
Aksa melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Rasa khawatir, takut, dan penyesalan terus menyerang perasaannya. Ucapan Arhez tak henti-hentinya terngiang di dipendengarannya. Bayang-bayang perlakuan dinginnya pada Senja akhir-akhir ini terus terlintas di pikirannya.
"Maafin gue, Nja. Maafin gue..." batin Aksa lirih.
Aksa memelankan laju motornya ketika tiba di parkiran rumah sakit. Dengan cepat ia melepas helmnya, kemudian berlari memasuki rumah sakit.
"Sus, pasien atas nama Senja Amalia dirawat dimana, Sus?" tanya Aksa dengan raut wajah cemasnya.
"T-tunggu sebentar, saya cek dulu," ucap Suster tersebut gelagapan karena ditatap Aksa. "Pasien di ruang rawat Aster VIP lantai 3."
Tanpa membalas atau sekedar mengucapkan terima kasih pada suster, Aksa langsung melangkah cepat menuju lift. Cowok itu berjalan cepat keluar dari lift ketika tiba di lantai tiga. Namun, langkahnya kian memelan saat ia berada tepat di depan ruang rawat Senja. Bisa ia lihat Senja yang terbaring di brankar melalui kaca pintu ruangan tersebut.
Di sana, Aldi terdiam menatap wajah adiknya yang sedang tertidur. Tangannya terus menggenggam tangan Senja.
Dia yakin, Aldi pasti tahu bagaimana hubungannya dengan Senja akhir-akhir ini. Mungkin saja Aldi kembali membencinya dan tidak akan mengizinkannya bertemu Senja. Tapi, ia menepis semua kemungkinan tersebut, dan akan menerima semua perlakuan Aldi. Yang paling penting baginya adalah bisa bertemu Senja dan terus menemaninya.
Menarik nafasnya, Aksa kemudian mengetuk pintu. Bisa ia lihat Aldi mengecup tangan Senja sebelum melepas genggamannya dan bergegas membuka pintu untuknya.
Ceklek.
Keduanya terdiam dan saling menatap. Aksa menunggu reaksi Aldi atas kedatangannya yang tiba-tiba. Namun, cowok itu tak menunjukkan reaksi apapun. Aldi justru berbalik dan kembali menghampiri Senja yang terbaring dan duduk di kursinya. Seolah ia tidak mempermasalahkan kedatangan Aksa. Sementara Aksa, cowok itu terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Kalau lo datang cuman buat berdiri di situ, mending lo balik," ucap Aldi tanpa menoleh ke arah Aksa.
Aksa menarik nafasnya lalu melangkah masuk dan kembali menutup pintu. Dia berdiri tepat di sebelah kursi Aldi. Cowok itu melirik tangan Senja yang digenggam oleh Aldi. Dari genggaman dan raut wajah Aldi, dia bisa tahu se-khawatir apa Aldi pada Senja.
Dia kemudian beralih menatap wajah Senja. Wajah gadis itu terlihat pucat meski tertutup make up. Tidak tahu lagi, sepucat apa wajah Senja jika semua make up itu terhapus.
Ingatan Aksa berputar ke waktu dimana dia mengunjungi rumah Senja dan mendapati gadis itu tanpa make up. Wajah Senja begitu pucat saat itu. Dan sekarang ia paham, kenapa Senja selalu merias wajahnya dengan make up tebal.
Kenapa lo gak jujur sama gue, Nja? Sekarang gue ngerasa jadi orang yang paling bodoh.
"Arhez yang kasi tau lo?" Suara Aldi memecah keheningan. Membuat Aksa menatapnya sejenak, lalu kembali beralih pada Senja.
"Iya," jawab Aksa. "Maafin gue, Bang," lanjut Aksa.
Aldi menarik nafasnya panjang. "Seharusnya lo minta maaf ke Senja, bukan gue," balas Aldi. Aksa kembali terdiam. Dalam hatinya membenarkan ucapan Aldi. Seharusnya Senja orang pertama yang mendapat ucapan minta maafnya.
"Gue gak bisa nyalahin lo sepenuhnya soal masalah itu. Gue tau lo juga korban kebohongan Amara. Tapi jujur, gue kecewa."
"Abang tau soal Amara?"
"Hmm, bahkan bi Haya juga tau soal kebohongan Amara. Sebenarnya kita mau kasi tau lo sekalian kasi buktinya. Cuman Senja ngelarang. Kayaknya dia kecewa banget sama lo."
Aksa menarik nafasnya panjang. Sudah pasti Senja kecewa padanya. Dia sudah melukai perasaan gadis itu.
Aldi berdiri dari duduknya dan berpindah menuju sofa, seolah memberi kesempatan Aksa untuk duduk di sebelah Senja. "Gue mau istirahat sebentar. Lo tolong jagain adik gue," ucapnya, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Aksa segera duduk di kursi yang ditinggalkan Aldi. Cowok itu menggenggam tangan Senja, lalu mengecupnya lembut. "Maafin gue..." ucapnya lirih.
Gerakan Aksa membuat tidur Senja terusik. Gadis itu dengan perlahan membuka matanya. Membuat matanya dan mata Aksa bertemu.
"Nja—"
"Sejak kapan lo disini?" tanya Senja lembut, dengan mata yang kini beralih menatap sang Abang yang duduk di sofa.
Aksa terdiam. Lo? Dia tidak suka kata itu keluar dari mulut Senja untuknya. Dia ingin Senja yang dulu. Tapi, dia tidak bisa memaksanya. Itu semua karena kesalahannya.
"Belum lama juga. 15 menit," jawab Aksa. Setelah itu, keduanya sama-sama terdiam. Aksa terus menatap Senja yang malah menatap Aldi.
Menarik nafasnya, Aksa kembali bersuara. "Gue minta maaf, Nja," ucapnya, membuat Senja mengalihkan tatapannya ke arahnya.
"Minta maaf buat apa?"
"Minta maaf buat semuanya. Soal gue yang kasar, yang gak percaya sama lo dan lebih percaya sama Amara."
"Gue udah maafin," balas Senja, sambil mengulas senyum tipis. "Lagian, ini semua gak sepenuhnya salah lo. Lo lebih dulu kenal Amara dibanding gue. Sudah semestinya lo lebih percaya sama dia. Gue terlalu memaksa buat lo percaya sama gue. Tapi yang harus lo ingat, mencari tau kebenaran itu penting, Zay."
Aksa mengangguk. "Lo benar. Mencari tau kebenaran itu penting. Dan kesalahan gue adalah gak mau cari tau kebenaran itu," balas Aksa.
Senja balas mengaangguk. Gadis itu kemudian kembali menatap sang abang yang kini sedang fokus pada layar ponselnya. "Abang," panggil Senja lembut. Aldi yang fokus pada ponselnya pun mendongak menatap sang adik. Setelah itu, dia berdiri dan mendekat pada Senja.
"Ada apa? Mau sesuatu?" tanya Aldi lembut sambil mengusap-usap rambut Senja.
"Senja mau minum."
Deg!
Dada Aksa seolah dihantam batu besar saat mendengar ucapan Senja. Gadis itu lebih memilih meminta tolong pada Aldi yang berada cukup jauh darinya dibandingkan dia yang ada di dekatnya. Bahkan segelas air putih itu bisa ia jangakau dengan tangannya tanpa harus berpindah tempat.
Aldi pun ikut terdiam. Dalam hatinya, ia yakin Aksa begitu terluka. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kekecewaan Senja begitu dalam. Hingga setelah memafkan pun, ia masih enggan untuk meminta tolong pada Aksa.
"Abang? Kok bengong?"
"Eh, maaf," balas Aldi, lalu membantu Senja duduk, kemudian meraih gelas berisi air itu dan memberikannya pada Senja.
Senja segera meneguk air itu beberapa teguk, kemudian kembali memberikan gelas tersebut pada Aldi.
"Butuh sesuatu lagi?" tanya Aldi.
"Senja mau ke toilet."
"Ya udah, Ayo." Aldi kembali membantu Senja turun dari brankarnya, kemudian membantu adiknya menuju toilet. Aksa lagi-lagi menarik nafasnya kemudian mengikuti Aldi berdiri di depan pintu toilet, menunggu Senja.
"Biasanya Senja gak gitu kalau udah maafin orang. Kayaknya rasa kecewa Senja gak main-main, Sa. Gue harap lo ngerti dan sabar ngadepin adek gue."
"Itu udah konsekuensinya, Bang. Gue bakal terima semuanya. Gue bakal terus sama Senja. Yang penting buat gue, Senja gak usir gue dan biarin gue terus dekat dia."
Aldi tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pelan punggung Aksa. Dia juga kecewa. Tapi, dia tidak mau mengusir Aksa lagi dari hidup Senja. Bagaimana pun, dia tahu seberapa sedih Senja waktu Aksa mengabaikannya dan lebih percaya Amara. Dia juga pernah memergoki Senja menangis sendirian karena Aksa. Saat ini, Senja masih dalam suasana hati yang buruk. Mungkin beberapa hari nanti dia akan senang melihat Aksa berada di dekatnya.