lo nggak ada urusannya! Jadi, lo nggak usah ikut campur!" tegas Aksa.


"Gue ada urusannya. Gue nggak suka Mama Ratna dikasarin sama—"


"Aksa!" Panggilan Amara dari ambang pintu membuat Aksa dan Arhez menoleh. Kedua cowok itu menatap Amara tanpa mengatakan sesuatu.


"I-itu, kamu dipanggil Pak Rahmat." Amara cukup gugup untuk mengatakannya karena tatapan Aksa dan Arhez yang begitu menyeramkan.


Tanpa mengatakan apapun, Aksa bangun dan pergi dari UKS bersama Amara.