
"Senja!" Panggilan dengan suara yang begitu dikenalnya membuat Senja menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik menatap ke sumber suara.
"Zayyan."
"Nih, kotak bekal lo." Aksa mengulurkan kotak bekal milik Senja yang diberikan padanya pagi tadi. Membuat Senja meraihnya sambil tersenyum.
"Kamu habisin?"
Aksa mengangguk. "Iya. Makasih," ucapnya.
"Iya. Aku senang kamu habisin bekalnya."
"Senja!!" Teriakan yang memanggil nama Senja membuat Aksa dan Senja menoleh. Dari arah sana, Bagas dan Jafar berjalan menghampiri keduanya.
Senja mengulas senyum tipis. Sedangkan Aksa, ia sedikit tak suka melihat kedua sahabatnya itu datang. Tatapan Aksa menajam ketika kedua orang itu berdiri di depannya. Masing-masing mereka memegang kotak bekal yang hampir sama dengan yang diberikannya pada Senja.
"Makasih ya, Nja, bekalnya. Enak banget," ucap Jafar.
"Iya, Nja. Lain kali, kalau masak banyakin aja. Biar kita berdua dapat juga," sahut Bagas membuat Senja terkekeh kecil.
"Lo bawain bekal buat mereka juga?"
"Bukan hanya mereka. Gue juga!" sahut seseorang dari arah lorong kelas. Sontak semua menoleh dan mendapati Arhez berjalan ke arah mereka.
Aksa mengeraskan rahangnya ketika melihat Arhez yang juga memegang kotak bekal.
"Sebanyak apa lo bawa bekal hari ini?" tanya Aksa dingin.
"Aku bawa 5 kotak bekal. Buat kalian berempat, satunya lagi buat aku sama Rara."
"Ya Allah, Nja. Gak berat tas lo?" Bagas cukup terkejut mendengarnya.
"Hehehe... Nggak berat juga. Hari ini kan free pelajaran, jadi gue nggak bawa buku."
"Ck. Ck. Ck. Keren lo, Nja. Tapi, lo ngoleksi kotak bekal? Kok semuanya hampir samaan?"
"Bukan gue yang ngoleksi kotak bekal, Far. Tapi Bi Haya. Katanya biar gue senang bawa bekal ke sekolah."
"Wuidih, keren Bibi lo, Nja," ucap Bagas.
"Kita jadi kan setelah pulang sekolah?" Pertanyaan Arhez membuat Senja menatapnya.
"Jadi. Udah aku kabarin kak Tama."
"Ya udah. Ayo gue anterin ke kelas. Gue bantu lo bawain semuanya." Tanpa menunggu jawaban Senja, Arhez meraih kotak bekal yang dipegang Bagas dan Jafar. Kemudian sekali lagi mengajak Senja ke kelas.
"Ya udah, gue ke kelas dulu. Zayyan, aku ke kelas dulu." Hanya anggukan yang diberikan Aksa. Moodnya tiba-tiba menjadi buruk saat tahu bukan hanya dirinya yang menadapat bekal seperti biasanya. Tapi, ada Bagas dan Jafar juga. Dan yang semakin menambah buruk suasana hatinya adalah Arhez juga mendapat bekal dari Senja.
Ada apa sama gue? Kenapa gue jadi nggak suka Senja bawain bekal buat orang lain? Dan lagi-lagi gue selalu kesal kalau Senja bareng Arhez. Batin Aksa.
***
Sesuai yang direncanakan, Roni membawa sepupunya ke Diana's Cafe. Begitupun dengan yang lainnya yang ikut merayakan ulang tahun sepupu Roni.
"Nja, ganti baju dong. Masa lo pakai baju kerja," ucap Dean.
"Nggak apa-apa kali. Gue juga izin sama kak Tama cuma sejam," jawab Senja. Gadis itu kemudian menoleh pada sepupu Roni. "Hai, gue Senja," sapa Senja sembari mengulurkan tangannya.
"Aku Vika, Kak."
"Selamat ulang tahun, ya. Kadonya besok ya, gue titipin ke Roni."
"Hah? Kado? Kita kan baru kenal Kak."
"Nggak apa-apa," balas Senja tersenyum. Membuat gadis yang masih duduk di bangku SMP itu tersenyum.
"Makasih, Kak."
Senja membalasnya dengan mengangguk. Melihat gadis itu bahagia membuatnya ikut senang.
"Duduk, Nja." Arhez meraih tangan Senja, menyuruhnya duduk. Senja menurut. Ia lagi-lagi duduk diantara Rara dan Arhez.
"Maaf ya, gue halangin lo duduk dekat Arhez," bisik Senja pada Rara.
"Ck. Sialan lo, Nja. Gue nggak apa-apa kali lo duduk dekat Arhez. Kalau buat lo, gue ngalah." Senja menahan senyum mendengarnya. Ia kemudian kembali fokus ke yang lain.
"Oh ya, Nja, yang gue anterin tadi udah siap?" tanya Parto. Dia sempat mengantar kue ulang tahun ke Cafe sore tadi, dimintai tolong sama Roni.
"Udah. Gue sama Rara ambilin. Tapi, Vika harus tutup mata dulu."
"Tutup mata?"
"Ya udah. Ayo, Kak Roni tutupin mata Vika."
Setelah mata Vika ditutup, Senja dan Rara segera mengambil kue ulang tahun yang sudah Senja siapkan. Kedua gadis itu membawa dua kue ulang tahun. Satu kue dari Roni, dan yang satunya lagi dari mereka berlima. Lebih tepatnya dari Arhez, karena kue itu dibeli menggunakan uang Arhez.
Mereka sengaja melakukan itu agar Vika tidak mengingat kejadian buruk yang menimpanya tepat di hari ulang tahunnya 3 tahun lalu. Roni meminta bantuan mereka, dan sebagai teman, mereka ingin melakukan yang terbaik untuk teman mereka.
"Siap-siap, ya. Kakak bukain penutupnya," ujar Roni. Vika mengangguk. Dan detik berikutnya, Roni benar-benar melepas penutup matanya.
Senyum bahagia terukir di bibir gadis itu melihat dua kue ulang tahun berada di depannya. "Makasih, Kak," ucap Gadis itu lalu memeluk Roni. Senja dan Rara saling merangkul dan ikut tersenyum bahagia.
***
Setengah jam sebelum Cafe ditutup, acara ulang tahun Vika selesai. Semuanya berpamit pulang pada Senja.
"Nja, cowok yang duduk dekat lo tadi, siapa?" tanya Manda.
"Arhez, Kak. Kenapa?"
"Ganteng. Kenalin dong."
"Idih, sadar diri Manda. Itu anak SMA. Mau deketin berondong lo?" celetuk Chesie yang langsung membuat Manda cemberut. Sementara Tama dan Senja terkekeh.
"Cuma minta dikenalin, Ches. Ya kali gue suka bocil. Tapi, pantes gak sih dibilang bocil? Badannya gede gitu. Udah kayak Tama aja."
"Iya, ya. Gue heran anak-anak SMA sekarang badannya gede-gede. Yang kemarin take away makanan disini juga anak SMA kan?" Chesie menatap Manda dan Tama.
"Iya. Kayaknya satu sekolahan sama lo, Nja. Ada tulisan SMA Gerhana di lengan bajunya," seru Tama.
"Orangnya juga ganteng banget, Nja. Tapi sayang, dinginnya udah kayak es di kulkas," celetuk Manda.
"Siapa? Kakak nggak baca namanya?" Ketiga orang itu serentak menggeleng.
"Sayang banget lo nggak masuk kemarin. Kalau lo masuk, udah pasti gue bisa kenalan sama dia. Tapi, kapan-kapan kalau dia dateng lagi, gue fotoin. Biar lo bisa kenalin dia ke gue."
Senja geleng-geleng mendengar ucapan Manda. Manda kalau soal cowok ganteng, agak lain sifatnya.
Setelah merapihkan cafe, Senja, Manda, Chesie dan Tama bergegas pulang. Manda dijemput, Chesie menumpang pada Tama dan Senja sendiri.
"Hati-hati pulangnya, Nja," ucap Manda sembari melambaikan tangannya pada Senja.
"Mau kita temenin sampai rumah, Nja?" tanya Tama.
"Apaan sih, Kak. Biasanya juga pulang sendiri. Gue berani kali."
"Iya, Iya. Tapi lo harus hati-hati. Jangan ngebut-ngebut!" peringat Tama.
"Iya."
"Kalau sampai rumah, kabarin gue. Kalau ada apa-apa, cepat telpon kita," ucap Chesie.
"Iya, Kak." Senja mengangguk mengiyakan. Hampir setiap kali pulang kerja Senja mendapatkan nasihat yang sama dari ketiga rekan kerjanya itu.
Senja menaiki motornya. Belum sempat ia menghidupkan motornya, sebuah motor sport berhenti tepat di dekatnya dan juga Tama dan Chesie.
"Arhez? Lo belum pulang?"
Cowok itu menggeleng. "Belum."
"Kenapa?"
"Gue tungguin lo."
"Lo temannya Senja kan?" Suara Tama membuat Arhez menoleh padanya.
"Iya, Bang."
"Temenin Senja pulang."
"Eh, nggak usah. Gue bisa pulang sendiri," sahut Senja cepat. Tama ini ada-ada saja.
"Gue belum pulang dari tadi karena nungguin lo. Gue mau anterin lo pulang."
Senja menatap Arhez. Tama dan Chesie tersenyum lega. Setidaknya Senja tidak pulang sendiri. Mereka selalu khawatir saat Senja pulang sendiri.
"Ya udah. Gue pulang bareng Arhez. Kak Tama sama Kak Chesie hati-hati pulangnya."
"Iya, Nja."
Setelah motor yang di tumpangi Tama dan Chesie melaju, Senja dan Arhez pun ikut meninggalkan cafe tersebut.