
Bugh...
Satu pukulan kembali mendarat di rahang tegas Aldi. Tubuh cowok itu ambruk setelah dua orang bertubuh besar melepas pegangan mereka pada tubuh Aldi.
"Sekali lagi lo buat kesalahan, hukuman lo akan lebih parah dari ini," ucap seorang cowok berdiri di hadapan Aldi. "Jika bukan lo, siapa pun yang ada hubungan dengan lo, bakal gue seret."
Setelah memberi peringatan, cowok tersebut beserta dua temannya pergi dari hadapan Aldi.
Aldi membalikan tubuhnya, telentang di atas lantai salah satu ruangan di sebuah rumah kosong. Cowok itu mengusap sudut bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah.
"Shh...." Aldi meringis pelan. Wajah dan perutnya terasa sakit karena pukulan orang tersebut.
Seharusnya dia menuruti permintaan cowok tersebut. Serahusnya juga dia tidak ikut dalam permainan yang dibuat cowok itu. Sekarang ia merasakan akibatnya.
Bukan hanya dia yang dalam bahaya sekarang. Nyawa orang-orang terdekatnya juga dalam bahaya.
"Aldi!"
Dia mendongak, menatap seseorang yang memanggilnya. Dan beberapa detik kemudian, pandangannya menggelap, dan ia tak sadarkan diri.
"Abang!"
"Abang!"
Senja dengan pelan mengguncang lengan Abangnya. Gadis itu terlihat khawatir pada sang Abang. Sejak tadi, Aldi mengigau dan meringis seperti orang kesakitan.
Senja baru saja pulang dari cafe dan mendapati Aldi tertidur di sofa ruang tamu. Sebenarnya, ia takut membangunkan Aldi. Tapi, ia tidak tega membiarkan Abangnya kedinginan di ruang tamu. Aldi yang terus mengigau semakin membuatnya tak tega.
"Abang!"
Sekali lagi panggilan Senja, Aldi membuka matanya dan langsung terduduk. Laki-laki itu meraba wajahnya, memastikan apa dia benar-benar dipukul atau tidak.
Hanya mimpi. Aku memimpikannya lagi. Batin Aldi.
"Abang nggak apa-apa?" Suara Senja membuat Aldi menatapnya. Cowok itu memicingkan matanya ketika melihat penampilan Senja.
"Dari mana lo?" tanya Aldi ketus.
"Se-Senja dari rumah Rara."
Aldi menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Seharusnya di jam segitu, Senja berada di rumah. Bukan baru sampai rumah.
"Kali ini, lo gue maafin. Lain kali, jam sepuluh, lo udah ada di rumah!" tegas Aldi kemudian bangkit dari duduknya. "Jangan sapa gue saat ketemu di luar rumah. Anggap kita gak pernah kenal. Kalau ada yang tanya, bilang aja lo anaknya Bi Haya," ucap Aldi, kemudian berjalan meninggalkan Senja yang mematung mendengar ucapannya.
***
Hari demi hari begulir dengan cepat. Hubungan Aksa dan Senja semakin lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Aksa sering sekali mengajak Senja pergi bersama. Bahkan sudah beberapa kali Senja mengunjungi Pak Herman bersama Aksa.
Namun, hal berbeda terjadi pada hubungan Aksa dengan Ratna dan Arhez. Cowok itu masih menganggap Arhez musuhnya, dan belum mau memaafkan Ratna.
Seperti saat ini, Aksa menatap tajam Arhez yang tiba-tiba datang dan mengajak Senja ke kantin. Padahal, Aksa sudah lebih dulu mengajak Senja.
"Lo nggak bisa bawa pergi Senja seenaknya," ucap Aksa, menahan tangan Senja yang digenggam Arhez.
"Gue cuman butuh persetujuan Senja, bukan lo!" sahut Arhez. Dia tak kalah tajam menatap Aksa.
Parto dan Rara yang menyaksikan, meringis pelan melihat perselisihan keduanya. Begitu juga Senja yang dibuat bingung oleh Aksa dan Arhez.
"Gimana kalau kita berlima ke kantin sama-sama? Rara—"
"Gak bisa!" jawab Aksa dan Arhez bersamaan.
Senja kembali meringis. Gimana caranya ia melerai dua orang yang sepertinya sudah mulai tersulut amarah. Gadis itu memutar otaknya, memikirkan cara agar Aksa dan Arhez tidak bertengkar.
Setelah beberapa saat, ia menemukan caranya. "Ya udah. Kalau kalian berdua nggak mau kita ke kantin berlima, biar gue bareng Rara sama Parto. Kalian berdua sendiri-sendiri aja," ucap Senja seraya melepas genggaman Aksa dan Arhez di tangannya.
"Ayo, Ra, To!" Ketiga orang itu melangkah meninggalkan Aksa dan Arhez. Dan tanpa menunggu, Aksa langsung membuntuti mereka. Arhez juga tak mau kalah. Ia juga segera melangkah mengikuti Senja, Rara dan Parto.
Tiba di kantin, kedatangan mereka kembali menarik perhatian banyak siswa siswi, termasuk Amara dan kedua temannya, Sonya dan Siska. Amara menggertakan giginya geram. Ia merasa, Aksa sekarang benar-benar sudah mengabaikannya.
Dan dengan segala kelicikannya, Amara mengambil gambar Senja saat berdiri tak jauh dari Aksa. Pasti Aldi akan sangat marah melihatnya.
Sementara disana, Arhez menarik kursi untuk di duduki Senja. Cowok itu tersenyum miring pada Aksa, karena merasa dia lebih unggul dari Aksa.
"Lo mau pesan apa?" tanya Aksa yang masih berdiri. Rara dan Parto yang terdiam sejak tadi saling pandang. Demi apa Aksa mau memesan makanan untuk Senja? Dia benar-benar berubah sekarang.
"Gue aja yang pesen—"
Glek!
Parto langsung menghentikan ucapannya dan susah payah meneguk salivanya. Saat ini, Aksa tengah menatapnya tajam.
"Aku bisa pesan sendiri," ujar Senja cepat. Ia merasa bersalah pada sahabatnya, Parto.
"Gak usah!" ucap Aksa lalu berbalik untuk memesan makanan. Ia akan memesan makanan yang sama seperti pesanan Senja kemarin.
***
"Nih, es krim vanilla. Kesukaan lo, kan?" Senja tersenyum dan mengangguk. Gadis itu dengan cepat meraih satu cup es krim yang diberikan Arhez.
"Makasih. Tapi, kok cuman dua? Buat Zay— maksud gue buat Aksa mana?" tanya Senja ketika menyadari hanya tersisa satu cup di tangan Arhez.
Arhez hanya menampilkan wajah datarnya, kemudian duduk di sebelah kiri Senja. "Dia bisa beli sendiri," ucapnya, memasukan sesendok kecil es krim ke mulutnya.
Aksa yang berada di sebelah kanan Senja mendengus pelan. Jika bukan karena Senja, dia tidak akan mau jalan bersama Arhez.
"Gue gak suka es krim!" celetuk Aksa dengan wajah dinginnya.
Arhez hanya mengedikan bahunya acuh. Dia tidak peduli dengan perasaan Aksa. Lagi pula, Aksa juga tidak menghargai usaha mamanya untuk mendapat maaf Aksa. Jika Ratna tidak menasihatinya untuk menahan diri saat menghadapi Aksa, sudah bisa ia pastikan akan memukul wajah dingin menyebalkan itu.
Ngomong-ngomong, hubungan Arhez dan mamanya, Ratna, sudah kembali membaik. Setelah pulang dari cafe menemui Senja waktu itu, Arhez langsung meminta maaf pada sang mama dan memperbaiki hubungan mereka. Ia merasa bersalah saat melihat mata bengkak Ratna karena menangis.
"Ekhm... Gue mau ngomong sesuatu," ucap Senja setelah beberapa saat hening. Sebenarnya, dia sengaja mengajak Aksa dan Arhez ke taman setelah pulang sekolah. Dia ingin mendekatkan dua saudara tiri yang saling membenci itu.
"Ngomong apa?" tanya Aksa.
"Gue boleh minta sesuatu sama kalian berdua, nggak?"
"Boleh," sahut Aksa.
"Boleh banget," ujar Arhez.
"Gue mau minta kalian berhenti bertengkar, belajar untuk saling menerima satu sama lain."
"Gue nggak bisa!" ucap Aksa cepat.
"Gue juga nggak bisa," timpal Arhez.
"Kalian berdua belum coba, kenapa langsung bilang nggak bisa? Apa kalian berdua mau terus-terusan musuhan? Sekuat apapun kalian tidak mau menerima status kalian, tetap aja kenyataannya kalian berdua saudara tiri."
Entah keberanian dari mana yang Senja dapatkan hingga ia mengatakan semua itu pada Aksa dan Arhez.
Kedua cowok itu hanya diam mendengar ucapan Senja. Susana kembali menjadi hening. Aksa dan Arhez bergelut dengan pikiran masing-masing.
Senja melirik keduanya, kemudian menarik nafasnya. Gadis itu berdiri dari duduknya, membuat Aksa dan Arhez langsung mendongak menatapnya.
"Mau kemana?" tanya Aksa sembari menahan tangan Senja.
"Mau balik. Sejam lagi mau ke cafe."
"Gue anter!" ucap Arhez dan Aksa bersamaan.
Senja tersenyum dan menggeleng pelan. "Gak usah. Gue balik sendiri aja," ucap Senja.
Senja melepas tangan Aksa yang menahan tangannya, lalu bergegas pergi dari tempat itu. Biarkan saja jika Aksa dan Arhez masih ingin tetap disini. Biarkan mereka mikirkan apa yang harus mereka putuskan.
***
Setelah pulang dari cafe, Senja segera mengistirahatkan tubuhnya usai membersihkan diri. Gadis itu berbaring telentang di atas ranjang dalam kamarnya. Ia sedang berbalas chat dengan Rara dan Parto.
Namun, tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu kamarnya.
"Senja!!"
Gadis itu meletakan handphonenya dan segera membuka pintu.
"Ab—"
"Apa maksudnya ini?" Aldi langsung memotong ucapan Senja. Laki-laki itu memeperlihatkan layar handphonenya yang menampilkan foto Senja berdiri di dekat Aksa. Senja terdiam. Ini adalah mereka saat di kantin sekolah. Sepertinya foto itu diambil diam-diam oleh seseorang.
"Abang dapat dari mana?"
"Lo gak perlu tau gue dapat dari mana. Yang jelas, gue gak suka lo ngejar-ngejar cowok brengsek itu."
"Abang gak bisa seenaknya ngelarang Senja." Senja memberanikan diri membalas Abangnya. Cewek itu menatap mata Aldi yang kini menatapnya tajam.
"Seenaknya apa?! Lo adek gue! Gue berhak ngelarang lo!"
"Sekarang Abang bilang Senja adek Abang. Tapi, apa Abang pernah berpikir? Sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang, Abang gak pernah perlakuin Senja layaknya adek Abang. Senja lebih seperti orang asing yang selalu gangguin hidup Abang. Senja—"
"Diam Senja!!"
"Kenapa? Abang sadar sekarang?"
"Senja!!"
Aldi dengan teganya mendorong tubuh Senja. Dan tanpa memikirkan apakah Senja terjatuh atau tidak, Aldi langsung melenggang menuju kamarnya dengan luapan emosi yang mati-matian ia tahan.