Aksarasenja

Aksarasenja
Senja Minta Maaf



Arhez, Rara, Parto, Bagas, Jafar, Dean, dan Roni berdiri gelisah di depan ruang BK. Mereka sedang menunggu Senja yang diinterogasi Pak Wawan. Semuanya khawatir, takut jika Senja diberi hukuman berat. Apalagi lusa mereka akan melaksanakan ujian akhir.


Semoga lo gak dikasi hukuman macem-macem sama Pak Wawan, Nja. Maaf kalau gue jahat. Tapi, gue lebih setuju lo diskors daripada lo dikasi hukuman berat. Gue gak mau lo sakit. Batin Rara. Dia begitu mencemaskan Senja.


Somoga pihak sekolah bisa bijak ngambil keputusan. Gue janji sama lo, Nja. Gue bakal dapatin bukti kalau lo gak bersalah. Batin Arhez.


Setelah cukup lama berada di ruangan tersebut, Senja akhirnya keluar. Wajah gadis itu terlihat sendu. Ketujuh sahabatnya yang sejak tadi menunggu langsung menghampirinya.


"Nja, gimana? Kamu gak dimarahin atau dibentak Pak Wawan kan?" tanya Rara.


Senja yang menunduk sejak tadi langsung mendongak menatap sang sahabat. "Dari hasil rapat kepala sekolah dan guru-guru tadi, gue disuruh tanggung jawab sama Amara. Gue harus minta maaf dan membayar tagihan rumah sakit Amara. Cuman itu hukuman gue. Tadinya gue mau diskors. Tapi, mengingat lusa ujian akhir, dan keadaan Amara cukup baik, hanya kakinya saja yang sakit, keputusan itu pun dibatalkan."


"Emang bener-bener si Amara. Tenang, Nja. Kita semua bakal cari tau yang sebenarnya terjadi," celetuk Jafar.


Setelah itu Senja bersama Rara dan Parto kembali ke kelas mereka, sementara Arhez dan yang lain juga kembali ke kelas masing-masing.


***


Jam pelajaran usai. Senja bersama sahabat-sahabatnya berjalan pulang meninggalkan sekolah. Aldi benar-benar menepati janjinya. Senja tersenyum kecil sambil meraih tangan sang Abang dan menciumnya.


"Langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Aldi sambil mengusap lembut kepala Senja.


"Abang," panggil Senja lembut.


"Hmm? Ada apa?"


Senja terdiam menunduk, membuat Aldi mengerutkan keningnya. Cowok itu mengangkat pelan dagu Senja hingga gadis itu menatapnya. Terlihat mata Senja yang mulai memerah menahan tangis.


"Ada apa? Kenapa mau nangis gitu? Hmm?"


"Se-Senja dituduh bully Amara, Abang," ucap gadis itu.


"Amara?"


"Iya, Amara. Cewek yang—"


"Abang tau Amara," potong Aldi. Cowok itu dengan lembut menangkup pipi Senja. "Dengar! Abang tau gimana sikap adek Abang. Abang akan berusaha cari buktinya. Kamu tenang ya? Jangan mikirin macam-macam. Cukup jaga kesehatan kamu dan belajar buat ujian."


Senja mengangguk pelan. "Guru-guru mutusin kasi hukuman buat Senja. Senja disuruh biaya in tagihan rumah sakit Amara dan minta maaf," ucap Senja. "Tadi juga Pak Wawan sempat nelpon Abang, tapi gak aktif nomornya."


"Handphone Abang lowbat," jawab Aldi. "Ya udah, sekarang kita ke rumah sakit temuin Amara."


"Bareng teman-teman Senja, Bang."


"Rara sama Parto?"


Senja mengangguk. "Iya. Sama Arhez, Bagas, Jafar, Dean, sama Roni juga."


"Aksa?" tanya Aldi. Ia sedikit heran saat Senja tak menyebut nama cowok itu. Dan juga, Aldi tidak melihat Aksa mengikuti Senja. Biasanya cowok itu akan terus membuntuti Senja. Namun hari ini berbeda.


"Aksa udah duluan," ucap Senja, membuat Aldi hanya mengangguk.


Keduanya segera memasuki mobil. Rombongan teman-teman Senja mengikuti mereka dari belakang menggunakan motor masing-masing.


Ketika pintu terbuka, mereka semua bisa melihat, bagaimana Aksa memperlakukan Amara. Cowok itu dengan telaten membatu Amara, yang kini duduk di sisi brankar. Sepertinya mereka tengah bersiap-siap untuk pulang.


Senja terdiam menatap Aksa dan Amara yang menoleh ke arah mereka. Entah kenapa, rasanya ia ingin menangis. Ingatannya kembali memutar kembali setiap ucapan Aksa pagi tadi.


Arhez yang berdiri di sisi kiri Senja, langsung menggenggam tangan kiri gadis itu. Seolah sedang berusaha menenangkan perasaan Senja. Aldi yang berada di sisi kanan Senja bisa merasakan kesedihan sang adik. Dan itu membuatnya tidak suka.


Aldi menatap Amara kemudian Aksa. Sekarang dia paham, kenapa Amara mau repot-repot memberinya informasi mengenai Aksa dan Senja.


"Kalian datang," ucap Amara sembari mengukir senyum ke arah orang-orang tersebut. Tidak satupun dari mereka yang tersenyum, kecuali Senja. Gadis itu tersenyum begitu tipis sembari berjalan mendekati Amara.


"Mar, gimana keadaan lo?" tanya Senja.


"Gue udah baikan," balas Amara. Ia meraih sepotong apel yang diberikan Aksa. Senja melirik Aksa, namun Aksa acuh seolah tidak menganggap Senja juga berada di ruangan yang sama dengannya.


Senja menarik nafasnya panjang, kemudian menghembuskannya. "Maaf," ucap Senja. "Maaf karena gue udah keterlaluan sama lo." Senja ingin sekali meneteskan air matanya sekarang. Ia seakan sedang mengakui jika dia lah yang membully Amara.


"Gue udah maafin lo." Amara tersenyum, seakan tengah menunjukkan jika dirinya menerima semua ini dengan lapang.


Aldi yang melihatnya tersenyum miring. Sementara Arhez, Rara, Parto, Bagas, Jafar, Dean, dan Roni hanya menunjukkan raut datar tanpa ekspresi.


Aldi maju sambil mengulurkan tangannya pada Amara. "Gue juga minta maaf atas nama adik gue. Ya, walaupun gue yakin bukan Senja yang ngelakuin itu semua."


Amara terdiam. Sepertinya Aldi mulai sadar, kenapa selama ini dia selalu memberikan informasi soal Senja dan Aksa padanya. Sementara Aksa, wajah cowok itu berubah dingin. Tatapannya juga ikut menajam menatap Aldi.


"Maksud lo apa, Bang?" tanya Aksa tak suka.


"Gue dengar, lo cowok pintar dengan nilai terbaik di sekolah. Seharusnya lo bisa paham maksud gue," ucap Aldi. "Oh ya, biaya rumah sakit gue yang bakal bayarin."


Aldi menatap Senja, lalu menggenggam tangan adiknya itu. "Udah kan minta maafnya?" Senja mengangguk membalas sang Abang. "Ya udah. Ayo, pulang!" Tanpa menunggu jawaban Senja, Aldi langsung menarik lembut tangan gadis itu, berbalik berjalan ke arah pintu.


Tapi, belum sempat tangannya meraih gagang pintu, Aldi menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Amara. "Satu lagi. Thanks karena udah kasi informasi soal Senja sama Aksa ke gue selama ini. Gue jadi tau, yang mana yang harus gue percaya."


Bukan hanya Senja yang terkejut. Semua yang ada di ruangan itu ikut terkejut mendengar ucapan Aldi. Amara pun ikut terkejut mendengarnya. Ia pikir, Aldi tidak akan membocorkannya. Ternyata Aldi malah seperti ingin menyudutkannya dengan kenyataan tersebut.


"Ab-Abang, maksudnya...."


"Nanti Abang jelasin," ucap Aldi, kemudian kembali membawa Senja keluar dari ruangan tersebut. Arhez dan yang lain pun ikut meninggalkan ruangan tersebut. Menyisakan Aksa dan Amara yang juga sudah siap meninggalkan ruangan itu.


"Maksud bang Aldi apa, Mar?"


"Dengerin aku, Sa. Waktu itu bang Aldi minta tolong aku buat pantau Senja di sekolah. Aku pikir bang Aldi khawatir banget sama Senja. Jadi, aku tolongin."


"Kapan lo berdua ketemu?"


"Waktu pesta ulang tahun Papa Arhez. Papaku sama papa Arhez temenan. Jadi, aku sama papa juga ikut di undang."


Aksa terdiam. Membuat Amara merasa deg-degan, takut jika Aksa tidak mempercayai omongannya. "Kamu gak percaya? Kamu bisa telpon papa aku buat tanyain yang sebenarnya. Waktu itu ada papa. Papa juga temenan sama papanya Senja. Tapi please, kamu jangan kasi tau papa kalau aku di rumah sakit. Papa lagi kerja di luar kota. Aku takut terjadi sesuatu sama papa kalau papa buru-buru pul—"


"Gue percaya sama lo, Mar," ucap Aksa, menunjukkan sisi lembutnya yang tadi sempat hilang saat kedatangan Senja dan yang lain.


Amara menarik nafas lega. Jika Aksa sudah mengatakan percaya, ia tidak perlu khawatir lagi. Namun, ada satu yang mengganjal hatinya. Tatapan Arhez. Tatapan tajam cowok itu, entah kenapa membuatnya kembali merasa sedih.