
Pulang sekolah, Aksa langsung menuju makam Farah kemudian ke kediaman sang Papa. Kemarin setelah kembali dari tempat olimpiade, Aksa tidak sempat menemui Herman, Papanya.
Saat ini, Aksa sedang duduk bersama sang Papa dan Pak Ijan. Dua laki-laki yang lebih tua dari Aksa itu tersenyum bangga saat mendengar jika Aksa bersama timnya kembali memenangkan olimpiade.
"Pa-pa bangga!" ucap Pak Herman sambil menyentuh bahu Aksa dengan tangannya yang agak gemetar, akibat stroke yang dialaminya. Tapi laki-laki paruh baya itu bersyukur bahwa keadaannya sekarang jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Aksa tersenyum tipis mendengar ucapan sang Papa. "Ini semua juga berkat do'a Papa juga Pak Ijan dan bi Darsi."
"Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu Den Aksa," ucap Pak Ijan.
Bi Darsi datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Lalu wanita itu kembali berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa.
"Kemarin, kamu tidak sempat ke makam Farah kan?" tanya Pak Herman. Tadi Aksa mengatakan jika ia kembali dari acara olimpiade saat hari telah gelap. Itu menunjukkan jika putranya itu tidak sempat ke makam putrinya, Farah.
"Iya, Pa."
"Tapi, kata Pak Ijan, dia lihat ada bunga Lily di makam Farah."
"Aksa minta tolong teman Aksa anterin, Pa. Aksa nggak akan lewatin hari penting Farah walaupun bukan Aksa sendiri yang mengantarnya."
Pak Herman tersenyum mendengar ucapan Aksa. Tangannya kembali terangkat mengelus kepala putranya dengan sayang. Pak Ijan ikut tersenyum saat melihat adegan itu. Ingin sekali ia tertawa melihat Aksa tertunduk, yang ia yakini jika anak majikannya itu sedang malu diperlakukan seperti itu oleh Papanya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan sang Papa, Aksa mengantar Papanya ke kamar untuk beristirahat sejenak. Ia juga sekaligus berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
"Hati-hati," ucap Pak Herman.
"Iya, Pa. Aksa balik dulu."
Setelah berpamitan pada Papanya, Aksa langsung keluar kamar dan berpamitan pada Bi Darsi dan Pak Ijan. Kemudian laki-laki itu melajukan motornya meninggalkan kediaman sang papa.
Sekitar 1 kilometer menjauh dari rumah sang papa, Aksa membelokkan motornya ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Dan seperti biasa, Aksa akan menikmati senja pesisir pantai.
Aksa menghentikan motornya lalu berjalan menyusuri hamparan pasir. Langkahnya terhenti saat berada di bibir pantai. Ia diam sembari menatap matahari yang mulai menghilang dan menimbulkan semburat jingga di langit.
"Nak!" Panggilan itu membuat fokus Aksa yang sedang menikmati waktu senja teralihkan. Cowok itu menatap pria paruh baya yang memanggilnya.
"Iya, Pak?" Wajah dinginnya tak berubah sedikit pun.
"Kamu anaknya pak Herman yang tinggal di ujung sana kan?"
"Iya. Kenapa, Pak?"
"Tidak kenapa. Saya hanya sering sekali lihat kamu ke pantai ini di waktu senja. Tapi tidak ada sesuatu yang kamu lakukan selain terus menatap langit senja."
"Saya suka langit senja," jawab Aksa secukupnya.
"Memang, Nak. Kalau di pantai ini, langit senjanya sangat bagus."
Aksa hanya mengangguk membenarkan ucapan si bapak. Matanya kembali menatap ke arah langit.
"Bagaimana keadaan pak Herman?"
"Papa semakin baik."
"Syukurlah. Dia orang baik. Semoga cepat sehat," ucap si Bapak dan Aksa lagi-lagi hanya mengangguk.
"Ya sudah, saya duluan. Kamu hati-hati pulangnya."
"Iya, Pak."
Setelah bapak itu pergi, Aksa menarik nafasnya. Ia pernah melihat bapak itu beberapa kali berbincang dengan papanya saat ia berkunjung.
Aksa terdiam dengan posisi yang sama, menatap ke arah langit. Dan tiba-tiba, ia mengingat Senja. Gadis yang sering ia sakiti.
"Gue seharusnya gak sekasar tadi sama Senja," gumamnya.
"Tapi, gue harus cari tau, apa lagi yang ia bicarain sama Mama," lanjutnya masih bergumam. Setelah itu, ia kembali melajukan motornya meninggalkan pantai tersebut.
***
"Senja!"
Senja yang sedang menyusun bahan makanan di ruang penyimpanan menoleh saat Manda memanggilnya.
"Iya, Kak?"
"Ada yang cariin lo!"
Kening Senja mengerut. Gadis itu menutup kulkas dan menghampiri Manda.
"Siapa?"
"Gak tau namanya. Tapi, kayaknya temen lo. Cowok satu sekolahan sama lo yang waktu itu gue sama Chesie cerita in."
Senja terdiam sejenak, memikirkan siapa sebenarnya yang sedang mencarinya.
"Kenapa?" Pertanyaan Manda membuat Senja menatapnya kemudian menggeleng.
"Gue yang lanjutin kerjaan lo."
Senja tersenyum. "Makasih, Kak. Lo emang Kakak gue yang paling baik." Senja mengacungkan kedua jempolnya pada Manda, membuat cewek itu terkekeh.
Senja berlalu dari ruangan tersebut dan mendekati Chesie dan Tama.
"Kak," sapa Senja, membuat Chesie dan Tama yang sedang saling melempar canda terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Eh Senja. Mau ketemu orang yang cariin lo?" tanya Tama yang mendapat anggukkan dari Senja.
"Dimana orangnya?"
"Itu, yang duduknya ujung sana." Chesie menjawab sembari menunjuk pada sebuah meja pelanggan yang kini diduduki seorang cowok yang membelakangi mereka.
"Ya udah. Gue samperin dulu."
Senja segera meninggalkan Chesie dan Tama, menemui cowok tersebut. Saat jarak mereka semakin dekat, Senja semakin yakin jika ia mengenal orang tersebut. Langkahnya terhenti tepat di belakang cowok itu.
"Zayyan?"
Sontak cowok itu menoleh mendengar suara Senja. Dan benar, cowok itu adalah Aksa, cowok yang sering disapa Zayyan oleh Senja.
Wajah Aksa terlihat dingin, begitupun dengan tatapannya. Senja meneguk ludahnya. Tatapan Aksa penuh dengan rasa tak suka yang cowok itu miliki untuknya. Namun, Senja berusaha mengabaikannya dan berjalan hingga berdiri di depan Aksa.
"Kata kak Manda, kamu mau ketemu sama aku. Ada apa?"
"Duduk!" Bukannya menjawab, Aksa malah menyuruh Senja duduk.
"Za—"
"Udah gue bilang! Jangan panggil gue Zayyan!!" Suara Aksa memang pelan. Namun, begitu dingin dan penuh peringatan.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Senja.
"Duduk!" Aksa kembali memerintahnya, dan kali ini Senja menurut. Gadis itu duduk di depan Aksa dengan sebuah meja menjadi pembatas antara mereka.
"Gue minta maaf," ucap Aksa tanpa basa basi.
"Untuk yang di sekolah?"
"Hmm. Gue udah kasar sama lo."
Tanpa berpikir panjang, Senja menganggukkan kepalanya. "Udah gue maafin," ucap gadis itu, membuat Aksa menatap matanya.
"Secepat itu?"
"Apa? Maafin kamu?" tanya balik Senja membuat Aksa mengangguk. Senja tersenyum kecil, membuat Aksa sejenak terpaku melihat senyum manis berlesung pipi itu. Hanya sebentar. Cowok itu kembali tersadar ketika mendengar suara Senja berbicara.
"Nggak ada alasan buat aku nggak maafin kamu. Aku paham, kamu begitu juga karena kamu belum bisa menerima semua yang terjadi di hidup kamu, termasuk soal aku yang terus-terusan ganggu kamu dan juga tahu tentang masalah hidup kamu."
Aksa terdiam. Senja tidak marah padanya. Dan sekarang gadis itu duduk di depannya, mengobrol seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal, selama ini Aksa menyakitinya.
"Mama gue ngomong apa aja sama lo?"
Senja mengangkat wajahnya menatap Aksa sejenak, lalu kembali menunduakkan wajahnya.
"Tante cerita banyak hal soal kamu, Farah dan keluarga kecil kalian. Tante juga cerita soal kesalahannya yang membuat keluarga kalian seperti ini. Dia benar-benar menyesal. Dia mau memperbaiki semuanya."
Mendengar kata "memperbaiki semuanya" membuat Aksa berdecih. Cowok itu terkekeh pelan dengan tatapan kosong menatap meja.
"Huh! Memperbaiki semuanya ya?" Aksa tersenyum remeh. Namun, Senja bisa menangkap sorot sedih di wajah lelaki itu.
"Tante—"
"Gak semudah itu memperbaiki semuanya, Nja."
Senja menunduk diam. Benar kata Aksa, tidak mudah untuk memperbaiki semua yang sudah rusak.
"Apalagi yang lo tau soal gue?"
Senja mengangkat wajahnya menatap Aksa yang duduk di depannya.
"Kamu... Sama Arhez...."
Aksa menoleh ke arah samping dan terkekeh pelan. "Lo juga tau soal itu ternyata," ucapnya.
Senja lagi-lagi terdiam. Matanya tak lepas menatap Aksa. Cowok itu seperti sedang berusaha menyembunyikan lukanya. Dia paham sekarang, sebesar apa rasa kecewa Aksa pada Bu Ratna.
Senja menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Luka yang Bu Ratna tanamkan dalam diri Aksa begitu besar. Ia tidak yakin bisa membantu Bu Ratna memperbaiki hubungannya dengan Aksa.
"Gue harap, lo bisa jaga semua yang lo tau."
Senja mengangguk pelan. "Aku janji, nggak akan ada yang tau soal ini," jawab Senja. "Kalau gitu, aku lanjut kerja dulu." Aksa mengangguk. Setelah itu, Senja berlalu membiarkan Aksa sendiri di mejanya.