Aksarasenja

Aksarasenja
Berhenti Panggil Zayyan



Pagi ini, SMA Gerhana dipenuhi perasaan suka cita. Lagi-lagi, mereka kembali mendapat kemenangan pada lomba olimpiade hari kemarin. Aksa, Amara dan Wira berhasil meraih juara I di olimpiade tersebut.


"Selamat ya, Aksa, Amara, Wira. Lo bertiga berhasil mempertahankan nama baik sekolah kita," ucap Siska, sahabat Amara.


"Iya, selamat. Kita semua senang lo bertiga berhasil," sahut Sonya.


"Iya, makasih ya," jawab Amara. Sementara Aksa, cowok itu hanya mengangguk dengan wajah datarnya, kemudian langsung meninggalkan mereka. Sedangkan Wira, cowok itu tersenyum dan mengangguk. Dan tak lama kemudian, ia juga meninggalkan Amara dan teman-temannya.


Setelah kepergian dua cowok itu, Amara mulai menunjukkan sifat aslinya. Ia mulai berlagak sombong pada siswa siswi yang mengucapkan selamat padanya.


Senja, Rara dan Parto yang baru datang juga ikut mengucapkan selamat pada Amara. Biar bagaimana pun, cewek itu sudah ikut mengharumkan nama sekolah. Mereka harus mengesampingkan perselisihan mereka.


"Selamat ya, lo bertiga berhasil menangin olimpiade," ucap Senja.


Amara menatap tangan Senja yang terulur. Tak ada niat untuk membalas uluran tangan tersebut. Amara malah memainkan rambutnya.


"Gue sih, udah yakin dari awal kalau kita pasti menang. Nggak tau lagi kalau yang ikut lombanya bukan kita bertiga. Atau, yang ikut lombanya orang kayak lo. Udah di pastikan sekolah kita bakalan kalah!"


Ucapan Amara memancing siswa siswi yang berada di sekitar tempat mereka berdiri tertawa. Tidak banyak siswa siswi SMA Gerhana yang suka pada Senja. Hanya segelintir orang yang menyukai gadis yang selalu berdandan tebal itu. Itupun kebanyakan para cowok.


"Lo juga nggak akan bisa bawa gelar juara itu kalau nggak ada Aksa sama Wira!" Suara bernada dingin itu menghentikan tawa para siswa siswi.


Arhez muncul bersama Dean dan Roni. Ada Bagas dan Jafar juga. Dua cowok sahabat Aksa itu menatap kesal pada Amara.


"I-ini nggak ada urusannya sama Lo!!" Amara berucap gugup. Jujur, dia cukup takut pada Arhez. Laki-laki itu tidak sebaik Aksa saat meladeninya.


"Huh? Yang berhubungan dengan Senja, itu urusan gue."


"Ada apa ini?" Suara lantang Bu Trya membuat semua siswa siswi meneguk ludah. Tapi, tidak bagi Arhez. Dimarahi Bu Trya maupun guru-guru lainnya, bukan sesuatu yang buru baginya.


Bu Trya menembus kerumunan siswa siswi tersebut. Dan yang semakin membuat siswa siswi tersebut takut, Bu Trya tidak sendiri. Bu guru tersebut bersama Pak Rahmat dan Pak Wawan. Dan tanpa diperintah pun, semuanya langsung bubar. Hanya tersisa Arhez.


"Kenapa kamu Arhez? Buat ulah lagi?" tanya Bu Trya tegas.


"Enggak, Bu. Saya cuma mau ucapin selamat ke Amara."


"Jangan bohong kamu Arhez!" tegas Pak Rahmat.


"Enggak, Pak."


"Betul kamu?" Pak Wawan memastikan.


"Iya, Pak. Nggak percayaan amat sama saya. Ya udah, saya permisi dulu ke kelas." Arhez langsung melenggang pergi setelah berpamitan pada ketiga gurunya tersebut.


***


Bagas dan Jafar langsung merangkul dan mengucapkan selamat pada Aksa. Entahlah, sahabat mereka itu selalu membuat mereka bangga, kecuali mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan Senja. Aksa selalu berhasil membuat mereka kesal.


"Selamat ya, bro. Seneng banget gue. Gak sia-sia lo ngekori pak Rahmat kesana kemari," ucap Bagas sambil tersenyum cerah.


"Siapa bilang gara-gara ngekori pak Rahmat? Ini karena sebelum pergi, Aksa minta gue do'a in biar bisa menang. Terbuktikan do'a gue dikabulin sama Allah?"


"Eleh, gaya lo Jaaaaf Jaf, udah kayak orang alim yang do'anya cepat dikabulin. Sholat aja yang lima lo ringkas jadi dua. Sok sok an segala lo."


"Bilang aja lo iri, Gas. Lo dendam kan sama gue gara-gara Senja lebih milih pulang sama gue dari pada dibonceng lo semalam? Ngaku lo!"


Mendengar nama Senja yang dibawa-bawa, senyum tipis Aksa yang terukir karena ulah kedua sahabatnya itu langsung lenyap begitu saja. Ia menatap tajam kedua sahabatnya itu.


"Kenapa sama Senja?" Sontak Bagas dan Jafar yang sedang saling adu mulut pun terdiam.


"Senja kenapa?" Ulang Aksa sekali lagi. Nada suaranya terdengar semakin dingin.


"Itu, Sa. Semalam, gue sama Jafar ke cafe tempat Senja kerja. Kita disana sampe cafe tutup. Nah, pas balik, motor Senja mogok. Nggak bisa dihidupin. Jadi, gue nawarin anterin Senja. Eh, si Jafar malah ikut nawarin. Senja milih nebeng Jafar dari pada gue."


"Enak aja lo bilang gue ikutan. Gue yang duluan nawarin. Lo yang ikut-ikutan," sahut Jafar, tak terima.


"Udah! Lo berdua diem!" ucap Aksa. Tanpa mengatakan sesuatu lagi, Aksa langsung berjalan keluar dari kelas. Amara yang baru saja tiba di kelas mengernyitkan keningnya saat Aksa melewatinya begitu saja tanpa membalas sapaannya.


Aksa membawa langkahnya menuju perpustakaan. Awalnya ia berniat untuk ke ruang osis. Tapi, ia teringat jika ia bukan lagi ketua osis. Posisinya sudah diganti.


Aksa memasuki perpustakaan. Ia meraih salah satu buku, kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Bukannya membaca buku yang diambilnya, Aksa malah mengeluarkan handphonenya dari saku seragamnya.


Setelah menghidupkan Aksa menekan aplikasi WhatsApp dan membuka room chatnya bersama Senja.


Aksa


Gue mau ngomong sama lo.


istirahat pertama, rooftop sekolah.


Selesai mengirimkan pesan tersebut, Aksa kembali menatap bukunya. Namun, tidak ada sedikitpun niatnya untuk membaca buku tersebut.


Aksa menarik nafasnya, kemudian bangkit dan meletakkan kembali buku tersebut ke tempat semula. Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke kelasnya.


***


Gadis itu berjalan pelam mendekati Aksa yang berdiri membelakanginya.


"Zayyan," panggil Senja pelan, membuat Aksa menoleh padanya. Cowok itu menatap tangan Senja yang membawa kotak bekal, kemudian kembali menatap Senja.


Aksa tak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Senja dalam diam. Membuat Senja gugup sekaligue takut.


"Ini bekal buat kamu." Menekan rasa gugupnya, Senja mengulurkan kotak bekal tersebut pada Aksa. Dan cowok itu menerimanya.


"Thank's." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aksa. Cowok itu kemudian berjalan ke arah kursi kayu dan mendudukinya.


Senja pun mengikutinya, duduk di kursi kayu lain yang berjarak sekitar 1 meter dari Aksa. Cewek itu hanya diam menatap Aksa yang membuka kotak bekal dan mulai melahap bekal yang ia buat.


Senyum manisnya terukir, membuat lesung pipinya terlihat. Jujur, dia sangat senang melihat sendiri Aksa memakan sarapan buatannya.


"Kenapa?"


Senyum Senja langsung memudar berganti pelototan saat suara Aksa terdengar. Ia tertangkap basah oleh Aksa saat menatap cowok itu sambil tersenyum.


"E-enggak kenapa-kenapa," jawab Senja gugup. "O-oh ya, Zay. Selamat ya, kalian berhasil pertahanin juara olimpiadenya."


Aksa tak menjawab. Ia terdiam dan berhenti mengunyah sarapannya.


"Zay—"


"Kalau lo mau gue bersikap baik sama lo, berhenti panggil gue Zayyan!"


Senja terdiam sembari menggigit bibir bawahnya. Ia pikir, sejak hari terakhir Aksa marah-marah karena memanggilnya Zayyan, Aksa sudah bosan menegurnya dan membiarkannya memanggil cowok itu dengan nama Zayyan. Tapi, ternyata dia salah. Aksa masih saja tidak suka jika dipanggil Zayyan.


"Lo nggak bisa?"


Senja menggeleng. "Bukan begitu. Aku akan usahain nggak panggil kamu begitu lagi."


Aksa mengangguk dan melanjutkan memakan sarapannya. Sementara Senja, gadis itu tersenyum tak semangat.


"Lo kemarin jadikan anterin bunga ke makam Farah?" tanya Aksa setelah menghabiakan sarapannya.


"Iya," jawabnya. Senja lalu diam tak memulai pembicaraan lagi. Pikirannya sekarang tertuju pada semua cerita tentang kehidupan Aksa yang ia tahu dari bu Ratna kemarin.


"Kenapa diam?"


"Hah? Nggak kok," ucapnya.


"Gue mau bilang makasih udah bantuin gue. Lo bilang aja gimana caranya buat gue balas kebaikan lo."


Senja menatap Aksa. Ia tidak habis pikir, Aksa mengatakan hal itu padanya. Dia benar-benar membantu Aksa dengan tulus. Tidak mengharapkan imbalan apapun.


"Aku nolongin kamu ikhlas. Kalau kamu merasa berhutang, cukup dengan kamu bebasin diri kamu dari rasa benci dan bersalah."


Aksa terdiam mendengar ucapan Senja. Dia bukan orang bodoh yang tidak paham maksud Senja. Cewek itu sepertinya mengetahui lebih banyak lagi menganai kehidupannya.


"Aku ke kelas dulu."


Senja beranjak dan hendak pergi. Namun, Aksa dengan cepat mencekal tangannya.


"Siapa yang lo temui di makam Farah?" Suara Aksa terdengar dingin. Sorot matanya tajam menatap Senja.


Senja terdiam, tak ingin mengatakan apapun.


"Jawab Senja!!" Aksa membentak.


"Tante Ratna! Aku ketemu tante Ratna di makam Farah!"


Rahang Aksa mengeras. Cekalannya pada tangan Senja semakin kuat.


"Lepas Zayyan!" Senja mencoba menghempas, namun cekalan Aksa terlalu kuat.


"Lepasin Zay —"


"Berhenti panggil gue Zayyan!!"


Rara yang sedang mencari Senja di rooftop, melihat Aksa berlaku kasar pada Senja langsung berlari menghampiri mereka. Ia dengan kasar mendorong tubuh Aksa, membuat cekalan cowok itu terlepas.


"Lo bisa nggak, nggak kasar sama Senja?!" teriak Rara. Dia benar-benar marah. Ia tidak terima sahabatnya diperlakukan kasar.


"Jangan karena Senja ngejar-ngejar lo, lo seenaknya nyakitin dia!! Lo sadar nggak? Lo udah nyakitin Senja selama ini. Lo nyakitin hati dan fisik Senja."


"Bahkan Arhez yang terkenal nakal pun nggak sekasar lo!!"


"Ayo, Senja!"


Rara langsung meraih tangan Senja dan membawa gadis itu pergi. Dia tidak ingin melihat Aksa sekarang. Bisa-bisa ia kelepasan mencaci maki cowok itu.