Aksarasenja

Aksarasenja
Pengakuan Aksa



Malam hari, ruangan rawat Senja begitu sunyi. Tidak ada satupun diantara Senja atau Aksa yang memulai pembicaraan. Sementara Aldi, dua puluh menit lalu cowok itu berpamitan pulang. Dia sudah begitu gerah dengan baju yang melekat di tubuhnya itu.


"Lo mau sesuatu gak?" tanya Aksa, memecah keheningan. Senja menggeleng, namun tak menatap Aksa.


Melihat Senja yang sepertinya enggan menatapnya pun, membuat Aksa menarik nafasnya. Cowok itu dengan lembut menautkan tangannya dengan tangan Senja. Ketika Senja hendak melepasnya, Aksa dengan erat menggenggam tangan itu.


"Lepasin, Zay."


"Gak! Gue gak akan lepasin," ucap Aksa. "Gue tau, lo belum benar-benar maafin gue."


"Gue udah maafin lo."


"Kenapa gak mau liat gue?"


"Maaf bukan berarti semuanya kembali kayak dulu, Zay."


"Gue tau, gue salah. Gue gak akan maksa lo. Tapi, lo harus tau, Nja. Gue sayang sama lo. Gue suka sama lo, dan gue... gue cinta sama lo."


Senja terdiam dan semakin menyembunyikan wajahnya dari Aksa. Air matanya menetes mendengar pengakuan Aksa itu. Dia bahkan menggigit bibir agar tangisnya tak terdengar Aksa.


"Gue tau, lo bakal anggap ucapan gue cuma kebohongan. Tapi ini benar-benar dari hati gue yang terdalam. Gue sadar, lo berharga dihidup gue, Nja. Dan gue gak mau kehilangan lo."


Senja masih tetap diam dengan air mata yang terus jatuh. Entah kenapa, rasa sedih lebih mendominasi perasaannya saat ini.


"Gak papa lo gak mau ngomong sama gue sekarang. Tapi, lo mau kan, dengar gue ceritain soal papa?" Tangan Aksa masih saja menggenggam tangan Senja. Ibu jarinya dengan lembut mengusap punggung tangan Senja. Ia harap, dengan menceritakan soal papanya, Senja mau melihat ke arahnya.


"Dua hari sebelum ujian akhir selesai, papa jatuh di kamar mandi. Kondisinya mengkhawatirkan. Tapi beruntung, pak Ijan sama bi Darsi cepat panggilin dokter. Saat gue disana, papa bilang ke gue, kalau dia kangen ketemu lo. Dia minta gue—" ucapan Aksa terhenti saat merasakan genggamannya di balas Senja.


Cowok itu tersenyum tipis, namun tak berlangsung lama. Senyum itu seketika luntur dan digantikan kerutan di kening, saat Senja meremas kuat tangannya.


"Nja? Senja, lo kenapa?" Suara Aksa berubah khawatir. Ia langsung berdiri dengan tangan yang masih dipegang kuat oleh Senja. Wajahnya langsung berubah khawatir ketika melihat wajah pucat Senja yang tak diberi make up, semakin terlihat pucat. Kekhawatirannya semakin bertambah ketika melihat bulir-bulir keringat muncul di dahi Senja.


"Senja. Lo kenapa?"


"Shh... Sakit, Zay," ujarnya dengan sebelah tangan menyentuh perut bagian atasnya. Matanya berkaca-kaca.


Melihat Senja kesakitan seperti ini membuat hatinya ikut sakit. Aksa dengan cepat menekan tombol emergency. Setelah itu, ia mengusap lembut kening Senja yang berkeringat.


"Shh... sakit banget, Ya Allah..." ucap Senja lirih. Hal itu semakin membuat hati Aksa sakit.


"Apa yang harus gue lakuin, Nja, biar kurangi sakit lo?" tanya Aksa, tak mengerti harus berbuat apa. Tangannya kembali terangkat mengusap keringat Senja. Suara pintu yang terbuka tak mengalihkan tatapan Aksa. Dia tak sedikit pun menatap ke arah lain selain Senja.


"Dokter akan menangani pasien. Anda silahkan tunggu di luar," ucap seorang suster yang datang bersama dokter Rahila. Aksa yang mendengarnya dengan enggan melepas genggamannya dan Senja. Dia ingin menemani Senja dan segera tahu, bagaimana kondisinya.


Aksa berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dia terus berdiri di depan pintu yang kini sudah tertutup rapat.


Lindungi Senja Ya Allah. Jangan ambil Senja dari aku. Batinnya.


Aksa menyandarkan tubuhnya pada dinding, tepat di samping pintu ruangan. Tanpa sadar, air matanya jatuh dengan sendirinya. Perasaan takut kehilangan Senja semakin besar. Dia menginginkan gadis itu untuk terus bersamanya.


"Aksa!" Panggilan seseorang membuatnya dengan cepat mengusap air matanya. Aksa menegakkan tubuhnya, menatap Aldi yang kini sudah berada di depannya. Ada Arhez, Rara, Tama, Bagas, Jafar dan Parto bersama Aldi.


"Senja kesakitan, Bang. Sekarang lagi ditangani dokter," ucap Aksa.


Aldi terdiam. Dari mata Aksa yang memerah, ia yakin cowok itu menangis tadi. Aldi menarik nafasnya panjang. Bohong jika dia tidak khawatir. Dia sangat sangat mengkhawatirkan Senja. Tapi, dia belajar untuk lebih tenang dalam menghadapi situasi tersebut.


Aldi mendekati pintu, kemudian melihat kedalam ruangan melalui kaca pintu. Dalam hatinya ia berdoa, semoga Senja baik-baik saja. Setelah itu, ia bergerak menjauhi pintu dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan tersebut.


Arhez melirik Aksa sejenak, kemudian ikut duduk bersama Aldi. Dia berharap papanya bisa menemukan donor yang cocok untuk Senja. Sementara Rara, Tama, Bagas, Jafar dan Parto terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada Senja.


Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Semuanya dengan cepat mendekati dokter.


"Bagaimana, Dok?" tanya Aldi.


"Mari ikut ke ruangan saya. Ada yang perlu saya bicarakan," ucap dokter Rahila. Aldi mengangguk mengiyakan. Namun, belum sempat dokter Rahila melangkah, Aksa dengan cepat menahannya.


"Maaf, Dok," ucap Aksa.


"Saya bersedia mendonorkan hati saya untuk Senja."


"Anda yakin?"


"Iya, Dok."


"Ya sudah. Mari ikut kami. Anda harus melalui proses pemeriksaan untuk memastikan kecocokan hati Anda dengan pasien."


"Tan," panggilan Arhez membuat dokter Rahila menoleh padanya. "Kita boleh masuk?"


Wanita itu tersenyum tipis pada Arhez. "Boleh. Tapi, jangan sampai mengganggu istirahat pasien." Arhez mengangguk kemudian berjalan masuk ke ruangan Senja bersama yang lain.


Aksa, Aldi, Dokter Rahila beserta suster pun segera meninggalkan ruangan tersebut.


***


Aksa berjalan gontai menuju ruangan Senja. Wajahnya sendu, dan air matanya sesekali menetes. Harapan besarnya jika hatinya cocok dengan Senja seketika pupus setelah hasil tesnya ia dapatkan. Hatinya tidak cocok dengan Senja.


Aksa menghentikan langkahnya di depan ruangan Senja. Mengusap air matanya, Aksa kemudian mendorong pelan pintu. Semua mata langsung tertuju padanya. Langkah gontainya langsung menuju kursi kosong di samping brankar Senja yang terlelap.


Dia duduk, lalu meraih tangan Senja dan menggenggamnya. Dibawanya tangan itu dalam dekapannya. "Maafin gue, Nja..." lirihnya. "Gue gak bisa donorin hati gue buat lo. Hati gue gak cocok...."


Semua yang ada di ruangan tersebut terus menatap ke arah Aksa. Ini kali pertama mereka melihat sisi rapuh Aksa. Aldi yang juga menyaksikan itu hanya bisa terdiam. Ucapan dokter Rahila tadi terus terngiang di telinganya.


Larut dalam pikirannya, tiba-tiba handphonenya bergetar. Panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Keningnya mengerut ketika sadar nomor itu memiliki kode negara luar. Dia reflek berdiri.


"Gue angkat telpon bentar," ucapnya pada yang lain, kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Hallo?" ucapnya, setelah menjawab telponnya.


"Hallo, Aden?"


Hallo Aden? Dari suaranya ini bukan bi Haya. Batin Aldi.


"Hallo, Den Aldi?" Sekali lagi orang itu menyapa Aldi.


"Hallo. Ini dengan siapa?"


"Ini saya, Den. Yati, adiknya Bi Haya."


"Bi Yati yang kerja sama mama papa?"


"Iya, den."


Aldi langsung menghembuskan nafasnya dan mengucap syukur. Akhirnya, ada jalan untuknya bisa berkomunikasi dengan orang tuanya.


Bi Yati adalah adik Bi Haya yang dibawa oleh kedua orang tuanya ke luar negeri. Mereka sudah begitu cocok dengan wanita itu sehingga tidak mau mengganti ART.


"Bibi apa kabar? Mama sama Papa saya dimana Bi?"


"Bibi baik, Den. Bapak sama Ibu lagi di rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Aduh Aden, Bibi gak bisa jelasin. Nanti Aden tanya ke bapak sama ibu. Bibi nelpon aden cuma mau mastiin, kalau nomor ini beneran nomor aden. Selebihnya Bibi gak bisa jelasin."


"Ya udah, bi, gak apa-apa. Tolong kasi tau papa sama mama buat telpon saya."


"Iya, den. Ya sudah, bibi lanjut kerja dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aldi lagi-lagi menghembuskan nafas lega. Ia bersyukur, akhirnya ia dan Senja bisa berkomunikasi lagi dengan orang tua mereka. Dia tidak sabar untuk memberitahu Senja.


"Senja pasti senang," gumamnya.