
Senja melajukan motornya kembali ke rumah setelah seharian berada di cafe. Perasaan bersalah masih saja menyelimutinya saat melihat sorot kecewa Arhez tadi. Ia hanya berharap agar Arhez dan Ratna bisa berbaikan lagi.
Gadis itu segera memarkirkan motornya ketika tiba di rumah. Langkahnya langsung mengarah ke pintu dan mengetuknya. Ia lupa membawa kunci cadangan.
Tak lama, pintu terbuka dan Bi Haya berdiri sambil tersenyum tipis menyambutnya.
"Maaf ya, Bi, ngerepotin Bibi. Senja lupa bawa kuncinya," ucap Senja, lalu melangkah masuk.
Bi Haya menutup pintu, kemudian mendekati Senja yang berdiri menatapnya. "Nggak apa-apa, Non. Bibi juga belum ngantuk."
Senja mengangguk. "Oh ya, Bi. Bang Aldi belum balik?"
"Belum, Non."
"Ya udah. Senja ke kamar dulu. Bibi istirahat aja. Kalau bang Aldi balik, biar Senja yang bukain pintunya."
Senja segera ke kamar bersamaan dengan Bi Haya yang juga ke kamarnya.
Gadis itu mendudukan dirinya di sofa yang terdapat di kamarnya. Ia begitu lelah karena hari ini, cafe tempatnya bekerja sangat ramai.
Drrttt...
Getaran handphonenya membuat Senja yang hendak memejamkan mata mengurungkan niatnya. Cewek itu menegakkan tubuhnya lalu meraih handphone yang tergeletak di sofa.
"Zayyan?" Kening Senja mengerut saat mendapati nama Aksa yang tertera di layar handphonenya. Dengan segera ia menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Zay— maksud aku Aksa."
"Keluar bentar!"
"Hah? Ma-maksudnya?"
"Gue di depan rumah lo."
Senja melotot mendengarnya. Gadis itu bangkit dari duduknya, lantas berlari ke arah balkon kamar. Dia dengan cepat membuka pintu menuju balkon.
"Beneran ada," gumam Senja saat melihat Aksa duduk di atas motor tepat di depan gerbang rumahnya.
Gadis itu bergegas keluar dari kamar dan langsung menuju gerbang rumah.
"Kamu kenapa kesini?" tanya Senja ketika berhadapan dengan Aksa. Ia bahkan tidak sempat memutuskan panggilan di handphonenya yang masih tersambung.
Aksa tetap terdiam, belum berniat menjawab ucapan Senja. Matanya terus fokus menatap Senja, membuat gadis itu salah tingkah.
"A-ada yang salah?" tanya Senja gugup.
Aksa mengalihkan tatapannya sejenak, lalu kembali menatap Senja. "Nggak ada yang salah," ucapnya.
Senja mengangguk. "Kamu kenapa malam-malam kesini?"
"Gue mau ngomong."
Senja lagi-lagi mengangguk. "Mau ngomong apa?"
"Lo ke tempat Arhez semalam?"
"Iya. Tapi, aku nggak tau kalau itu ulang tahunnya bokap Arhez. Bang Aldi cuman bilang kalau kita mau ke tempat teman papa," jelas Senja.
Diam-diam Aksa merasa senang mendengar penjelasan panjang Senja. Cewek itu seolah tidak ingin membuatnya salah paham akan kejadian tersebut.
"Lo senang disana?"
Senja mengangguk. Dia cukup senang menghadiri acara tersebut. Selain karena Aldi yang terlihat begitu melindunginya, dia juga bisa berbincang cukup lama dengan Ratna.
"Gue liat lo sama Arhez pagi tadi di parkiran cafe."
"Kamu ke cafe?"
Aksa mengangguk. "Ngomong apa aja sama Arhez?"
"A-Arhez tanyain soal aku yang tau kalau kamu sama dia saudara tiri."
Aksa terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Senja. Ia sudah menduganya jika Arhez tidak tahu bahwa Senja mengetahui banyak rahasia tentang mereka.
"Ka-kamu marah?"
Senja mengangguk. Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Senja menoleh ke arah kanan saat silau lampu kendaraan mengenai dirinya dan Aksa yang masih berdiri. Gadis itu menahan nafasnya, takut jika itu adalah abangnya, Aldi.
Dan beberpa menit kemudian, ia menghembuskan nafas lega saat motor dengan lampu menyilaukan itu melewati mereka.
"Haaah... Syukurlah," gumam Senja sembari mengusap dadanya.
"Kenapa?" Aksa yang memang tak paham dengan reaksi Senja, mengerutkan keningnya.
"Nggak kenapa," balas Senja. "Kamu mending pulang, gih! Udah malem."
"Lo takut kepergok bang Aldi?"
"Hehe...." Senja terkekeh canggung. Ternyata Aksa tahu maksudnya. "Udah, sana balik!"
Aksa mengangguk. "Sini deketan!" kata Aksa dan dituruti begitu saja oleh Senja. Gadis itu hanya berharap agar Aksa segera pergi. Namun, semua hal-hal yang dipikirkan Senja mendadak hilang saat ia merasakan tangan Aksa yang terulur, menepuk pelan puncak kepalanya.
Deg!
Senja mematung dengan jantungnya yang bedetak cepat. Hal sederhana, namun mampu menyetuh hatinya. Dan tanpa sadar, matanya berkaca-kaca.
"Gue balik dulu. Sana masuk!"
Senja hanya mengangguk sambil menunduk menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh. "Aku masuk dulu. Hati-hati." Setelah mengatakan itu, Senja langsung berbalik menuju rumah.
Hingga tubuh Senja menghilang dibalik pintu rumah, Aksa melajukan motornya meninggalkan kediaman Senja.
Sementara di dalam rumah, tepatnya di kamar, Senja mengusap air matanya. "Kenapa aku menangis? Seharusnya aku senang Zayyan udah mulai baik sama aku. Tapi... Hiks... Zayyan ingetin aku sama papa... Hiks. Aku kangen sama papa hiks... Sama mama juga..." lirihnya.
***
Aldi menatap Senja yang sudah siap dengan seragamnya. Sebenarnya, ia sangat lelah karena baru saja pulang. Namun, saat melihat Senja menuruni tangga, ia teringat akan semua yang Amara katakan padanya.
Senja yang tidak tahu apa-apa tersenyum tipis pada sang Abang. Dua hari Aldi tak pulang membuatnya sangat khawatir. Terlebih lagi, Abangnya itu tidak pernah mengangkat telponnya maupun membalas chat yang dia kirim.
"Ab—"
"Diam!" Aldi langsung memotong ucapan Senja. Membuat gadis itu terdiam dengan wajah terkejutnya.
"Mau ke mana lo?" tanya Aldi sembari mendekati Senja. Senja bingung atas pertanyaan Aldi. Bukannya sudah jelas jika dia akan ke sekolah? Kenapa Aldi menanyakan hal yang tidak membutuhkan jawaban?
"Jawab Senja!!" Bentakan Aldi membuat Senja memejamkan kedua matanya. Dia takut pada Aldi sekarang. Hendak menjawab, namun Aldi sudah lebih dulu mencengkram rahangnya.
"A-abang."
"Jawab gue!! Mau ke mana lo?!"
"Se-sekolah, Bang."
"Anjing!!" Bentaknya, melepas cengkramannya dengan kasar. Mata Senja berkaca-kaca mendapati perlakuan kasar Aldi. Walaupun sering marah-marah, Abangnya tidak pernah seperti ini sebelum-sebelumnya.
"Abang kenapa?"
"Lo bohong sama gue kan?! Lo ke sekolah cuman buat ngejar-ngejar Aksa! Lo sadar nggak? Lo ngerendahin harga diri lo!!"
"Abang tau dari mana?"
"Lo nggak perlu tau dari mana gue tau semua ini. Yang jelas, lo jangan pernah deketin Aksa lagi!"
Aldi langsung meninggalkan Senja setelah memberi peringatan pada gadis itu.
Senja menatap punggung lebar Aldi yang berjalan menaiki tangga. Air matanya menetes, namun segera ia mengusapnya. Saat berbalik hendak ke ruang makan, Senja mendapati Bi Haya berdiri menatapnya. Ekspresi wajah gadis itu berubah seketika.
Ia mengulas senyum tipisnya, yang berhasil membuat Bi Haya berdecak kagum dalam hati, memuji kepandaian Senja dalam menyembunyikan luka.
"Bibi." Senja mendekati wanita paruh baya itu sambil tetap tersenyum manis. Menampilkan lesung pipi yang menghiasi wajah dengan dandanan tebal, namun tetap terlihat cantik itu.
"Bibi mau kemana?"
"Saya mau panggilin Non Senja. Tapi, malah ketemu Non Senja disini."
"Ooh... Ayo, ke ruang makan! Temani Senja sarapan, Bi." Kali ini, Bi Haya tak menolaknya. Dia ingin menghibur gadis cantik itu.