Aksarasenja

Aksarasenja
Alasan Aldi



Setelah kepergian Aldi, Senja dan Rara lanjut mengobrol di kamar Senja. Rara banyak bercerita pada Senja, termasuk mengenai Aksa yang menelponnya semalam.


"Zayyan nelpon lo semalam?" tanya Senja cukup kaget mendengar ucapan Rara.


"Iya, Aksa nelpon gue. Dia tanya kemana bang Aldi bawa lo. Dia sempet nelpon ke lo, tapi bi Haya yang jawab. Bi Haya bilang dia gak tau kemana bang Aldi bawa lo. Jadi, dia nelpon ke gue."


"Terus, lo jawab apa?"


"Gue jawab gak tau. Dan lo tau, dia malah minta nomor rekan kerja lo di cafe."


"Lo kasi?"


"Iya gue kasi."


Senja menggigit bibir bawahnya. Ia takut jika salah satu dari ketiga rekan kerjanya menceritakan kejadian di cafe pada Aksa.


"Tapi, kayaknya dia gak dapat informasi apa-apa. Tadi pagi juga dia ke kelas mau nemuin lo."


Senja bernafas lega mendengar ucapan Rara. Saat ia hendak berbicara kembali, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.


Tok... Tok... Tok....


"Non Senja, ini Bibi," ucap Bi Haya dari luar. Senja segera mendekati pintu dan membukanya.


"Ada apa, Bi?"


"Itu Non, dibawah ada dua orang, katanya teman Non Senja."


"Dua orang? Cowok atau cewek, Bi?"


"Cowok, Non."


"Ya udah, Bibi duluan aja. Nanti Senja nyusul."


Setelah Bi Haya berlalu, Senja segera mendekati Rara. Ia duduk di sebelah Rara.


"Ada apa?"


"Ada yang datang. Kata bibi, teman gue, cowok."


Rara terdiam. Hingga beberapa detik, ia baru teringat sesuatu. "Ya ampun, gue lupa Nja. Tadi Aksa sama Arhez katanya mau kesini."


"Hah? Beneran?" Rara mengangguk. "Jangan-jangan yang dibawah mereka?" ucap Senja.


"Bisa jadi."


"Aduuh, kenapa pada datang sih. Gimana kalau bang Aldi tiba-tiba pulang dan liat mereka disini?" Senja berucap cemas. Dia tidak mau ada keributan antara Aksa, Arhez dan juga Aldi.


Senja berdiri dan menatap dirinya di cermin. Wajah pucatnya sudah tertutup sempurna oleh make up yang ia gunakan. Setelah itu, ia mengajak Rara turun menemui tamu yang mungkin saja adalah Aksa dan Arhez.


Langkah Senja dan Rara langsung menuju ruang tamu. Dan benar saja, di sofa ruang tamu, Aksa dan Arhez duduk dalam keheningan. Tidak satu pun dari keduanya yang berbicara.


"Ekhm!" deheman Rara membuat Aksa dan Arhez menoleh bersamaan.


"Senja," gumam Aksa pelan. Cowok itu berdiri dan langsung menghampiri Senja. Dan yang membuat Arhez dan Rara terkejut, Aksa menarik Senja dalam pelukannya dan memeluknya erat.


Deg!!


Jantung Senja berdetak cepat. Ini kedua kalinya Aksa memeluknya secara tiba-tiba.


"Walaupun gue tau lo pergi sama abang lo, tetap aja rasa khawatir itu gak bisa gue ilangin, Nja. Gue khawatir benget sama lo," ucap Aksa tanpa melepas pelukannya.


Arhez dan Rara terdiam, masih dengan tampang terkejut mereka. Keduanya tidak menyangka akan menyaksikan reaksi Aksa yang seperti ini. Namun, keduanya paham sekarang. Aksa tidak main-main menerima Senja di hidupnya.


"Gue tau lo khawatir. Tapi, gak usah cari kesempatan meluk Senja," celetuk Arhez, setelah mampu mengkondisikan perasaan terkejutnya, dan juga rasa cemburu melihat Aksa memeluk Senja.


Aksa tak peduli dengan ucapan Arhez. Cowok itu melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah Senja.


"Bang Aldi bawa lo kemana?" tanya Aksa.


Aksa mengangguk paham. Namun, dari sorot mata gadis itu, ia tahu Senja berbohong padanya. Hal yang sama Arhez rasakan. Ia merasa Senja berbohong, dan ia akan mencaritahunya nanti.


"Ayo, duduk dulu," ucap Senja lembut. Aksa dan Arhez langsung menurut, begitu juga Rara. Tak lama, Bi Haya datang dan membawa minuman juga camilan.


"Makasih, Bi," ucap Senja dan Rara bersamaan.


Senja menatap bergantian Aksa dan Arhez setelah bi Haya pergi. "Kalian kenapa kesini? Untung gak ada bang Aldi. Kalau ada, bisa-bisa kalian berantem."


"Iya. Kayaknya bang Aldi gak suka sama lo berdua," sahut Rara yang langsung mendapat pelototan dari Aksa maupun Arhez. Gadis itu meneguk ludahnya. Dua-duanya terlihat menyeramkan.


"Kalian setelah ini langsung pulang, ya? Bang Aldi kayaknya gak lama perginya," ujar Senja.


"Besok lo sekolah kan?" tanya Arhez. Senja mengangguk sebagai balasan.


Setelah berbincang beberapa saat dengan Senja dan Rara, kedua orang itu berpamit pulang.


"Kayaknya Aksa sama Arhez mulai akur deh," celetuk Rara, berjalan masuk rumah setelah mengantar Aksa dan Arhez.


"Iya. Gue harap mereka bisa berteman baik," balas Senja.


"Aamiin."


***


Aldi melangkah cepat memasuki sebuah rumah berlantai satu. Mata tajamnya dipenuhi amarah. Dan suara tawa dari dalam rumah semakin menyulut amarahnya.


"Nah, orangnya udah dateng," ucap salah seorang cowok yang duduk di single sofa. Ia tersenyum remeh pada Aldi.


Bruk!!


Sebuah kardus dilempar dan terjatuh tepat di depan Aldi. Cowok itu menatap kardus tersebut dengan mata memicing. "Maksudnya?" tanya Aldi yang kemudian dibalas kekehan oleh orang tersebut.


"Lo tanya maksudnya? Ini, lo bawa semua ini ke gang sempit jalan xx. Bakal ada yang ambil ini nanti."


"Gue gak mau!!" balas Aldi. Sudah banyak kali ia menolak mereka. Namun, mereka seolah tak peduli dan terus memaksa Aldi. Bukan Aldi jika dia tidak bisa menolak. Apapun caranya, ia tidak ingin terlibat dalam urusan obat-obatan terlarang itu.


"Huh! Terserah lo. Tapi, lo jangan nyesal kalau Senja Amalia, adik kesayangan lo itu punya akhir hidup yang buruk."


Aldi mengeraskan rahangnya. Ini yang dia takutkan. Ini lah alasan dia tidak mau dekat dengan Senja, memarahi Senja, dan selalu meminta Senja menutup wajahnya ketika berpergian dengannya. Mereka terus mengawasinya. Ia tidak ingin Senja ikut terseret dalam masalahnya. Ia ingin Senja membencinya dan perlahan menjauhinya.


"Jangan macam-macam sama Senja!!" ucap Aldi dengan sorot mata tajam nan dingin.


"Huh! Lo tinggal pilih, bawa ini, atau Senja dalam bahaya?"


Aldi kembali mengeraskan rahangnya, kemudian menendang kardus tersebut hingga bergegser dari tempatnya semula.


"Gue bawa ini," putus Aldi, yang kemudian mengangkat kardus tersebut dan membawanya keluar.


Semua yang ada di ruangan tersebut menertawakan Aldi. Namun, detik berikutnya tawa mereka seketika reda saat beberapa orang polisi berlari masuk dan mengepung mereka. Suasana rumah yang tidak memiliki penjaga membuat para polisi dengan mudah menerobos masuk.


Tidak hanya di rumah itu, beberapa titik yang menjadi tempat jual beli obat terlarang tersebut juga dikepung polisi. Aldi memberitahu semua yang ia ketahui mengenai orang-orang tersebut.


Aldi yang melihat itu semua sedikit bernafas lega. Niatnya ingin meminta maaf pada Tama memberinya jalan keluar untuk terlepas dari jeratan para pengedar obat terlarang tersebut.


Tadi, ia mendatangi cafe tempat Senja bekerja untuk meminta maaf pada Tama karena sudah memukul cowok itu. Ia pikir Tama akan marah dan tidak mau memaafkannya. Tapi dugaannya salah. Tama dengan mudah memaafkannya.


Dan kebetulan saat itu, ketua komplotan preman tersebut kembali menelponnya. Bahkan dua mengancam akan menemui orang terdekat Aldi dan melukainya.


Tama yang melihat kecemasan di wajah Aldi pun menanyakannya. Awalnya Aldi menolak bercerita. Namun, karena Tama terus mendesaknya, Aldi pun menceritakan masalahnya pada Tama.


Tama turut merasakan kesulitan Aldi. Ia pun memikirkan jalan keluarnya, hingga akhirnya menemukan solusinya. Keduanya bekerja sama dengan aparat kepolisian. Pada akhirnya, mereka berhasil meringkus penjahat-penjahat tersebut.


"Makasih, Tam," ucap Aldi pada Tama yang datang bersama polisi.


"Sama-sama. Jangan sungkan ngomong sama gue. Kalau gue bisa, gue bantu."